
Sinar matahari perlahan menembus tirai tipis yang masih menutupi jendela kamar. Dua insan manusia yang masih bergumul dalam satu selimut, dan dalam keadaan tubuh polos tanpa sehelai benang pun masih, tampak saling berpelukan.
Jupiter memang berhasil membuat rasa trauma pada istrinya secara perlahan menghilang, meski belum sepenuhnya karena beberapa kali Camelia harus mencakar, bahkan menggigit punggung Jupiter untuk meredam rasa takutnya. Tapi itu tidak seberapa dengan kenikmatan yang ditawarkan Camelia untuknya. Himpitan sempit yang disuguhkan Camelia sungguh membuat gairah Jupiter meroket tinggi, terbukti dengan beberapa tanda merah yang hampir memenuhi dada Camelia hasil perbuatannya.
Entah sudah berapa kali mereka melakukannya, karena mereka berhenti ketika sudah memasuki dini hari, dan sudah tidak memiliki tenaga lagi. Barulah mereka berdua tertidur.
Perlahan Camelia menggerakan tubuhnya dengan sangat hati-hati, ia tidak ingin pergerakannya bisa membangunkan Jupiter yang masih terlelap tidur. Dari jarak sedekat ini,Camelia bisa melihat wajah suaminya yang begitu tenang dan sangat tampan. Wajah mempesona dan paling tampan, yang pernah ia temui. Ia bersyukur pada akhirnya setelah melewati berbagai rintangan dan cobaan, akhirnya mereka bisa bersatu dalam ikatan sah, baik dimata negara maupun di mata Tuhan. Kini Camelia bisa tidur dan terbangun dengan senyum bahagia, karena ia bisa merasakan setiap pelukan bahkan sentuhan Jupiter secara nyata.
"Sudah bangun?" Camelia mengerjap saat Jupiter tiba-tiba membuka matanya. Camelia tersenyum melihat sang suami, yang sudah bangun ia segera mengecup bibir Jupiter sekilas kemudian menenggelamkan wajahnya ke dada Jupiter.
"Aku lapar," ucap Camelia, sambil terus menghirup aroma tubuh Jupiter, yang sempat ia kira tidak akan pernah merasakannya lagi, namun mulai hari ini semua yang dimiliki Jupiter adalah miliknya.
"Mau sarapan?"
Camelia mengangguk, namun ia semakin membenahi posisi tidurnya agar semakin dalam menenggelamkan diri dalam pelukan Jupiter.
"Aku tidak bisa membuatkanmu sarapan, kalau kamu masih memelukku seperti ini." Senyum Jupiter mengembang, sambil mengelus punggung polos Camelia.
"Nanti saja, aku masih mau seperti ini." Jupiter mencium gemas puncak kepala Camelia,
"Kalau kita seperti ini terus, bukannya makan tapi aku justru akan memakanmu."
Sontak ucapan Jupiter membuat Camelia menengadahkan wajahnya, dengan sedikit cemberut ia melepas pelukannya.
"Aku capek,," rengeknya, membuat Jupiter semakin gemas.
"Aku tahu,,, kalau begitu mandi, setelah itu kita sarapan bersama."
Camelia mengangguk, dan segera bangkit dari tempat tidur. Ia melilitkan sebuah kain untuk menutupi tubuh polosnya.
Berendam di air hangat mungkin bisa sedikit membuat tubuhnya rilex, pikir Camelia. Ia segera mengisi bathtub dengan sabun beraroma segar dan air hangat. Ia memang butuh berendam, tubuhnya terasa sakit dan pegal, akibat gempuran Jupiter yang begitu menggebu dan bergairah. Namun ketika ia hendak memasuki bathtub yang sudah terisi air hangat dan berbagai jenis wewangian, tiba-tiba Jupitet datang. Sontak membuat Camelia terkejut.
"Kenapa masuk? Aku mau mandi!" Pekiknya sambil menutupi dadanya.
"Aku bilang kan mandi, mandi bersama. Kamu tidak dengar?"
"Kamu gak bilang mandi bareng,"
Jupiter mengabaikan protes Camelia, ia justru menelanjangi tubuhnya dan memilih ikut bergabung dengan Camelia didalam bathtub.
"Kamu aja yang gak dengar." Senyumnya mengembang karena berhasil mengerjai istrinya. Camelia masih cemberut, karena ia tahu jika Jupiter ikut mandi bersama, lelaki itu hanya akan memperlambat waktu mandinya saja.
"Jika kamu takut aku kembali melakukannya, kamu gak usah takut, aku tidak akan melakukannya, terkecuali kalau kamu mau." Ucapnya sambil menurunkan kedua tangan Camelia yang menutupi kedua dadanya.
"Gak usah ditutupi, aku udah lihat semua. Semuanya!" Jupiter menarik tubuh Camelia agar mendekat. Ia sengaja membuat Camelia membelakanginya, dan mengusap lembut punggung istrinya yang putih dan halus.
Namun bagaimanapun Camelia menahan setiap sentuhan Jupiter, ketika tangan lelaki itu sudah mulai mengelus dan bergerilya di tempat-tempat tertentu, tetap saja membuat kepala Camelia pening. Ia segera membalik tubuhnya, dan dengan cepat menyambar bibir Jupiter.
"Dasar nakal!" Ucap Camelia disela ciumannya.
Jupiter hanya tersenyum, dan menyambut ciuman dari istrinya yang selalu membuatnya bergairan dan terasa begitu manis. Bunyi riak air dan lenguhan yang keluar dari mulut keduanya, tampak saling bersahutan. Seperti irama yang mengalun merdu mengiringi panasnya hasrat mereka berdua.
Begitulah jalannya cinta. Ketika dua manusia sudah ditakdirkan saling berjodoh, meskipun rintangan akan mematahkan harapan mereka, ia akan tetap bangkit. Meskipun mereka saling dijauhkan sampai keujung dunia, namun mereka akan saling menemukan, karena itulah cinta, dia tahu kemana ia akan berlabuh.
Bulan madu yang mereka habiskan berdua selama satu minggu terasa begitu singkat dan cepat. Tidak terasa kini mereka harus kembali ke Singapura, ketempat orang tua Camelia.
Kehadiran mereka berdua tentu saja disambut hangat oleh Dahlia dan Nia, meskipun Nia tidak pernah menunjukan emosinya meski hanya dalam bentuk senyuman atau pergerakan, tapi Camelia yakin Ibunya mengerti dengan semua yang ia ucapkan.
"Kamu terlihat begitu bahagia, sayang." Dahlia mengelus kepala Camelia dengan penuh kasih sayang.
"Aku sangat bahagia, Bu." Balas Camelia.
"Kita akan segera pindah ke Jakarta, ibu dan mamah Nia bisa ikut kita dan tinggal bersama." Ucap Jupiter, mereka kini tengah berada di ruang tamu, setelah Camelia dan Jupiter datang.
"Benar, Bu. Kalian tinggal bersama kita di Jakarta, lebih dekat lebih baik. Aku bisa setiap hari memantau kalian berdua." Camelia meraih tangan Ibunya, berharap sang Ibu mau ikut bersamanya pindah.
"Ibu sudah nyaman disini, kalian saja yang pindah. Jakarta memang tempat yang bagus untuk tempat tinggal kalian, disini kalian pasti akan kesulitan beradaptasi." Dahlia menolak secara halus, agar menantunya tidak tersinggung.
__ADS_1
"Ibu bahagia tinggal disini, mamah Nia juga. Kalian tidak perlu khawatir, Ibu pasti segera menghubungi kalian jika terjadi sesuatu." Dahlia semakin meyakinkan kedua anaknya, ia tahu Camelia pasti kecewa dengan keputusannya, namun Dahlia memang tidak pernah berniat kembali ke Jakarta, kota yang menyimpan banyak kenangan pahit antara dirinya dan sang mantan suami, Fathur.
"Kamu sudah menjadi tanggung jawab suamimu, dan kamu berkewajiban mengikuti kemanapun suami pergi. Utamakan dia, dan jadilah istri yang baik, yang bisa menjaga kehormatan suami."
"Tapi, Bu,,"
"Ibu percaya Jupiter pasti bisa menjagamu dengan sangat baik. Ibu disini pasti baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir." Camelia memeluk Dahlia. Meskipun ia sering meninggalkan Dahlia, tapi kali ini ia merasa begitu sedih ketika ia meninggalkan kedua Ibunya. Namun mengingat kembali status baru yang kini ia sandang, Camelia sadar jika prioritas utamanya adalah suami.
"Aku pasti menjaga Camelia dengan baik, Bu." Jupiter ikut duduk disebelah Dahlia dan memeluknya, membuat Dahlia merasa senang karena kini ia memiliki dua anak yang sangat ia cintai.
Hari yang dinanti pun tiba, Camelia dan Jupiter kini sudah berada di bandara untuk kembali pulan ke Jakarta. Dahlia mengantarnya, sedangkan Nia tidak ikut. Melihat kondisi Nia yang tidak stabil, dan sulit dibawa ke tempat yang ramai, membuat Dahlia tidak mengikut sertakan Nia mengantar putrinya.
"Hati-hati. Jaga diri baik-baik." Dahlia memeluk satu persatu anaknya.
"Semoga dia sudah hadir di sini, ibu sudah gak sabar di panggil nenek," Dahlia tersenyum, ketika ia mengelus perut rata Camelia, ia sangat berharap malaikat kecil sedang berkembang dalam rahim Camelia.
"Semoga secepatnya ya bu." Camelia dan Jupiter pun sudah tidak sabar menantikan kehadiran calon keluarga baru mereka.
"Aku sangat rajin membuatnya bu, jadi ibu tidak perlu khawatir sebentar lagi dia pasti akan hadir."
Dahlia tersenyum lebar, mendengar ucapan menantunya sedangkan Camelia langsung mencubit lengan Jupiter, menahan malu.
Jupiter dan Camelia akhirnya bisa kembali menghirup udara Jakarta. Kota yang tidak pernah tidur, dan selalu ramai dengan segala aktivitas warganya.
Jupiter membawa Camelia ke apartemen miliknya, dan mereka memang akan menetap disana. Apartemen yang cukup luas untuk mereka tempati berdua, namun Jupiter berjanji jika mereka memiliki banyak anak, mereka akan pindah kerumah yang lebih besar. Untuk sementara waktu mereka akan tinggal disini.
Jupiter menjalani hari-hari seperti biasa, ia akan bekerja di pagi hari dan pulang ketika sore hari. Jupiter tidak pernah bekerja lembur, karena ia tidak ingin meninggalkan istrinya seorang diri didalam rumah. Meskipun Jupiter mengizinkan Camelia untuk pergi kemanapun yang ia mau, asalkan tetap memberinya kabar, namun Camelia memilih tetap berada fi rumah. Ia lebih memilih untuk mengasah kemampuannya untuk memasak. Menjadi kebanggam tersendiri ketika suami pulang kerja dan menyantap hidangan hasil karyanya dengan begitu lahap. Menjadi istri pintar masak memang sangat menyenangkan, meskipun Jupiter lebih menyukai istri pintar di ranjang. Tapi tidak ada salahnya bukan, ketika kita bisa melakukan keduanya.
"Setiap harinya kamu semakin pintar memasak, kamu lihat perut indahku sudah mulai dihinggapi lemak?" Jupiter menunjukan perut sixpacknya yang sudah mulai berlemak, meski belum terlihat dan sampai buncit, namun tetap saja terlihat lebih berisi.
"Salah sendiri makannya banyak." Camelia merapikan piring kosong yang isinya sudah berpindah ke perut Jupiter.
"Olahraga, tempat Gym terbuka selama dua puluh empat jam."
"Aku lebih suka olahraga yang ini, sama-sama berkeringat juga kan?" Kini Jupiter sudah mulai menggerayangi tubuh sang istri yang sedang mencuci piring.
"Ini namanya olah raga, siapa bilang bukan olahraga." Satu tangan Jupiter sudah berada di balik kaos yang dikenakan Camelia.
"Bisa nanti gak? Aku lagi cuci piring. Lagipula ini di dapur!" Camelia terus berusaha mencoba mengelak, meski gelenyar aneh mulai merasuki tubuhnya, yang membuat tubuhnya panas.
"Aku lupa, kita belum mencobanya di dapur." Kini kedua tangan Jupiter sudah benar-benar ada di balik kaos Camelia. Membuat Camelia akhirnya pasrah dan menerima setiap sentuhan Jupiter yang tidak bisa ia hindari.
Camelia dan Jupiter kini berada di depan sebuah rumah mewah bercat putih, dengan pagar besi berwarna hitam yang menjulang tinggi. Mereka menatap rumah tersebut dengan perasaan tidak menentu. Sedikit khawatir dan takut. Terutama Camelia, ia mencengkram erat satu paperbag berisi kue hasil karyanya, yang sengaja dibuat untuk ibu mertuanya.
Setelah pintu gerbang dibuka, jantung Camelia semakin berlalu kencang. Ia membayangkan apa yang akan terjadi padanya ketika ia berhadapan langsung dengan ibu Jupiter, apakah ia akan bernasib sama, seperti perempuan dalam film india khabi khusi khabi gham yang sangat ia sukai, langsung di usir begitu mereka datang, atau mungkin bisa saja lebih parah dari itu. Namun bagaimanapun hasilnya, ia tetap harus menemui Mala, ibu mertuanya karena mereka sudah terlalu lama membiarkan keadaan canggung ini berlangsung.
Sudah sebulan semenjak pernikahan mereka, untuk pertama kalinya mereka mengunjungi kediaman rumah orang tua Jupiter.
Jupiter memang tidak pernah memaksa Camelia mau menemui ibunya, karena ia tahu Camelia butuh waktu untuk mempersiapkan dirinya menghadapi sikap dingin sang mertua. Tapi, di luar dugaan hari ini Camelia justru meminta Jupiter untuk mengajaknya menemui keluarganya, tentu saja Jupiter merasa senang dan langsung membawa Camelia kerumah orang tuanya.
"Kalian datang?" Dea turun dari lantai dua, menghampiri mereka yang masih berdiri di ambang pintu.
Dea tampak begitu senang melihat kedua adiknya datang.
"Apa kabar Kara?" Dea segera memeluk Camelia, ia sangat merindukan mereka.
"Apa kabar kamu adikku?" Kini Dea berganti memeluk Jupiter.
"Kamu apakan adikku, kenapa dia seperti sapi perah. Gemuk." Ledek Dea sambil menertawakan penampilan Jupiter yang terlihat jauh lebih berisi.
"Dia mencekoki dengan makanan enak, Kak. Oh Ya, istriku juga pandai membuat kue, dia bawa ini untuk kalian." Jupiter memberikan paper bag yang dibawa Camelia pada Dea.
"Ya ampun, kamu pintar sekali. Kelihatannya sangat enak, aku bawa ke belakang ya, kalian duduk, nanti aku buatkan minuman dingin." Dea segera pergi menuju dapur. Tidak berselang lama tokoh utama yang mereka tunggu akhirnya datang. Tubuh Camelia terasa dingin, bahkan ia mencengkram gaunnya untuk menutupi rasa takutnya. Menyadari jika istrinya mulai gelisah, Jupiter segera menggenggam kedua tangan Camelia, dan tersenyum penuh arti. Seolah ia memberi kekuatan agar Camelia tidak perlu takut, karena Jupiter akan selalu ada disampingnya.
"Wah,,, siapa yang datang Ayah. Anak kita akhirnya pulang." Nada penuh sindiran meluncur dengan manis dari bibir Mala. Tatapan tajamnya terasa begitu menghunus, bak pedang tajam yang siap menusuk ke jantung Camelia.
"Bagaimana kabarmu nak?" Suara rendah Ditto menggema, mengimbangi lengkingan suara sang istri, namun Ditto tidak menampilkan wajah menyeramkan, ia justru terlihat lebih santai dan tersenyum ramah melihat anak menantunya darang.
__ADS_1
"Baik, Yah. Ini Kara istri aku," Jupiter meraih pinggang Camelia,
"Maaf aku tidak mengundang kalian di acara bahagiaku."
"Jadi ini perempuan yang berani mengambil putraku? Berani sekali kamu menunjukan wajahmu disini!" Mala tidak bisa lagi menyembunyikan amarahnya, emosi yang sudah ia tahan selama ini, kini meluap.
"Dia gak salah mah, aku yang salah." Jupiter menyembunyikan Camelia di balik tubuhnya. Bagaimanapun juga ia sangat mengerti bagaimana sifat bar-bar sang ibu, ia tidak ingin istrinya terluka.
"Aku tidak ingin melihat kalian. Pergi!" Mala menangis, meluapkan kekesalannya.
Sebelum Jupiter dan Camelia pergi, Mala terlebih dahulu meninggalkan mereka menuju kamarnya.
"Maafkan ibu nak, dia tidak bermaksud menyakiti kalian." Ditto segera menghampiri Camelia yang sudah menunduk, dan menangis.
"Aku merestui pernikahan kalian. Jangan segan untuk datang kesini, karena aku juga Ayahmu. Ingat, aku adalah teman baik Ayahmu, Fathur." Ditto mengusap kepala Camelia dengan penuh kasih sayang.
"Fathur pasti akan membenciku jika tahu putri cantiknya menangis," tangan Ditto mengusap air mata Camelia dengan perlahan.
"Terima Kasih Ayah,," lirih Camelia.
"Drama queen kemana?" Tiba-tiba Dea datang membawa nampan berisi minuman dan kue yang Camelia bawa.
"Udah masuk kamar." Balas Fathur, Dea hanya mengangguk.
"Ayah, menantu barumu pintar sekali membuat kue, coba deh. Enak banget!" Dea meminta sang Ayah mencicipi kue buatan Camelia, dan segera saja Ditto pun mengambil potongan kue dan melahapnya.
"Wah,, kamu pintar sekali nak. Kuenya enak!"
"Dia pintar masak. Lihat aja, Jupiter sudah seperti beruang kutub, lama-lama dia pasti mirip pak Sadikin security depan." Ledek Camelia, membuat mereka berdua tertawa, bahkan Camelia pun ikut tersenyum semntara Jupiter menahan kesal.
Pertemuan pertama yang tidak terlalu buruk, setidaknya Camelia kini mempunyai satu pendukung lagi, yaitu Ditto. Ia hanya perlu mengalahkan dinding pertahanan Mala yang masih kokoh dan dingin. Ia yakin suatu saat Mala pasti akan menerimanya.
"Aku"
"Aku"
Jupiter dan Camelia secara bersuara secara bersamaan.
"Kamu dulu," ucap Camelia.
"Kamu dulu, aku gak terlalu penting."
"Aku punya sesuatu untukmu," Camelia mengambil sebuah kado dari dalam tasnya.
"Aku ingin memberikan ini pada keluargamu, tapi ternyata masih sulit," keluah Camelia.
"Jadi aku kasih ke kamu aja." Camelia menyodorkan sebuah kado kecil, sebesar bungkus rokok.
"Ini apa?"
"Buka aja, kita berhenti di sana sebentar, aku haus." Camelia menunjuk sebuah warung yang terletak di pinggir jalan.
Jupiter segera menghentikan mobilnya. Sementara Jupiter membuka kado, Camelia terlebih dahulu keluar dari dalam mobil.
"Sayang,,,, ini,,," Jupiter menggantungkan kalimatnya ketika ia membuka kado, dan mendapati satu benda tipis kecil dengan dua garis merah.
Segera ia keluar dari mobil dan mengejar Camelia.
"Ini apa?"
"Selamat kamu sebentar lagi menjadi seorang Ayah."
Jupiter menangis, membuat Camelia kebingungan.
"Kenapa menangis, apa kamu tidak bahagia?"
"Aku gak tau harus bereaksi seperti apa,, aku bingung, aku terlalu bahagia." Jupiter tidak memperdulikan sekitarnya, ia justru makin terisak dan menangis. Membuat Camelia terkiki gelia dan akhirnya memeluk Jupiter.
__ADS_1