CAMELIA

CAMELIA
episode 49


__ADS_3

Jupiter benar-benar mengurung Camelia. Setelah kejadian sore hari itu, Camelia tidak diizinkan pulang, bahkan Jupiter dengan sengaja menyembunyikan kunci rumahnya. Sementara itu Camelia hanya bisa menghela pasrah, ketika ia harus terkurung di dalam rumah bersama Jupiter hingga pagi harinya. 


"Aku mau buat sarapan,,, bisa gak pintu kamar nya di buka dulu!" Teriak Camelia sambil menggedor pintu kamar mandi, karena Jupiter tengah bersiap untuk berangkat ke kantor. 


"Iya sebentar lagi!" Jawab Jupiter dali dalam.


"Nanti bisa telat, aku belum membuat apapun untuk sarapan kita!" 


Akhirnya pintu kamar mandi terbuka.


"Astaga!! Jupi!!!!!" Teriak Camelia sambil menutup mata dengan kedua telapak tangannya. 


"Kenapa?" Seolah sengaja, Jupiter justru berdiri sambil berkacak pinggang dan satu tangannya lagi memegang dinding.


"Anduk kamu pendek banget sih!!" Camelia segera berbalik meninggalkan Jupiter. Namun Jupiter malah tertawa melihat Camelia dengan muka memerah, menahan malu.


"Kalau anduk nya panjang, namanya sarungan." Jawab Jupiter santai, sambil melangkah menuju lemari dan memilih beberapa pakaian. 


Camelia hanya berdecak, dan melewati Jupiter yang masih setia menggunakan handuk pendek sebatas lututnya. Camelia memilih untuk mencuci muka dan gosok gigi, karena ia tidak membawa baju ganti. 


Sementara menunggu Camelia keluar dari kamar mandi, Jupiter terlebih dahulu keluar kamar dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Biasa hidup sendiri membuat Jupiter terbiasa dengan kesibukan paginya membuat sarapan. Meski tidak ada menu yang istimewa, hanya sekedar roti isi selai dan secangkir kopi, ia sangat cekatan menata sarapan untuknya dan juga untuk Camelia. 


Tidak berselang lama, Camelia keluar dari kamarnya. 


"Kirain mau mandi." Tanya Jupiter sambil menggeser kursi untuk ditempati Camelia. 


"Aku gak bawa baju ganti." 


"Ada bajuku, kan bisa pakai."


"Kamu juga punya bra dan celana dalam?"


"Celana dalam ada. Kalau bra, gak ada. Kan kamu bisa gak pake bra." Kekeh Jupiter.


"Kenapa kamu bisa mesum sekali!" Camelia berdecak kesal.


"Aku tidak mesum. Aku cuman menawarkan! Itu juga kalau kamu mau, kalau gak mau ya sudah." Jawab Jupiter acuh, sambil mengangkat bahunya. 


Camelia memilih diam, Jupiter terkadang bisa berubah menjadi lelaki menyebalkan seperti Febian. Mengingat soal Febian, hampir saja Camelia melupakannya, karena ia belum memberi kabar tentang keberadaanya saat ini, dan mungkin saja Febian sedang mengkhawatirkan saat ini. 


"Kamu berangkat ke kantor, aku mau pulang." Ucap Camelia sambil minum kopi buatan Jupiter.


"Aku akan mengantarmu pulang. Tapi, setiap aku mengirim pesan, kamu harus langsung balas. Jika tidak, aku akan menyuruh orangku untuk menjemputmu." 


"Kenapa seperti itu? Bisa saja kan, ketika kamu mengirim pesan, aku sedang di toilet atau aku mandi." 


"Kalau begitu, kamu harus memberiku kabar, setiap kali kamu mau beraktifitas. Jadi aku tidak berpikir macam-macam. Gampang kan?" Camelia terperangah dengan usul Jupiter, mulutnya menganga, tidak percaya dengan peraturan yang dibuat Jupiter.


"Aku bukan tahanan!" 


"Memang bukan. Kamu itu kekasihku, siapa yang bilang kamu tahanan." 


"Tapi, kenapa kamu memperlakukanku seperti tawanan, setiap kegiatan harus melapor!" Keluh Camelia, karena ia merasa jika Jupiter sudah mulai keterlaluan. 


"Itu lebih baik. Awalnya aku akan mengurungmu di apartmenku, tapi mengingat Nadira memiliki kunci cadangan yang diberikan Ibuku, akan sangat berbahaya mengurungmu disini." 


Jupiter mungkin sangat ketakutan, Camelia bisa saja tiba-tiba menghilang, namun rasa takutnya itu kini berubah menjadi sikap over protektif yang muli berlebihan. 


"Aku tidak akan kemana-mana. Kenapa kamu tidak percaya!" 

__ADS_1


"Aku percaya. Aku hanya jaga-jaga saja. Karena sekali saja aku lengah, aku bisa kehilangan segalanya." Camelia tidak tahu, jika Jupiter telah mengorbankan segalanya untuk memilih hidup bersamanya, namun Jupiter enggan untuk menceritakan secara rinci pada Camelia. Ia justru lebih takut, jika Camelia tahu cerita sebenarnya, kemungkinan Camelia pergi akan semakin besar. Maka dari itu, ia memilih tidak membahasnya saat ini. 


"Kalau sudah selesai sarapan, aku antar pulang. Jangan lupa, selalu balas pesan dariku. Oke?" Jupiter menghampiri kursi Camelia, dan mengecup singkat kepalanya, sebelum ia masuk ke kamar untuk mengambil beberapa barang yang harus di bawanya.  


Sementara itu, Camelia membuka ponsel dan menekan nomor Febian untuk menghubungi lelaki itu. Bagaimanapun juga, Febian pasti khawatir dengan keadaannya. 


Lama tidak ada jawaban, namun Camelia tetap mencoba untuk menghubungi Febian. Hingga di panggilan kedua, Febian baru menerima panggilan darinya.


"Lama banget sih!" Keluh Camelia begitu terdengar suara Febian di seberang sana.


"Lo yang gak ngasih kabar seharian aja, gue biasa aja!" Tukas Febian.


"Iya,, gue minta maaf."


"Kenapa minta maaf. Gue tau, lo ada di rumah pacar lo. Jadi gak usah peduliin gue, kangen-kangenan aja sana!"


"Lo marah, Feb?" 


"Kenapa marah? Gue gak pernah bisa marah sama lo." 


"Feb,,"


"Gue lagi ada kerjaan, kalau lo mau pulang gue gak di rumah. Paling gue balik sore. Yaudah ya,, bye,," Febian memutus sambungan. 


"Siapa?" Camelia berjengit terkejut, karena Jupiter langsung bertanya tiba-tiba. 


"Febian," 


"Oh,,, ayo aku antar pulang. Nanti sore aku jemput lagi." 


Camelia tidak ingin berdebat lebih lama lagi, dan memilih untuk menuruti ucapan Jupiter. Sedikit saja ia membantah, makan Jupiter pasti akan membahasnya lebih lama dengan jawaban yang semakin membuat Camelia merasa terkekang. Jadi ia memilih menjadi pacar penurut, dan mengikuti apapun yang diminta Jupiter. 


"Siapa?" Tanya orang yang sejak tadi menunggu Febian menyelesaikan pembicaraannya dengan Camelia.


"Kara,," jawab Febian sambil tersenyum simpul dan memasukan ponselnya ke kantong celana. 


"Bagaimana kabarnya?"


"Kabarnya baik. Bagaimana dengan kabarmu, ibu Rosaline?" 


Febian memang menemui seseorang sejak pagi hari, hari ini setelah sekian lama akhirnya ia bisa bertemu dengan seseorang yang berjasa untuk orang tuanya, yaitu Rosaline, tante Camelia. 


"Kabarku juga baik. Bagaimana denganmu?" Tanya Rosaline, sambil menyeruput teh panas yang sengaja ia pesan untuk menghangatkan perutnya.


"Kabarku masih sama seperti dulu. Baik," Rosaline tersenyum, ia sangat beruntung bisa menemukan Febian, dan memintanya untuk menjaga Camelia.


"Apa mengurus Kara sangat merepotkan?" 


"Tidak. Mengurusnya sangat mudah, tapi mengurus hatiku yang tidak mudah." Kekeh Febian, ia tersenyum meski hatinya sedikit tersentil. 


"Benar bukan dugaanku. Lama-lama kamu pasti akan jatuh cinta pada keponakanku. Dia terlalu cantik dan baik, untuk di tolak." 


"Mungkin!" Febian mengangkat bahunya. 


Mungkin selama ini ia bisa berbohong jika dirinya adalah seorang lelaki dengan kelainan seksual. Namun, sebenarnya ia adalah lelaki normal. Namun hanya untuk mendekati Camelia, dan membuat gadis itu mau menerima bantuannya, ia harus rela berpura-pura mencintai sesama jenis.


"Kenapa kamu tidak menemuinya saja. Mungkin dia akan sangat senang, ternyata selama ini masih ada yang peduli padanya dan selalu mengawasinya dari jauh." Tanya Febian. Selama ini ia tidak pernah menanyakan alasan Rosaline memintanya untuk menjaga Camelia, Febian hanya diperintah untuk menolong dan selalu melaporkan setiap hal yang menyangkut dengan Camelia. 


"Aku pasti akan menemuinya, tapi tidak sekarang. Karena masih banyak pekerjaan yang harus diurus. Tidak lama lagi, jadi aku minta kamu bersabar." 

__ADS_1


"Mungkin aku masih bisa bersabar sedikit lagi,"


"Bersabarlah,,, karena kesempatan selalu ada untuk mereka yang mau menunggu." Rosaline memberi semangat untuk Febian. Ia tidak keberatan jika Febian pada akhirnya bisa bersama Kara, karena selama ini Febian bisa diandalkan untuk menjaganya. 


"Jika saja dia bisa melihat ketulusanku, atau paling tidak dia tahu semua arti dari perhatianku." Febian tersenyum getir, karena sebanyak apapun ia memperhatikan Camelia, tetap saja ia hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih.


"Itu semua karena kesalahanmu yang menggunakan penyuka sesama jenis untuk bisa dekat dengannya. Jika dari awal kamu berterus terang padanya, dan tidak berbohong padanya, mungkin bisa saja dia menyukaimu juga." 


"Dia sulit sekali di dekati. Kamu tahu sendiri bukan?" 


Rosaline terkekeh geli, Camelia memang sangat sulit untuk didekati. Terlebih ketika gadis itu keluar dari penjara, ia semakin sulit untuk beradaptasi dengan siapapun, bahkan Camelia sangat membatasi siapapun yang mendekatinya, terutama laki-laki. Jadi ia merasa Febian memang menggunakan cara yang tepat, berpura-pura menjadi penyuka sesama jenis untuk bisa mendekati Camelia, meski pada akhirnya Febian merasa kesulitan karena kebohongannya sendiri. 


"Dia memang sangat tertutup, apalagi setelah kematian Nathan."


"Lalu bagaimana dengan kasus kematian Nathan, apa sudah ada bukti baru?" 


"Belum, kasus kematiannya sangat sulit diselidiki. Bahkan bukti-bukti yang sudah aku kumpulkan, semuanya tidak ada yang akurat. Dan sialnya lagi, ketika kejadian itu, tidak ada satu orang pun saksi yang berada di tempat kejadian. Jadi sangat sulit untuk kembali diungkap." Rosaline menghela kecewa, karena selama ini usahanya untuk membersihkan nama baik Camelia atas tuduhan pembunuhan Nathan belum juga membuahkan hasil. 


"Aku juga menemukan banyak kejanggalan. Namun kasus itu sulit sekali untuk dipecahkan. Seperti ada yang melindungi dan menutupi kasus itu." Sebenarnya selama ini Febian tidak tinggal diam, ia juga tetap mencari bukti untuk membela Camelia, dan membersihkan namanya dari tuduhan sebagai seorang pembunuh. 


"Maka dari itu, aku meminta padamu untuk menjaganya sedikit lagi. Karena aku masih mencari barang bukti untuk menyelesaikan masalah ini. Aku tidak bisa menyelesaikan nya dengan cepat, karena pekerjaan suamiku yang selalu berpindah-pindah tempat. Jadi, aku mohon padamu, tolong bersabarlah sedikit lagi, dan tetaplah berada didekatnya." 


"Aku suka berada di dekatnya, meski sebenarnya tidak baik untuk kesehatan jantungku." Kekeh Febian.


"Baiklah, semoga jantungmu tetap bisa berdetak normal." Mereka berdua akhirnya tertawa bersama,dan melanjutkan sarapan, sebelum Rosaline harus kembali pergi melanjutkan perjalanan bisnis dengan sang suami. 


Febian dan Rosaline, berbicara dan saling berbagi informasi. Namun pertemuan mereka tidak berlangsung lama, karena Rosaline hanya sekedar transit sebelum ia melanjutkan perjalanan berikutnya. Febian dan Rosaline harus berpisah, setelah Febian mengantar perempuan itu hingga ia berangkat. 


Setelah Rosaline pergi, Febian pun memutuskan untuk pulang karena ia tahu Camelia pasti sudah berada di rumah. Selama perjalanan pulang, ia kembali memikirkan pembicaraannya dengan Rosaline. Ia tidak menyangka, pada akhirnya ia harus bertemu dengan Rosaline dan berakhir dengan menjadi ksatria bertopeng untuk kehidupan Camelia. 


Febian tertawa sendiri, ketika ia kembali mengingat bagaimana awal pertemuannya dengan Camelia. Masih teringat jelas bagaimana awal pertemuannya dengan Camelia. Febian memerlukan waktu berminggu-minggu untuk mendekati Camelia, karena gadis itu sangat menutup diri, terutama kaum laki-laki. 


Bahkan yang membuat Febian tersenyum geli, yaitu ketika ia harus berpura-pura menjadi seorang gay, hanya untuk membuat Camelia mau menjadi temannya. Dan bodohnya ia justeru berpura-pura menjadi pasangan seorang lelaki bernama Raja, yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri. 


Sama halnya dengan Febian, Raja pun sebenarnya seorang lelaki tulen, bahkan lelaki itu sudah mau menikah dua bulan lagi. Febian sangat berharap, sampai pernikahan Raja, hubungan pura-puranya tidak terbongkar. Karena jika itu terjadi, Camelia akan sangat membencinya dan Febian belum siap untuk itu. 


Bermain-main dengan api memang bisa membakar diri sendir. Sama hal nya dengan Febian, yang awalnya mendekati Camelia hanya untuk membantu gadis itu, karena rasa hutang budinya pada Rosaline, namun perlahan rasa itu datang dan semakin lama semakin tumbuh, hingga rasa iba berubah jadi rasa ingin memiliki. Namun, bagaimanapun ia berusaha agar Camelia menganggapnya sebagai lelaki dan bukan sahabat, tetap saja tidak berhasil karena Camelia terlanjur tahu, Febian adalah seorang penyuka sesama jenis. 


Tapi menurut Febian itu lebih baik, daripada ia harus menjauhi Camelia ia lebih memilih untuk tetap berpura-pura menjadi pecinta sesama jenis, agar ia tetap berada di dekat Camelia. Meskipun ia harus menahan rasa cemburu, setiap kali ia melihat Camelia bermesraan dengan Jupiter. Febian cukup tahu diri, karena Jupiter rival terberat yang harus dihadapi, bahkan mungkin Febian hanya memiliki satu persen kemungkinan dari sekian juta kesempatan yang ada. 


Namun Febian masih sangat berharap, meski kesempatan itu hanya tinggal setengah persen sekalipun. Dan Febian akan memanfaatkan kesempatan setengah persennya itu, untuk membuka mata Camelia. Febian tidak akan berbuat licik untuk mendapatkan perhatian Camelia, ia hanya akan menunggu kesempatan, tanpa harus menjatuhkan Jupiter. Karena menurut Febian, tidak ada hal apapun yang akan berhasil, jika diawali dengan kesalahan dengan cara yang licik. 


Sesampainya di depan pintu apartemen, Febian terlebih dahulu menghela nafas, mencoba kembali mengumpulkan kekuatannya. Dan begitu pintu terbuka, camelia langsung berdiri dari kursi untuk menyambut kedatangannya. 


"Kenapa lama?" Keluh Camelia dengan pipi menggembung dan melipat kedua tangannya di dada, seolah ia tengah bertanya kepada suami yang telat pulang. 


Sementara itu Febian hanya bisa tersenyum, sambil terus berjalan mendekat.


"Ada urusan. Kenapa, kangen?" Ledek Febian, meski sebenarnya ia sangat berharap Camelia mau menjawab iya. 


"Bukan kangen, tapi laper. Gak ada yang masakin." Rengek Camelia sambil bergelayut manja di lengan Febian.


"Dasar!" Febian menjitak dahi Camelia, dan gadis itu memekik kesakitan, namun setelahnya ia justru tersenyum lebar. 


Senyum yang mampu membuat jantung Febian kembali harus bekerja dua kali lipat, karena senyum Camelia yang bisa membuat hatinya tidak karuan. 


Dalam hati Febian merapalkan berbagai doa, agar ia tidak lepas kendali dan memeluk Camelia, atau memeluk gadis itu secara tiba-tiba. 


"Tuhan tolong kuatkan hatiku!" Ucap Febian dalam hati. 

__ADS_1


__ADS_2