
Camelia masih berdiri dibawah guyuran shower kamar mandinya. Ia masih menangis terisak, menangisi bagaimana buruk hidupnya. Pagi ini, ia dan juga Febian sama-sama pergi menemui salah satu investor yang akan membantunya, dan bekerja sama dengannya.
Berkat bantuan Raja, akhirnya Camelia dan juga Febian berhasil mendapat kontrak dengan salah satu perusahaan yang cukup besar. Namun, untuk mendapatkan kontrak kerja sama tidaklah mudah. Seperti kebanyakan pengusaha lainnya, sang pimpinan jelas meminta service lebih, agar semua hal bisa berjalan lancar tanpa hambatan.
Bagi Camelia, ini bukan kali pertama nya ia melakukan hal itu. Namun, kali ini ia tidak bisa berkonsentrasi begitu pengusaha itu meminta service lebih padanya.
Camelia tetap melakukannya, meski bayangan Jupiter terus berputar-putar di pikirannya. Bahkan sang pengusaha itu terus berdecak kesal karena merasa Camelia tidak profesional dalam memenuhi kepuasannya.
Dengan perasaan jijik, Camelia terus mengulum benda panjang dan menjijikan itu. Hingga rasanya ia ingin muntah, dan segera mengakhiri segalanya.
Meski sempat berdecak kesal, pada akhirnya pengusaha bertubuh tambun itu mengerang penuh kenikmatan, dan menyemburkan cairan putih miliknya ke wajah Camelia. Perlakuan tidak senonoh seperti itu sering Camelia dapati dari para pengusaha hidung belang yang mencari kenikmatan duniawi. Meski banyak yang meminta lebih dari sekedar *******, Camelia tidak pernah mau lebih dari itu.
Kebanyakan dari mereka menganggap Camelia hanyalah seorang pelacur murahan, yang mau menjual dirinya hanya untuk uang. Sehingga setelah kepuasannya terpenuhi, mereka terkadang langsung menyingkirkan tubuh Camelia, seolah Camelia adalah perempuan menjijikan.
Dan, kali ini pun terulang lagi. Setelah merasa nafsunya terpuaskan, si pengusaha itu menjorokan tubuh Camelia hingga terhuyung ke belakang.
"Dasar perempuan murahan!" Cibirnya sambil memakai kembali celana yang sempat ia lepas tadi.
Lelaki itu menghampiri Camelia yang masih membersihkan sisa-sisa cairan putih yang menempel di wajahnya dengan tisu. Lelaki itu mencengkram wajah camelia dengan satu tangannya.
"Aku kecewa dengan kinerjamu, lain kali dilakukan dengan baik! Atau aku akan membatalkan kontrak kerjanya." Lelaki itu melepas cengkramannya, dan meninggalkan tanda merah di pipi Camelia.
Camelia tidak melawan, ataupun membalas hinaan lelaki tersebut. Ia hanya diam, tanpa ekspresi.
Camelia masih duduk di salah satu kamar yang ada di sebuah bar, yang lelaki tadi pesan. Camelia masih duduk di lantai, perlahan ia mulai melihat ke sekeliling, dan ia bisa melihat pantulan wajahnya dari balik kaca yang berada tidak jauh dari tempatnya berada.
Camelia melihat sesosok perempuan, dengan pakaian berantakan, bahkan memperlihatkan sebelah bahunya dan dadanya. Dan juga ia melihat wanita rapuh yang kini mulai menangisi dirinya sendiri. Dan wanita itu adalah dirinya sendiri.
Suara pintu terbuka, tak kunjung membuatnya berhenti menangis sambil menatap pantulan wajahnya.
"Mel,,, Camelia?" Febian terkejut begitu melihat Camelia duduk bersimpuh di lantai. Segera ia menghampiri Camelia, membuka jas yang ia kenakan dan menutupi tubuh bagian atas Camelia yang terbuka.
"Ayo kita pulang." Ajak Febian sambil memapah tubuh Camelia. Pekerjaan hari ini sudah selesai, diakhiri dengan kondisi Camelia yang kembali mengenaskan.
Febian menghela nafas lemah, begitu mereka kini sama-sama berada di dalam mobil, hendak pulang.
Sesekali mata Febian melirik ke arah Camelia. Memperhatikan wajah temannya yang terlihat pucat, bahkan Camelia tidak mengeluarkan sepatah katapun sejak tadi. Febian tahu, sebenarnya Camelia sangat tidak menyukai pekerjaan seperti ini. Camelia pasti akan mengurung dirinya berhari-hari setiap kali ia usai melakukan pekerjaan menjijikan itu.
Namun seakan mereka terjebak dalam lingkaran iblis, mereka tidak memiliki pilihan lain, selain melakukan pekerjaan itu, untuk segera menyelamatkan perusahaannya dan segera menghindari Edward, musuhnya.
Tatapan Camelia masih sama, kosong. Ia tidak memperlihatkan ekspresi apapun, selain menatap ke depan dan hanya menatap lurus kedepan.
"Mel,,," Febian mencoba memanggil Camelia, berharap gadis itu mau meresponnya. Tapi, Camelia sama sekali tidak menjawab, bahkan ia juga tidak melirik ke arah Febian, meski sedikitpun.
Seakan tahu jika Camelia tidak ingin diganggu, Febian akhirnya kembali memilih diam. Membiarkan Camelia sibuk dengan pikirannya sendiri. Meski Febian menginginkan Camelia mau membagi kesedihannya, namun melihat Camelia seperti itu Febian memilih diam. Ia tidak ingin celotehannya justru membuat Camelia semakin terpuruk dan sedih.
Perjalanan terasa begitu lama, karena keduanya tidak ada yang bicara sedikitpun. Hanya alunan musik yang mengiringi perjalanan mereka, itu pun mereka entah menikmatinya atau justru sebaliknya.
Sesampainya di apartemen, mereka berdua segera bergegas menuju unit tempat tinggal mereka. Camelia yang pertama kali sampai di depan pintu, langsung membukanya dengan key card yang dimilikinya. Namun begitu pintu itu terbuka, Camelia berbalik ke arah Febian,
"Aku mau sendiri. Kamu cari aja penginapan." Ucap Camelia dingin.
"Mel,,, gue tahu lo,,,"
"Please,,," potong Camelia, bahkan ia memohon.
"Oke. Tapi lo harus janji sama gue. Jangan macam-macam, ataupun ngelakuin hal yang bisa membuat diri lo dalam bahaya."
Camelia hanya diam, tidak langsung menjawab.
__ADS_1
"Gue gak akan pergi sebelum lo janji!" Ancam Febian.
"Gue gak akan mati semudah itu, Feb. Edward pasti bahagia jika gue mati segampang itu. Dan, gue gak akan membiarkan itu terjadi. Gue akan baik-baik saja, seperti permintaan lo."
Meski Camelia sudah berjanji, tetap saja Febian merasa enggan untuk meninggalkannya seorang diri di dalam apartemen. Namun, Camelia tetaplah Camelia, ia sulit untuk di bantah. Akhirnya, Febian mengalah, ia pergi sesuai keinginan Camelia.
Febian merasa jika Camelia pasti melakukan hal-hal bodoh yang akan berpotensi menyakiti dirinya, bahkan dulu Camelia sempat akan melakukan percobaan bunuh diri dengan loncat dari atap gedung apartemen.
Tidak ada pilihan lain selain menghubungi Jupiter, pikir Febian. Akhirnya dengan sigap Febian segera menghubungi Jupiter. Hanya dengan satu kali dering, suara Jupiter langsung terdengar.
"Ke apartemen gue, sekarang!" Hanya satu kata yang Febian ucapkan, bahkan tanpa menunggu jawaban ataupun respon dari Jupiter, Febian langsung mematikan sambungan.
Febian merasa jauh lebih tenang setelah menghubungi Jupiter, ia yakin jika lelaki itu pasti akan segera datang. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Febian juga menitipkan satu kunci cadangan unit apartemennya pada salah satu Resepsionis, bahkan Febian sempat berpesan jika seseorang meminta bantuan atau meminta kunci cadangan dengan ciri-ciri yang sudah Febian sebutkan, maka Resepsionis tersebut dimintanya untuk menolong.
Febian tidak ingin terjadi hal buruk pada Camelia, ia sangat menyayangi teman baiknya itu. Dengan menghubungi Jupiter Febian merasa sedikit lebih tenang, ia yakin Camelia pasti mau mendengarkan ucapan Jupiter dibandingkan dengan dirinya.
Sedangkan itu Camelia kini berada di kamar mandi miliknya. Dengan perlahan ia membuka satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya, tidak menyisakan satu helai pun.
Perlahan Camelia membasahi tubuhnya dengan guyuran air dari shower. Ia sengaja memilih air dingin untuk membasuh tubuhnya.
Rasa dingin yang mulai terasa menjalar ke seluruh tubuhnya, hingga terasa ke dalam tulang. Camelia mulai menggosok setiap inci tanpa terkecuali, membersihkan semua sisa-sisa jamahan tangan kotor milik lelaki tadi. Bahkan Camelia sengaja menggosok-gosok apapun dengan kasar hingga kulitnya yang putih, terlihat merah.
Camelia meraih odol dan juga sikat gigi. Ia pun menggosok-gosok mulutnya dengan kasar, hingga tanpa ia sadari saking kerasnya ia menggosok, sikat gigi itu melukai gusinya hingga berdarah. Tapi, seakan Camelia tidak peduli dengan darah yang keluar dari gusinya, ia terus menggosok-gosokkan dengan kencang.
Seakan tidak ada gunanya melakukan itu hingga gusinya berdarah sekalipun. Tetap saja bayangan menjijikan itu masih teringat jelas di dalam pikirannya. Akhirnya Camelia melempar sikat gigi yang di pegangnya, ia kembali menangis, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Entah dosa apa yang telah diperbuatnya, sehingga ia harus menerima semua ini. Terkadang Camelia merasa jika Tuhan tidak adil padanya. Ia tidak pernah diberi satu kesempatan pun untuk bahagia, mungkin ia pernah mengalami suatu kebahagiaan dan itu hanya sebentar, karena setelah itu ia kembali berputar pada kehidupan menyedihkan yang terus berputar mengelilinginya tanpa henti.
Apakah harus mengakhirinya sekarang? Hanya itu yang selalu ada di dalam pikiran Camelia. Seakan tidak ada titik terang yang mampu menyelamatkannya, ia sering kali putus asa dan memilih ingin segera mengakhiri hidupnya.
Kesalahan yang tidak pernah ia lakukan, justru kini ia harus menanggung akibatnya bahkan ia harus membayar mahal atas apa yang tidak pernah ia lakukan.
Entah sudah berapa lama Camelia mengguyur tubuhnya dengan air dingin, bahkan kini kulit tubuhnya yang putih susu, berubah menjadi putih pucat. Bahkan di bagian telapak tangannya sudah mulai berkerut, akibat terlalu lama berada di bawah guyuran air dingin.
Mungkin lebih baik berada di bawah guyuran air dingin hingga tubuhnya menggigil dan mati, pikir Camelia. Namun, bayangan kematian dengan seribu penyesalan tidak akan membuatnya mati dengan tenang. Terlebih jika boleh meminta, ia ingin sekali mati setelah ia memberitahu Jupiter, bahawa dia pun sangat mencintai lelaki itu. Dengan begitu Camelia akan merasa jauh lebih tenang, meski harus mati dengan cara yang mengenaskan sekalipun.
Bayangan Jupiter kian terasa begitu nyata di pelupuk mata Camelia yang masih terpejam. Bahkan samar-samar ia mendengar suara Jupiter. Camelia tau ia hanya berhalusinasi, karena bisa mendengar suara Jupiter di tengah gemericik air. Tapi, suara itu terdengar semakin jelas dan terasa begitu nyata, hingga akhirnya Camelia membuka matanya perlahan. Ia sangat ingin bertemu dengan Jupiter.
Dengan langkah tertatih, Camelia keluar dari kamar mandi. Memilih pakaian seadanya,dan segera keluar kamar. Terdengar suara bel rumah berbunyi, berulang kali bahkan dengan ritme yang sangat cepat.
Camelia sudah bisa memastikan jika itu pasti Febian, jadi dia tidak berniat untuk membuka pintunya. Namun begitu dia membuka ponsel miliknya yang sempat ia matikan beberapa jam lalu, ia melihat banyak sekali notifikasi pesan dan panggilan masuk. Dari sekian puluh panggilan dan pesan yang masuk, semuanya dari Jupiter. Namun ada satu pesan yang begitu menarik perhatiannya,
"Jupiter ada di depan, buka pintunya. Jangan sampai dia mendobrak pintu apartemen gue, biayanya mahal kalau sampe rusak!" Satu pesan dari Febian, membuat sudut bibir Camelia melengkung, tersenyum.
Ia segera membuka pintu, dan benar saja. Begitu pintu itu terbuka, Jupiter sudah berdiri di depan pintu apartemennya dengan wajah khawatir.
"Kenapa lama banget bukanya?" Keluh Jupiter, dan langsung memeluk tubuh Camelia.
Seakan pelukan Jupiter adalah hal yang sangat ia tunggu-tunggu, Camelia pun balas memeluk Jupiter, bahkan ia semakin mengeratkan tubunnya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Jupiter.
Tidak ada lagi yang ingin ia lakukan sekarang, meski kini tubuhnya terasa menggigil akibat terlalu lama berada di bawah guyuran air. Tubuh Camelia mulai demam, tapi ia tidak peduli.
"Kara,,," terdengar suara Jupiter mengalun lemah di dekat telinganya. Perlahan Camelia membuka matanya, menatap lelaki yang sudah sama-sama berada di dalam satu selimut yang sama dengannya.
"Mmmm,,," gumam Camelia. Kemudian ia kembali menutup matanya, tapi tidak melepaskan pelukannya pada tubuh Jupiter.
"Badan kamu panas, aku ambilin obat dulu." Secara perlahan Jupiter mencoba mengurai pelukan Camelia. Namun Camelia kembalian gelengkan kepalanya,
"Aku gak butuh obat, aku mau dipeluk kamu." Camelia kembali menenggelamkan tubuhnya kedalam pelukan Jupiter.
__ADS_1
"Iya,,, nanti aku peluk lagi. Tapi aku ambil obat dulu, sebentar." Camelia masih menggeleng,
"Janji, setelah itu aku bakalan peluk kamu lagi. Sampai kamu puas." Kali ini Camelia tidak merespon apapun, membuat Jupiter gemas.
Jupiter akhirnya menarik dagu Camelia, mendekatkan wajahnya dengan wajah Camelia yang masih terpejam. Dilumatnya bibir manis milik Camelia, hingga gadis itu akhirnya membuka matanya.
"Jangan cium aku," elak Camelia sambil melepaskan dagunya dari tangan Jupiter.
"Aku akan cium kamu lagi kalau kamu gak mau minum obat." Ancam Jupiter.
"Obat aku cuman kamu," jawab Camelia, dan kembali ia memejamkan matanya.
Jupiter tersenyum mendengar rajukan Camelia, ia senang mendengarnya tapi ia juga khawatir dengan kondisi Camelia. Karena tubuh wanita itu mualai terasa lebih panas dari semejak terakhir ia periksa.
"Sebentar saja…. Ya?" Kali ini Jupiter tidak menunggu persetujuan dari Camelia, ia memilih beranjak dari tempat tidur dan mulai mencari obat-obatan di semua sudut rumah.
Setelah menemukan kotak obat yang berada tidak jauh dari meja makan, kini Jupiter hendak kembali ke kamar, ke tempat Camelia berada. Tidak lupa ia juga membawa segelas air hangat, agar Camelia bisa segera meminum obatnya. Namun pendengarannya menangkap bunyi ponsel yang terus berdering tanpa henti. Ia amat mengenali nada dering itu, pasti berasal dari ponselnya.
Mata Jupiter terbelalak begitu ia melihat begitu banyak notifikasi masuk, bahkan sudah ada ratusan panggilan masuk. Semua panggilan itu berasal dari kakak nya Dea, Ibunya, Ayahnya, dan juga ada beberapa panggilan dari Nadia, kakak Nadira.
Beberapa pesan sempat dibukanya, dan semua isi nya sama. Mereka memberi kabar jika kondisi Nadira kembali memburuk, dan meminta Jupiter segera datang.
Bahkan detik berikutnya, ponselnya kembali berdering.
"Iya kak," jawab Jupiter, begitu Dea menghubunginya.
"Jupiter, kamu dimana?" Tanya Dea,
"Aku ada urusan."
"Kamu tahu, Nadira kritis dan dia mencari kamu dari tadi. Cepat datang!"
"Tapi, kak,,,"
"Pergilah,,, aku sudah lebih baik." Terdengar suara Camelia, ikut menimpali. Jupiter segera berbalik dan melihat Camelia yang sudah berdiri tak jauh dari tempatnya berada.
"Pergilah,,,Nadira pasti membutuhkan kehadiran kamu." Ucapnya lagi, meski bibirnya terlihat putih dan pucat, namun Camelia tetap mencoba tersenyum.
"Kara,,," Jupiter menghampiri Kara, setelah ia meletakan ponselnya di sembarang tempat.
"Aku gak akan pergi kemanapun. Aku akan tetap berada di sini, di dekat kamu."
"Dia jauh lebih membutuhkanmu di banding aku," balas Camelia.
"Mungkin iya, dia memang membutuhkanku. Tapi,aku butuh kamu. Jadi jangan pernah mendorongku pergi." Pinta Jupiter.
"Aku akan memeluk kamu, sampai kamu bosan." Jupiter kembali memeluk Camelia, dan kembali mengajak gadis itu masuk kedalam kamar.
Kini mereka berdua kembali berada dalam selimut yang sama, setelah Camelia meminum obat.
"Jangan pergi." Ucap Camelia, kini kepalanya berada di atas lengan Jupiter.
"Aku ingin sekali menahanmu agar tidak pergi, tapi aku tidak punya apapun sebagai alasannya." Lanjut Camelia.
Jupiter menggeser lengannya, kini kepala Camelia menyentuh bantal, tidak lagi berada di atas lengannya.
Jupiter menatap lekat jauh kedalam mata Camelia, mengelus lembut pipi Camelia dengan punggung tangannya.
"Kamu punya segalanya untuk bisa menahanku. Bahkan sekalipun kamu terus memintaku pergi, aku tetap akan bertahan sampai kamu punya satu alasan kuat untuk memintaku pergi."
__ADS_1