CAMELIA

CAMELIA
episode 36


__ADS_3

Camelia 36


Matahari sudah berada tepat diatas kepala, waktu sudah menunjukan pukul satu siang. Berulang kali Jupiter memeriksa ponselnya, berharap Camelia membalas puluhan pesan yang ia kirimkan dari pagi hingga satu menit lalu. Namun, entah kemana perginya gadis itu, tidak ada tanda-tanda pesannya terkirim, bahkan masih centang satu. 


Jupiter semakin gelisah, tatkala panggilannya pun tidak ada jawaban, bahkan hanya dijawab suara operator. Selain nomor ponsel Camelia, ternyata ponsel milik Febian pun sama, sulit dihubungi. Seakan mereka berdua tengah berkompromi untuk membuatnya semakin cemas. 


Prasangka buruk kian berseliweran di pikirannya, bahkan Jupiter sampai berpikir mungkin saja Camelia akan melarikan diri lagi, seperti beberapa tahun lalu. Jupiter semakin gelisah, hatinya entah berada dimana meski kini raganya tengah berada di antara beberapa petinggi, untuk melakukan rapat dadakan. 


Waktu yang berjalan hanya tiga puluh menit, terasa bagaikan tiga puluh jam bagi Jupiter. Ia ingin segera keluar dari ruangan rapat tersebut, dan segera mencari keberadaan Camelia. 


Beruntunglah rapat kali ini tidak memakan waktu terlalu lama, sehingga ia bisa dengan segera keluar dari ruangan yang terasa begitu menyiksanya. Langkah Jupiter kian tergesa menuju ruang kerjanya, ia ingin segera mengambil kunci mobil dan segera bergegas menuju apartemen Camelia, untuk memastikan sendiri keberadaan gadis itu. 


Begitu pintu ruangan kerjanya terbuka, langkah Jupiter terhenti, begitu melihat seorang gadis tengah duduk di kursi panjang, sambil mendekap rantang biru di atas pangkuannya. Senyumnya langsung merekah, begitu melihat Jupitrt datang. 


"Baru selesai? Aku bawa makan siang buat kamu, kamu pasti lapar kan?" Ucap Nadira, dan langsung menaruh rantang miliknya di atas meja, dan bergegas membukanya. 


"Nad,,," panggil Jupiter. Nadia mendongak, menatap Jupiter dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya. 


"Aku masak kesukaan kamu. Kita makan bareng ya?" Seru Nadira. Bahkan dengan cekatan ia segera menyiapkan hidangan yang ia bawa, dan menatanya di atas meja. 


"Yok makan," ajaknya lagi. Kali ini Nadira menyodorkan sendok dan garpu yang masih terbungkus tisu ke arah Jupiter. 


"Aku gak lapar,"  balas Jupiter dingin. Bahkan ia mengabaikan ukuran sendok dari Nadira dan memilih mengambil jas dan kunci mobilnya, yang diletakan di meja kerjanya. 


Senyum Nadira pudar, ini bukan pertama kalinya Jupiter bersikap dingin padanya. Namun, Nadira sangat menyadari perubahan Jupiter akhir-akhir ini, dan Nadira merasa hubungan mereka semakin menjauh. 


"Kamu gak suka ya menu makanannya?" Tanya Nadira,


"Nggak, aku memang gak lapar." Jawab Jupiter singkat. 


"Aku masih ada urusan penting. Aku harus segera pergi." Lanjut Jupiter.


"Apa urusan itu lebih penting daripada aku?" Pertanyaan Nadira membuat Jupiter menghentikan langkahnya,


"Aku sudah bertanya semua jadwal kepada sekretaris kamu. Dia bilang hari ini kamu free, hanya ada jadwal menghadiri rapat, dan setelahnya kamu tidak ada pekerjaan lagi." 


"Kamu mulai mengawasi setiap kegiatanku?" Tanya Jupiter dengan nada tidak suka. 


"Tidak,, bukan begitu maksudku," elak Nadira, sambil gelengkan kepalanya lemah. 


"Aku hanya ingin kamu seperti dulu. Akhir-akhir ini kamu sering menghindar, bahkan meskipun aku datang kerumahmu, kamu pasti menghindar dan banyak beralasan. Kenapa?" Tanya Nadira. 


Jupiter menghela lemah, mengusap wajahnya dengan kasar. Di saat hatinya tengah berkelana entah kemana, karena Camelia yang tak kunjung membalas pesan atau mengangkat telpon darinya, kini ia dihadapkan dengan tuntutan Nadira yang memintanya penjelasan. 


"Nad,, aku capek. Aku harus segera pergi." Balas Jupiter.


"Aku juga capek kita kaya gini terus. Aku ingin kita seperti pasangan normal pada umumnya. Menghabiskan waktu bersama, bukan seperti kita yang lebih mirip seperti tengah melakukan permainan petak umpet." Kini Nadira bangkit dari kursi, dan berjalan menghampiri Jupiter. 


"Aku tahu kamu menghindar, aku tau kamu hanya beralasan sibuk agar bisa menghindar. Iya kan?"


"Nad,,, please. Jangan mempersulit keadaan." 


"Kamu yang mempersulit keadaan, bukan aku!" Suara Nadira kian meninggi, bahkan kini tubuh wanita itu mulai bergetar, menahan tangis. 


"Aku butuh kamu. Tapi, kamu selalu sibuk dan gak pernah peduli padaku," isaknya, sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. 


"Nad,,, bukan begitu maksudku." Jupiter meraih bahu Nadira, mencoba menenangkan gadis yang sudah berstatus sebagai tunangannya itu. 


"Nad,,dengarkan aku." Jupiter mencoba menjelaskan agar Nadira mau mengerti, namun baru saja ia hendak meraih tangan Nadira, gadis itu terlebih dulu menepis lengan Jupiter.


"Aku mau pulang!" Nadira menepis lengan Jupiter, dan segera meraih tas selempang miliknya yang berada di atas kursi. 

__ADS_1


"Nad,,, tunggu!" Jupiter menahan Nadira,


"Kamu berdarah,,," Jupiter panik begitu ia melihat darah segar mengalir dari hidung Nadira. 


Nadira menyeka aliran hangat yang terasa menjalar dari hidungnya, 


"Darah,,," gumamnya pelan, dan detik berikutnya tubuh Nadira limbung dan terjatuh.


"Nad,,, sadar!! Nadira!" Jupiter mengguncang tubuh Nadira berulang kali, mencoba mempertahankan kesadaran gadis itu. Namun, Nadira tidak kunjung juga membuka matanya, hingga ia dilanda rasa panik dan berteriak meminta tolong. 


Tidak berselang lama, sekertaris yang tidak jauh berada di dekat ruangannya datang, sang sekretaris begitu terkejut melihat Jupiter tengah memangku Nadira yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri. 


"Segera panggil ambulance!!" Perintah Jupiter. Tanpa berlama-lama, sekertaris itu segera berlari keluar, mencari bantuan dan segera menghubungi Rumah Sakit terdekat. 


Jupiter menggendong tubuh ringkih Nadira, membawanya masuk ke dalam lift. Setengah berlari, ia berjalan secepat mungkin, agar segera sampai di lobby yang sudah tersedia ambulance yang akan membawa Ndira ke Rumah sakit. Jupiter tidak menghiraukan  apapun lagi, ia pun segera memasuki mobil ambulance, ikut bersama Nadira ke Rumah sakit. 


Ndira segera dilarikan ke instalasi gawat darurat. Beberapa perawat dengan sigap langsung menangani Nadira. Sementara itu Jupiter segera menghubungi keluarganya dan juga keluarga Nadira, memberi mereka kabar, jika kini Nadira berada di Rumah sakit. 


Orang pertama kali datang adalah Nadia, kakak dari Nadia. Perempuan yang masih terlihat sangat cantik itu, berjalan tergesa-gesa menghampiri Jupiter, yang kala itu sudah berada di luar ruangan, tempat Nadira di periksa. 


"Bagaimana keadaan Nadira?" Tanyanya begitu ia menghampiri Jupiter.


"Dia masih belum sadarkan diri, dan masih ditangani Dokter." Jawab Jupiter. 


Nadira nampak gelisah dan cemas, beberapa kali ia melongok melihat ke arah kaca yang menjadi pembatas dirinya dan Nadira berada. 


"Akhir-akhir ini Nadira murung dan sering mengurung diri di dalam kamar. Apa kalian bertengkar?" Tanya Nadia lagi.


"Tidak,,," jawab Jupiter singkat, karena pada kenyataanya memang mereka tidak bertengkar. 


"Aku tidak tahu masalah apa yang tengah kalian hadapi, atau mungkin kalian sekarang ini berada di dalam fase bosan. Aku mengerti itu. Tapi,,, bisakah kamu tetap berada disisi Nadir, karena hanya kamu yang bisa membuatnya semangat. Dan hanya kamu juga yang bisa membuatnya putus asa, seperti sekarang." Ucap Nadia, memohon. 


Jupiter menatap sendu wajah calon kakak iparnya itu, ia tidak tahu harus menjawab apa atas permintaan Nadira, karena sebenarnya ia sendiri pun bingung dengan perasaan nya. 


Seorang Dokter keluar dari ruangan itu, diiringi dua perawat dari belakangnya.


"Bagaimana Dok, keadaan adik saya?" Nadia langsung bertanya begitu Dokter keluar.


"Adik anda mengalami kurang asupan gizi, dan dia mengalami sedikit tekanan. Sehingga kondisinya tidak stabil. Untuk sementara dia harus dirawat intensif, untuk pemulihan kondisi tubuhnya dan memastikan dia memenuhi kebutuhan gizi harian nya." Jelas Dokter.


"Saya sudah memesan kamar rawat inap untuk Nadira, jadi tinggal menunggu saja, setelah itu dia akan dipindahkan untuk perawatan lebih intensif." Lanjut Dokter. 


"Terimakasih Dokter Revan." 


"Iya sama-sama. Kalau begitu saya permisi." Pamit Dokter Revan di ikuti dua perawat. Kini tinggal aku dan kak Nadia yang masih berada di ruang tunggu. Hanya berselang tiga puluh menit, akhirnya Nadira dipindahkan ke ruang rawat inap. Nadira masih tidak sadarkan diri, di ikuti Jupiter dan Nadia yang masih setia mengikutinya hingga kini mereka menempati sebuah kamar yang cukup luas. 


"Ayah dan Ibu masih di perjalanan, aku mau membeli minuman dulu. Aku titip Nadira ya?" Jupiter hanya mengangguk, dan Nadia berjalan keluar meninggalkan dirinya dan Nadira yang masih terbaring lemah di atas bangkar, dengan selang infus yang menancap di punggung tangannya dan juga selang oksigen yang melingkari hidungnya. 


Jupiter mendekatkan dirinya, duduk lebih dekat dengan Nadira. 


"Nad,,, bangun. Jangan tidur terus," ucap Jupiter, sambil menggenggam tangan Nadira. 


"Kamu harus sembuh. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Lanjut Jupiter, sebelah tangannya menyibak anak rambut Nadira, yang berjatuhan menghalangi dahinya. 


"Dia kembali Nad, dan aku ingin bersamanya. Jadi tolong,,, cepatlah sadar dan sembuh. Aku tahu selama ini kamu lebih banyak menderita daripada bahagia, hidup menjadi pasanganku. Jadi, aku mohon sadarlah, dan kita akhiri penderitaan ini." Lirih Jupiter, tepat di dekat telinga Nadira. 


Jupiter tidak menyadari jika ada cairan bening lolos dari pelupuk mata Nadira, karena Jupiter segera merogoh kantong celananya begitu ponselnya bergetar. Jupiter segera menerima panggilan dari ponselnya dan memilih menjauh dari Nadira. 


Sementara itu Nadira hanya bisa menangis dalam diam, bahkan ia masih memejamkan matanya begitu air matanya dengan deras mengalir. Ia mendengar semua perkataan Jupiter, mendengar dengan jelas semua ucapan kekasihnya itu. Hatinya perih, dan sakit. Namun, ia tidak bisa berbuat apapun, karena pada kenyataannya ia memang gagal merebut hati Jupiter. 


Jupiter segera menekan tombol hijau begitu Febian menghubunginya.

__ADS_1


"Ke apartemen gue sekarang!" Hanya itu yang Febian ucapkan, setelah itu Febian segera memutus sambungan, bahkan sebelum Jupiter menjawab ataupun bertanya. 


Seakan takut sesuatu hal buruk terjadi, Jupiter segera berlari meninggalkan Nadira yang masih berada di dalam kamar. Bahkan Jupiter tidak memperdulikan jika kini Nadira sendiri di dalam kamar sana. Ia hanya bergegas secepat mungkin mencari taksi, menuju apartemen Camelia.  


Beberapa kali Jupiter meminta sopir taksi melajukan mobilnya dengan cepat, namun jalanan Ibu kota tidak bisa diprediksi. Meskipun sudah lewat jam pulang kantor, tetap saja jalanan masih macet, dan memakan waktu hampir satu jam dari Rumah sakit menuju apartemen Camelia. 


Sesampainya di apartemen, Jupiter segera menuju lantai dimana Camelia tinggal. Ia segera menekan tombol pintu rumah Camelia. Beberapa kali ia menekan, tapi tidak ada jawaban, ataupun tanda-tanda ada pintu dibuka. 


Jupiter terus menekan tombol pintu, dan tanpa henti juga ia menghubungi nomor ponsel milik Camelia. Beruntung kaki ini panggilannya terhubung, pertanda Camelia sudah kembali mengaktifkan ponsel miliknya. 


Sudah hampir puluhan kali ia menekan tombol dan juga menghubungi Camelia, namun tidak juga pintu terbuka. Hampir saja ia menghubungi pihak keamanan, dan meminta mereka memeriksa keadaan di dalam rumah Camelia. Karena, tidak mungkin Febiane menghubunginya, jika tidak ada sesuatu yang terjadi dengan Camelia. 


Namun terdengar samar-samar suara pintu terbuka, membuat Jupiter mengurungkan niatnya. 


Perlahan tampak sosok perempuan yang begitu menyita pikirannya satu hari ini, tengah berdiri dengan rambut basah dengan wajah pucat, membuka pintu perlahan. Camelia tampak tidak baik-baik saja, bahkan bibir Camelia tampak putih, dan penampilannya begitu mengenaskan. 


"Kara!!" Seru Jupiter, ia segera menghampiri Camelia dan langsung memeluknya. Jupiter menghela nafas lega begitu ia merasakan tangan Camelia bergerak melingkari pinggangnya. 


"Kenapa lama banget buka pintunya?" Keluh Jupiter, mengurai pelukan dan menatap wajah Camelia. 


Camelia tersenyum tipis, dan balik menatap Jupiter.


"Aku mandi." Balas Camelia dengan suara lemah. Jupiter mengerutkan dahinya, bagaimana bisa Camelia mandi tapi seperti tengah menenggelamkan diri. Karena tubuh Camelia dingin, sedingin es, dan telapak tangannya berkerut seperti habis berendam lama. 


"Sudah berapa lama kamu mandi?" Tanya Jupiter. 


"Gak lama ko." Balas Camelia, kemudian ia kembali menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukan Jupiter.


"Dingin. Aku mau dipeluk." Pinta Camelia. 


Jupiter tidak lagi bertanya, ia hanya membalas pelukan Camelia


 Bahkan ia semakin mengeratkan pelukannya, seolah ia ingin mengalirkan panas tubuhnya, pada tubuh Camelia yang sedingin es. 


Camelia tidak kunjung juga melepas pelukannya, meski pelukan mereka sudah berlangsung cukup lama. Jupiter tahu, jika Camelia sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja, dan akhirnya ia mengangkat tubuh Camelia ala bridal style, dan membaringkan tubuh Camelia di atas tempat tidurnya. 


Jupiter menyelimuti tubuh Camelia hingga sebatas dada, dan mengelus perlahan rambutnya yang masih basah. 


"Kamu demam." Ucap Jupiter, begitu ia menyadari suhu tubuh Camelia yang terasa panas di telapak tangannya. 


"Mau kemana?" Tanya Camelia, begitu Jupiter hendak berdiri.


"Mau ambil kompres dan juga obat. Badan kamu demam."


Camelia menggeleng lemah, "Aku mau dipeluk kamu. Aku gak mau obat."  Pinta Camelia. 


"Tapi,,,"


"Please,,," 


Jupiter tidak bisa menolak permintaan Camelia. Meskipun ia sangat khawatir dengan kondisi Camelia, tapi ia tidak mungkin mengabaikan permintaannya. 


Jupiter mulai menaiki kasur, dan ikut bergabung dalam selimut yang sama dengan Camelia. 


Camelia segera menggeser tubuhnya mendekat, ia kembali benamkan wajahnya di dada bidang Jupiter. 


"Aku mengalami hari yang buruk. Ingin rasanya aku mati, tapi aku terlalu takut. Aku takut karena mati itu sakit, dan lebih sakit lagi, jika aku mati tidak bertemu denganmu terlebih dulu." Ucap Camelia. 


"Ngomong apa sih,,, kita akan mati bersama-sama. Meskipun harus sekarang, asalkan bersama, aku mau." Balas Jupiter.


Camelia tersenyum samar, ia mendongakkan wajahnya, menatap wajah Jupiter. Hanya dengan menatap wajahnya saja Camelia merasa beban hidupnya terasa berkurang,

__ADS_1


"Bagilah kesedihan ataupun beban hidupmu denganku. Kita selesaikan bersama." Jupiter mendekatkan wajahnya dan mencium sekilas bibir Camelia, kemudian mereka kembali berpelukan. Saling berbagi kehangatan dalam satu atap dan satu selimut. Bahkan Jupiter tidak lagi pedulikan ponselnya yang terus bergetar, ia menulikan telinga, dan membutakan matanya. Karena saat ini ia hanya ingin seperti ini, saling berpelukan dengan orang yang dicintainya. 


__ADS_2