
Meskipun tidak pernah menceritakan sebenarnya pada Febian, tapi diam-diam Febian sering melihat Camelia menangis dalam diam sambil memeluk kemeja putih yang diyakini sebagai kemeja Jupiter. Di Depan Febian, Camelia bisa saja berbohong dan tidak pernah membahas apapun lagi mengenai Jupiter, tapi jika lelaki itu tidak ada ia akan kembali menangis, dan terus menangis seperti itu.
Sementara itu tanpa sepengetahuan Camelia, Febian terusenyelidiki kasus yang menimpa Camelia. Ia tahu dalang dibalik semua ini adalah Nadia dan juga Edward. Namun untuk menjerat Edward sangat sulit, karena lelaki itu memiliki kekuatan yang membuatnya bisa terlepas dari jalur hukum. Namun untuk Nadia, perempuan itu masih termasuk kedalam kategori penjahat amatir, karena segala tindakannya tidak dipikirkan dengan perencanaan yang matang, sehingga Febian bisa dengan mudah menemukan sejumlah bukti kuat untuk menuntutnya.
Namun bukan itu yang Febian inginkan. Jika hanya sekedar menjerumuskan Nadia ke dalam jeruji besi sangatlah mudah, tapi Febian menginginkan yang lebih dari sekedar itu, ia menginginkan sesuatu yang bisa membuat Nadira merasa bersalah, sama seperti yang Jupiter rasakan.
Diam-diam Febian menemui Nadira, tanpa sepengetahuan Camelia. Nadira masih berada di Rumah sakit, untuk melakukan segala jenis terapi yang harus dijalankan. Memudahkan Febian untuk menemukan keberadaan Nadira, terlebih ketika jam besuk sudah mulai berakhir dan keluarga Nadira sedang lengah, Febian masuk dan menemui Nadira.
Kehadiran Febian tidak membuat Nadira terkejut karena ia pernah beberapa kali melihat Camelia bersama Febian. Awalnya Nadira mengira Febian adalah kekasih Camelia, namun setelah masalah ini terkuak, akhirnya Nadira tahu jika Febian hanya teman atau lebih tepatnya lelaki yang selalu menemani kemanapun Camelia pergi.
"Lo gak mungkin terkejut kan, dengan kedatangan gue." Tanya Febian sambil duduk, menyilangkan kakinya dan mengambil satu buah apel merah yang terletak diatas meja.
"Nggak, gue malah nunggu lo datang." Balas Nadira santai.
"Bagus. Gue datang bukan untuk mengancam keselamatan lo, tapi gue cuman mau kasih tau, meskipun masalah ini sudah dianggap selesai oleh Kara, tapi tidak buat gue."
"Kara beruntung, dia dikelilingi lelaki yang sangat mencintainya, termasuk dirimu."
"Gue?" Febian menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, mungkin Kara menganggapmu sebagai teman. Tapi tidak buat lo,"
"Anggap saja seperti itu," tukas Febian.
"Gue pasti buat perhitungan sama kakak lo, jadi jangan coba-coba menghalangi jalan gue." Ucapan Febian, meski santai tapi tetap saja itu sebuah ancaman.
"Mungkin kamu mengira aku akan mengira aku akan mencegahmu? Aku tidak akan mencegah apapun, lakukan apapun yang kamu mau." Balas Nadira, sambil tersenyum miring.
"Wow,,, jawaban lo jauh dari perkiraan gue." Kekeh Febian.
"Mungkin dia memang harus sedikit diberi pelajaran, agar ia tahu bagaimana rasanya menjadi diriku dan Kara." Lanjut Nadira.
"Baguslah kalau begitu. Gue merasa dapat dukungan dari lo." Kini Febian berdiri dari tempat duduknya, merapikan kemejanya yang sedikit kisut.
"Kamu boleh membalas dendam pada kakakku, tapi jangan sakiti dia."
"Apa dia pernah berpikir perbuatannya justru menyakiti orang lain. Tidak, bukan?"
"Gue gak bisa menjamin apapun. Gue hanya ingin, apa yang dirasakan Kara, bisa dirasakan kakak lo. Impas bukan. Kalau gitu gue balik, semoga lo lekas membaik." Ucap Febian sambil melambaikan tangannya dan meninggalkan Nadira.
Setelah menemui Nadira, Febian langsung pulang apartemennya. Meskipun ia memiliki banyak rencana untuk membalas sakit hati Camelia, tapi Febian tidak ingin terburu-buru dalam bertindak. Kali ini ia lebih hati-hati dalam menjalankan misinya. Selain karena dia bekerja di belakang Camelia, juga karena ia tidak bisa meninggalkan Camelia sendirian terlalu lama di apartemennya. Meskipun kondisi kejiwaan Camelia sudah stabil, namun Febian tetap saja merasa khawatir, dan takut jika Camelia sampai melakukan hal yang tidak diinginkan.
Sebelum pulang, Febian terlebih dulu menyempatkan diri membeli beberapa bahan-bahan untuk membuat kue atau puding. Camelia harus memiliki kegiatan, agar ia tidak terus menerus mengingat kejadian itu. Dengan menyibukan diri di dapur, bisa membuat perhatiannya sedikit teralihkan. Febian memilih beberapa bahan untuk membuat kue, sesuai jenis yang disukai Camelia. Gadis itu memang tidak pandai memasak, tapi dia sangat menyukai membuat kudapan manis, meskipun terkadang rasanya jauh dari ekspektasi. Tapi itu lebih baik, daripada Camelia terus menangis dan memeluk kemeja Jupiter sepanjang hari.
Sesampainya di apartemen, Febian tidak menemukan Camelia dimanapun. Ia kembali dilanda kepanikan, dan langsung menghubungi nomor ponsel Camelia. Untunglah Camelia segera mengangkat panggilannya, membuat Febian menghela lega.
Ternyata Camelia sedang berada di rumah Kanaya, ia sedang membuat beberapa kudapan yang akan dibawa Eela ke sekolahnya. Setelah mengetahui keberadaan Camelia, Febian bisa bernafas lega.
"Siapa Mel?" Tanya Kanaya, sambil membawa loyang berisi kukis yang sudah matang.
"Febian, mbak." Jawab Camelia sambil memasukan ponsel ke dalam apron yang dikenakannya.
"Dia tidur?" Tanya Kanaya pada Camelia, ketika melihat Elea sudah menangkup kepalanya diatas meja, sedangkan matanya sudah terpejam.
"Iya,, dia tidur, katanya capek. Padahal dia yang paling semangat mau membuat kue." Kekeh Camelia.
"Aku antar dia ke kamar dulu ya,"
Camelia mengangguk, semetara Kanaya menggendong putrinya, hendak memindahkan Elea kekamar.
Tidak berapa lama, Kanaya datang. Membantu Camelia menyelesaikan mencetak adonan kukis.
"Febian begitu perhatian padamu. Dia pasti khawatir begitu ia tahu kamu tidak ada di rumah."
"Iya,, dia memang lebih perhatian padaku, apalagi setelah kejadian waktu itu." Balas Camelia.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya Kanaya.
"Aku tidak akan memaksa jika kamu tidak ingin bercerita." Lanjut Kanaya.
Meskipun ia ingin mendengar apa yang sebenarnya menimpa Camelia pada hari itu, tapi ia tidak akan memaksa karena ia tahu itu masalah pribadi Camelia.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu terlebih dahulu. Boleh?" Camelia justru balik bertanya.
"Boleh,, apa yang ingin kamu ketahui."
"Mbak Kanaya pertama kali seperti itu,,,dengan Ayah Elea?" Tanya Camelia ragu-ragu.
"Maksudmu berhubungan badan?"
__ADS_1
Camelia meringis, ia malu untuk bertanya hal intim seperti itu, tapi sepertinya Kanaya dan juga dirinya memiliki masalah yang sama, hanya saja berbeda alur cerita saja.
"Pertama kalinya aku melakukan hal 'itu', memang dengan Ayah Elea. Lelaki itu menjadi orang pertama dan terakhir yang menyentuhku, dan kebetulan saat itu kondisiku sedang dalam masa subur. Meskipun baru pertama kali aku melakukannya, Elea langsung hadir dalam rahimku." Cerita Kanaya sambil mengelus perut ratanya, membayangkan kenangannya dulu.
"Apa waktu itu, kamu baru saja melakukannya?" Kini Kanaya balik bertanya.
"Iya,,, tapi sayang sekali, aku tidak bernasib sama seperti kalian. Hari ini tamu bulananku datang. Aku sempat berfikir, mungkin saja aku hamil setelah melakukan itu, tapi ternyata tidak." Camelia sedikit lega, setelah mengetahui pagi tadi, tamu bulanannya datang tepat waktu.
"Aku tidak akan sekuat mbak Kanaya, jika sampai aku hamil di luar pernikahan. Atau mungkin Tuhan masih menyayangiku, dengan memberiku kesempatan memiliki hubungan dengan lelaki lain, tanpa harus mengingat lelaki itu. Pasti sulit bukan, ketika kita mencoba melupakan tapi justru setiap hari kita harus diingatkan dengan melihat sibuah hati yang begitu mirip dengan sang ayah."
Kanaya tersenyum simpul, ia setuju dengan pendapat Camelia karena ia pun sangat kesulitan melupakan Revan karena bayangan Revan selalu terlihat di diri Elea.
"Apa mbak masih mencintai ayah Elea?"
"Aku masih sangat mencintai Revan, tapi aku tidak bisa melanjutkan hubunganku dengannya."
"Kenapa?"
"Karena Revan sudah memiliki calon tunangan. Aku tidak ingin dianggap orang ketiga, dan menghancurkan hubungan mereka."
"Alasan yang begitu klise," cibir Camelia. Kanaya tidak merasa tersinggung, justru ia tertawa.
"Lalu, kenapa kamu terlihat sangat sedih akhir-akhir ini. Apa hubunganmu dengan lelaki bernama Jupi itu berakhir?"
"Aku tidak pernah memiliki hubungan dengannya." Jawab Camelia pelan,
"Tapi kalian saling mencintai bukan?" Selidik Kanaya, dengan satu alis terangkat.
"Entahlah, hubunganku rumit dan,,,, sulit untuk dijelaskan."
"Jika kamu tidak bisa bersama lelaki yang selalu ada didalam doamu, mungkin Tuhan menghadirkan seseorang yang selalu ada didekatmu sebagai gantinya," Kanaya menyentuh punggung tangan Camelia dengan lembut.
"Apapun yang sedang terjadi padamu saat ini, percayalah selalu ada pelangi setelah hujan badai berlalu."
"Aku juga berharap, mbak Kanaya dan juga Elea bisa bahagia. Aku bersyukur memiliki tetangga seperti kalian." Camelia membalas usapan tangan Kanaya.
"Mungkin minggu depan aku akan kembali ke Singapur, dan aku akan tinggal disana, selamanya. Aku pasti akan merindukan kalian." Lirih Camelia, dengan nada sedih.
"Aku dan juga Elea pasti merindukanmu, Mel. Dimanapun kamu berada, jaga diri baik-baik, dan jangan lupa memberi kabar."
"Pasti mbak,,
"Ini bawa pulang, Febian pasti suka." Kanaya memberi satu toples berisi kukis coklat hasil karya mereka bertiga.
Camelia tidak bisa melihat siapa orang tersebut, tapi seakan tidak ingin ambil pusing, Camelia tidak lagi memperdulikan orang itu dan memilih masuk kedalam rumah.
Satu minggu berlalu, sebelum mengurus kepindahannya Camelia hanya menyibukan diri dengan bermain bersama Elea. Namun hari ini, Camelia melihat Elea bersama seorang lelaki dan juga pengasuhnya berjalan tergesa-gesa. Bahkan lelaki itu mengabaikan pertanyaanya, namun Camelia yakin jika ia pernah melihat lelaki itu. Sementara pengasuh Elea pun hari ini ia berubah, biasanya sus Tuti bersikap ramah padanya, namun kali ini sus Tuti seperti orang lain. Dan seperti lelaki itu, sus Tuti mengabaikan pertanyaannya.
Sementara Elea, ia hanya mengikuti langkah kaki lelaki itu. Tubuhnya seperti terseok-seok, mengimbangi langkah lelaki yang lebih besar dibandingkan langkah kaki kecilnya.
Merasa ada yang salah, dan mencurigakan, Camelia diam-diam mengikuti mobil yang membawa Elea. Camelia tidak membawa mobil, karena ia takut kehilangan jejak. Dia memilih menaiki ojek online, dan terus mengikuti kemanapun mobil itu pergi.
"Mbak,, kita sebenarnya mau kemana?" Tanya si tukang ojek.
"Ikuti Saja mobil itu pak. Nanti aku bayar lebih."
"Bukan masalah bayarannya lebih, tapi ini sudah malam dan kita sudah terlalu jauh mengikutinya."
"Iya saya tahu, bapak ikuti saja. Nanti saya bayar, bapak mau uang berapa, satu juta, dua juta?" Tawar Camelia.
Ia semakin curiga dengan mobil yang membawa Elea. Mereka sudah terlalu jauh membawa Elea, bahkan ia kesulitan menghubungi Kanaya. Bukan hanya Kanaya yang sulit dihubungi, tapi juga Febian. Lelaki itu sempat berpamitan kepadanya pagi hari tadi, tapi sampai sekarang Febian sulit sekali dihubungi. Bahkan nomor ponselnya tidak aktif. Tidak biasanya Febian seperti itu.
Akhirnya mobil yang membawa Elea berhenti di sebuah gedung tua yang sudah tidak terpakai. Kecurigaan Camelia semakin terbukti ketika Elea dibawa keluar dari dalam mobil dalam keadaan menangis dan memanggil ibunya,Kanaya.
Setelah membayar sejumlah uang kepada si tukang ojek online, dengan cukup besar, Camelia mengikuti perlahan rombongan yang membawa Elea.
Berjalan mengendap-endap, ia terus mengikuti kemanapun orang itu membawa Elea. Namun begitu ia melihat Elea diikat di sebuah kursi, dan gadis itu terus menangis memanggil nama sang ibu. Camelia sempat melihat beberapa wajah yang berada di dalam ruangan itu, dan beberapa diantaranya ia sangat mengenali orang tersebut. Ada dua wanita dan dan dua lelaki yang tersenyum menyaksikan tangisan gadis kecil, yang sudah mulai kehilangan suaranya akibat terlalu sering menangis. Keadaan sudah semakin darurat, sedangkan tidak ada satupun yang bisa dihubungi, akhirnya Camelia memilih menghubungi Jupiter.
Dalam keadaan terdesak seperti ini,Camelia mengenyampingkan rasa malunya dan memilih menghubungi Jupiter untuk meminta bantuan. Tidak mungkin ia membiarkan Elea sendirian seperti itu.
"Jupi,,,, kamu dimana?" Suara Camelia pelan, agar tidak terdengar orang yang lain.
"Kara? Ada apa?"
"Aku minta bantuan, sekarang aku sedang,,, akhh…" sambungan terputus begitu sebuah benda tajam menghantam kepala bagian belakangnya. Camelia tidak dapat mengingat apapun lagi, ia hanya merasakan tubuhnya diseret dan kembali dijatuhkan dengan sangat keras. Lalu setelah itu ia sayup-sayup terdengar jeritan Elea yang terus memanggil namanya sambil menangis.
"Aunty… aunty Mel… jangan bobok, Elea takut…" setelah itu Camelia kehilangan kesadarannya. Dan ia tidak ingat apapun lagi.
Perlahan Camelia menggeliat pelan, dan merasakan nyeri di bagian belakang kepalanya. Sayup-sayup ia mendengar seseorang berbicara. Sinar putih terasa menyilaukan pandangannya, bahkan beberapa kali ia harus mengerjapkan matanya, menyesuaikan sinar yang begitu terasa terang dimatanya.
__ADS_1
"Kamu sudah sada" tanya seseorang.
"Mbak Kanya?" Kanaya berada disampingnya, dan segera mengelus lembut punggung tangan Camelia.
"Elea mana?" Pertanyaan pertama Camelia, ia sangat khawatir dengan kondisi gadis itu, karena terlahir melihat Elea disekap dan diikat di sebuah kursi.
"Elea baik. Sangat baik. Terimakasih karena sudah menyelamatkan putriku." Ucap Kanaya. Ia tidak bisa menahan isak tangisnya, sambil terus menggenggam tangan Camelia.
"Aku berhutang budi padamu, jika saja Jupiter tidak segera menemukan keberadaanmu dan juga Elea, entah apa yang akan terjadi dengan putriku. Sekarang dia sudah baik-baik saja, dan dia terus menanyakan keberadaanmu, dia bilang kenapa aunty Mel bobonya lama banget." Camelia tersenyum bahagia, akhirnya Elea bisa selamat. Meskipun ia harus kembali melibatkan Jupiter.
"Sekarang dia dimana?"
"Mungkin dia sedang menuju kemari dengan Daddynya."
"Febian mana, apa dia tahu aku berada disini. Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri."
Raut wajah Kanaya langsung berubah begitu Camelia bertanya tentang Febian.
"Satu hari kamu tidak sadarkan diri. Tapi Dokter bilang kondisi kamu baik-baik saja, dan akan sembuh tidak lama lagi."
"Tapi Febian pasti,,,"
"Aunty Mel,,,,," teriak Elea begitu ia melihat Camelia sudah sadar.
"Elea,,, apa kabar sayang?" Tanya Camelia pada gadis yang sedang berada dalam gendongan lelaki yang masih mengenakan sneli,
"Kenapa aunty lama banget bobonya." Keluh Elea sambil meronta dari gendongan sang ayah, dan memilih bergabung dengan Camelia.
"Aunty ngantuk sayang,,, jadi aunty bobo." Balas Camelia sambil mengecup puncak kepala Elea. Masih bisa terlihat lebam di wajah Elea, entah apa yang dilakukan orang-orang jahat itu sehingga mereka dengan teganya menyakiti seorang gadis kecil.
Mereka bercengkrama cukup lama, membuat Camelia melupakan pertanyaanya tentang keberadaan Febian. Ia masih menunggu kedatangan Febian, dan merasa ada yang aneh karena lelaki itu tidak kunjung menemuinya. Saat pikirannya masih melayang- layang mencari keberadaan Febian, tiba-tiba saja pintu kamar tempatnya dirawat terbuka. Ia berharap itu Febian, tapi ia kembali kecewa karena yang datang bukan Febian, melainkan Jupiter.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Jupiter sambil meletakan satu plastik berisi buah.
"Sudah lebih baik. Terima Kasih karena sudah menolongku."
"Tidak perlu berterimakasih, karena bukan aku yang menangkap pelakunya, tapi pihak kepolisian. Dan aku hanya sekedar perantara." Balas Jupiter sambil duduk disamping tempat tidur Camelia.
"Kamu tahu dimana Febian? Aku tidak bisa menghubunginya, ponselku hilang setelah aku tidak sadarkan diri di gedung itu."
Jupiter tampak menghela lemah,
"Dia juga sedang menunggu, dia ingin sekali kamu mengunjunginya."
"Dia dimana? Kenapa dia tidak mendatangiku?" Tanya Camelia, ia merasakan ada sesuatu yang salah dengan ucapan Jupiter.
"Dia tidak bisa pergi kemanapun, jadi kamu yang harus menemuinya."
"Dimana dia? Antarkan aku, dia ingin aku pukul rupanya."
Jupiter segera mengambil kursi roda untuk digunakan Camelia, meskipun kaki Camelia tidak sakit, tapi Jupitet tetap memaksa agar Camelia menggunakan kursi roda.
Perlahan kursi itu didorong Jupiter melewati setiap lorong Rumah sakit, namun Camelia segera menahan laju kursi roda,
"Kita mau kemana?" Tanyanya begitu mereka sampai di sebuah ruangan yang hanya dengan menyebutnya saja, sudah membuat seluruh tubuh dingin.
"Dia sudah menunggumu sejak dua hari lalu di dalam." Jupiter kembali mendorong kursi roda.
Hawa dingin terasa begitu menusuk tulang, bahkan Camelia merasa jantungnya berdegup sangat kencang, seperti habis berlari puluhan ribu kilometer.
Seseorang menghampiri mereka berdua, seakan sudah mengerti apa yang mereka cari, petugas itu membawa Jupiter dan Camelia pada sebuah laci yang mengeluarkan asap putih tebal, dan begitu laci itu terbuka sesosok tubuh kaku dengan wajah yang sudah tidak berbentuk lagi. Sulit mengenali siapa orang yang sudah terbujur kaku di dalam lemari pendingin itu, hanya saja pakaian yang ia kenakan dan tanda lahir yang berada di dekat jari kelingkingnya membuat Camelia terasa sesak.
"Siapa dia?" Tanya nya dengan suara bergetar.
"Dia Febian." Jawab Jupiter sambil berlutut di dekat kursi Camelia.
"Dia mengalami kecelakaan, dan nyawanya tidak bisa terselamatkan. Dia kecelakaan bersama Nadia, dan sayangnya keduanya tidak bisa diselamatkan." Lirih Jupiter sambil menggenggam tangan Camelia yang mulai dingin.
"Tidak! Itu bukan Febian! Febian gak mungkin ninggalin aku!" Camelia mulai terisak.
"Kara,, tenang. Dia memang Febian. Dari bukti dan data yang ada, itu memang Febian."
"Tidak!!! Itu bukan Febian. Bukan!! Tolong katakan itu bukan Febian!" Camelia sudah menangis, sambil mengguncangkan tubuh Jupiter.
"Bilang kalau itu bohong!! Itu bukan Febian kan!! Iya kan!! Kamu pasti salah orang?!"
Jupiter hanya bisa memandang Camelia dengan tatapan sedih. Ia tahu Camelia pasti terguncang dengan kepergian Febian yang begitu mendadak. Namun takdir tetap tidak bisa diubah, dan Febian memang sudah pergi.
"Tidak!!! Itu bukan Febian!!" Teriak Camelia sambil memukul-mukul tubuh Jupiter.
__ADS_1
"Dia tidak mungkin pergi ninggalin aku! Itu bukan Febian!!"