
Camelia membuka matanya perlahan, badanya masih terasa sakit bahkan kepalanya masih berdenyut nyeri. Semalam ia tidak meminum obat yang diberikan Jupiter, ia lebih memilih tidur dalam pelukan lelaki itu dan tidur hingga pagi hari.
Mata Camelia menelusuri seluruh penjuru kamarnya, berharap Jupiter masih berada di tempatnya. Namun, begitu ia tidak mendengar siapapun di rumahnya, Camelia mendesah lemah, ia yakin Jupiter pasti sudah pergi.
Camelia duduk di tepian ranjang, menundukan kepalanya yang masih sedikit pusing. Ingin rasanya ia melihat Jupiter masih berada di dekatnya, dan memeluk erat tubuhnya, namun kini ia harus kembali kecewa begitu Jupiter tidak Loada lagi di dekatnya. Camelia tersenyum miris, bagaimana bisa ia menahan seseorang yang sudah memiliki tunangan, dan mengurung lelaki itu bersamanya. Egois sekali bukan.
Meski tubuhnya terasa lemas, Camelia tetap memaksa berjalan menuju kamar mandi. Membersihkan diri mungkin bisa menyegarkan tubuhnya. Selesai mandi dan berganti pakaian, ia memeriksa ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja sejak kemarin sore. Ia tidak sekalipun mau membuka atau menyentuh benda itu. Dan, begitu Camelia membuka layar ponselnya, sudah ada beberapa pesan dan panggilan masuk, salah satunya dari temannya Febian, yang merasa khawatir dengan kondisinya.
Baru satu menit ia membalas pesan Febian, lelaki itu sudah kembali menghubunginya.
"Iya,, gue baik-baik aja." Ucap Camelia begitu Febian bertanya tentang kondisinya.
Camelia hanya bisa tersenyum, begitu mendengar rentetan pertanyaan Febian tentang keadaanya. Lelaki bertubuh macho yang memiliki kelainan seksual itu bisa berubah menjadi seperti perempuan yang sangat cerewet.
Dari sekian nasib buruk yang menimpanya, salah satu yang selalu Camelia syukuri yaitu ia masih memiliki Febian sebagai salah satu alasan ia bertahan hidup. Meski Febian tidak menempati posisi utama sebagai alasanya, tapi kehadiran Febian mampu menahan hasrat bunuh dirinya.
Sebagian orang pasti mengira Febian adalah kekasih Camelia, karena sepintas saja mereka nampak sangat serasi menjadi sepasang kekasih. Namun sebenarnya mereka hanya berteman baik, tidak lebih dari itu.
Setelah berbicara beberapa saat dengan Febian, Camelia segera beranjak dari kamar menuju dapur. Perutnya terasa perih dan minta diisi. Persedian makanan di tempat tinggalnya memang selalu banyak, karena Febian lebih suka masakan rumah daripada di luar. Jadi, semua kebutuhan yang diperlukan untuk memasak, tersusun rapi di dapur dan di dalam lemari pendingin.
Begitu Camelia melewati ruang tengah, ia mendengar suara penggorengan beradu dengan spatula dari arah dapur. Dari tadi ia tidak mendengar suara apapun di dalam rumahnya, tapi begitu ia keluar kamar, Camelia justru mendengar suara bising dari arah dapur.
Camelia mempercepat langkah kakinya menuju dapur, ia ingin segera memastikan siapa yang berada di dapurnya, karena tidak mungkin itu Febian.
Langkahnya terhenti begitu sosok yang menimbulkan kegaduhan itu terlihat. Tampak seorang lelaki mengenakan kemeja putih dan apron berwarna biru bunga-bunga tengah memasak. Entah apa yang ia masak karena lelaki itu tidak menyadari kehadiran Camelia, namun dari kondisi dapur yang seperti terkena bom, Camelia bisa menyimpulkan jika lelaki itu tengah berusaha membuat sesuatu.
Satu panci berisi bubur, dan satu panci berisi sup, sedangkan ia masih berkutat dengan wajan penggorengan tengah menumis sesuatu. Dari aromanya tidak ada tanda-tanda kelezatan, tapi mampu membuat Camelia tersenyum simpul.
"Ngapain?" Tanya Camelia tiba-tiba.
"Ataga!!" Jupiter berjengit terkejut, mendengar pertanyaan Camelia yang begitu tiba-tiba.
"Kamu udah bangun? Aku buatin bubur sama sup ayam." Ucap Jupiter dengan bangga dengan telunjuk menuju panci-panci yang masih berada di atas kompor.
"Sepertinya enak,,," balas Camelia. Ia segera mendekat dan mengambil sendok untuk mencicipi hasil karya Jupiter.
Sedangkan Jupiter menunggu reaksi Camelia, dengan senyum merekah di bibirnya. Namun begitu Camelia, hanya diam beberapa saat, senyum Jupiter hilang dan berubah cemberut.
"Gak enak ya?" Tanyanya dengan lesu.
"Enak,,," elak Camelia, sambil mencari gelas dan mengisi nya dengan air putih.
"Cumam, kebanyakam garam aja." Lanjutnya, sambil memeluk lengan Jupiter agar lelaki itu tidak begitu kecewa.
"Ini masakan terenak yang pernah aku coba, cuman sedikit asin aja." Hibur Camelia, sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
Jupiter yang awalnya cemberit, perlahan tersenyum lagi. Kemudian ia mengelus puncak kepala Camelia dan menciumnya singkat.
"Semalam kamu demam, terus gak mau minum obat. Jadi pagi-pagi aku pulang dulu kerumah, ganti baju dan beli semua bahan-bahan untuk membuat bubur."
Camelia tersenyum mendengarkan, dan memperhatikan tampilan Jupiter yang menurutnya sangat lucu.
"Kamu jauh lebih tampan ketika menggunakan apron ini," ledek Camelia sambil menelusuri dada jupiter dengan jarinya.
"Aku lebih suka kamu yang pakai ini, dan memasak untukku setiap pagi." Balas Jupiter sambil mencubit hidung Camelia.
__ADS_1
Mereka berdua sama-sama tersenyum untuk alasan yang sama. Yaitu, untuk perasaan mereka yang merasa lebih baik ketika berdekatan seperti sekarang. Karena, mereka bisa merasakan kebahagian yang selama ini mereka impikan.
Setelah memperbaiki masakan Jupiter dengan memberi beberapa bumbu tambahan, akhirnya bubur pun tersaji di meja makan. Kini Jupiter dan Camelia sama-sama berada di meja makan, untuk menyantap sarapan pagi yang sudah terlewat beberapa jam.
"Enak,," ucap Jupiter sambil memasukan satu sendok bubur kedalam mulutnya.
"Setelah ini minum obat, lanjut istirahat ya,,," ucapnya lagi.
"Iya,, nanti aku minum obat."
"Setelah ini, aku harus kembali ke kantor," ucapan Jupiter membuat Camelia mengangkat kepalanya dan menatap Jupiter.
"Tidak akan lama, nanti aku balik kesini lagi. Atau nanti aku jemput, dan kita tinggal di apartemen milikku." Camelia hanya menggeleng, dan kembali menunduk. Ia menolak ajakan Jupiter untuk tinggal bersamanya di apartemen lelaki itu. Meski mereka sudah saling mengetahui perasaan masing-masing, tapi Camelia tidak bisa seenaknya pergi ke apartemen Jupiter, apalagi lelaki itu masih berstatus tunangan orang lain.
Camelia hanya memperhatikan bubur yang masih berisi separuh di mangkuk miliknya, ia tidak lagi ingin memakannya, dan rasa layarnya sudah hilang begitu saja, entah mengapa. Suara decitan kursi mengalihkan perhatiannya, karena Jupiter beranjak dari tempat duduknya, dan menghampiri kursi yang ditempati Camelia.
"Kenapa?" Tanya Jupiter. Ia menggeser kursi yang berada di sebelah Camelia hingga kursi itu berdekatan.
"Aku pasti balik lagi kesini setelah urusan kantor selesai. Nanti aku jemput kamu, dan kita tinggal di apartemenku. Bagaimanapun juga aku khawatir kamu tinggal satu tempat dengan seorang laki-laki."
"Febian itu temanku," Camelia mendengus geli, mendengar
jupiter mempermasalahakan dirinya dan Febian.
"Aku tahu,, tapi bagaimanapun juga dia itu laki-laki." Balaj Jupiter.
"Dia tidak menyukai perempuan."
"Aku tahu!" Camelia memicingkan matanya, karena selama ini ia tidak pernah menceritakan tentang kondisi Febian pada siapapun, termasuk Jupiter.
"Aku selalu mencari tahu semua hal yang menyangkut tentang dirimu. Termasuk Febian." Camelia semakin dibuat tidak mengerti dengan ucapan Jupiter.
Camelia seharusnya tidak perlu terkejut dengan ucapan Jupiter, karena pada kenyataanya Jupiter bisa melakukan apa saja yang ia mau. Termasuk mengikatnya dengan kontrak kerja yang menurutnya kurang masuk akal, tapi justru membuat mereka berdua akhirnya bisa satu langkah lebih dekat.
"Lalu apa lagi yang kamu tahu tentang diriku?" Tanya Camelia. Ia ingin tahu, sejauh mana Jupiter bisa mengorek informasi tentang kehidupannya.
"Semua," jawab Jupiter pasti.
" Aku tahu semua tentang dirimu, tapi aku tidak ingin menghakimi atau percaya begitu saja dengan apa yang aku dengar. Aku akan percaya ketika kamu sendiri yang mengatakannya padaku,dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri." Lanjut Jupiter.
Tenggorokan Camelia terasa kering, bagaimanapun juga Jupiter pasti tahu semua tentang kehidupan gelapnya. Termasuk kegiatannya yang sering melakukan service plus untuk para pengusaha hidung belang.
"Lalu?" Tanya Camelia lagi. Ia ingin mendengar lebih lanjut, bagaimana tanggapan Jupiter jika lelaki itu memang benar-benar sudah mengetahui semua tentang hidupnya.
"Aku hanya ingin kamu membagi semua beban yang ada di pundakmu padaku. Dan percaya padaku," Jupiter menatap lembut kedalam bola mata Camelia.
"Aku mau jadi orang pertama yang kamu cari ketika kamu susah. Jangan cari Febian ataupun cari solusi lain yang hanya akan membuatmu lebih terpuruk. Aku bisa bantu."
Camelia tersenyum. Ia tahu Jupiter sungguh-sungguh dalam ucapannya, tapi kenyataanya masalah yang kini mereka hadapi tidak sesederhana yang diucapkan.
"Aku pasti cari kamu. Tapi kita sudah berjanji bukan, kalau kita akan menyelesaikan masalah kita satu persatu terlebih dulu. Aku dan kamu, masih ada masalah yang harus diselesaikan, dan aku ataupun kamu, kita tidak bisa saling membantu untuk masalah yang satu ini." Balas Camelia sambil mengelap beberapa noda yang terlihat di kemeja putih milik Jupiter, akibat memasak bubur tadi.
"Aku percaya kamu, begitu juga kamu harus percaya padaku. Apa yang kamu dengar, belum tentu benar. Terkecuali itu keluar dari mulutku sendiri dan kamu melihatnya secara langsung." Lanjut Camelia, sambil mengusap-usap kemeja Jupiter dengan tisu basah, agar noda yang ada di kemejanya hilang.
"Aku percaya. Tapi jangan menghilang lagi seperti dulu, aku mohon." Jupiter menahan tangan Camelia yang masih sibuk membersihkan kemejanya.
__ADS_1
"Aku tidak menghilang, bahkan aku masih berada di sekitar kamu. Hanya kamu saja yang pergi," balas Camelia.
"Aku masih tetap di tempatku berada ketika kamu pergi dan bersekolah di luar negri bersama Nadira. Aku tidak pergi, bahkan aku masih memperhatikan kalian dari jauh. Hanya saja, aku terlalu malu untuk menunjukan diriku pada kalian."
Lanjut Camelia, ia kembali teringat ketika ia masih memperhatikan Jupiter hingga akhirnya ia tahu Jupiter pergi melanjutkan pendidikannya di luar negri bersama Nadira. Namun Camelia tidak tahu, jika akhirnya Jupiter dan Nadira menjalin hubungan.
"Kenapa kamu bersembunyi?" Tanya Jupiter.
"Aku tidak bersembunyi,hanya kamu saja yang tidak menyadari kehadiranku."
"Bohong,"
"Kenapa harus berbohong," elak Camelia sambil meraih Jupi yang kini sudah berada di dekat kakinya.
"Kenapa jupi. Kamu pasti lapar,,," Camelia meraih Jupi dan menempatkannya di pangkuan.
"Jupi, hari ini Appa masak bubur, kamu mau?" Tanya Camelia pada kucing gembul, berwarna putih abu-abu miliknya.
"Dia tau semua perjalanan hidupku, jadi kamu tidak perlu menyewa orang lain untuk mencari informasi tentang hidupku. Cukup tanya Jupi, meski dia tidak bisa melihat tapi,,"
"Dia punya hati sebagai indra perasa. Iya kan?" Jupiter menyela ucapan Camelia.
"Aku masih ingat semua isi surat yang kamu tulis. Bahkan aku sudah hafal semua isinya." Lanjut Jupiter. Kini ia mengambil alih Jupi, membawa kucing gembul itu ke dalam pangkuannya.
"Terimakasih Jupi, selama ini sudah menjaga dan menemani ibu kamu. Aku berhutang banyak sama kamu. Gimana kalau kita tinggal satu rumah, dan setiap hari aku belikan makanan kesukaan kamu?" Jupiter mengikuti Camelia, mengajak bicara kucing yang mereka berdua temukan di pinggiran jalan, ketika mereka masih sama-sma berseragam putih abu-abu.
"Aku kangen masa-masa kita dulu. Sewaktu sering jailin kamu," Jupiter mengelus gamas rambut Camelia dengan satu tangannya. Dan ia kembali menurunkan Jupi, karena kucing itu meronta ingin turun.
"Aku suka melihat kalau kamu cemberut, dan ngambek. Sangat menyenangkan melihat bibir kamu seperti bebek." Ledek Jupiter.
"Hobi aneh," cibir Camelia, sambil meraih jus jeruk dan meminumnya.
"Awalnya aku juga mengira aku aneh, karena aku sangat suka menjahili kamu. Tapi, begitu aku tahu kamu ternyata mengenal Alfato, hatiku mulai tidak tenang. Dan rasa aneh itu mula semakin menggila ketika aku tahu, Alfaro juga menyukaimu."
Kini Jupiter meraih jemari Camelia dan menautkan dengan jemari miliknya.
"Aku mewakili kakakku, minta maaf padamu. Aku tidak tahu seberapa fatalnya akibat dari kecerobohan kakakku, tapi aku juga tahu sekarang dia menderita karena perceraiannya dengan Alfaro. Jadi aku meminta maaf, mewakili kakaku."
"Aku tidak membenci kak Dea, sama seperti Ayu. Aku tidak membenci mereka berdua, mereka hanya terbawa emosi dan tidak mau mendengarkan penjelasan dari sudut pandangku. Aku sudah lama melupakan kejadian itu."
Jupiter tersenyum, ia yakin Camelia tidak memiliki jiwa pendendam dan sudah melupakan kejadian beberapa tahun silam. Setelah membersihkan dapur dan beberapa peralatan yang kotor, Jupiter akhirnya berangkat ke kantor, meski waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang.
Setelah kepergian Jupiter, kini Camelia tinggal sendiri di rumah karena Febian masih berada di kediaman Raja, kekasihnya. Camelia tidak mempunyai jadwal lain, karena Febian masih memberinya libur sebelum ia benar-benar pulih.
Bercerita tentang masa lalu, Camelia juga teringat bagaimana ia hidup bahagia bersama kedua orang tuanya dulu. Meski ia tahu ibu dan ayahnya ternyata menikah bukan karena cinta, tapi sebelum kebohongan itu terungkap ia merasa bahagia. Dan jika ternyata kejujuran hanya membuat sakit hati, Camelia lebih memilih tidak tahu siapa ayah biologisnya, daripada ia harus tahu dan berakhir dengan perceraian orang tuanya.
Selama ini Camelia sering mencari informasi tentang keberadaan Fathur, ayahnya dan juga Alfaro, kakak angkatnya. Camelia pun tahu tentang perceraian Alfaro dan juga Dea, beberapa tahun silam. Namun Camelia membutakan hati dan juga matanya. Ia tahu alasan Alfaro menceraikan Dea, yaitu karena lelaki yang seharusnya menjadi kakaknya itu masih mencintainya.
Seharinya Camelia bisa mencegah Alfaro menceraikan Dea, namun seakan masih ingat bagaimana Dea menjebaknya duku, Camelia mengurungkan niatnya dan membiarkan Alfaro menceraikan Dea.
Camelia pernah beberapa kali bertemu dengan Alfaro, dan lelaki itu masih mengharapkan balasan cinta darinya, namun Camelia sedikitpun tidak mencintai Alfaro. Dan ketika Alfaro mengutarakan niatnya untuk menceraikan Dea, dan ingin menjalin hubungan dengannya, Camelia tidak melarang dan justru membiarkannya.
Katakanlah Camelia sengaja membiarkan Alfaro menceraikan Dea, namun Camelia masih mengingat bagaimana Dea memperlakukannya dulu. Hingga pada akhirnya Camelia harus menanggung kecerobohan Dea hingga saat ini. Karena baik Dea ataupun Jupiter, tidak ada yang tahu bagaimana parahnya, akibat dari kecerobohan Dea untuk hidupnya.
__ADS_1