CAMELIA

CAMELIA
episode 53


__ADS_3

Jupiter akhirnya pulang setelah ia meminjam celana yang lebih layak, milik Febian. Meski awalnya Febian menolak dan tidak mau meminjamkan pakaiannya. Namun begitu Camelia turun tangan dan dengan jurus andalannya, dan Febian pun menyerah. Akhirnya mau meminjamkan celana olahraga miliknya. Karena menurut Febian, jikapun celana itu tidak kembali, ia tidak akan merasa kecewa. 


Keesokan harinya, Jupiter meminta Camelia untuk ikut serta menghadiri acara ulang tahun Aksa, namun Camelia menolak, karena ia merasa belum saatnya dia menampilkan diri di hadapan keluarga Jupiter. Kado yang sudah dibelinya masih tersimpan rapi di kamarnya, dan ia berencana akan memberikan kado tersebut setelah perayaan ulang tahun Aksa, atau mungkin satu hari setelah ulang tahun Aksa. 


"Gak jadi ikut acara ulang tahun keponakannya Jupiter?" Febian  dan Camelia kini berada di meja makan untuk menikmati makan siang bersama. 


"Nggak. Gue belum siap, berhadapan dengan keluarga Jupiter. Apalagi status Jupiter masih sebagai tunangannya Nadira." 


"Kapan mereka mau putus?"


"Gue gak tahu. Jupiter bilang malam itu dia udah bilang sama Nadira, dan Nadira setuju."


"Setuju gitu aja?" 


"Iya, memangnya harus setuju yang bagaimana?" 


"Mereka sudah menjalin hubungan selama dua tahun, bahkan tahap hubungan mereka sudah sampai pertunangan. Gak mungkin gitu aja si Nadira mau ngelepas Jupiter, karena lo." Tegas Febian.


"Kayaknya lo gak yakin gitu sama Jupiter."


"Gue bukannya gak yakin, Mel. Gue cuman mikir pake logika aja, lo tau kan keluarga mereka selain terikat karena anak mereka bertunangan, juga karena mereka rekan bisnis yang sama kuatnya. Bahkan keluarga Nadira sangat berpengaruh besar didunia bisnis, salah langkah sedikit saja Jupiter bisa benar-benar hancur." Febian mencoba menjelaskan secara rinci, agar Camelia mengerti. 


"Gue gak pernah melarang hubungan antara lo dan Jupiter, gue cuman gak mau lo sampai salah jalan dan berakhir seperti dulu. Gue gak mau lo terluka lagi, Mel." Camelia masih diam, ia mulai mencerna setiap ucapan Febian dalam pikirannya. 


Memang benar yang diucapkan Febian, banyak sekali resiko yang akan mereka berdua hadapi jika memilih bersama, bukan hanya untuk Jupiter, tapi juga untuk dirinya.


"Terus gue harus gimana?" Camelia balik bertanya pada Febian. 


"Masalah kita dan Edward belum selesai, bahkan Edward masih tetap minta ganti rugi atas kematian Nathan. Jika lo nekat menikah dengan Jupiter, Gue takut bukan hanya perusahaannya saja yang terancam, tapi juga nyawa Jupiter. Lo tahu kan bagaimana kejamnya Edward." 


Camelia dibuat merinding setiap kali nama Edward ataupun Nathan disebut. Ia tidak pernah lupa bagaimana rasanya ketika ia harus mendekam di dalam sel jeruji besi selama dua bulan. Meski hanya dua bulan, tapi terasa bagaikan dua abad. Dan untuk kematian Nathan, hingga hari ini Camelia masih sering dihantui ketakutan yang sering membuatnya terbangun di tengah gelapnya malam. 


"Kita selesaikan masalah ini terlebih dahulu, jika masalah lo dan Edward udah selesai, lo bisa lanjutin hubungan lo dan juga Jupiter. Tapi jika masalah lo belum selesai, gue minta jangan gegabah dalam memutuskan, gue gak mau lo kembali mengalami trauma dan berakhir di Rumah sakit jiwa." 


Tidak ada yang tahu jika dulu Camelia pernah mengalami depresi berat, sehingga ia harus berkali-kali dilarikan ke Rumah sakit Jiwa. Hanya Febian yang setia menemani pengobatan Camelia, hingga perlahan-lahan depresi yang diderita Camelia berangsur membaik.  


"Kita hanya perlu satu lagi investor untuk memenuhi target, setelah itu kita bisa segera melawan Edward dan dia tidak akan bisa lagi mengancam atau menuntut lo! Dan untuk satu investor ini, seperti yang sudah-sudah dia minta lo untuk memberinya service tambahan." 


Wajah Camelia langsung pucat pasi, begitu mendengar permintaan dari calon investornya. Kali ini Camelia semakin merasa ketakutan untuk melakukannya, karena ia takut jika pada akhirnya Jupiter mengetahui sisi kelam kehidupannya. Dan jika sampai Jupiter tahu, Camelia tidak bisa lagi membayangkan bagaimana kecewanya Jupiter. 


Sementara itu di tempat lain, Nadira dan Nadia sudah bertemu dengan seseorang yang sudah mereka rencanakan sejak kemarin malam. Dan orang yang mereka temui adalah Edward, kakak dari Nathan. Nadira masih diam terpaku setelah mendengar cerita yang disebarkan Edward.  Entah ia harus percaya atau tidak, yang jelas saat ini ia merasa bingung bahkan hatinya terasa begitu kosong.


"Hari ini semua masalah akan selesai. Lebih cepat lebih baik, sebelum Jupiter benar-benar meninggalkan perusahaan." Jelas Nadia, 


"Kamu hanya perlu meyakinkan Jupiter dan membuat Jupiter percaya jika Kara memang benar-benar wanita murahan. Dengan cara ini kita tidak akan terlihat licik, dan semua kesalahan pasti dilimpahkan pada Kara." 


"Tapi, kita salah karena sudah menjebaknya."

__ADS_1


"Dengar! Kita tidak menjebak, kita hanya memberikan bukti pada Jupiter jika wanita itu benar-benar murahan." Tegas Nadia. 


"Tapi, bagaimana jika lelaki itu sampai menyakiti Kara, atau bahkan memperkosa Kara!" 


"Itu tidak akan terjadi, karena lelaki itu dibayar bukan untuk memperkosa Kara, lelaki itu hanya akan membuat Kara seperti wanita murahan. Sudah, sekarang kamu hanya tinggal mengikuti saran dariku, jika kamu ingin menikah dengan Jupiter, dan calon suamimu itu tidak jatuh miskin." Tegas Nadia. 


Pertemuan antara Nadira, Nadia dan juga Edward, pada akhirnya mereka sepakat untuk menjebak Kara. Awalnya Edward tidak ingin bekerja sama dengan Nadia, karena menurut lelaki itu, melibatkan orang lain dalam rencananya hanya akan menambah rumit dan memperlambat saja. Namun ternyata Nadia tidak sebodoh yang ia pikir, ternyata Nadia sudah terlebih dahulu mengorek informasi penting tentang dirinya yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat dari siapapun. Bahkan Edward, sempat merasa bingung darimana Nadia tahu tentang masalahnya. 


Tentu saja rahasia besar yang kini sudah menjadi rahasia Nadia juga, menjadi senjata makan tuan yang memaksanya untuk mengikuti kemauan Nadia. Edward tidak berniat mencelakai Kara, ataupun melukai gadis itu. Ia hanya memanfaatkan kelemahan Kara, dan menjadikannya sapi perah untuk keuntungan bisnisnya, karena selama ini ia bisa dengan mudah meminta sejumlah uang pada Kara dengan alasan ganti rugi. 


Namun karena rahasianya kini sudah di kantongi Nadia, mau tidak mau akhirnya ia harus mengikuti kemauan Nadia, meski akhirnya ia harus kehilangan uang yang dihasilkan dari memeras Kara. Tapi itu lebih baik daripada ia harus mendekam dibalik jeruji besi, karena sebenarnya dirinya lah yang membunuh Nathan, bukan Kara.


Rencana jahat yang diminta Nadia adalah menjebak Kara dengan seorang lelaki yang akan menjadi investor. Lelaki hidung belang yang meminta layanan plus-plus pada Kara. Edward hanya perlu menyiapkan seorang lelaki bayaran yang akan menemui Kara di sebuah hotel  yang sudah dipesannya. Dan untuk tindakan selanjutnya, Nadia yang akan mengurus. 


Edward langsung bisa menilai jika Nadia adalah wanita licik, rubah betina yang tidak memiliki belas kasihan, sama seperti dirinya. Hanya saja alasan Nadia menjebak seseorang, terlalu sepele menurut Edward. Karena resiko gagal yang akan ditanggung Nadia tidak sebanding dengan hasil yang ia dapat, yaitu hanya sekedar ingin melihat adiknya menikah. 


Sementara itu, setelah bertemu dengan Edward, Nadira langsung diantar sang kakak menuju kediaman keluarga Jupiter.  Sementara Nadia memilih pulang untuk melancarkan aksinya, ia harus mengalihkan perhatian Febian, karena Nadia tahu lelaki yang selalu bersama Kara setiap waktu itu merupakan ancaman juga, karena sedikit saja ia lengah. Maka Febian akan menjadi perusak rencananya. 


Nadira menghadiri acara ulang tahun Aksa tanpa minat, bahkan ia tidak sedikitpun menikmati acara yang hampir sebagian besar keluarga Jupiter hadir. Perasaan kalut, bahkan pikirannya melayang entah kemana. Ia masih memikirkan bagaimana nasib Kara, dan apa yang akan terjadi pada sahabatnya itu. 


Meskipun rasa ingin memiliki Jupiter sangat kuat, tapi Nadira masih memiliki rasa simpati yang besar juga pada sahabatnya itu, meski mereka sudah tidak seakrab dulu. Tapi Nadira masih menyayangi Kara.


Tubuh Nadira terasa dingin, bahkan keringat mulai membasahi wajahnya meski ruangan tempat berlangsungnya acara dipenuhi dengan pendingin ruangan. Ia berjalan gontai menggapai kursi untuk menopang tubuhnya yang terasa lemas. Bayangan-bayangan Kara menangis ketika kejadian beberapa tahun lalu akibat ulah Ayu, yang berakhir dengan pelecehan yang terjadi di toilet sekolah, membuat kepala Nadira sakit. Bahkan ia masih ingat bagaimana jerit tangis Kara waktu itu, tangis yang membuat hatinya ikut merasakan perih dan sakit ya g sma. Bahkan sebagai teman ia tidak bisa menolong Kara, sehingga Kara menjadi bulan-bulanan dan bahan ejekan karena Video yang beredar dengan sangat cepat sudah meluas.  Dan saat ini ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika kejadian itu kembali terulang,bahkan kali ini ia lah pelaku utamanya. 


Apakah dengan menyakiti Kara bisa membuatnya bahagia, atau justru sebaliknya, ia akan dihantui rasa bersalah seumur hidupnya. 


Nadira menggelengkan kepalanya dengan sangat kuat, ia tidak ingin melakukan hal keji pada Kara, hanya karena ambisinya ingin menikah dengan Jupiter. Kepalanya terasa sakit dan pandangannya mulai samar, ia harus menyelamatkan Kara, sebelum kakaknya bertindak lebih jauh. 


"Nadira,,, kamu kenapa nak. Kamu sakit?" Tiba-tiba Mala, ibu Jupiter menghampiri Nadira. 


"Dimana Jupiter tante." 


"Wajah kamu pucat sekali nak." Maka begitu khawatir melihat wajah Nadira yang sudah berubah menjadi putih pucat. 


"Jupiter dimana?!" Teriak Nadira.


Ia harus segera bertemu dengan Jupiter, sebelum rasa sakit mengalahkan kesadarannya. 


"Jupiter!!!" Nadira berteriak di tengah kerumunan anak-anak yang tengah asyik menikmati pesta ulang tahun. 


Teriakannya yang tertelan suara musik yang jauh lebih nyaring, membuat Nadira harus terus berteriak menyebut nama Jupiter, namun untunglah lelaki itu datang satu menit sebelum kesadarannya benar-benar hilang. 


"Nadira kamu kenapa?!" Jupiter segera meraih tubuh Nadira yang sudah oleng, dan akhirnya ambruk.


"Tolong,,,, tolong selamatkan Kara. Dia butuh bantuanmu." Susah payah Nadira mengucapkannya, 


"Dia sedang dalam bahaya, selamatkan dia. Hotel Khatulistiwa no 788." Setelah mengucapkan itu Nadira tidak sadarkan diri, bahkan darah segar mengalir dari hidungnya. 

__ADS_1


Jupiter segera mengangkat tubuh Nadira dan membawanya ke dalam rumah. 


"Selamatkan Kara, Nadira biar aku yang urus." Dea menahan lengan Jupiter yang hendak mengambil kunci mobil. 


"Aku percayakan Nadira pada kakak."


"Aku bisa mengurusnya." 


Jupiter segera menuju lokasi yang disebutkan Nadira sebelum gadis itu tidak sadarkan diri. Namun di perjalanan ia menerima sebuah pesan dari nomor yang tidak  dikenalnya. Begitu membuka pesan yang berupa video singkat, sontak membuat Jupiter menghentikan laju kendaraan di tengah-tengah jalan. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Nafasnya memburu, dadanya terasa sesak, bahkan ia mengabaikan suara klakson dari mobil yang berada di belakangnya. Vidio tersebut memperlihatkan Kara tengah dicumbu oleh seorang lelaki paruh baya, bahkan baju Kara sudah tidak pada tempatnya. Kemeja yangs udah terbuka, bahkan hanya memperlihatkan pakaian dalamnya. 


Emosi yang kian menguasai diri Jupiter, dengan kecepatan tinggi Jupiter mengendarai mobilnya seperti orang kesetanan. Dan tidak membutuhkan waktu lama ia sudah sampai di lokasi yang ditujunya. 


Sempat beradu mulut dengan beberapa pengaman yang tetap tidak memperbolehkan Jupiter masuk kedalam kamar yang sudah di pesan orang lain, namun beruntunglah hotel tersebut milik salah satu temannya dan tidak butuh waktu lama, akhirnya Jupiter diperbolehkan masuk. 


Pemandangan pertama yang dilihat Jupiter adalah, Kara yang sudah berada di bawah kungkungan lelaki tua bangka yang menindihnya. Tanpa basa-basi Jupiter langsung menghajar lelaki tersebut hingga tersungkur. Membuat Kara dan juga lelaki tua itu memekik terkejut. 


Tidak hanya sampai disitu, Jupiter pun terus menghajar lelaki bertubuh gempal itu hingga wajahnya berdarah dan babak belur, sementara Kara hanya bisa menangis sambil menutupi bagian atas tubuhnya yang sudah terbuka. 


Lelaki yang dihajar habis-habisan oleh Jupiter sudah tidak sadarkan diri, dan meminta beberapa orang dari pihak hotel untuk mengurusnya. Tidak ada yang bertanya alasan Jupiter melakukan itu, semua petugas bungkam dan hanya membawa tubuh lelaki itu keluar dari kamar. 


Dengan nafas terengah dan emosi yang masih memenuhi dirinya, Jupiter berbalik menghadap Kara yang saat itu tengah menangis dan menutup tubuhnya dengan kemeja.


"Jadi, ini yang selama ini kamu lakukan?" Rahang Jupiter mengeras, bahkan sorot matanya yang biasa teduh kini berubah mengerikan


"Jadi kamu lebih memilih menjual diri, daripada percaya padaku?" Kara tidak menjawab, ia hanya menangis.


"Jawab!!!" Kini kedua tangan Jupiter mencengkram pundak Kara dan mengguncang-guncang tubuhnya dengan kuat, membuat air mata Kara menetes di kedua tangan Jupiter yang sudah berlumuran darah.


"Kamu lebih percaya diri menjual tubuhmu daripada percaya padaku!! Aku mempertaruhkan segalanya untuk kita, tapi kamu?! Kamu justru menghancurkannya!!" Luapan emosi yang sudah tidak bisa dibendungnya lagi, semua tumpah dalam satu waktu.


"Baiklah jika itu yang kamu mau, dan jika itu pilihanmu. Mungkin lebih baik aku memilih Nadira, daripada harus menikah dengan perempuan murahan sepertimu." Jupiter melepas cengkramannya, membuat Kara akhirnya mendongak menatap Jupiter dengan perasaan pilu. 


"Aku salah karena telah memilihmu." Jupiter segera berbalik meninggalkan Kara yang semakin terisak pilu, langkahnya semakin terdengar samar dan menjauh membuat Kara menangis meraung meratapi nasibnya. 


Jupiter meninggalkan Kara, bahkan ketika perempuan itu menangis tanpa sepatah katapun untuk membela dirinya. Hati Jupiter hancur dan terasa begitu sakit, namun ia terlanjur kecewa karena ia sudah merasa dikhianati oleh orang yang sangat ia cintai. Namun rasa kecewa dan cinta itu sangat tipis jaraknya membuat Jupiter hilang kendali dan pada akhirnya ia melontarkan kata-kata yang begitu menyakiti hati Kara. 


Baru beberapa langkah ia meninggalkan pintu, yang sudah tertutup namun suara isak tangis Kara masih terdengar jelas di telinganya. Tanpa sadar Jupiter pun menangis, menahan sakit yang terasa begitu menghimpit hatinya. 


Entah dorongan dari mana, akhirnya ia memutuskan kembali menemui Kara yang tengah menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. 


"Jika kamu bisa memberikan tubuhmu pada setiap lelaki yang sudah menjadi investor untuk perusahaan. Maka akupun akan meminta hakku," 


Kara terperanjat ketika Jupiter melonggarkan dasinya dan membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakannya.


"Tidak,,, jangan!" Akhirnya Kara bersuara setelah Jupiter merangsak naik mendekatinya. 


"Kenapa? Apa kamu ragu dengan kemampuanku. Asal kamu tahu, salah satu alasan Nadira tidak ingin berpisah dariku yaitu karena aku begitu hebat memuaskannya." Jupiter menyeringai sambil menarik kaki Kara hingga ia terlentang. 

__ADS_1


"Kamu akan terkesan karena permainanku pasti jauh lebih memuaskan dibanding para tua bangka itu. Setelah kamu menuntaskan tugasmu, aku tidak akan lagi mencari atau mendekatimu. Karena aku hanya akan menikahi perempuan baik-baik. Bukan perempuan murahan seperti dirimu!" 


 


__ADS_2