
Selama satu bulan menetap di Singapur bersama kedua Ibunya, Camelia mencoba mencari kesibukannya sendiri dengan bekerja paruh waktu di salah satu Cafe yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Ia benar-benar memulai hidup baru dengan lembaran baru juga. Perlahan ia mencoba melupakan segala kenangan pahit yang terjadi di hidupnya, meski terkadang rasa sesak karena rindu tidak bisa ia tahan dan hanya mampu ia luapkan dengan menangis semalam suntuk. Camelia masih sering menangis, menangis untuk orang-orang yang sangat ia rindukan. Hanya kemeja putih dan sebotol parfum yang selalu menjadi pelipur rasa rindunya, bahkan ketika rindu itu sudah tidak bisa ia tahan, ia hanya bisa memakai kemeja putih itu sambil tertidur. Berharap dengan memakai baju tersebut, ia bisa merasakan hangatnya pelukan Jupiter.
"Aku berangkat ya ,Bu." Ucap Camelia, sambil menyambar satu lembar roti isi yang ada di atas meja.
"Susunya di habiskan dulu, sayang," balas sang ibu, sambil mengejarnya dengan membawa segelas susu.
"Aku kenyang, Bu." Rengeknya, namun ia tidak bisa mengelak ketika si Ibu menyodorkan segelas susu padanya.
"Cuman satu lembar roti gak mungkin membuat perutmu kenyang. Susunya di habiskan, baru setelah itu kamu boleh berangkat kerja."
"Ibu,,," meski enggan akhirnya ia meminum susu itu hingga tandas.
"Sekarang baru boleh berangkat. Jangan pulang malam ya," perintah sang Ibu, sambil mengecup puncak kepalanya.
Dahlia memang lebih memperhatikan Camelia semenjak putrinya kembali dari Jakarta. Melihat kondisi Camelia yang tampak murung, bahkan semakin kurus membuat Dahlia cemas, dan selalu memastikan putrinya makan tepat waktu. Tak jarang ia sering mengantarkan bekal dan Dahlia tidak akan kembali pulang sebelum Camelia menghabiskan bekalnya.
Dahlia sempat mendengar kabar kematian Febian, ia merasa sangat kehilangan karena Febian sudah ia anggap seperti anaknya sendiri, namun umur siapa yang tahu, meskipun usia masih muda tapi jika Tuhan sudah berkehendak, manusia tidak bisa menolak.
Camelia berangkat kerja seperti biasanya, mengawali hari dengan semangat, meskipun hatinya masih terasa kosong dan hampa. Tapi ia harus tetap menjalani hidup dengan baik, ia percaya kebahagiaan pasti sedang menunggunya.
Beruntunglah banyak teman yang selalu menghiburnya, bahkan Camelia tidak kesulitan beradaptasi dengan suasana baru, membuat ia bisa sedikit melupakan kesedihannya.
"Mel, hari ini tumben Ibu kamu gak datang." Tanya Nabila, salah satu rekan kerjanya.
"Iya, tumben." Camelia melirik ke arah seberang jalan, biasanya Dahlia selalu datang tepat waktu, di jam makan siang. Camelia sedikit gelisah, tidak biasanya Dahlia datang terlambat, bahkan tidak tampak ada tanda-tanda ibunya datang.
"Sebentar aku mau ambil ponsel dulu," Camelia langsung beranjak menuju loker tempat menyimpan tas dan juga ponselnya. Ia segera meraih ponsel dan menekan nomor sama Ibu. Namun baru saja terdengar bunyi sambungan, seseorang sudah meraih ponselnya dan langsung membuat Camelia berbalik.
"Ibu gak akan datang. Nih,,aku yang bawa bekal kamu, gantiin dia." Camelia mengerjapkan matanya berulang kali, tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Seorang lelaki dengan tubuh tinggi, tegap, tersenyum lembut padanya sambil membawa kotak bekal yang selalu Ibunya bawa. Jantungnya sudah bergemuruh dengan cepat, namun ia masih tidak percaya. Ia menganggap dirinya hanya berhalusinasi karena ia terlalu merindukan lelaki itu.
Dengan tubuh gemetar, Camelia melewati tubuh lelaki yang masih tersenyum sambil menatapnya. Namun baru saja satu langkah ia melewati tubuh lelaki itu, tangannya terlebih dahulu ditarik.
"Aku kangen banget sama kamu, jangan pergi." Ucapnya lembut, sambil memeluk tubuh Camelia yang jauh lebih kecil dari sebelumnya.
"I miss u, Kara." Ucapnya sambil mencium puncak kepala Camelia. Sementara Camelia masih tetap tidak percaya dengan apa yang ia lihat, namun ketika indra penciumannya mencium wangi tubuh yang sangat ia kenali, barulah ia menangis dan membalas pelukan Jupiter.
Tangisnya begitu kencang terdengar, bahkan Nabila sampai menyusulnya ke belakang. Namun ketika Nabila melihat sepasang kekasih tengah berpelukan, barulah ia mengerti meskipun Camelia masih tetap menangis kencang, Nadia memilih kembali ke tempatnya bekerja.
"Kenapa Kara'ku kurus sekali." Perlahan Jupiter mengurai pelukannya.
"Apa kamu tidak makan dengan baik?" Lanjutnya sambil mengusap air mata di wajah Camelia dengan sangat hati-hati.
Camelia kehilangan kata-kata, meskipun ia memiliki sejuta pertanyaan untuk Jupiter namun pertanyaan itu tertahan dan menguap begitu saja.
"Jangan nangis, aku gak suka lihat ini," Jupiter kembali mengusap air mata Camelia yang masih terus mengalir di pipi tirusnya.
"Aku mau ini," Jupiter menarik kedua sudut bibir Camelia hingga membentuk sebuah lengkungan, senyum.
"Mulai saat ini, gak ada lagi air mata, dan hanya ada ini. Janji?" Camelia begitu terhipnotis, dia mengangguk dan kembali memeluk Jupiter dengan sangat erat.
"Aku punya sesuatu untukmu." Jupiter menggandeng tubuh Camelia, tanpa melepaskan pelukannya.
"Dia ada di ujung meja sana." Mata Camelia menyapu setiap ujung ruangan, dan pandangannya berhenti ketika ia menangkap sosok lelaki yang sedang melambaikan tangan padanya. Lelaki itu tersenyum lebar sambil dan tak henti-hentinya melambaikan tangan, persis seperti anak TK.
Camelia tertegun, bahkan ia sampai melepas rangkulan Jupiter. Ia tidak mungkin salah lihat, itu Febian. Febian sahabat baiknya.
Sadar jika Camelia masih tidak percaya dengan kehadirannya, Febian segera menghampiri.
"Gue tau lo kangen, tapi gak usah cengo gitu juga kali. Itu laler bisa masuk mulut." Kekehnya.
Namun Camelia masih tidak bereaksi apapun, ia masih diam bahkan ia hanya menatap datar pada Febian.
"Sini peluk gue, sebelum lo jadi istri orang." Febian merentangkan kedua tangannya, seraya menerima pelukan Camelia.
Camelia memang berjalan menghampiri Febian, bahkan ia mempercepat langkahnya untuk segera mendekat.
"Lo gak usah pasang wajah gak rela gitu, ini terakhir sebelum status dia berubah jadi bini lo!" Cibir Febian, karena Jupiter langsung menatap tidak suka begitu Camelia menghampiri Febian, setelah lelaki itu merentangkan kedua tangannya. Febian semakin menikmati wajah kesal Jupiter, dan ia akan langsung memeluk tubuh Camelia begitu ia mendekat, bahkan Febian sudah menyeringai jahil.
Namun begitu langkah Camelia semakin mendekat, bukannya pelukan yang Febian dapatkan melainkan pukulan keras yang terus menghantam tubuhnya.
"Bisa-bisanya kamu mati! Jadi kamu hantu! Kamu hantu! Dasar hantu! Pergi sana ke neraka!" Teriak Camelia sambil terus memukul tubuh Febian tanpa ampun.
"Aduh , sakit Mel. Lo beneran mau bunuh gue!" Febian mencoba menghindar, namun seakan belum puas dengan kekesalannya, Camelia justru semakin gencar memukul Febian.
"Iya, gue mau bunuh lo! Biar mati beneran!" Tiba-tiba Camelia berhenti memukul Febian, dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil kembali menangis meraung seperti anak kecil.
__ADS_1
"Ya ampun Mel." Febian segera menghampiri Camelia sambil mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit. Ia merengkuh tubuh Camelia kedalam pelukannya,
"Gue minta maaf, gue gak bermaksud buat bohongin lo." Febian memeluk Tubuh Camelia dengan sangat erat, ia merasa begitu bersalah karena selama ini dia membohongi Camelia dengan memalsukan kematiannya.
"Gue seneng lo baik-baik aja. Lo bisa melewati masa sulit lo, sendiri. Karena itu salah satu alasan gue ngelakuin ini." Febian mencium puncak kepala Camelia.
"Gausah cium-cium juga kali. Gue pacarnya aja blom cium." Sindir Jupiter, dengan nada ketus.
"Emang lo pacar Camelia?" Cibir Febian, sambil melepas pelukannya dan Camelia sudah berhenti menangis, meski ia masih terisak.
"Gue bukan pacar, tapi calon suami." Dengan bangga, Jupiter menepuk dadanya. Membuat Febian berdecak sambil mengerlingkan matanya.
"Lamaran lo belum tentu diterima, udah PD aja ngaku calon suami."
Perlahan senyum Camelia mengembang, meski wajahnya sembab akibat menangis dengan begitu hebatnya. Ia tersenyum melihat pertengkaran kecil antara Febian dan Jupiter, kedua lelaki itu memang seperti tom n jerry, mereka akan saling membantu, tapi begitu bertemu mereka pasti saling sindir, bahkan mereka seperti anak kecil yang selalu meributkan hal sekecil apapun.
Kejadian hari ini, mampu membuat Camelia merasa seperti mimpi. Bahkan ia masih tidak percaya ketika kini ia tengah duduk berdua dengan Febian di teras belakang rumahnya, sambil memperhatikan Jupiter yang tengah berkutat dengan semprotan anti hama. Karena lelaki itu langsung diseret ke kebun oleh Ibunya begitu mereka bertiga sampai di kediaman Camelia. Senyum Camelia terus mengemvang tanpa henti, sambil memeperhatikan Jupiter tanpa henti.
"Dia lelaki hebat. Dia pantas jadi pendamping lo." Camelia segera melirik kearah Febian,
"Dia berusaha begitu keras, meski ia harus memulainya dari awal, bahkan ketika semua orang mencemooh dan meragukan kemampuannya. Tapi lihat dia sekarang, dia membuktikan semua ucapannya. Gue yang jadi saksi hidup, bagaikan Jupiter berjuang dan tertatih supaya dia bisa layak menjadi pasangan lo."
"Kenapa lo lakuin ini semua?"
"Apa? Memalsukan kematian gue?"
"Salah satunya, iya."
"Lo sadar gak, setelah pulang dari Rumah sakit hampir setiap malam lo nangis sambil meluk kemeja Jupiter. Mungkin depan gue, lo bisa pura-pura tegar, tapi gue kenal lo lama banget Mel. Gue udah tau persis bagaimana perasaan lo sama tu laki sengklek," Camelia tersenyum, Febian memang memiliki banyak julukan yang ia berikan pada Jupiter, salah satunya lelaki sengklek.
"Kalau gue gak ngelakuin itu, lo bakal terus hidup dalam bayang-bayang gue. Lo pasti selalu berlindung di belakang gue, dan gak berani hadapi kenyataan. Dan lihat lo sekarang, lo jauh lebih tegar dari sebelumnya, bahkan lo bisa mengobati rasa trauma lo sendiri, tanpa terus bergantung sama gue. Dan gue yakin, kalau kita terus bersama, lo bakal semakin tersiksa dan lo bakal ngerasa berhutang sama gue. Gue gak mau itu terjadi.
Lo berhak bahagia Mel."
Camelia tertegun dengan alasan Febian, ia tidak menyangka Febian mau berkorban begitu besar hanya karena ia ingin melihatnya bahagia.
"Lalu Nadia."
"Dia memang membayar perbuatannya dengan setimpal. Begitu juga dengan Edward. Dia masuk penjara setelah Jupiter mencari bukti tentang kematian Nathan di bantu Dokter Revan. Karena ternyata Nathan pernah ditangani Dokter Revan, dan tim Dokter memang sempat mencurigai kematian Nathan, karena menurut data medis operasinya waktu itu berjalan lancar,"
"Benarkah?"
"Tapi, Nadira pasti_"
"Dia tahu semuanya, dan dia tidak keberatan." Febian segera memotong ucapan Camelia.
Jupiter dan Dahlia sudah selesai berkebun, wajah Jupiter memerah karena sengatan terik matahari sore.
"Sudah selesai, pacar kamu payah sekali berkebun." Ledek Dahlia, namun ia hanya bercanda.
"Aku memang yang paling ahli berkebun, iya kan Bu?" Kini Febian yang menyombongkan diri, sebelum ia menerima amukan dari Jupiter, Febian segera masuk kedalam sambil tersenyum geli.
"Ibu mau masak. Nanti kita makan malam bersama." Dahlia pun mengikuti Febian masuk, setelah ia memetik beberapa sayuran dari kebun.
"Mau minum?" Camelia menyodorkan satu botol air mineral pada Jupiter, dan langsung diterima Jupiter.
"Berkebun jauh lebih melelahkan daripada mengerjakan setumpuk dokumen semal suntuk." Keluhnya sambil memijat pundaknya yang terasa begitu sakit.
Camelia hanya tersenyum sambil mengambil tisu dan mengelap wajah Jupiter yang basah karena keringat.
"Terima Kasih," ucap Camelia sambil terus menyeka keringat di wajah Jupiter.
Jupiter menahan tangan Camelia, "Terima Kasih untuk apa? Apa yang kalian bicarakan tadi?" Selidik Jupiter.
"Tidak ada." Camelia menggeleng.
"Aku cuman mau bilang terimakasih, dan aku sayang kamu." Camelia menarik Jupiter agar mendekat dan mencium bibirnya. Sontak Jupiter terkejut menerima ciuman mendadak dari Camelia, namun ia tidak menolak. Ketika ia hendak membalas ciuman Camelia, tiba-tiba Febian kembali datang.
"Mesumlah pada tempatnya, oy." Namun ia segera kembali berlari sambil tertawa, menghindari amukan Jupiter.
"Kam*ret!" Maki Jupiter,
Meskipun ada Jupiter dan Febian di rumahnya, Camelia tetap bekerja seperti biasanya. Namun hari ini ia merasa aneh karena tidak ada pengunjung satupun yang datang. Hanya ada beberapa tukang bunga yang datang mengantar beberapa buket bunga mawar putih.
"Mau ada acara ya, Bil?" Tanya Camelia pada temannya yang sibuk sendiri menata bunga di setiap meja.
"Iya," jawabnya singkat. Camelia segera mengambil beberapa tangkai bunga hendak membantu Nabila, namun segera ditahan Nabila.
__ADS_1
"Lo gak usah bantuin gue. Mending lo duduk manis aja." Nabila mengambil bunga yang ada di tangan Camelia.
"Kenapa, gue kan karyawan disini juga. Gue berhak bantu." Camelia bersikukuh dan kembali mengambil beberapa tangkai bunga.
"Lo bukan karyawan disini lagi. Jadi lo gak ada kewajiban apapun buat bantu gue. Udah lo gak usah ganggu, gue bisa telat, waktunya gak banyak." Nabila kembali melakukan tugasnya, ia begitu cekatan dan terlihat sangat buru-buru.
"Kenapa gue dipecat, Bil. Salah gue apa?" Camelia masih mengekori langkan Nabila. Ia tidak tahu kesalahan apa yang sudah diperbuatnya, karena selama ini ia berusaha bekerja sebaik mungkin.
"Bil, lo pasti tau alasannya kan?"
"Alasannya karena suami lo yang nyuruh gue buat ajuin surat pengunduran diri lo."
"Suami?" Dagu Nabila menunjuk segerombolan orang yang datang memasuki cafe. Terlihat Jupiter Dea,Febian dan juga kedua Ibunya serta beberapa orang yang tidak terlalu Camelia kenal.
Rombongan itu mengenakan pakaian rapi, bahkan Jupiter terlihat begitu tampan berbalut jas hitam, dan dasi kupu-kupu yang menempel di lehernya. Mereka segera mendekati Camelia yang masih berdiri mematung, ia seperti melihat segerombolan hantu, matanya terbelalak dan mulutnya terbuka.
Jupiter melangkah lebih dekat, ketika yang lain berhenti.
Tiba-tiba ia berlutut di depan Camelia, mengeluarkan satu kotak beludru berwarna merah maroon, dan membukanya. Tampak sepasang cincin emas putih bertahtakan berlian mengkilap dengan begitu indah.
"Kara Kaisara, maukan kamu menikah denganku?"
"Ini apa?" Tanya Camelia, masih bingung dengan semua kejutan yang terjadi di hidupnya.
"Maukah kamu menikah denganku," tanya Jupiter sekali lagi.
Semua orang tampak menunggu jawaban Camelia, bahkan sang Ibu sudah menangis melihat Camelia. Dahlia mengangguk, seakan memberi kekuatan pada Camelia.
Mata Camelia melihat satu persatu orang yang datang bersama Jupiter. Febian tersenyum lebar sambil mengangguk, bahkan Dea pun tampak berkaca-kaca sambil mengangguk, seolah semua mendukung dan meminta Camelia menerima ajakan Jupiter.
"Maukah kamu menikah,,,"
Camelia segera berlutut mengimbangi Jupiter, ia merengkuh wajah Jupiter dan menciumnya.
"Aku mau," ucapnya sambil menangis, bahagia.
Semua orang yang ikut menyaksikan tampak begitu terharu, namun tiba-tiba Camelia ditarik paksa oleh dua orang perempuan, salah satunya Nabila.
"Mesranya nanti ya kalau udah sah. Sekarang ganti baju dulu." Setelah menyeret Camelia kebelakang dan mengganti pakaiannya dengan gaun pengantin yang begitu cantik, dan pas di tubuh mungilnya. Nabila dibantu satu perias pengantin yang sudah dipersiapkan Jupiter, kini merias wajah Camelia dengan polesan sederhana, namun tidak mengurangi kecantikan yang terpancar dari wajahnya.
Senyum yang tidak pernah putus dari bibirnya menambah kadar kecantikan Camelia. Ia tersenyum puas ketika melihat pantulan wajahnya di cermin.
"Cantik sekali puti Ibu." Dahlia datang, dan merangkul Camelia.
"Sekarang putri kesayangan Ibu sudah besar. Sekarang tanggung jawab ibu sudah selesai, dan kamu menjadi tanggung jawab Jupiter. Kamu harus bahagia sayang," Dahlia tidak bisa menahan tangisnya, sejak pertama ia datang ke cafe tempat Camelia bekerja.
"Ibu gak boleh nangis. Kara tetap putri ibu, selamanya."
Camelia menahan tangisnya, ia tidak ingin merusak riasan yang susah payah di kerjakan.
"Ibu sayang kamu, selamanya." Dahlia mengecup dahi Camelia.
Setelah Dahlia keluar, kini Febian yang datang memasuki kamar ganti. Ia berjalan santai sambil memasukan satu tangannya kedalam kantong celana.
"Lo cantik banget, Mel. Pantesan aja si Jupi cinta mati sama lo."
"Terimakasih, Feb. Lo udah bantu gue sampe sejauh ini."
"Gak gratis ya,, imbalannya lo harus bahagia. Jangan sampai pengorbanan gue sia-sia Mel." Ucap Febian sambil menutup wajah Camelia dengan penutup tipis.
"Jupiter udah nunggu lo, gue pengen peluk lo tapi, gue takut laki lo galak banget kalau cemburu." Kekeh Febian.
Febian menjadi pengantar Camelia, menemui Jupiter yang sudah menunggunya di luar. Namun sebelum Camelia merangkul tangan Febian, ia memeluk tubuh Febian terlebih dahulu.
"Terimakasih untuk segalanya, Feb."
"Gue sayang sama lo, Mel. Lo janji, harus bahagia." Camelia mengangguk, kemudian melepas pelukannya. Tampak Febian mengusap matanya yang sudah berkaca-kaca. Perasaan senang dan sedih yang berkecamuk dalam hati Febian, membuat ia tidak bisa menahan air matanya.
Perlahan mereka berdua berjalan, menuju Jupiter yang sudah berdiri gelisah menanti calon pengantinnya. Senyumnya mengembang ketika Febian menyerahkan tangan Camelia padanya.
"Gue percayain dia sama lo. Jangan sakiti dia lagi." Pinta Febian.
"Gue janji," balas Jupiter, sambil meraih tangan Camelia.
Pemberkatan yang berlangsung haru, kini berakhir dengan sebuah kebahagian ketika kedua pengantin saling berciuman untuk mengesahkan status mereka yang kini berubah menjadi sepasang suami istri.
Senyum mengembang dari keduanya menunjukan sebuah rasa bahagia yang begitu besar. Bahkan Dea, satu-satunya keluarga Jupiter yang hadir tidak hentinya menangis. Ia terharu melihat sang adik yang pada akhirnya bisa menikah dengan wanita yang dicintainya.
Setelah melewati badai cobaan yang begitu besar, akhirnya Jupiter dan Camelia bisa bersatu dalam satu ikatan suci pernikahan. Dea tahu, di depan sana masih banyak rintangan yang harus mereka hadapi, namun ketika kekuatan cinta begitu besar, Dea yakin Jupiter dan Camelia bisa melewati kerikil tajam yang akan mereka hadapi nantinya.
__ADS_1