CAMELIA

CAMELIA
episode 47


__ADS_3

Hari kedua Camelia berada di Singapura, ia belum berniat pulang ke Jakarta meski Jupiter sudah berulang kali memintanya untuk segera pulang. 


Camelia masih betah berlama-lama tinggal bersama kedua ibunya. Setiap hari ia membantu Dahlia membersihkan rumah dan mengurus Nia dengan telaten. Sementara itu, Febian juga sangat menikmati waktu luangnya dengan bermain di sekitar halaman rumah, atau sekedar bermain game, bahkan dia bisa saja menjahili Camelia sepanjang hari. 


Selesai membantu Dahlia memasak, dan memandikan Nia,Camelia duduk di tepian teras rumah yang menghadap ke kebun belakang. Meski luasnya hanya empat meter persegi, tapi lahan itu disulap menjadi kebun kecil berbagai jenis sayuran tumbuh disana. 


"Lagi apa?" Dahlia datang membawa jus jeruk yang sempat dibuatnya sebelum menghampiri Camelia. Cuaca Singapura tidak jauh berbeda dengan Jakarta, udara panas dan terik, sehingga jus jeruk sangat cocok di siang hari seperti sekarang.  


"Lagi liatin kebun ibu. Bagus, banyak tumbuhan hijau, enak dipandang." Jawab Camelia,sambil meraih gelas berisi jus jeruk dingin.


"Ibu banyak waktu luang, daripada bengong jadi suka berkebun. Lumayan bisa menghemat uang." Balas Dahlia.


"Ibu tidak ingin menikah lagi?" Dahlia langsung tersedak begitu mendengar pertanyaan dari putrinya.


"Apa? Menikah?" Dahlia mengusap bibirnya dengan tisu, karena tersedak jus jeruk, yang tengah di minumnya.


"Iya, ibu masih sangat muda. Mungkin dengan menikah, bisa membuat ibu merasa jauh lebih bahagia. Menyenangkan bukan, bisa menikmati masa tua dengan orang yang kita sayangi." 


"Kamu yakin ibu pasti bahagia jika menikah lagi?" 


"Ibu butuh seseorang yang memperhatikan ibu, dan selalu ada di saat ibu butuh." 


Dahlia tersenyum, mengelus perlahan rambut Camelia,


"Ibu tidak pernah berniat menikah lagi. Apapun alasannya ibu tidak mau menikah lagi. Ibu bahagia sekarang, bahkan ibu jauh lebih bahagia daripada ketika memiliki segalanya, dulu." 


"Apa ibu masih mencintai Ayah Fathur?" 


"Mungkin." Dahlia mengangkat bahunya, dan pandangannya tertuju pada hamparan hijau kebun kecil miliknya. 


"Aku ingin tahu bagaimana kisah cinta ibu dan Ayah, laku kenapa ibu mengadopsiku." Selama ini Camelia tidak pernah bertanya lebih jauh tentang masa lalu ibunya, namun kali ini ia merasa sudah waktunya ia tahu segalanya. 


"Kisah cinta ibu dan ayah tidak ada yang menarik, selain menikah karena terpaksa." Tampak raut sedih terlihat di wajah Dahlia. 


"Aku mau dengar. Sekarang Kara sudah dewasa, dan bisa mengerti semua alasan kalian untuk berpisah. Berbeda ketika dulu, Kara sangat kecewa ketika ibu memilih berpisah dengan ayah." Camelia tersenyum pahit, ketika ingatannya kembali mengingat kejadian beberapa tahun silam, ketika kedua orang tuanya bercerai.


 


"Ibu dan ayah di jodohkan," cerita Dahlia, perempuan itu menghela nafas, seolah mempersiapkan hatinya karena harus kembali mengingat masa-masa sulit, ketika rumah tangganya tengah di ujung tanduk. Camelia tahu, tidak mudah untuk mengungkit cerita lama, apalagi ketika cerita itu terasa begitu menyakitkan untuk kembali dikenang.


Camelia segera meraih jemari ibunya, ia memberi kekuatan agar sang ibu tetap kuat. 


"Ibu langsung jatuh cinta pada ayahmu, begitu pertama kali kita dipertemukan. Ibu mengira semua akan berjalan sesuai rencana, namun ternyata Fathur telah memiliki seorang kekasih, yaitu Salma, ibu Alfaro. Ibu tau mereka saling mencintai, tapi ibu juga tidak ingin kehilangan Fathur, dan pada akhirnya ibu memilih tetap memaksa Fathur untuk menikah." 


"Ayah mau dipaksa menikah?" 


"Fathur tidak memiliki pilihan lain, selain menikahi ibu. Karena pada saat itu, perusahaan ayah Fathur sedang dalam kondisi sangat kritis. Menikah dengan ibu adalah pilihan tepat untuk menyelamatkan perusahaannya. Klise sekali bukan? Tapi itu memang benar-benar terjadi di dunia bisnis." 


Camelia tahu tentang perjodohan yang sudah diatur sedemikian rupa, agar saling memperkaya perusahaan masing-masing, tanpa memikirkan bagaimana perasaan masing-masing. Karena di dunia bisnis, cinta ada di urutan paling terakhir, setelah keuntungan dan harga saham naik. 


"Setelah itu, ibu pikir cinta bisa tumbuh dengan sendirinya, namun ternyata tidak." Dahlia tersenyum getir, ketika kembali teringat perjuangannya untuk mendapatkan perhatian Fathur. 


"Mungkin dengan kehadiran seorang anak bisa mempererat hubungan kita. Namun, ibu divonis tidak bisa memiliki seorang anak." Camelia semakin mengeratkan tautan tangannya, ia tahu bagaimana perasaan sang ibu, ketika ia divonis tidak bisa memiliki keturunan. 


"Ibu sangat putus asa, sehingga ibu memilih berpura-pura hamil dan memiliki seorang anak. Dan ibu memilih mengadopsi dari Nia. Ibu tidak pernah memberitahu siapapun, terkecuali bi Narti asisten rumah tangga kita." 


Camelia ingat bi Narti, asisten rumah tangganya dulu yang kini entah dimana. Karena sudah sejak lama mereka tidak pernah bertemu lagi. 


"Kehadiran kamu di keluarga ibu, sedikit demi sedikit mampu mengubah Fathur menjadi lebih perhatian. Tapi, dia hanya memperhatikanmu, tidak pernah memperhatikan ibu. Saat itulah ibu mulai merasa marah, dan sering mengacuhkanmu. Maafkan ibu,,," mata Dahlia mulai berkaca-kaca, ia merasa menyesal karena dulu ia memperlakukan Camelia dengan buruk.


"Ibu putus asa, karena Fathur tidak kunjung mencintai ibu. Hingga ibu selalu berbuat kasar padamu, karena ibu ingin dia juga memperhatikan ibu. Ibu minta maaf nak,,," Dahlia tidak kuasa menahan air matanya, ia menanduk menyembunyi kan matanya yang mulai basah.


"Kara senang, akhirnya ibu mau terus terang." Camelia menarik tangannya agar Dahlia tidak terus menyembunyikan wajahnya. 


"Kara tahu ibu sayang sama Kara, hanya saja ibu ingin diperhatikan ayah. Kara bisa maklum, dan kara ngerti kenapa ibu selalu bersikap kasar pada Kara, dulu. Kara ingin mendengar cerita ibu bukan karena ingin menyalahkan atau membenci ibu, Kara cuman ingin tahu dan sekarang Kara sudah lega." Camelia tersenyum, mengusap pipi ibunya yang sudah basah. 


"Dari dulu sampai sekarang, Kara sayang banget sama ibu. Meskipun Kara tidak tahu cerita sebenarnya, Kara akan tetap sayang ibu. Karena sebelum tahu mamah Nia, hanya ibu satu-satunya wanita yang kara cintai." 


"Astaga Kara…. Kenapa kamu memiliki hati sebaik ini, pasti kamu memiliki hati sebaik ini dari mamah Nia." 

__ADS_1


"Mungkin iya, tapi ibu juga berperan penting untuk pertumbuhan Kara. Terimakasih selama ini sudah membesarkan Kara, dan memberikan cinta yang begitu besar, sehingga Kara bisa sekuat sekarang." 


"Ya ampun, sayang,,,," Dahlia tidak mampu lagi berkata-kata. Ia langsung memeluk putri semata wayangnya dengan sangat erat.


"Tuhan terlalu baik untuk manusia seperti ibu. Dia mengirimkan malaikat cantik untuk ibu. Ibu akan mencari siapapun yang menyakitimu nak, karena tidak ada satu orang pun yang boleh menyakiti ataupun membuatmu terluka. Ibu janji." Camelia hanya tersenyum, melihat sang ibu berjanji.


"Ibu hanya perlu berjanji, ibu akan baik-baik saja selama aku di Jakarta. Karena jika kalian terluka ataupun menderita, sama saja itu dengan menyakiti Kara." 


"Ibu dan mamah Nia pasti baik-baik saja, nak. Selama jauh dari ibu jaga diri dengan baik. Dan segera kembali, kita tinggal bersama disini." 


Camelia mengangguk, menyetujui usul sang ibu. Karena setelah urusannya selesai ia memang berniat akan meninggalkan Jakarta dan kembali menetap di Singapura. 


Dahlia mengecup kening Camelia, dan kembali melanjutkan ceritanya tentang kehidupan dulu. Namun bukan cerita yang bisa menguras air mata, melainkan cerita-cerita konyol yang akhirnya membuat mereka tertawa. 


Sementara itu di Jakarta, Jupiter masih merasa tidak tenang meski ia sudah menerima kabar, jika Camelia tidak akan pulang hari ini. Bahkan yang membuat ia kesal, yaitu Camelia tidak memberikan kepastian kapan ia akan kembali. 


Setelah pulang dari kantor, ia pasti segera pulang ke apartemen, mengabaikan ajakan teman-temannya untuk berkumpul bersama. Namun kali ini, ia tidak bisa menghindar karena Josh sudah menunggunya di kantor semenjak satu jam lalu. Karena ia tidak ingin pergi ke cafe, ataupun tempat tongkrongan lainnya, akhirnya Jupiter mengajak Josh untuk ikut ke apartemen miliknya. 


"Lo kayak ikan belut, licin amat sih sekarang. Diajak nongkrong gak mau, diajak ketemuan apalagi." Keluh Josh, begitu ia menerima botol minuman soda dari Jupiter.  


"Gue sibuk." Kilah Jupiter.


"Buat apa banyak pegawai, tapi lo masih kerepotan sendiri." 


"Gue perlu memastikan pekerjaan karyawan gue. Gue gak mau ada yang salah." 


"Lo gak lagi nyembunyiin sesuatu dari gue kan?" Selidik Josh, karena ia sangat mengenal Jupiter, mereka sudah lama berteman akrab jadi Josh tahu kapan Jupiter menghindar dan kapan Jupiter memang benar-benar banyak pekerjaan. 


"Gue memang lagi sibuk."


"Tapi?"


"Gue banyak pekerjaan salah satunya pekerjan hati gue." Akhirnya Jupiter menyerah, karena ia tidak akan bisa melarikan diri dari pertanyaan Josh. 


"Hubungan lo dan Nadira baik-baik aja kan?" 


"Maksud lo?"


Jupiter menghela, menarik nafas dalam dan menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Gue mencintai perempuan lain." 


"Kara?" Jupiter hanya bergumam, mengiyakan. 


"Lo gak kasihan sama Nadira? Dia yang nolong lo, dia juga yang membuat lo akhirnya bisa melupakan Kara, tapi sekarang lo dengan teganya, bilang kalau lo mencintai Kara. Ingat Nadira sakit, man!" 


"Lalu, kalau Nadira sakit, gue harus menikah dengannya, begitu?" 


"Setidaknya lo hargai aja perasaanya. Gue gak yakin dia bakal baik-baik aja, kalau lo ninggalin dia gitu aja." 


"Lali setelah gue menikah, apa gue dan dia bakal baik-baik aja? Menikah itu bukan seperti pacaran, bisa jalanin aja lalu berharap cinta datang belakangan. Pernikahan itu gak seperti itu. Lo bayangin, lo hidup satu rumah, satu tempat tidur, tapi hati lo ada di luar sana, apa itu gak nyakitin perasaan Nadira?" Josh tidak menjawab, karena ia sebenarnya ia juga kini tengah bertunangan dengan wanita yang tidak dicintainya.


"Lo bahagia tunangan dengan Lisa?" Kini Jupiter balik bertanya.


"Nggak kan? Lo bayangin aja lo nanti menikah dengan lisa,apa yang akan terjadi dengan kehidupan lo, selain memperbesar perusahaan? Gak ada! Dan gue gak mau seperti itu."


"Lalu, lo mau gimana?"


"Gue bakal berusaha,dan agak akan menyerah sebelum harapan gue di putus sendiri oleh Kara." 


"Lo udah ketemu sama si Kara?" 


"Udah." 


"Jangan-jangan Kara?" Josh menggantungkan pertanyaan,ketika ia mengingat sesuatu.


"Iya,, Dia Camelia yang waktu itu." 


"Apa?!! Lo memang udah gila!" Josh menggelengkan kepalanya, tidak percaya.

__ADS_1


"Lo cari mati kalau lo sampai nikahin tuh si Kara. Gimana respon nyokap lo, kalau sampai tahu bagaimana reputasi si Kara sekarang ini. Dan lo pasti jadi bahan olok-olokan semua para pengusaha yang pernah menerima jasa si Kara. Dan gue yakin, saham lo bakalan anjlok." 


Jupiter tidak terkejut sedikitpun dengan segala kemungkinan buruk yang diucapkan Josh. Karena pada kenyataanya memang itu yang akan terjadi, jika ia memaksa menikahi Kara. Selai ditentang keluarganya ia juga pasti akan mengalami kerugian besar karena para pemegang saham pasti akan mengajukan gugatan begitu tahu Jupiter menikahi perempuan bayaran seperti Kara. 


"Gue tau. Tapi gue perlu memastikan dulu, sebelum gue mengambil keputusan."


"Apa yang perlu lo pastiin. Kalau lo mau mastin keperawanannya, gue jamin dia udah gak perawan." Jupiter kesal dengan ucapan Josh. Ia melempar kaleng soda yang sudah tidak ada isinya, hingga mengenai kepala Josh. 


"Awww sakit ****!!" 


"Lo ngomong kayak gitu, kayak lo udah pernah aja. Gue jamin lo belum pernah melakukan hal seperti itu, dengan perempuan manapun." Ledek Jupiter 


"Emang lo pernah?" Seringai Josh tak mau kalah.


"Gue? Hahaha ya jelas sudah." Tunjuk Jupiter pada dirinya sendiri. 


"Gua gak yakin." Cibir Josh.


"Sesama perjaka gak usah saling mencibir. Berarti kita termasuk barang langka di kota besar seperti Jakarta." Jupiter tidak menjawab, ia hanya tersenyum geli. 


Setelah Josh pergi, Jupiter memilih berdiam diri di apartemen miliknya, setelah ia memesan beberapa makanan untuk makan malamnya. 


Beberapa pesan masuk tidak dihiraukan, apalagi ketika ia tahu siapa pengirimnya. Ia menjadi lebih jarang membuka ponsel jika bukan untuk menghubungi Camelia. Jupiter lebih sering mencari informasi tentang kehidupan Kara, dari media sosial, dan juga dari berbagai informasi tentang Kara yang bisa dicari di internet. 


Jupiter memang sudah menyadari akan konsekuensi yang akan dihadapi, jika ia tetap menikahi Kara, namun ia juga tidak akan menyerah begitu saja, karena ia yakin Kara bukan perempuan yang sering dibicarakan teman-temannya selama ini. 


Jika ia kehilangan sebagian saham miliknya, ia bisa memaklumi, namun ia tidak bisa mengabaikan jika itu sudah mulai mengancam keluarganya. Bagaimanapun juga semua tindakannya akan berdampak pada semua anggota keluarganya, tidak hanya untuk dirinya saja. 


Mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk adalah cara paling ampuh, selama ini ia sudah belajar banyak dunia bisnis dengan sangat baik. Jika suatu hari ia kehilangan saham atas namanya, ia akan merelakannya dan akan kembali merintis usaha dari bawah lagi, namun ia juga harus mempersiapkan untuk keluarganya. Ia haru terlebih dulu menyelamatkan saham milik, Aksa,Dea,David dan juga orang tuanya. Setelah memastikan semuanya aman, ia bisa lebih mudah untuk melanjutkan rencananya. 


Tiba-tiba ponsel berdering, mengalihkan konsentrasinya. Jupiter segera melirik layar ponsel yang diletakan di sebelah temannya duduk. Begitu nama Kara muncul, dengan segera ia menekan tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya. 


"Cepet banget jawabnya." Terdengar suara merdu yang sangat ia rindukan di seberang sana. 


"Lama banget, baru telepon." Balas Jupiter. 


Terdengar suara tawa Kara, membuat Jupiter ikut tersenyum.


"Lagi apa?" Tanya Camelia.


"Lagu nungguin kamu nelpon."


"Ih,,, serius."


"Aku gak pernah gak serius." 


"Aki kangen." Satu kata yang mampu meluluh lantahkan otak Jupiter. 


"Aku juga."


"Aku kangen Jupi, bukan Jupiter." Kekeh Camelia.


"Oke, di kehidupan selanjutnya aku akan meminta jadi kucing kalau begitu." Camelia semakin tergelak mendengar keluhan Jupiter.


"Kalau begitu aku mau jadi pomeranian, atau chihuahua. Biar bisa gigit kamu." Ledek Camelia, ia sengaja membuat Jupiter kesal karena leluconnya. 


"Iya terserah kamu aja!" Jawab Jupiter, ketus. 


"Gitu aja marah. Kalau begitu sampai ketemu besok." 


"Apa?! Kamu mau pulang?" 


"Aku bilang kan sampai ketemu besok, bukan mau pulang." 


"Stop bercandanya Kara!!"


"Iya,, iya,,, aku juga sayang kamu. Love you Jupiku." Tiba-tiba saja Camelia mematikan sambungan. Namun Jupiter tidak marah, justru ia tersenyum-senyum sendiri sambil menahan teriakan yang ingin sekali ia keluarkan. 


.

__ADS_1


__ADS_2