
Febian mengajak Camelia pergi ke Singapura pada keesokan harinya. Febian tahu jika Camelia tengah dilanda gelisah dan tidak tenang. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pergi, menemui Ibu Camelia yang sudah tinggal di sana semenjak beberapa tahun lalu.
Sementara itu Jupiter kebingungan mencari keberadaan Camelia, yang langsung menghilang setelah mereka berdua terpisah di bandara Ngurah Rai bali. Jupiter takut jika ternyata Camelia kembali menghilang seperti waktu dulu.
Dan siang sore ini, setelah Jupiter pulang dari kantor, ia segera menuju kediaman Camelia. Sudah dua hari perempuan itu tidak memberinya kabar, atau sekedar membalas pesan yang dikirimnya. Jupiter merasa tidak tenang, karena Camelia langsung berubah setelah malam itu. Meski Camelia tidak menceritakan apa yang terjadi, namun Jupiter yakin, Camelia tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
Sesampainya di depan apartemen milik Camelia, ia segera menekan bell, namun tidak ada jawaban, atau pun pintu terbuka. Berkali-kali Jupiter mencoba menghubungi nomor ponsel milik Camelia, namun ponselnya justru tidak aktif. Membuat Jupiter semakin merasa resah, hingga akhirnya Jupiter mencoba menghubungi Febian.
Untunglah nomor ponsel Febian masih aktif, namun Jupiter harus kembali kecewa, karena Febian tidak kunjung juga mengangkat panggilan darinya. Merasa begitu frustasi,Jupiter hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak ada yang bisa ia lakukan, karena sulit mencari keberadaan Camelia.
"Uncle,,Jupi…." Seseorang meneriaki namanya, dan sontak membuat Jupiter menoleh ke arah sumber suara.
"Elea!" Jupiter melihat gadis kecil berkepang dua, tengah berlari ke arahnya dan diikuti seorang perempuan dari belakangnya.
"Uncle Jupi ngapain disini? Mau main ke rumah aunty Mel ya? Aksa mana?" Gadis kecil itu memberondong Jupiter dengan banyak pertanyaan dalam satu tarikan nafas, membuat Jupiter tersenyum gemas.
"Uncle mau ketemu aunty Mel. Tapi kayaknya aunty Mel gak ada di rumah. Elea tahu kemana perginya aunty Mel?" Tanya Jupiter sambil menunduk, mensejajarkan tubuhnya dengan Elea.
"Elea gak tahu, kemana perginya aunty Mel. Elea juga kangen aunty Mel, uncle juga pasti kangen ya?"
"Iya, uncle kangen."
"Camelia pergi, sejak tadi siang." Jawab perempuan yang datang bersama Elea. Jupiter langsung melirik ke arah perempuan itu, dan segera berdiri.
"Kemana ya?"
"Saya kurang tahu, tapi dia pergi bersama Febian. Sepertinya pergi ke tempat jauh, karena mereka menitipkan Jupi, di penthouse."
"Ibu lihat aunty Mel. Kenapa Jupi gak di titipin di rumah Elea." Keluh Elea pada perempuan yang ternyata itu adalah Ibunya.
"Elea harus sekolah,dan ibu juga harus bekerja. Kasihan Jupi kalau dia tinggal di rumah kita, lebih baik dia dititipkan karena disana, jupi tidak akan kesepian dan banyak temannya." Jelas si ibu.
"Apa Camelia punya keluarga yang tinggal jauh dari sini?" Tanya Jupiter lagi.
"Saya kurang tahu. Karena Camelia sangat tertutup dan jarang mau membahas soal keluarganya." Jupiter kembali harus kecewa.
"Terimakasih infonya. Kalau begitu saya pamit pulang. Elea uncle pulang ya,," Jupiter mengelus rambut Elea.
"Nanti main lagi ya uncle, jak Aksa juga."
"Pasti. Nanti uncle pasti main lagi, dan pasti ajak Aksa juga."
Setelah berpamitan, dan pergi meninggalkan apartemen Camelia, Jupiter tidak tahu lagi harus kemana mencari keberadaan Camelia. Benar yang diceritakan ibu Elea, Camelia sangat tertutup dan tidak pernah mau membahas sedikitpun tentang keluarganya. Bahkan beberapa bulan kembali dekat pun,tidak membuat Jupiter tahu tentang keluarga ataupun hal lain yang menyangkut tentang kehidupan Camelia.
"Lo udah kasih kabar Jupiter?" Tanya Febian setelah mereka lepas landas dan menaiki taksi yang akan membawa mereka ke rumah orang tua Camelia. Mereka berdua sampai di Singapura tepat pukul tujuh malam.
"Belom." Jawab Camelia. Ia memang belum memberi kabar Jupiter perihal kepergiannya, bahkan Camelia tidak pernah membalas pesan yang Jupiter kirimkan padanya.
"Pantes," keluh Febian sambil mengacungkan ponsel miliknya. Terlihat nama Jupiter berderet dan sangat banyak di daftar panggilan masuk.
"Lo tahu, kalau lo kayak gitu terus, tuh laki bakal neror gue mulu. Dan gue risih, gua gak mau dianggap selingkuh sama Raja. Cepet kabari dia!" Febian berdecak kesal, karena setiap kali Camelia tidak memberi kabar pada Jupiter, lelaki itu akan terus menerus meneror Febian.
"Iya,,, nih gue mau bales." Camelia tersenyum melihat Febian yang sudah kesal, akibat ulah Jupiter.
"Udah tau punya laki cerewet." Gerutu Febian, sambil memasukan kembali ponsel miliknya kedalam kantong jaket yang dikenakannya.
Camelia segera mengaktifkan ponsel miliknya, dan tidak lama setelah ponselnya menyala, puluhan pesan masuk dan itu semua dari Jupiter. Camelia tersenyum melihat bagaimana paniknya lelaki itu, mengetahui jika dirinya tidak ada kabar sama sekali. Segera ia membalas pesan, untuk memberitahu Jupiter jika dirinya kini baik-baik saja.
Namun baru saja pesan itu terkirim, Jupiter terlebih dahulu menelponnya.
"Halo."
"Kamu dimana?" Jupiter langsung bertanya dengan nada suara panik.
__ADS_1
"Aku di Singapur, kamu tidak perlu khawatir aku baik-baik saja." Camelia mencoba menenangkan Jupiter, ia tahu lelaki itu panik karena kepergiannya yang tiba-tiba.
"Bisa tidak, kalau pergi itu bilang-bilang. Atau paling enggak balas pesanku. Kamu tahu aku hampir gila, nunggu balesan pesan dari kamu." Camelia justru tertawa mendengar keluhan Jupiter.
"Kamu bisa-bisanya tertawa, sedangkan aku disini kebingungan. Wah,,, hebat sekali kamu!"
"Bukannya aku memang hebat?"
"Gak usah mesum deh. Di telepon aja masih sempat-sempatnya. kalian membahas hebat dan tidaknya, ck,,ck…" sindir Febian, yang langsung mendapatkan pukulan oleh camelia, di tangannya.
"Kamu dimana? Aku nyusul."
"Aku baik-baik saja. Kamu gak perlu menyusul. Aku tidak akan lama, aku hanya ingin mengunjungi ibu, kamu tidak perlu khawatir." Camelia kembali fokus dengan pembicaranya, dan tidak lagi menghiraukan Febian yang masih saja menggodanya.
"Tapi kamu pasti kembali lagi kan?" Sedikit terdengar khawatir dari pertanyaan Jupiter.
"Aku pasti kembali. Aku tahu ada orang yang sangat merindukanku di Jakarta, jika aku tidak kembali."
"Kamu tahu, aku sangat takut. Kamu menghilang begitu saja," keluh Jupiter, kini ia sudah kembali tenang, meski sesekali masih terdengar merajuk dan protes karena tidak diizinkan menyusulnya ke Singapura.
"Bagaimana kalau ternyata aku kembali menghilang, dan tidak kembali." Tanya Camelia.
"Aku akan mencarimu, kemanapun. Dan aku pasti akan menemukanmu, meskipun kamu bersembunyi di bagian bumi paling jauh sekalipun." Camelia tersenyum, namun sebenarnya jauh di lubuk hatinya ia justru tengah mempersiapkan diri jika, suatu hari kemungkinan buruk itu terjadi.
"Kamu yakin pasti menemukanku?"
"Aku yakin!" Jawab Jupiter penuh keyakinan.
"Kamu salah, ada satu tempat yang tidak bisa kamu temui di dunia ini, jika aku bersembunyi di sana."
"Dimana?"
"Di akhirat,"
"Berarti ketika kamu benar-benar bersembunyi di sana, kamu menginginkan aku juga pergi kesana." Jawaban Jupiter, justru di luar dugaan Camelia.
"Aku tidak perlu izin darimu, karena hidup ataupun mati hanya aku yang menentukannya."
"Jupiter,,,"
"Aku juga sayang kamu." Jupiter tersenyum di seberang sana, berbanding terbalik dengan Camelia yang justru tengah mati-matian menahan air matanya.
"Aku titip salam ya buat ibu mertuaku. Sampaikan pada beliau, menantu nya yang tampan ini belum bisa menemuinya." Camelia tidak mampu menjawab, suaranya terasa tertahan di tenggorokan dan sulit untuk dikeluarkan.
"Jangan lama-lama disana. Aku kangen."
Jupiter pun mengakhiri panggilan dan bisa bernafas lega begitu mengetahui keberadaan Camelia. Meskipun ia masih merasa takut, takut jika ternyata wanita itu tidak akan kembali, tapi setidaknya ia masih bisa melacak keberadan Camelia.
Tidak berselang lama Camelia dan Febian sampai di kediaman orang tua Camelia. Sebuah rumah sederhana di salah satu pedesaan yang terletak di salah satu perkampungan yang cukup jauh dari ibu kota Singapura. Mereka sengaja memilih tempat tinggal yang letaknya jauh dari ibukota, karena mengingat kondisi ibu Camelia yang masih dalam tahap penyembuhan.
Kehadiran Camelia disambut hangat oleh ibunya Dahlia.
Perempuan yang kini sudah terlihat tua itu segera memeluk putrinya dengan sangat erat.
"Ibu kangen kamu, nak." Pelukannya semakin erat, ditambah isakan kecil yang lolos dari bibir Dahlia.
"Kara juga kangen ibu." Ibu dan anak itu saling melepas rindu, setelah hampir satu tahun tidak bertemu karena kesibukan Camelia.
"Mamh Nia dimana?" Tanya Camelia setelah mereka melepas pelukan.
"Ada, dia baru saja tidur. Baru saja minum obat."
"Bagaimana perkembanganya? Apa sudah ada perubahan?" Mereka berdua berjalan beriringan, menuju kamar Nia.
Pintu perlahan terbuka, dan menampilkan sosok perempuan paruh baya yang jauh lebih tua dari Dahlia. Dari segi usia mereka tidak terlalu jauh berbeda, hanya saja Nia mengalami gangguan mental, setelah melahirkan Camelia. Hingga saat ini keadan Nia sudah jauh lebih baik, meski tidak banyak perubahan berarti.
__ADS_1
"Mamah,, apa apa kabar?" Camelia duduk di samping tempat tidur, menggenggam tangan sang mamah yang sudah keriput dan kurus.
Camelia mengelus perlahan rambut Nia, mengusap lembut pipinya dengan perlahan, ia tidak ingin pergerakannya bisa membangunkan sang mamah. Camelia sangat menyayangi Nia, meski Nia tidak pernah menyadari jika Camelia adalah putri yang dilahirkannya dulu.
Setelah ia diadopsi Dahlia, Camelia tidak pernah tahu jika dirinya memiliki ibu lain, selain Dahlia. Namun serapat apapun seseorang menyembunyikan rahasia, pada akhirnya akan terbongkar juga. Setelah mengetahui jika dirinya hanya anak adopsi, Camelia segera mencari keberadaan ibu kandungnya. Namun, kenyataan pahit harus kembali ia terima, begitu tahu ternyata sang ibu mengalami gangguan mental dan tidak ingat siap Camelia.
Namun layaknya kasih sayang seorang anak kepada ibunya, Camelia tetap menyayangi Nia, seperti ia menyayangi Dahlia.
"Bagaimana keadaan kamu di Jakarta?" Tanya Dahlia, kini mereka tengah berada di meja makan setelah menyantap hidangan yang disediakan Dahlia. Camelia merasa lebih senang melihat Dahlia yang sekarang, karena perempuan itu jauh lebih menghargai segalanya daripada dulu. Kini Dahlia terlihat seperti perempuan pada umumnya, mengurus rumah, memasak dan mengelola toko kue kecil yang di bukanya, setelah mengalami kebangkrutan.
"Keadaanku baik, bu. Tapi belum ada perubahan banyak untuk perusahaan ibu." Dahlia segera meraih jemari putrinya, mengelus lembut punggung tangan Camelia dengan penuh kasih.
"Ibu tidak bertanya tentang perusahaan itu. Ibu bertanya tentang dirimu, karena kamu jauh lebih penting daripada perusahaan."
"Tapi tetap saja bu, perusahaan yang ibu rintis sejak dulu, harus berakhir sia-sia karena kesalahan yang aku perbuat."
"Ibu tidak menyalahkanmu, nak. Ibu rela kehilangan perusahaan itu, daripada ibu harus kehilangan dirimu."
Dahlia yang dulu begitu dingin, kini ia berubah dan begitu menyayangi Camelia. Ia menyadari setelah perceraiannya dengan Fathur, ia tidak memiliki siapapun lagi, selain Camelia.
"Kematian Nathan bukan kesalahanmu. Tuhan sudah menentukan batas usia seseorang ketika ia masih dalam kandungan ibunya. Jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Jika sudah terlalu berat untuk dijalani, kembalilah kesini,dan kita bisa hidup bahagia disini."
Dahlia mencoba meyakinkan sang putri kesayangannya, ia tahu Camelia sudah sangat berusaha tanggung jawab atas kesalahan yang pernah diperbuatnya dulu. Namun Dahlia yakin, putrinya tidak pernah berniat jahat, bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang. Ia tahu itu hanya kesalah pahaman, yang sialnya justru Camelia yang mendapat imbasnya.
"Aku ingin segera kembali kesini. Tapi, masih ada satu orang yang harus aku pastikan keadaanya. Aku akan kembali setelah tahu pasti, jika dia aman." Balas Camelia.
Dahlia tersenyum penuh arti, "apa itu Jupiter?"
Jikapun anak gadisnya tidak memberi tahu siapa orang yang dimaksud, Dahlia sudah tahu siapa orang itu. Karena Dahlia sangat tahu perasaan putrinya sejak dulu, sampai hari ini masih mencintai Jupiter cinta pertamanya.
"Apa dia masih tampan seperti dulu?" Goda Dahlia.
"Masih, bahkan jauh lebih tampan." Jawab Camelia dengan pipi bersemu merah.
"Ibu penasaran setampan apa dia saat ini. Dulu pun sudah sangat tampan, apalagi sekarang." Dahlia menerawang, mengingat-ingat wajah anak remaja yang dulu pernah ia temui.
"Dia semakin tampan dan,,,, sexy." Kekeh Camelia.
Mereka berdua tertawa bersama.
Sementara itu Febian hanya bisa melihat kedekatan ibu dan anak dari kejauhan. Ia tersenyum, tidak salah membawa Camelia ke tempat Ibunya, karena memang hanya pelukan ibu yang mampu membuat perasaan sang anak jauh lebih baik.
Namun senyum Febian hilang seketika, ketika ia mendapat pesan dari Jupiter. Jupiter masih bertanya tentang keadaan Camelia,
"Mel,,, hp lo dimana?" Teriak Febian.
"Ada di kamar kenapa?"
Febian datang menghampiri, dengan raut wajah kesal.
"Kantongin kenapa sih tu hp. Lo punya laki gak sabaran, tapi lo malah sengaja gak bawa hp." Gerutu Febian.
"Siapa feb?" Tanya Dahlia.
"Tante tahu, calon menantu tante itu sangat menyebalkan. Dia bisa menerorku setiap satu menit sekali, setiap kali anak tante telat balas pesan. Aku seperti pusat informasinya saja, sedikit-sedikit bertanya padaku." Keluh Febian, sambil menyomot kentang goreng diatas meja.
"Benarkah?" Dahlia seolah tidak percaya dengan cerita Febian.
"Benar tante. Mungkin kalau mereka menikah, mereka bakal langsung memiliki banyak anak, karena mereka sangat rajin membuat,,,"
Camelia langsung membekap mulut Febian dengan telapak tangannya, karena ia takut Febian akan lebih jauh menceritakan hubungannya dengan Jupiter.
"Jiwa lo emang ketuker Feb. Lebih baik lo pake rok aja sekalian, biar makin cocok mulut sama penampilan."
"Gue lebih baik dari pada cewe. Gue gak pernah buat tanda merah di leher kayak lo!" Merasa gemas, akhirnya Camelia memukul-mukul tubuh Febian dengan tangannya.
__ADS_1
Dahlia hanya bisa tertawa melihat tingkah kedua anak itu, ia merasa beruntung karena Camelia bisa berteman baik dengan Febian. Meski awalnya ia berharap mereka berdua bisa menikah, namun setelah tahu Febian tidak menyukai lawan jenis, harapannya sirna. Kini ia hanya bisa berharap, siapapun lelaki yang kelak akan menjadi menantunya, ia ingin lelaki itu mencintai puterinya dan membahagiakannya.