
Jupiter pov
Sulit dijelaskan dengan kata-kata bagaimana perasaanku saat ini. Hari ini aku pulang lebih larut dari biasanya. Pekerjaan yang sengaja aku selesaikan hari ini, agar aku bisa menghabiskan waktu bersama istri dan kedua anakku besok, sehingga aku baru sampai dirumah sekitar pukul sepuluh malam.
Sesuai janjiku pada Kara, setelah memiliki anak aku membelikannya rumah. Selain karena kedua anakku yang membutuhkan ruang lebih luas, juga karena aku ingin kedua anakku bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Dan perumahan menjadi pilihan yang tepat untuk tumbuh kembang si kembar yang aku beri nama, NADA MELODY ALFIAN untuk si kakak, dan MELODY NANDA ALFIAN, untuk si adik.
Kedua anak gadisku sangat lucu dan menggemaskan. Kini di usianya yang sudah menginjak tiga tahun, tak jarang mereka berdua membuat istriku kewalahan. Aku dan Kara memutuskan untuk tidak menggunakan jasa pengasuh, karena aku dibantu Ibu untuk menjaga kedua anak gadisku.
Seperti dugaanku sebelumnya, dinding kokoh pertahanan Ibu tidak akan bertahan lama, karena dia tidak akan bisa menghindar dari kelucuan dua putriku yang menggemaskan dan wajahnya mirip sekali dengan ibunya. Ibu lebih sering membawa salah satu anak kembarku, yaitu Melody siadik karena Nada sangat dekat dengan ibunya. Namun dibalik kebahagiaanku ada sedikit masalah yang sangat mengganggu pikiranku, yaitu karena sikap Aksa yang kian berubah, ia tidak lagi bersikap baik padaku, maupun pada Kara. Dia selalu menampakan wajah penuh kebencian setiap kali ia melihat Kara, entah kesalahan apa yang sudah diperbuat Kara, sehingga Aksa begitu membencinya. sikap Aksa semakin tidak terkendali, bahkan ia sering marah tanpa alasan membuat kak Dea akhirnya memutuskan untuk pindah rumah.
meskipun Aksa masih anak-anak, tapi dia tidak pernah menunjukan kebenciannya pada orang lain, dan baru kali ini dia berubah seperti itu. Meskipun sudah di bujuk berulang kali, tetap saja Aksa tidak bergeming dan masih saja membenci Kara tanpa alasan yang jelas.
Aku melangkah perlahan, agar derap langkahku tidak membuat kebisingan dan membangunkan si kembar dan juga Kara. Langkahku terhenti ketika melihat sosok perempuan tengah duduk di atas kursi meja makan, sambil menelungkupkan kepala di atas meja, tengah tertidur pulas. Aku menghampirinya, dan mengusap lembut rambutnya. Perlahan tubuhnya menggeliat, menyadari sentuhanku.
"Baru pulang?" Kara langsung terbangun, begitu menyadari kehadiranku. Terlihat jelas dari sorot matanya, ia tampak sangat lelah.
"Hari ini si kembar pasti membuatmu sangat lelah." Aku mengecup dahinya sekilas,
"Nggak, mereka baik."
Kara memang tidak pernah mengeluh sedikitpun, namun sebagai suami aku sangat mengerti bagaimana lelahnya ia mengurus semua kebutuhan aku dan juga anak-anak. Meskipun di bantu beberapa asisten rumah tangga yang membantu membersihkan rumah dan mencuci baju, namun untuk urusan makanan, Kara tidak pernah membiarkan anak dan suaminya terlantar. Ia yang selalu memastikan setiap makanan yang akan kita santap, terutama untuk anak-anak.
"Kenapa gak pake pengasuh aja, biar kamu gak terlalu lelah." Berulang kali aku memintanya, berulang kali juga Kara menolak.
"Aku masih sanggup." Ia menggeleng, menolak dan memberi jawaban yang selalu sama.
"Aku tau, kamu bisa. Tapi aku tidak ingin melihatmu terlalu lelah, lagipula anak-anak sudah besar, dan kamu bisa memantau setiap hari keadaan mereka, bahkan ibu juga pasti bantu."
Kara menghela lemah, "Aku masih trauma dengan kejadian yang menimpa Elea beberapa tahun lalu. Sampai saat ini Elea masih sering mengalami mimpi buruk. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi dengan kedua putriku."
__ADS_1
Kejadian penculikan yang terjadi beberapa tahun lalu, bukan hanya meninggalkan bekas trauma untuk Elea, tapi juga Kara.
Kara jadi sulit percaya kepada orang-orang yang baru ia kenal. Bahkan untuk asisten rumah tangga pun, ibu yang memindahkan Mbok Isah, asisten rumah tangga yang sudah sepuluh tahun bekerja di kediaman orang tuaku. Ibu membawa mbok Isah pindah kesini, karena Kara tidak kunjung mau memakai jasa asisten rumah tangga.
Aku tidak menyalahkan sikapnya yang sulit mempercayai orang lain, tapi terkadang Kara justru kerepotan sendiri, karena ia selalu menolak bantuan orang lain.
"Kejadian itu sudah lama sayang. Jangan samakan Elea dan juga anak kita, mereka memiliki masalah yang berbeda dengan kita. Cobalah untuk sedikit saja percaya pada orang lain, setidaknya untuk meringankan pekerjaanmu." Aku mengelus pipinya yang kini tidak lagi berisi seperti dulu.
"Mau ya? Lagipula kalau ada pengasuh, kamu punya banyak waktu untukku. Sejak melahirkan si kembar, kamu jarang memperhatikanku." Aku memasang wajah cemberut yang dibuat-buat.
Memang setelah melahirkan seluruh perhatian Kara hanya tertuju pada kedua putrinya saja, sedangkan aku hanya mendapatkan sisanya. Tak jarang aku tidur di kursi, ketika si kembar tidak mau tidur di ranjangnya masing-masing.
"Kamu cemburu?" Kara mengalungkan kedua tangannya di pundakku.
"Sedikit,"
Kara berjinjit dan mencium sekilas bibirku, namun segera aku tahan dan menciumnya lebih dalam. Ciuman yang awalnya hanya sekedar kecupan, kini berubah menjadi lumatan yang semakin lama semakin menuntut. Jujur saja, aku sangat merindukan momen kebersamaan antara aku dan Kara, bagaimanapun juga aku memiliki kebutuhan sendiri selain, hanya makan dan tidur.
"Jangan berisik. Mereka tidak akan bangun." Aku menarik tubuhnya masuk kedalam kamar mandi, karena hanya disana tempat satu-satunya yang tidak akan disadari oleh anak-anak, karena aku selalu menakuti mereka, jika di dalam kamar mandi gelap ada monster bertaring.
Aku tidak bermaksud membohongi anak-anak, hanya saja aku pun butuh satu tempat yang tidak akan dijamah mereka, dan ya,,, hanya kamar mandi yang bisa aku pergunakan, selebihnya sudah dikuasai mereka berdua.
Kebahagiaan yang semakin hari, semakin bertambah membuatku merasa bersyukur memiliki mereka bertiga. Meskipun terkadang telinga terasa sakit, setiap kali anak-anak menangis berebut mainan. Namun karena kegaduhan mereka berdualah yang selalu membuat suasana rumah menjadi lebih berwarna, dan ramai.
Tubuhku masih terengah, dan tubuh Kara pun masih bergetar hebat akibat klimaks yang baru saja kita rasakan. Jujur saja, melakukan hubungan suami istri di toilet dengan perasaan takut anak-anak bangun, membuat adrenalin semakin terpancing. Namun tidak mengurangi setiap kenikmatan yang disuguhkan Kara untukku. Entah apa yang ia lakukan dengan hatiku, karena semakin hari aku semakin mencintainya. Dia sosok perempuan penyabar, dan lembut. Dengan segala masa lalu yang pernah ia miliki, aku tidak pernah menyesal memilikinya.
"I love you.." bisikku tepat di telinganya, membuat tubuhnya kembali menggeliat.
Kara Kaisara pov
__ADS_1
Nafasku masih terengah, ketika Jupiter menghentak dengan kencang klimaksnya di dalam tubuhku. Rintihan yang sejak tadi kutahan, karena takut terdengar anak-anak, kini aku sudah bisa bernafas dengan lega. Aku tahu, suamiku mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, selain maka. Yaitu kebutuhan biologisnya, tapi semenjak aku melahirkan Nada dan Melodi, aku tidak memiliki banyak waktu untuk menemaninya, terlebih karena aku memilih untuk merawat sendiri kedua buah hatiku.
Aku terlebih dahulu keluar dari kamar mandi, aroma percintaan masih tercium jelas. Jupiter memilih mandi terlebih dahulu, sedangkan aku memeriksa keadaan anak-anak.
Kulihat wajah kedua anakku yang sudah tertidur dengan sangat pulas. Terkadang mereka sangat lucu, dan terkadang mereka juga membuatku gemas, karena sering bertengkar merebutkan mainan atau hal kecil lainnya. Meskipun aku dan Jupiter selalu membeli barang yang sama, namun mereka tetap saja masih sering ribut.
Beruntunglah kini aku di bantu ibu mertuaku, semenjak melahirkan sikap nya berubah total. Dia sering membawa salah satu diantara mereka, untuk membantuku. Mungkin karena Aksa dan kak Dea sudah pindah rumah, dan memilih tinggal di apartemen, membuat ibu merasa kesepian dan sering menginap di rumahku. Aku sangat senang melihat perubahannya, dia benar-benar menyayangi cucunya dan juga diriku.
"Aku udah selesai, biar aku yang menjaga anak-anak."
Meskipun aku sudah mandi, tapi rasanya sedikit aneh jika tidak mandi lagi, karena rasa lengket yang sangat tidak nyaman.
"Mau makan?" Tawarku,
"Boleh. Nanti kalau kamu sudah selesai mandi, temani aku makan."
Jupiter memang tidak pernah makan diluar, terkecuali ia mengajakku. Dia lebih memilih makan di rumah, meskipun terkadang pulang larut malam, tapi dia tetap akan makan malam dirumah, membuatku semakin bersemangat untuk memasak.
Pekerjaan rumah selesai, dan juga Jupiter sudah selesai makan, kini saatnya istirahat. Kulihat Jupiter ikut bergabung dengan kedua putrinya, sedangkan aku memilih tidur di ranjang terpisah. Untuk saat ini kita berempat masih tidur satu kamar, namun dengan kasur berbeda. Tapi tak jarang anak-anak justru ingin tidur bersama, berdesak-desakan di satu ranjang.
Jupiter langsung terlelap, setelah ia menyantap satu piring nasi beserta lauk pauknya tanpa sisa. Sementara aku masih menatap ketiga wajah yang sudah terlelap. wajah mereka terlihat tenang dan nafasnya sudah teratur, pertanda mereka sudah tertidur pulas.
Aku masih tidak percaya dengan semua keajaiban ini terjadi dihidupku. Memiliki suami yang begitu mencintaiku, dan dua anak yang begitu lucu dan menggemaskan, membuatku terharu. Kebaikan apa yang sudah aku perbuat, sehingga Tuhan menganugerahkan semua kebahagiaan ini padakku. Apa karena kesabaranku selama ini? Entahlah. Hidupku terasa begitu lengkap. Aku tau, kehidupan rumah tangga tidak akan selalu berjalan sesuai yang kita harapkan, kita pasti akan ada batu kerikil yang mencoba membuat goyah keutuhan rumah tangga, tapi dari pengalaman hidup yang aku miliki, aku sudah siap dengam segala kemungkinan terburuk yang akan aku hadapi.
Hanya satu yang pasti, yaitu aku sangat beruntung memiliki mereka bertiga. Meskipun dulu aku pernah merasa tidak pantas bersanding dengan Jupiter karena masalaluku yang begitu buruk, namun secara perlahan Jupiter membuktikan, aku pantas menjadi pendamping hidupnya.
Aku mencium kening mereka satu persatu,
"Mimpi indah kesayangan Ibu," kucium kening kedua putriku.
__ADS_1
"I love u to,, Jupiku" dan terakhir aku mencium kening suamiku.