
Camelia masih mencari keberadaan Febian, lelaki itu meminta untuk menemuinya di sebuah hotel, untuk bertemu dengan salah satu investor yang mau memberi suntikan dana.
Untuk tempat pertemuan kali ini berbeda dari tempat biasanya, sang calon investor meminta Camelia menemuinya di sebuah kamar disalah satu hotel terkenal Jakarta. Camelia sempat merasa ragu, karena tidak biasanya sang investor memilih tempat tertutup seperti hotel, biasanya mereka akan bertemu di salah satu bar yang biasa dikunjungi banyak orang, dan tidak terkesan privat seperti ini.
Kecurigaan Camelia segera di yakinkan oleh Febian, karena lelaki itu akan menjaganya sampai perjanjian kontrak kerja sama selesai. Bahkan Febian sudah mengantongi satu kunci cadangan jika sesuatu hal buruk terjadi pada Camelia. Investor kali ini memilih tempat tertutup karena dia seorang pengusaha kaya, dan memiliki image setia pada istrinya. Untuk menghindari para penguntit yang selalu mengikutinya kemanapun pengusaha itu pergi, akhirnya lelaki hidung belang itu pun memilih tempat tertutup, sebagai salah satu cara menghindari orang suruhan istrinya.
Namun begitu Camelia sampai ditempat tujuan, Febian tidak kunjung datang bahkan ponsel nya tidak bisa dihubungi. Namun tiba-tiba saja ada pesan masuk dan meminta Camelia segera menuju kamar nomor 788. Meskipun ragu Camelia menuju kamar yang disebutkan. Dan begitu pintu terbuka tampak lelaki paruh baya bertubuh gempal sudah menunggunya, lelaki itu nampak menyeringai penuh ancaman begitu Camelia masuk.
Dengan tubuh gemetar, Camelia perlahan mendekat. Namun baru saja ia melangkah beberapa langkah, ia langsung ditarik paksa oleh lelaki tua bangka itu. Tanpa basa basi lelaki itu memaksa menciumnya dengan brutal, membuat Camelia meronta, mencoba melepaskan diri. Namun sialnya, seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar mandi dengan kamera di tangannya sudah merekam semua kejadian yang begitu singkat itu.
"Kamu memang gadis murahan." Ucap orang itu, yang mengenakan pakaian tertutup.
"Tidak!! Jangan lakukan!!" Teriak Camelia,
"Terlambat karena aku sudah mengirimnya pada kekasihmu. Dan sebentar lagi dia akan melihat bagaimana sifat asli sang kekasih yang amat dicintainya tengah bermesraan dengan seorang lelaki hidung belang." Camelia segera merebut kamera yang berada di tangan orang itu, hingga tarik menarik tidak dapat dihindarkan, dan membuat penutup wajah yang dikenakan orang tersebut terbuka.
"Kak Nadia?!" Camelia tersentak dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun Nadia justru tampak biasa dengan menatap tanpa ekspresi pada Camelia.
"Terkejut? Berteriak lah sesukamu karena tidak akan ada yang menolongmu. Lelaki yang selalu bersamamu saat ini sudah tidak sadarkan diri, dan mungkin saja dia tidak akan pernah bangun lagi."
"Febian," lirih Camelia. Pantas saja lelaki itu hilang begitu saja, tanpa memberinya kabar.
"Pekerjaanku sudah selesai, sekarang aku serahkan perempuan murahan ini padamu. Terserah mau diapakan, aku tidak peduli." Nadira segera meninggal kan Camelia dan lelaki hidung belang, yang diyakini sebagai orang bayaran Nadira.
"Tidak!! Apa salahku kak! Apa salahku!" Camelia segera berlari mengejar Nada, berharap perempuan yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri itu, dengan teganya menjebak bahkan hendak menyakiti dirinya.
"Kamu mau kesalahanmu diman!" Nadia segera menepis lengan Camelia dengan sangat keras, sehingga tubuh Camelia terhuyung.
"Karena kamu telah merebut satu-satunya kebahagiaan adikku. Jika saja kamu tidak muncul dan membiarkan Jupiter menikah dengan Nadira, kamu tidak akan berakhir mengenaskan seperti ini."
"Aku tidak akan mengganggu hubungan mereka, aku janji. Tapi tolong jangan sebarkan video itu." Camelia memohon.
Nadia menyeringai, "Terlambat, karena aku terlanjur muak melihat wajah polosmu yang selalu membuat kekacauan. Kamu tahu, jika Nadira hidup lebih lama, aku bisa mendapatkan harta warisan lebih banyak, karena Nadira akan menerima hak waris dari keluargaku. Tapi jika Nadira mati lebih cepat, semua kekayaan itu akan hilang karena Nadira begitu bodoh ingin menyumbangkan semua kekayaannya untuk para korban kanker seperti dirinya." Camelia semakin tercengang dengan alasan yang diberikan Nadia. Jadi semua ini semata-mata karena harta, dan kini dirinya yang kembali harus menjadi tumbal oleh orang-orang serakah?
"Semoga kamu masih selamat setelah di terkam habis-habisan oleh lelaki hidung belang seperti dia." Tunjuk Nadira pada lelaki yang sudah melonggarkan semua kancing kemejanya, membuat Camelia bergidik ngeri.
"Tidak kaka, jangan lakukan itu. Aku mohon." Camelia terus memohon berharap Nadia mau berbaik hati dan membiarkannya pergi. Namun sekuat apapun Camelia berusaha dan meronta, tenaganya tidak sebanding dengan kekuatan Nadia yang sudah terlebih dahulu mendorong tubuhnya menjauh dan segera berlari keluar, mengunci pintu.
__ADS_1
Camelia menggedor-gedor pintu, agar Nadia mau membuka pintu. Namun nihil, hingga tangan kasar dan besar itu kembali menarik tubuhnya hingga terjungkal di atas kasur.
"Sekarang kamu milikku." Lelaki itu menyeringai, memandang lapar tubuh Camelia.
"Tidak!! Jangan aku mohon!!" Tidak memperdulikan permohonan Camelia, lelaki itu menindih tubuh kecil Camelia dan melepas kemeja yang dikenakan Camelia hingga kemeja itu robek.
Camelia memekik, dan menutup bagian tubuhnya yang hanya terbalut bra berwarna putih. Ia menangis dan meronta, memohon agar lelaki itu mau melepaskan. Namun tidak ada yang mendengar jeritan Camelia, bahkan lelaki yang kini tengah mencumbu leher Camelia, terus mencoba menarik tangan Camelia yang menutupi dadanya. Camelia terus menyebut nama Febian, berharap lelaki itu datang dan menolongnya.
Plakk
Tamparan keras menghantam wajah Camelia sehingga wajah mulusnya terlihat memar dan memerah. Camelia tidak bisa lagi merasakan sakit, karena hatinya jauh lebih sakit, bahkan ia sudah kehilangan harapan ketika lelaki itu mulai menarik paksa bra yang dikenakannya.
Namun tiba-tiba tubuh lelaki itu ditarik oleh seseorang dari belakang, sehingga lelaki itu terhuyung. Camelia tidak bisa melihat dengan jelas, siapa yang melakukannya, pandangannya kabur karena air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya. Ia segera menutup tubuh bagian atasnya yang nyaris telanjang, dengan tubuh gemetar Camelia segera meraih kemeja yang sudah robek, akibat ditarik paksa oleh lelaki tua itu.
Samar-samar terdengar suara gaduh dan hantaman pukulan keras. Perlahan Camelia membuka mata dan melihat keadaan, matanya terbelalak ketika ia melihat Jupiter tengah menghajar lelaki tambun itu dengan membabi buta. Bahkan Jupiter tidak sekalipun membiarkan lelaki itu melawan. Meski lelaki itu sudah tidak berdaya, Jupiter terus menghajarnya hingga wajahnya sudah tidak berbentuk lagi, dan darah segar mengalir di setiap luka robekan yang Jupiter perbuat.
Camelia tidak lagi memperdulikan bagaimana nasib lelaki itu, apa masih hidup atau sudah mati. Karena melihat emosi Jupiter yang begitu meledak-ledak, Camelia tidak yakin lelaki itu akan baik-baik saja.
Masalah tidak selesai setelah lelaki hidung belang itu di hajar habis-habisan oleh Jupiter, tapi masalah baru yang jauh lebih besar yaitu ketika Jupiter kini berdiri di hadapannya dengan sorot mata penuh emosi. Camelia yakin Jupiter pasti sudah paham, apalagi Jupiter menemukan dirinya di sebuah kamar hotel dengan seorang lelaki hidung belang, bahkan penampilan Camelia yang sangat mengenaskan, semakin menambah kesan murahan padanya.
Camelia tidak mampu membela dirinya sedikitpun, meski Jupiter sudah meluapkan segala emosi dan rasa kecewanya. Camelia ingin sekali menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tapi tubuh dan suaranya seperti hilang dan diserap habis, tanpa sisa. Bahkan saat ia menginginkan pelukan hangat untuk menguatkan tubuhnya yang hampir saja dijamah lelaki hidung belang, Jupiter justru melontarkan kata-kata yang begitu menyakiti hatinya. Jupiter tidak memberinya sedikitpun kesempatan untuk menjelaskan, lelaki itu hanya meyakini apa yang dilihatnya saja. Mungkin ketika orang lain yang mengatai dirinya wanita murahan, Camelia masih bisa menahannya, tapi ketika kata-kata tajam itu justru keluar dari mulut lelaki yang amat dicintainya, hatinya terasa sakit bahkan ia merasa sudah benar-benar menjadi wanita murahan.
"Lakukan yang seperti kamu lakukan dengan lelaki diluar sana." Ucap Jupiter dingin setelah ia berhasil menindih tubuh Camelia.
"Tolong hentikan!!" Camelia masih meronta, mencoba melepaskan diri, namun seakan sudah dikuasai emosi dan hawa nafsu yang sudah membutakan mata hati Jupiter, lelaki itu justru mencium bibir Camelia dengan brutal.
Jupiter memanfaatkan isak tangis Camelia untuk memperdalam ciumannya, dan menahan kedua lengan Camelia dengan satu tangannya dan menaruh kedua lengan itu di atas kepala Camelia.
Camelia semakin terisak menangis, bahkan ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk sekedar melawan. Ia hanya diam dan menangis, meratapi nasibnya yang begitu buruk. Camelia tidak lagi meronta, karena sekeras apapun ia melawan, jelas ia tidak akan bisa mengalahkan kekuatan Jupiter, akhirnya ia memilih diam, dan menerima kenyataan pahit yang akan segera ia terima.
"Lakukan, jika itu yang kamu mau. Jika itu bisa membuat rasa kecewamu hilang. Tapi setelah ini, jangan pernah datang atau mencariku lagi." Ucap Camelia sambil menutup matanya.
"Aku tidak akan mencarimu lagi," balas Jupiter dengan nada dingin. Camelia hanya bisa pasrah ketika Jupiter membuka satu-satunya penutup tubuh bagian atasnya. Jupiter segera mencium seluruh tubuh Camelia dengan kasar tanpa sedikitpun kelembutan, membuat Camelia merintih kesakitan.
Namun setidaknya Camelia tidak akan kecewa karena ia melakukannya dengan seorang lelaki yang sangat ia cintai, itu lebih baik daripada ia melakukannya dengan lelaki hidung belang, meski saat ini pun ia tegah diperkosa kekasih hatinya.
Dulu Camelia sering bermimpi untuk menghabiskan malam pertama dengan sang suami yang sangat dicintainya, namun mimpi itu kini harus ia kubur dalam-dalam karena ketika Jupiter mulai menghujam tubuhnya, ia sadar mimpi itu kini hanya tinggal angan-angan.
__ADS_1
"Akhhh…" Camelia memekik kesakitan, ketika Jupiter memasukinya. Membuat Jupiter menghentikan pergerakannya dan menatap wajah Camelia dengan peluh yang menetes di wajah Camelia.
"Kamu,,," Jupiter menyadari satu hal, ketika lapisan tipis yang menghalanginya, menjawab semua tuduhannya pada Camelia.
"Aku pernah mengatakannya padamu, jika aku hanya melakukannya hanya dengan lelaki yang aku cintai." Ucap Camelia sambil membuka matanya perlahan, ia pun membalas tatapan mata Jupiter.
"Sekarang kamu tahu alasannya, sudah terlambat untuk menyesal, ayo kita lakukan dan selesaikan semua kekacauan ini." Lanjut Camelia sambil meraih wajah Jupiter dan menciumnya. Nafsu yang semula sempat surut karena Jupiter akhirnya tahu ternyata Camelia masih dalam keadaan utuh, dan dia adalah lelaki pertama yang mendapatkannya. Namun petikan gairah kembali Camelia ciptakan dengan ciuman yang mampu membuat Jupiter kembali bergairah.
Amarah ibarat api yang bisa melahap apapun, tanpa bisa dikendalikan, bahkan sekedar untuk menyesal pun, percuma karena Jupiter sudah memulai kekacauan ini. Tidak ada pilihan lain, selain menyelesaikanya dan menerima semua konsekuensi terburuk yang akan ia terima, yaitu ia harus kehilangan Camelia akibat luapan emosinya.
Jupiter balas mencium Camelia, namun kali ini ciumannya jauh lebih lembut seolah Camelia adalah barang yang begitu rapuh. Jupiter tahu Cameli masih merasakan sakit ketika ia mulai menggerakan pinggulnya, dan untuk membuat wanitanya merasa nyaman, Jupiter mulai ciumi seluruh tubuh Camelia dan meninggalkan jejak basah dan merah disekitar dadanya. Perlahan Camelia mulai bisa menerima setiap hujaman Jupiter,
"Jupi,,, ahhhh." Camelia mengerang ketika rasa sakit dan perih itu mulai berubah menjadi rasa nikmat yang luar biasa. Rasa panas yang mulai menjalar keseluruh tubuhnya seolah membuktikan jika dirinya mulai terbiasa dengan setiap sentuhan Jupiter. Begitu juga dengan Jupiter yang begitu menikmati setiap sentuhan-sentuhan dari Camelia sebagai balasan.
"Kara,, ahhh.." Jupiter semakin cepat menghujam tubuh Camelia, hingga akhirnya ia melepaskan sesuatu yang terasa begitu mendesak dan begitu luar biasa, seolah berjuta kupu-kupu terbang di perutnya. Ledakan yang sangat luar biasa, dengan peluh yang menetes membasahi tubuh Camelia.
Tubuh keduanya masih terengah, rasa lelah dan nikmat yang berbaur menjadi satu. Aroma percintaan keduanya begitu tercium, namun Jupiter masih belum beranjak dari atas tubuh Camelia. Ia masih lekat memandangi tubuh polos yang begitu indah, tanpa sehelai benang. Kulit tubuh Camelia yang begitu putih dan halus, kini sudah ada beberapa bekas tanda merah, hasil perbuatannya.
Jupiter masih lekat memandangi Camelia, hingga gadis itu akhirnya membuka mata. Mereka saling berpandangan untuk alasan yang hanya mereka yang tahu, bahkan tanpa sadar airmata Jupiter membasahi wajah Camelia. Ia menyatukan dahinya dan dahi Camelia, dan menangis tepat di depan wajah Camelia. Menumpahkan rasa kecewa, dan marah sekaligus.
Bukan hanya Jupiter yang menangis, Camelia pun ikut terisak ikut menangis. Bahkan tangan Camelia mulai mengusap punggung polos Jupiter,
"Kita memang benar-benar berakhir sekarang." Lirih Jupiter, hembusan nafasnya terasa begitu hangat menerpa wajah Camelia. Sedangkan Camelia hanya mampu mengangguk,
"Aku sangat menyesal,,, dan minta maaf." Camelia kembali mengangguk.
"Aku sangat mencintaimu Kara,"
"Aku tahu…" kini Camelia menjawab. "Aku bahkan jauh lebih mencintaimu. Tapi lelaki sejati tidak akan mengingkari janjinya." Lanjut Camelia, membuat Jupiter mengangkat kepalanya, dan kembali menatap Camelia.
"Kita hanya akan saling menyakiti, dan aku tidak menginginkan itu terjadi."
"Kara,,"
"Aku tidak perlu membuktikan pada semua orang, jika aku adalah perempuan baik-baik. Cukup aku membuktikannya padamu, itu sudah cukup untukku."
Camelia memeluk erat tubuh Jupiter yang masih menyatu dengan tubuhnya, menghirup kuat-kuat aroma tubuh Jupiter yang tidak akan pernah ia hirup lagi. Begitu juga dengan Jupiter, iq memeluk tubuh Camelia dengan sangat erat,
__ADS_1
"Tetap seperti ini, untuk kali ini saja." Pinta Camelia,