CAMELIA

CAMELIA
episode 63


__ADS_3

"Aku bisa mengerjakannya sendiri. Nanti kamu bisa telat ke kantor." Rengek Camelia, karena Jupiter masih tetap mengerjakan pekerjaan rumah, seperti mencuci piring sehabis makan, atau menjemur baju. 


Menurut Camelia suaminya itu sudah terlalu berlebihan, karena dia masih sanggup mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, meskipun kandungannya sudah berumur enam bulan. 


"Kamu nanti kerjakan pekerjaan yang ringan-ringan aja. Sekalian olahraga kan? Lagipula olahraga malam ku sekarang sudah berkurang, karena ada si twin dalam perutmu," 


Balas Jupiter sambil mengelap meja makan. 


Jupiter sangat perhatian pada istrinya, terlebih ketika Dokter memberitahu jika Camelia tengah mengandung bayi kembar yang sebentar lagi akan segera lahir.


Kondisi Camelia memang baik dan sangat sehat, namun melihat perutnya yang semakin membesar, di tambah ada dua bayi kecil dalam perutnya membuat Jupiter merasa kasihan jika membiarkan Camelia mengerjakan semua pekerjaannya. 


Seringkali Jupiter menawarkan untuk mencari asisten rumah tangga, agar pekerjaan Camelia menjadi lebih ringan. Namun Camelia masih bersikeras menolak, dengan alasan dia masih bisa mengerjakannya sendiri. 


"Aku berangkat ke kantor ya, sayang." Jupiter mencium kening istrinya setelah ia mengganti pakaian terlebih dahulu. 


"Anak-anak Ayah yang baik, jangan nakal ya,, nendang perut Ibunya jangan terlalu kencang, kasihan Ibu."


Tidak lupa ia pun mencium perut buncit Camelia. 


"Jangan lupa kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Mengerti?" 


Camelia mengangguk sambil tersenyum.


Rasa syukur yang kini selalu diucapkan setiap harinya. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini karena memiliki suami perhatian dan sangat mencintainya seperti Jupiter.


Semua pengorbanannya selama ini terasa terbayar lunas dengan segala kebahagiaan yang ia dapat saat ini. Ia memohon agar segera dikaruniai seorang anak, dan tidak lama setelah pernikahan, mereka justru dikaruniai dua sekaligus membuat Camelia tidak henti-hentinya mengucap syukur. 


Banyak yang berubah dengan hidupnya setelah ia menikah. Camelia merasakan menjadi seorang istri seutuhnya, karena Jupiter tidak pernah mengijiknkan Camelia bekerja lagi. Tapi Jupiter bukanlah suami yang membatasi gerak istri. Meskipun tidak bekerja, Jupiter memperbolehkan ia pergi kemanapun asalkan selalu meminta izin terlebih dahulu padanya. 


Terkadang Camelia merasa bosan, setiap hari hanya di dalam rumah. Terkadang ia sering mengajak Dea untuk menemaninya berbelanja atau jalan-jalan. Beruntunglah Dea selalu bersedia menemaninya, meskipun ia tidak pernah mengajak Aksa ketika bertemu dengannya. Entah apa yang terjadi dengan anak kecil itu, kini Aksa begitu membenci Camelia, setiap kali ia bertemu di rumah orang tua Jupiter, Aksa selalu bersikap kurang baik padanya. Meskipun Camelia sering membawanya hadiah atau makanan kesukaannya, namun Aksa tetap saja tidak bergeming. Ia masih saja membenci Camelia tanpa sebab. 


Terkadang Camelia sering mencari informasi tentang Nadira secara diam-diam. Namun ia masih belum punya keberanian untuk menemui sahabatnya itu. 


"Hari ini cek kandungannya sama Kak Dea aja ya?" Camelia menghubungi Jupiter dan meminta Ijin untuk pergi ke Dokter kandungan bersama Dea. Camekia tahu hari ini Jupiter harus menghadiri rapat penting, jadi ia sengaja tidak mengingatkan suaminya jika hari ini adalah jadwal periksa bulanan. 


"Kenapa gak bilang dari pagi?" Keluh Jupiter di seberang sana.


Camelia hanya tersenyum mendengar suaminya mengeluh dan berdecak kesal, namun ia tidak ingin pekerjaan Jupiter terbengkalai hanya karena mengantarnya kontrol bulanan. 


"Nanti aku kabari, kalau aku sudah selesai check up ya."


Masih terdengar jelas suara suaminya, menggerutu kesal membuat Camelia semakin gemas mendengarnya. 


"Iya, tapi jangan lama-lama." 


Akhirnya Jupiter mengalah, meskipun dengan ketus ia menjawab.


"Iya, janji gak lama ko. Love you.." 


Camelia segera memutus sambungan, dan tidak berselang lama Dea datang menjemputnya.


"Sudah siap?" Tanya Dea.


"Sudah kak. Ayo,, nanti keburu sore." 


Mereka lantas pergi bersama, memeriksakan kandungan Camelia dengan salah satu dokter kandungannya. 


Camelia tidak pernah pergi ke Dokter sendirian, jika suaminya sibuk ia akan meminta Dea untuk menemaninya. Dea memang sangat baik dan perhatian padanya, bahkan Dea sering meluangkan waktunya untuk mengunjungi Camelia atau sekedar membelikan beberapa bahan makanan untuk kesehatan ibu hami. 


Meskipun Ibu mertuanya hingga saat ini masih belum menerimanya, tapi Camelia tidak pernah merasa kekurangan akan kasih sayang. Dea sangat memperhatikannya. Dan Camelia menganggap semua perhatian yang Dea berikan padanya, sebagai pengganti kasih sayang seorang Ibu mertua padanya. 


"Kondisi kedua bayinya sehat, dan hari ini kita sudah bisa melihat jenis kelaminnya dengan sangat jela. Bagaimana, mau tahu jenis kelaminnya?" 


Camelia memang sengaja merencanakan jadwal pemeriksaanya hari ini, berbarengan dengan jadwal rapat penting suaminya. Ia ingin mengetahui jenis kelamin sang bayi, tanpa ditemani suaminya, karena suaminya itu sangat heboh dan sering berekspresi berlebihan, jadi Camelia memilih meminta Dea untuk menemaninya, karena ia ingin mengetahuinya dengan tenang. 


"Saya ingin mengetahui jenis kelaminnta,Dok." 


Ucap Camelia, jantungnya bergemuruh kencang seakan ia akan bertemu dengan seseorang yang sangat ia cintai. 


Dea memegang erat tangan Camelia sambil menunggu hasil pemeriksaan Dokter.


"Wah,,, selamat ya kedua bayinya berjenis kelamin perempuan. Pasti nantinya akan secantik Ibunya." Dokter menunjukan gambar yang sulit dimengerti, dan hanya kaum mereka saja yang paham. 


Camelia dan Dea saling menatap sambil tersenyum bahagia.


"Mereka berdua perempuan, aku sangat senang. Akhirnya Aksa punya adik perempuan. Kara, selamat!" Ucap Dea, sedangkan Camelia menangis terharu. 


Dulu Jupiter pernah berandai-andai memiliki anak kembar, dan akhirnya ucapannya terkabul mereka akan segera memiliki dua putri sekaligus. 


Selesai memeriksakan kandungan, mereka memilih untuk segera pulang karena Jupiter tidak hentinya menghubungi Camelia ataupun Dea, dan mewanti-wanti mereka agar cepat pulang. 


"Dia cerewet sekali!" Dea berdecak kesal sambil menatap layar ponselnya. Jupiter menghubunginya untuk yang kesekian kalinya, dan hanya mengucapkan perintah yang sama. Membuat Dea kesal.

__ADS_1


"Dia sangat menyebalkan. Kenapa dia seperti perempuan? Apa dia juga seperti itu dirumah?"


Camelia hanya mengangkat kedua bahunya,


"Astaga!" 


Ketiak sedang dalam perjalanan menuju parkiran, Camelia melihat sosok yang sangat ia kenali tengah duduk di kursi roda ditemani seorang lelaki berjas putih, layaknya seorang Dokter.  


"Kak, itu Nadira?" 


Dea melirik ke arah yang ditunjuk Camelia. 


"Sepertinya iya. Ayo kita kesana," 


Dea menarik tangan Camelia dan segeraenghamoiri dua orang yang sedang duduk di salah satu kursi pengunjung.


"Nadira?" 


Dea meyakinkan setelah jarak mereka semakin dekat.


"Kak Dea? Kara?" 


Nadira tampak terkejut dengan pertemuan mereka, terlebih ketika ia melihat Camelia yang sudah berbadan dua.


"Kalian sedang apa? Bagaimana kabar kalian?" 


Nadira mencoba berdiri dari kursi roda, di bantu lelaki yang berada disampingnya. 


"Kabar kita baik. Kamu sendiri?" 


Kara balik bertanya. Nadira sangat kurus dan pucat, jauh berbeda ketika mereka terakhir bertemu.


"Aku juga baik, apa ini anak Jupiter?" 


Nadira memegang perut Camelia dengan sangat hati-hati.


"Iya, ini anak kita." 


"Aku turut bahagia,, senang rasanya kalian akhirnya bisa bersama. Semoga kalian selalu bahagia." 


"Terimakasih Nad, semoga kamu cepeat sembuh." 


Ucapan Camelia hanya di balas senyuman tipis oleh Nadira. 


"Aku tidak berharap sembuh, aku hanya ingin melihat kalian bahagia." Ucapnya tulus.


Kara dan Dea berkenalan secara singkat dengan Denis. 


"Aku sangat ingin melihat bagaimana wajah anak kalian. Apa akan mirip denganmu, atau Jupiter."


"Tentu, kamu harus melihat anakku lahir dan tumbuh besar." Nadira mengangguk sambil tersenyum lebar. 


Selama perjalanan Camelia masih memikirkan kondisi kesehatan Nadira. Ia tampak semakin sakit, bahkan kulit putihnya kini berubah pucat.


"Apa Nadira sedang menjalani pengobatan?"  Tanya Camelia, pada Dea yang masih fokus menyetir.


"Iya, dia sedang menjalani kemoterapi, untuk mencegah sel kankernya menyebar."


"Apa dia bisa sembuh?" 


"Hanya keajaiban yang bisa menyembuhkan penyakit ganas seperti itu." 


Camelia menghela lemah. Meskipun ia bukan seorang Dokter, tapi Camelia tahu seberapa ganasnya penyakit yang diderita Nadira. Ia turut prihatin dengan kondisi Nadira, namun  tidak ada yang bisa ia lakukan selain memberinya semangat dan doa. 


Camelia tidak lagi bertanya, ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Dea melirik Camelia sekilas dari ujung matanya,


"Kamu percaya keajaiban?" Tanya Dea, Tiba-tiba.


"Mm?"


"Kamu harus percaya, karena kamu pernah mengalaminya." Dea tersenyum penuh arti, sedangkan Camelia masih bingung dengan ucapan Dea. 


"Kamu pernah berada di titik paling rendah, ketika kamu merasa hidupmu sudah tidak ada harapan lagi, dan ketika masalah yang terus menerus menguji kesabaranmu, tapi di saat doa dan harapan tidak pernah putus, di situlah tangan Tuhan bekerja. Dengan segala kekuasaan nya, dia bisa membalikan keadaan, dan lihat kamu sekarang?" Jelas Dea.


Akhirnya Camelia sadar dan mengerti. Tuhan memang tidak pernah tidur, ia selalu memberikan pertolongan disaat yang tepat. Dan ketika kita diuji dengan berbagai cobaan yang begitu berat, pada akhirnya Tuhan menggantinya dengan sebuah kebahagiaan yang tiada tara. Camelia sangat merasakan itu.


"Kita hanya bisa berusaha dan mendoakan yang terbaik untuk Nadira, meskipun pada akhirnya tubuh rapuhnya tidak kuat menahan ganasnya penyakit yang ia derita, tapi kita tidak boleh putus asa. Karena Tuhan pasti membantunya." 


"Iya kak, aku yakin Nadira pasti akan baik-baik saja."


"Dia harus bisa melewati sebuah proses dalam hidupnya." Camelia sependapat dengan Dea, karena pada hakikatnya hidup itu proses dan belajar. 


"Aish,,, lama-lama Jupiter memang harus memakai rok. Apa karena pengaruh dia akan segera memiliki dua anak perempuan, makanya dia berubah menjadi perempuan." Keluh Dea, karena Jupiter tidak henti-hentinya menghubungi Dea. Sedangkan Camelia memang sengaja tidak mengaktifkan ponselnya, karena ia tahu suaminya pasti tidak akan pernah berhenti menghubunginya. 

__ADS_1


"Kalian kemana aja sih!" 


Camelia dan Dea disambut protes dari Jupiter semenjak mereka baru masuk rumah. 


"Ya ampun! Kamu salah makan apa sih! Kenapa kamu cerewet sekali!" Dea tidak mau kalah,


"Aku sudah bilang kan, jangan lama-lama. Kenala kaliam bisa telat sampai satu jam. Aku sampia menghubungi Dokter Melati, menamyakan keberadaam kalian!"


Camelia memilih menuju daour, dan mencari air minum untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Sementara itu Jupiter dan Dea masih saja membahas masalah telat pulang. Camelia hanya bisa menghela lemah, terkadang perhatian Jupiter terlalu berlebihan. Ia tahu suaminya itu sangat mengkhawatirkan keadaanya, tapi Camelia bukan anak kecil yang harus selalu dibawasi selama dua puluh empat jam. Atau selalu dilarang ini dan itu.


"Lama-lama kamu persis seperti perempuan! Apa karena hirmon memiliki anak perempuan, sehingga kamu tertular cerewet!" 


"Apa? Perempuan? Perempuan apa? Anak kita perempuan?"  Tanya Jupiter, meminta penjelasan sambil menatao Camelia.


Dea hanya bisa menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, ia sangat kesal dengan Jupiter sehingga tanpa sengaja ia membocrkan rahasianya dan Camelia.


Dea menatao Camelia dengan tatapan bersalah, ia tidak sengaja mengucapkannya. Karena sudah terlanjur Dea membocorkannya, akhirnya niat Camelia untuk memberinya kejutan gagal total. Ia menghela lemah, sambil merogoh sesuatu dalam tas yang masih ia pegang.


Camelia mengekuarkan sati foto hasil USG, pada suaminya.


"Ini anak kita, keduanya berjenis kelamin perempuan." Jelas Camelia, menyerahkan secarik foto yang langsung di ambil oleh Jupiter untuk diamati. 


"Benarkah?" Jupiter seolah takjub dengan apa yang ia lihat, meskipun ia sama seperti Camelia, tidak terlalu mengerti dengan hasil gambar, meskipun terlihat jelas ada dua mahluk kecil di sana. 


"Iya,, mereka perempuan."


Jupiter segera memeluk Camelia, dan mencium puncak kepalnaya, "Aku bahagia banget,," 


"Aku juga," balas Camelia, sambil memeluk erat tubuh suaminya.


Dea hanya bisae menyaksikan kedua adiknya itu dengan perasan bahagia. Bagaiman bahagianya mereka ketika akan menyambut kehadiran si buah hati, berbeda jauh dengan dirinya dulu. Dea tersenyum miris jika mengingat bagaiman ia melewati masa-masa kehamilannya dulu. Meskipun Alfaro sering menemaninya untuk memeriksa kandungan, tapi wajah Faro tidak sebahagia wajah Jupiter. Terkadang Dea memilih memeriksa kondisi bayinya seorang diri, darpada ia harus di temani Fari, tapi suaminya itu tidak pernah menampakan wajah bahagianya.


Untuk mengobati kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan dulu, Dea sengaja mencurahkan segala perhatiannya pada Camelia, ia tidak ingin adik iparnya mengalami nasib yang sama dengan dirinya. 


"Lupa kan bilang terimakasih. Tadi aja marah-marah!" Gerutu Dea sambil meraih tas miliknya yang berada di atas kursi.


"Terimakasih kakaku yang paling cantik." Rajuk Jupiter.


"Aku pulang ya? Tugasku sudah selesai." 


"Kenapa pulang, kita bisa makan malam dulu kak," 


Camelia mencegah Dea, agar tidak cepat-cepat pulang.


"Aku harus menjemput Aksa. Lain kali saja kita makan bersama." Tolak Dea.


"Terimakasih kak," 


Dea mengangguk kemudian ia pulang. 


Camelia ikut bergabung dengan sang suami yang terlebih dahulu berada di atas kasur sambil terus memandangi selembar foto yang diberikan Camelia tadi siang. Senyumnya tidak pernah lepas, sambil terus menatap foto.


"Kenapa senyum-senyum gitu?" Tanya Camelia sambil ikut bergabung kedalam selimut, dan merebahkan  kepalanya di dada Jupiter. 


"Mereka pasti akan secantik kamu." 


"Inget gak,dulu kamu pernah bilang kalau punya anak kembar pasti lucu?" Jupiter mencoba mengingat, dan ia langsung mengingat ucapannya itu, ketika ia dan Camelia menjaga Aksa dan juga Elea. 


"Aku ingat. Dulu waktu kita menjaga Aksa dan Elea kan?"


"Iya, dan sekarang keinginan kamu terkabul." 


Jupiter mencium kening istrinya, "Terimakasih, kamu sudah mengabulkan semua doaku." 


"Bukan aku yang mengabulkannya, tapi doa kamu sendiri." Balas Camelia sambil memeluk tubuh suaminya.


"Semua harapanku sudah terkabul, hanya tinggal satu lagi." 


"Apa?" Tanya Jupiter.


"Aku ingin sekali Ibu mertuaku, menerimaku sebagai menantunya." 


Jupiter bisa merasakan kesedihan Camelia, meskipun ia sudah berusaha untuk meyakinkan Ibunya, tapi sikap Mala tidak pernah berubah sampai hari ini. Mala masih bersikap dingin, dan berkata kasar setiap kali Jupiter dan Camelia berkunjung kerumah mereka. 


"Ibu pasti segera menerima kamu, dia bisa mengabaikan kita, tapi dia tidak akan pernah bisa mengabaikan kedua putri kita. Aksa contohnya." 


"Aksa? Memangnya kenapa?" Camelia merasa heran, karena selama ini ia tidak pernah melihat sedikitpun sikap aneh Ibu mertuanya pada Aksa, namun ternyata ada hal lain yang tidak diketahui. 


"Sebenarnya ibu juga tidak merestui pernikahan Kak Dea dan Alfaro, tapi kak Dea tetap bersikeras ingin menikah. Dan akhirnya mereka menikah, tapi rumah tangga mereka tidak berlangsung lama, karena mereka memilih bercerai. Mungkin itulah salah satu alasan Ibu tidak setuju ketika aku menikahi wanita yang aku cintai, dia takut aku seperti kak Dea." Jelas Jupiter.


"Lalu hubungannya dengan Aksa apa?"


"Meskipun ibu tidak menyukai Faro, tapi dia sangat menyayangi Aksa. Jadi kamu jangan berkecil hati, kita buktikan kalau kita tidak akan berpisah, seperti kak Dea. Kita akan selalu bersama, sampai maut memisahkan kita." Camelia tersenyum dan mengecup singkat bibir Jupiter. 

__ADS_1


"Hati ibu pasti akan luluh, dia tidak akan kuat menahan kecantikan kedua putri kita. Percaya padaku."


"Aku selalu percaya padamu." 


__ADS_2