
Author pov
Jupiter tergesa-gesa mencari keberadaan Kara. Amarah yang kian membuncah seperti gunung berapi yang hendak mengeluarkan lava panas. Tidak ada yang berani menghentikan langkahnya, melewati kerumunan orang-orang yang memenuhi toilet kamar mandi siswi perempuan.
Dengan penuh emosi, Jupiter merangsek masuk. Menerjang siapapun yang menghalangi jalannya. Begitu ia sampai di dalam salah satu bilik kamar mandi, nampak seorang perempuan tengah meringkuk,menangis menutupi sebagian bajunya yang kotor dan robek,bahkan pakaian dalamnya terlihat.
"Kalian liat apa?! Bubar!!" Jupiter membentak siapapun yang masih berdiri di situ, menyuruh mereka segera pergi.
Jupiter meraih hp salah satu siswa yang dengan sengaja masih merekam,
"Berani lo ngerekam. Gue bikin hidup lo menyesal seumur hidup! Ngerti?!" Siswa pemilik hp hanya mengangguk, namun merasa belum puas, Jupiter justru membanting ponsel hingga hancur berkeping-keping. Sontak semua siswa terkejut.
"Siapapun yang masih berani merekam, berarti dia cari mati!"
Melihat luapan emosi Jupiter yang semakin tak terkendali, membuat para siswa mundur teratur meninggalkan Jupiter.
Ia segera menghampiri gadis yang meringkuk memeluk lututnya di pojokan bilik kamar mandi. Jupiter membuka seragam miliknya, menyisakan kaos dalam yang masih dikenakannya. Baju seragam miliknya ia pergunakan untuk menutup tubuh perempuan di hadapannya yang menggigil ketakutan.
"Kamu aman sekarang." Jupiter menyelimuti seragam sekolahnya, menutupi tubuh wanita itu yang nyaris telanjang.
"Kara,,, " panggil Jupiter.
"Kara,,," sekali lagi Jupiter memanggil, namun Kara masih menunduk menyembunyikan wajahnya. Tubuh Kara bergetar hebat, bulir air mata mulai berjatuhan membasahi wajahnya.
"Maafin aku, aku datang terlambat." Jupiter merengkuh tubuh Kara yang kian makin kencang bergetar.
"Maafin aku." Ucapnya lagi, semakin membuat Kara menangis pilu.
Tiga puluh menit sebelumnya.
Kara memasuki toilet khusus siswi perempuan begitu ia menerima pesan jika Nadira pingsan di toilet. Karena khawatir tanpa pikir panjang Kara langsung berlari mencari keberadaan Nadira di toilet. Namun, bukan Nadira yang ia temui justru sekumpulan sisa yang terdiri dari dua lelaki dan satu perempuan langsung menyekapnya di dalam kamar mandi.
Satu laki-laki langsung menyekapnya, satu perempuan langsung menampar bahkan menjambak rambut Kara,sedangkan lelaki yang satunya berjaga-jaga di pintu luar.
"Ini balasannya karena lo udah keganjenan menggoda Jupiter!" Perempuan itu kembali menjambak rambut Kara dengan kencang.
"Aku bisa jelasin. Aku ga ada hubungan apapun sama Jupiter." Kara mencoba membela diri,meronta melepas cengkraman kuat lelaki yang masih memegang kedua tangannya.
"Lo pikir gue percaya?"
"Ayu, aku bisa jelasin. Awww!" Ayu kembali menjambak rambut Kara.
Tiba-tiba Ayu mengambil ponsel dari kantong rok yang dikenakannya, mengangkat dan memulai video siaran langsung di akun facebook miliknya.
"Biar seru,,, mari kita lihat seberapa murahnya perempuan ini." Ayu menarik paksa seragam sekolah Kara, hingga kancingnya terlepas dan berhamburan ke lantai.
"Ayu jangan! Aku mohon." Kara meronta mencoba menutupi bagian dadanya yang mulai terlihat.
Sreeek!
Ayu kembali menarik seragam Kara hingga robek, memperlihatkan bra putih yang dikenakannya. Sontak Kara memekik bahkan dia menangis,memohon agar Ayu menghentikan aksinya. Namun bukannya berhenti,Ayu justru semakin tertawa dan kembali menarik penutup terakhir tubuh Kara.
Semua kelakuan kejinya itu tidak luput dari siaran live facebooknya, yang selalu ramai ditonton hampir semua siswa. Meskipun ini hanya akun second miliknya, tetap saja Ayu memiliki banyak penggemar di sekolah ini, dan tentu saja siaran live nya kali ini sudah ramai ditonton puluhan bahkan ratusan siswa.
Sedangkan di ruangan lain, Nadira tengah berlari menyusuri setiap ruangan, bahkan Nadira sampai mencari ke setiap pelosok tempat, tapi orang yang dicarinya tak kunjung ditemukan.
Hingga Nadira menemukan sosok yang dicarinya tengah membantu pal Somad membetulkan rak buku di perpustakaan yang tiba-tiba roboh.
"Jupiter!" Merasa namanya dipanggil, Jupiter langsung menoleh.
Tanpa basa basi Nadira langsung menghampiri Jupiter, memperlihatkan layar ponselnya.
Mata Jupiter seketika terbelalak, bahkan dia langsung berdiri, berlari sekencang mungkin menuju toilet.
Jupiter hanya bisa menemukan Kara dengan kondisi mengenaskan, sedangkan Ayu dan kedua temannya tidak lagi berada di tempat. Jupiter tidak ingin membuang waktu, dia segera membawa Kara ke ruang UKS, karena kondisinya yang mulai memprihatinkan. Ingin sekali Jupiter mencari keberadaan Ayu, namun ia lebih mementingkan kondisi Kara.
__ADS_1
"Kara!" Jupiter memegang kedua bahu Kara, namun Kara masih tetap menunduk tidak sedikitpun Kara mau menatap matanya.
"Kara. Please katakan sesuatu, jangan diem kaya gini!" Jupiter menarik dagu Kara, hingga terangkat. Mata sembab Kara bertemu dengan manik coklat miliknya.
"Aku minta maaf,,," Lirih Jupiter, membuat butiran air mata Kara kian deras.
"Maafin aku,,," Jupiter mendekatkan wajahnya, menempelkan dahinya dan dahi Kara.
"Maaf," Berulang kali Jupiter berucap Maaf, namun Kara tidak sepatah katapun membalas. Kara justru menangis tanpa bisa dihentikan.
Melihat kondisi Kara yang sulit diajak bicara, akhirnya Kara diantar pulang kerumahnya. Kara diantar Nadira, karena Jupiter memilih mencari keberadaan Ayu.
Nadira mengantar Kara hingga ke dalam kamar,
"Kara,, " Nadira memegang erat tangan sahabatnya yang terasa begitu dingin.
"Kar,, " suara Nadira bergetar menahan tangis yang kian menyesakkan melihat Kara tidak bereaksi apapun.
"Maafin gue, gue sahabat yang buruk." Nadia mulai terisak,
"Salahin gue Kar, gara gara gue lo kaya gini." Nadira semakin histeris, perlahan genggaman tangannya di balas Kara.
Nadira mendongak menatap mata Kara, sorot mata Kara kosong tidak ada lagi tatapan penuh semangat seperti biasanya.
"Lo sahabat terbaik yang gue punya," akhirnya Kara bersuara, meski lirih dan pelan.
"Sampai kapanpun lo tetap sahabat terbaik yang gue punya, dan gak akan ada yang bisa ngerubah. Apapun yang terjadi lo tetap sahabat baik gue ,Kar." Kara mengangguk, merentangkan kedua tangannya dan di sambut pelukan hangat Nadira.
Keduanya sama-sama menangis, setelah kondisi Kara mulai membaik, akhirnya Nadira pulang karena hari sudah mulai malam, Nadira pulang di jemput supir pribadinya.
Kara tidak berani membuka ponselnya semenjak kejadian tadi siang, dia terlalu takut melihat seberapa buruk komentar orang-orang yang menonton siaran langsung tadi.
Kara hanya mengurung diri di kamar, bahkan dia terlalu malu meski hanya berpapasan dengan Bi Iyah. Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dengan kasar. Nampak Ibunya datang dengan asisten pribadinya Mala.
"Ini yang kamu lakukan di sekolah? Iya?!" Ibu menjorokan tubuh Kara hingga terhuyung membentur dinginnya dinding.
"Kara bisa jelasin,Bu." Rintihnya
"Apa yang mau kamu jelaskan? Kamu tau video telanjangmu sudah tersebar dimana-mana. Kamu Memang benar-benar bukan anak kandungku, tidak ada setetespun darahku mengalir dalam dirimu."
Bagai dihantam batu besar, jantung Kara berdenyut nyeri, belum habis rasanya kejadian tadi siang membuatnya terkejut, kali ini dia kembali dikejutkan dengan kenyataan paling pahit di hidupnya.
"Nggak, Kara anak Ibu!" Kara mencoba meraih lengan Ibunya
"Kara tau, Kara salah. Tapi ibu bercanda kan? Kara anak Ibu kan? Iya kan,Bu?" Kara mengguncang-guncang lengan Ibunya,
"Kamu bukan anak kandungku." Tegas Ibu, membuat Kara merintih menangis pilu.
"Mala, segera selesaikan masalah Kara. Setelah itu kita bawa dia pergi. Jangan biarkan Kara keluar rumah tanpa seijin dariku. Mengerti?!" Perintahnya mutlak.
Semua barang-barang disita dari kamar Kara, termasuk laptop dan juga hp. Meski Kara memohon agar tidak mengurungnya di kamar,tapi tidak sedikitpun di gubris. Justru semua asisten rumah tangga tidak diperbolehkan masuk kedalam kamar Kara, terkecuali jam makan.
"Bi Iyah,,, buka pintunya,Bi. Kara mohon,Bi, Tolong buka!!!" Kara memohon Bi Iyah mau berbaik hati membuka pintu kamarnya. Sedangkan Bi Iyah hanya bisa berdiri, menangis mendengar rintihan Kara di balik pintu. Bi Iyah pun tidak bisa berbuat apa-apa karena Ibunya Kara melarang siapapun masuk atau membuka pintu kamar.
Kara dikurung di dalam kamarnya hingga esok paginya,Kara baru diperbolehkan keluar kamar, tapi tetap dalam pengawasan Mala, asisten pribadi Ibunya.
Sedangkan Dahlia Ibunya Kara, pergi sejak malam harinya entah kemana.
"Mulai hari ini kamu tidak perlu lagi datang ke sekolah. Lusa kita akan pindah." Ucap Mala, meskipun Kara tidak merespon apapun.
"Tidak perlu berkemas, semua kebutuhan kamu sudah dipersiapkan Ibu. Kamu hanya perlu jadi gadis penurut dan ikuti semua perintah Ibu." Lanjutnya.
Kara hanya diam,memandang hampa keluar jendela kamarnya.
"Aku tidak akan melawan. Aku akan jadi gadis penurut seperti yang Ibu mau. Tapi aku ingin bertemu Ayah."
__ADS_1
"Ibu tidak mengijinkan kamu bertemu siapapun."
"Hanya Ayah,,, aku hanya ingin bertemu Ayah. Untuk terakhir kalinya. Setelah itu aku janji tidak akan meminta apapun lagi."
Mala akhirnya mengalah, meski ia harus berhadapan dengan majikannya jika sampai tahu Kara keluar rumah dan menemui Ayahnya, tapi Mala merasa iba melihat kondisi Kara yang begitu menyedihkan. Akhirnya Mala memberi izin Kara menemui Ayahnya, tapi hanya tiga puluh menit.
Kara perlahan memasuki kamar dimana Ayahnya dibrawat. Keadaan Fathur belum membaik, dia masih harus dirawat secara intensif, karena tekanan darahnya yang sewaktu-waktu sering naik.
"Ayah,,," Kara berjalan gontai, meraih jemari Ayahnya yang masih menancap jarum infus.
"Kara?" Fathur tersenyum lebar melihat kedatangan putrinya.
"Ayah, Kara kangen Ayah." Kara memeluk tubuh Ayahnya. Mendekap erat seakan tidak ingin melepasnya.
"Ayah juga kangen putri Ayah yang paling cantik." Fathur mencubit gemas hidung Kara.
"Wajah kamu pucat banget. Kamu sakit, sayang?" Fathur mengamati wajah putrinya dengan seksama.
"Nggak, Kara sehat ko." Jawab Kara, tangannya mengusap kasar air mata yang sudah mengalir di pipinya.
"Kara sayang, maafin Ayah. Ayah tidak bisa mempertahankan lagi rumah tangga dengan Ibumu." Kara memang sudah tau jika kedua orang tuanya tengah memproses perceraian.
"Kara tau, Kara juga minta maaf karena Kara tidak bisa menjadi alasan kuat untuk kalian tetap bertahan."
"Ayah juga minta maaf karena menutupi kebenaran jika Ayah memiliki anak dari istri Ayah dulu. Pasti kamu sangat terkejut dan terluka."
Kara menggeleng,"Kara nggak ngerasa gitu, justru Kara senang akhirnya Ayah bisa bertemu dengan anak kandung Ayah."
"Kamu tidak akan kesepian lagi, sekarang kamu memiliki saudara. Dia pasti akan menjadi kakak yang baik."
"Dia bukan saudara Kara, karena Ayah juga bukan Ayah kandung Kara." Fathur tertegun mendnegar ucapan putrinya.
"Kara, siapa yang berani berkata seperti itu. Kamu putri Ayah!"
Kara tersenyum pedih, "Ayah tau, Kara sayang sekali sama Ayah. Ayah adalah cinta pertama di hidup Kara, Ayah my hero di hidup Kara." Suara Kara tercekat,
"Nggak! Kara putri Ayah. Kara putri kandung Ayah. Siapa yang berkata seperti itu, siapa?!"
"Ayah juga selamanya akan tetap jadi Ayah Kara. Sampai kapanpun. Tapi_?
"Nggak, sayang. Jangan bicara apapun lagi dan jangan dengarkan siapapun. Kamu tetap putri Ayah." Fathur tetap bersikeras, bahkan dia menarik Kara,mendekap tubuh putrinya dengan erat.
"Maafin Kara, Yah." Isak Kara di pelukan Ayahnya.
"Kara putri Ayah, sampai kapanpun tetap putri Ayah." Tegas Fathur.
Kara tidak menceritakan jika dia akan di bawa Ibunya pergi, Kara hanya memberi pesan agar Ayahnya cepat sembuh dan menjaga kesehatannya dengan baik. Karena waktu yang diberikan Mala hampir habis, akhirnya Kara pamit pulang. Meski ia tahu mungkin ini pertemuan terakhirnya dengan Fathur, tapi sampai kapan pun, Kara akan tetap mencintai Fathur sebagai Ayahnya.
Semua sudah bersiap-siap menuju bandara, entah kemana Ibunya akan membawanya pergi. Kara tidak sedikitpun diberi kesempatan untuk mengucapkan salam perpisahan pada sahabatnya ataupun pada Jupiter.
"Bi, Kara pergi ya," Kara memeluk Bi Iyah, dengan haru, bahkan Mbak Susan dari tadi sudah menangis meraung-raung.
"Hati-hati,Neng. Bibi sayang neng Kara." Bi Iyah melepaskan pelukannya, dia amat menyayangi Kara, bahkan Bi Iyah sudah menganggap Kara seperti putrinya sendiri.
"Kalian baik-baik ya di rumah."
"Cepat kembali ya, Neng Kara. Nanti gak ada yang nemenin Mbak Susan beli nasi goreng."
Kara tertawa sekilas mendengar rajukan Mbak Susan.
"Iya, secepatnya Kara balik lagi. Kara mau titip ini, kalau ada yang cari Kara, tolong kasih ini." Kara memberikan sebuah kertas berwarna biru kepada Susan.
"Buat siapa?"
"Dia pasti jadi orang pertama yang datang mencari Kara kesini. Jadi Mbak Susan tinggal kasih aja."
__ADS_1
Susan hanya mengangguk, meski sebenarnya dia masih bingung.
Kara masuk ke dalam mobil,dia tidak membawa tas ataupun barang bawaan lainnya. Kara meninggalkan semua barang-barang miliknya di rumah ini, kecuali satu, dia tetap membawa Jupi, pindah bersamanya.