
Jupiter tidak tahu pasti, kapan Camelia akan tiba di Jakarta. Yang ia tahu hanya, perempuan itu akan sampai hari ini. Ingin sekali ia menjemput kedatangannya, namun Camelia tidak pernah mengizinkan dan ia tetap merahasiakan kedatangannya, meski Jupiter sudah memaksa.
Menunggu kabar selanjutnya yang belum pasti, akhirnya Jupiter memilih mengunjungi kediaman orang tuanya. Ia berencana ingin memberikan beberapa saham perusahaannya yang masih bisa diselamatkan sebelum ia memutuskan untuk menikahi Camelia.
Sesampainya di rumah kedua orang tuanya, kehadiran Jupiter disambut hangat oleh sang kakak, namun berbeda dengan Mala, ibunya. Mala langsung menghindar, dan memilih masuk kedalam kamarnya, sambil mengajak Aksa ikut dengannya.
"Tumben datang, ada apa?" Tanya Dea. Kini mereka sudah berada di ruang keluarga, dan Ditto ayahnya pun ikut bergabung dengan kedua anaknya.
"Sepertinya ada hal penting," Timpal Ditto.
"Iya, aku mau menyerahkan ini." Jupiter mengeluarkan map berwarna hijau, dan menaruhnya di atas meja.
"Ini apa?" Tanya Dea sambil membuka perlahan isi map.
"Ini?" Seakan tidak percaya, Dea justru menatap penuh tanya pada Jupiter.
"Ini apa?" Ditto pun mengambil alih map, dan memeriksa isinya dengan seksama.
"Apa maksud ini semua?"
"Kali ini, aku tidak ingin bertengkar. Jadi tolong dengarkan dulu penjelasanku." Jupiter tahu, sang ayah pasti marah dan menentang keputusannya, namun ia ingin satu-persatu masalahnya diselesaikan dan ia ingin segera mengambil keputusan untuk kelanjutan hidupnya.
"Aku sengaja memberikan atau lebih tepatnya menyelamatkan beberapa saham yang masih bisa aku pertahankan. Dan itu semua atas nama kalian. Bukan tanpa sebab, aku mengambil keputusan ini. Tapi aku ingin menjadi anak yang bertanggung jawab untuk semua keputusan yang aku ambil." Jupiter mengutarakan isi hatinya dengan satu tarikan nafas.
"Kalian pasti sudah tau apa alasannya. Dan kalian perlu tahu, itu sudah menjadi keputusan final. Mungkin saja aku bisa hancur dan tidak memiliki apapun lagi, tapi aku tidak ingin melibatkan kalian kedalam masalah yang aku perbuat. Jadi, terlebih dahulu aku menyelamatkan semua milik kalian, dan kalian bisa hidup dengan tenang, tanpa harus merasa takut."
"Jupiter!! Apa kamu sudah gila!" Ditto tidak terima dengan keputusan sepihak Jupiter.
"Aku tidak gila, ayah. Tapi aku bisa gila jika, aku kehilangan perempuan itu."
"Kamu benar-benar sudah dibutakan cinta!"
"Iya!! Aku memang buta karena mencintainya, tapi aku berhak bahagia. Dan aku ingin mengambil hakku, setelah selama ini aku hidup dibawah aturan yang kalian buat."
Ditto sangat kesal dengan keputusan Jupiter, namun ia sadar anak nya bukan lagi ABG labil yang perlu di beri pengarahan untuk mengambil jalan hidupnya. Ia tahu, Jupiter pasti sangat menyadari dengan keputusan yang sedang di jalaninya, maka dari itu ia sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan buruk yang akan menimpanya.
"Ayah tidak tahu apa yang sudah perempuan itu lakukan, sehingga kamu bisa seperti ini. Tapi, ayah tidak ingin menjadi musuh untuk anak ayah sendiri. Ayah mengatakan ini, bukan berarti ayah merestui hubungan kalian, hanya saja ayah memberi kamu kesempatan untuk memilih, dan jika suatu hari kamu menyesal dengan pilihanmu, ayah akan tetap menjadi ayah kamu. Dan kamu bisa kembali."
Jupiter mengerjapkan matanya berulang kali, ia tidak percaya dengan ucapan ayahnya. Namun, ia tahu jika ayahnya tidak sekeras ibunya. Diam-diam ayahnya selalu membelinya, ketika sang ibu memarahi atau pun menyalahkannya.
"Ayah ingin kamu bahagia, apapun yang menjadi pilihan kalian. Sama seperti keputusan Dea, yang tetap bersikeras menikah dengan Faro. Meski pada akhirnya harus berpisah, tapi ayah yakin Dea tidak pernah menyesal dengan keputusannya." Ditto menatap anak sulungnya, yang juga tengah menatapnya juga.
"Ayah,,," Dea segera mendekat dan memeluk sang ayah. Ia tahu, ayahnya tidak akan membiarkan anak-anaknya menderita. Meski mereka memilih jalan hidup yang salah.
"Ayah akan menerima ini, sebagai ungkapan rasa bersalahmu. Tapi ingat, ayah berharap kamu tetap berhati-hati dalam menghadapi keluarga Nadira. Ayah tidak akan ikut campur, karena itu masalahmu. Tapi, ayah harap kamu bisa memutuskan Nadira dengan baik-baik."
"Terimakasih ayah!" Senyum sumringah terpancar dari wajah Jupiter. Ia sangat bahagia, meski tidak mengutarakan secara langsung, namun ia tahu ayahnya sudah memberikannya kesempatan untuk meraih apa yang selama ini ia inginkan. Dan merasa memiliki satu kekuatan tambahan, membuat Jupiter semakin bersemangat untuk segera menikahi Camelia. Dan hidup bahagia bersamanya.
Setelah urusannya selesai, Jupiter tidak menemui ibunya dan langsung pulang menunggu Camelia menghubunginya. Namun, kejutan kembali menghampirinya, ketika ia melihat sosok yang amat ia rindukan ada di depan pintu apartmennya.
Camelia tengah berdiri di depan pintu, sambil beberapa kali menekan bel. Namun merasa tidak ada jawaban, Camelia memilih untuk pulang dan menemui Jupiter lain kali. Namun baru saja ia berbalik, ia mendapati lelaki yang dicarinya tengah berdiri, tersenyum sambil memasukan sebelah tangannya kedalam kantong celananya.
"Jadi ceritanya mau bikin kejutan?" Tanya Jupiter, dengan satu alisnya terangkat, namun senyum di bibirnya tidak pernah pudar.
Menahan gejolak rindu yang terasa begitu memenuhi rongga dadanya, Camelia mencoba tetap tenang, meski ia ingin sekali berlari dan memeluk Jupiter.
"Tadinya sih begitu,,, tapi keburu ketahuan." Balasnya cuek.
Langkah Jupiter yang terdengar seperti sebuah dentuman yang begitu menggetarkan hatinya. Camelia masih berdiri di ambang pintu, meski tubuhnya sudah lemas.
"Aku kangen." Ucap Jupiter sambil memeluk tubuh kecil Camelia. Ia mendekap Camelia, seakan takut wanitanya akan pergi, dan menghilang tiba-tiba seperti kemarin.
"Aku juga." Balas Camelia, sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jupiter. Bau maskulin yang langsung menusuk indra penciumannya, membuat ia betah berlama-lama berada di dalam pelukan Jupiter.
__ADS_1
"Masuk yuk,," ajak Jupiter, tanpa melepaskan pelukannya.
"Gimana mau masuk, aku gak bisa jalan."
"Gak perlu jalan." Jupiter tiba-tiba mengangkat tubuh Camelia ala bridal style, membuat Camelia memekik terkejut dengan perlakuan Jupiter yang tiba-tiba.
"Kamu gak makan?" Tanya Jupiter setelah berhasil menurunkan Camelia di kursi.
"Makan!"
"Kamu kurus banget." Keluh Jupiter sambil memperhatikan tubuh Camelia dengan seksama.
"Kita order makanan, dan kamu harus makan yang banyak. Aku gak mau calon istriku terlihat kurus, seperti kekurangan gizi." Jupiter segera meraih ponsel di saku celana dan membuka aplikasi gojek online untuk memesan beberapa makanan.
Sementara itu Camelia sibuk menyiapkan alat-alat makan, dan mengambil beberapa minuman dingin. Baru saja ia hendak mengambil gelas, tiba-tiba suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya. Ia segera melihat siapa yang datang dan bisa masuk apartemen Jupiter.
Mata Camelia langsung terbelalak ketika ia melihat Nadira datang, ia segera bergegas mencari tempat untuk bersembunyi. Hingga akhirnya ia memilih masuk ke dalam lemari yang terletak tidak jauh dari meja makan. Dan beruntunglah lemari itu kosong, tidak ada isinya sama sekali.
Meski gelap dan pengap, Camelia masih bersyukur karena lemari itu memiliki celah cukup banyak, sehingga ia masih bisa bernafas dengan leluasa.
Bukan hanya Camelia yang terkejut, Jupiter pun tak kalah terkejutnya.
"Kamu ko bisa?" Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Jupiter. Namun menyadari jika ia tidak sendiri di dalam rumah, ia segera melirik ke arah dapur, karena ia yakin Camelia tengah berada di dapur sejak tadi.
Jupiter menghela lega karena ia tidak menemukan Camelia di dapur, namun tetap saja tidak membuatnya nyaman karena ia masih mencari dimana Camelia bersembunyi.
"Kenapa? Kamu terkejut begitu? Ini rumah calon suamiku, jadi aku berhak datang kesini kapanpun aku mau. Kita makan bersama ya? Aku bawa makanan kesukaan kamu." Nadira tidak menghiraukan tatapan tidak suka Jupiter, ia berjalan menuju dapur untuk menyajikan makanan yang dibawanya.
"Kamu sudah menyiapkan semuanya ternyata. Apa kak Nadia memberitahumu kalau aku mau datang?" Tanya Nadira,
"Kamu bisa menghubungiku dulu kalau mau datang. Jangan mendadak kayak gini."
"Kenapa? Apa aku salah?"
"Apa? Jadi menurutmu aku tidak menghargai kehidupanmu? Hal apa yang menurutmu aku tidak menghargai? Aku tahu kamu mulai mengabaikanku, dan ingin berpisah denganku. Aku juga tahu, ini semua kamu sediakan bukan untuk menyambut kedatanganku tapi, untuk makan bersama perempuan lain." Telunjuk Nadira mengarah pada semua tatanan piring yang sudah di atur Camelia.
"Dan aku tidak buta, aku melihat sepatu wanita di depan pintu! Pasti perempuan itu bersembunyi disini!" Nadira langsung mencari-cari perempuan yang dimaksudnya, membuat Jupiter merasa ketakutan, ia takut jika akhirnya Nadira melihat Camelia tengah berada di dalam rumahnya.
Jupiter memang pasti memberitahu Nadira tentang hubungannya dengan Camelia, namun bukan seperti ini caranya.
Camelia pasti merasa tidak enak hati, jika ia harus bertemu dengan Nadira bahkan dengan cara yang tidak baik. Seolah Camelia seperti perempuan penggoda.
"Nad, aku mohon tolong hentikan!" Pinta Jupiter, karena ia yakin jika Camelia pasti tengah bersembunyi di salah satu ruangan di kediamannya.
"Dengar! Siapapun perempuan yang sudah merebutmu, aku tidak akan takut. Dan aku juga tidak akan menyerah, aku akan tetap meminta pernikahan kita terus berlanjut!"
"Kamu terlalu egois!"
"Bukan aku yang egois, tapi kamu. Apa kamu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku sedikit saja, atau kamu mau memikirkan bagaimana hidupku yang hanya tinggal menghitung bulan? Dan kamu masih mengatakan jika aku egois?"
"Nad,, tolong jangan jadikan itu sebagai alasan."
"Itu bukan alasan. Tapi itu memang kenyataan, aku sakit, aku sekarat!!" Teriak Nadira, ia sudah sangat putus asa dengan perubahan sikap Jupiter yang semakin menjauh dan tidak sedikitpun mau peduli padanya.
"Aku tahu." Jupiter menghela lemah, ia tahu Nadira sakit dan itu yang sangat memberatkannya, karena Nadira selalu menjadikan kesakitannya sebagai alasan.
"Aku tahu kamu sakit. Tapi aku tidak ingin rasa sakitmu di jadikan alasan untuk semua hal yang ingin kamu dapatkan. Kamu tahu, kamu terlalu ingin dikasihani, tapi kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan orang lain."
"Dengar,,,aku tidak akan melakukan pengobatan apapun jika kamu masih tetap menolak pernikahan kita." Tegas Nadira.
"Aku ingin melihat seperti apa perempuan yang begitu kamu cintai itu," Nadira segera melangkah menuju setiap sudut ruangan untuk mencari perempuan yang dimaksud.
Namun satu hal yang mereka lupakan, dan mereka tidak menyadarinya sama sekali. Camelia hanya bisa membekap mulutnya sendiri, meredam isak yang keluar dari mulutnya, ketika satu rahasia besar baru saja ia dengar.
__ADS_1
Camelia tidak tahu jika Nadira ternyata tengah berjuang melawan sakit yang dideritanya, dan Jupiter tidak pernah menceritakan hal itu padanya.
Sesama perempuan pasti tahu, bagaimana rasanya memperjuangkan cinta yang begitu rumit. Ia hafal betul bagaimana rasanya, namun untuk merasakan bagaimana rasanya menghitung waktu menunggu mati, rasanya lebih menyakitkan. Mungkin orang lain mengira ia tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menghitung waktu menunggu mati, namun sebenarnya ia justru sudah merasakan bagaimana rasanya hidup tapi justru jiwanya sudah mati.
Entah sudah berapa lama ia bersembunyi di dalam lemari, namun kakinya sudah terasa sakit dan kesemutan. Sudah tidak lagi terdengar suara gaduh orang berbicara, Camelia yakin Nadira pasti sudah pulang.
Baru saja ia membuka pintu lemari hendak keluar, ia mendengar suara itu kembali mendekat. Namun bukan suara orang berbicara, melainkan suara orang bertengkar. Apa Jupiter dan Nadira masih saling beradu mulut, pikir Camelia. Dan ia pun segera kembali bersembunyi.
"Nad,, sudah kubilang tidak ada perempuan lain di rumahku. Jadi aku mohon,,, tolong pulang, aku sedang banyak kerjaan."
"Aku akan pulang setelah kita makan malam." Nadira tidak menghiraukan pengusiran Jupiter, dan masih saja membuka bungkusan yang ia bawa. Setelah kecewa dengan tidak menemukan perempuan yang dicarinya, Nadira tetap ingin tetap menyajikan masakan yang sudah susah payah ia buat.
"Aku gak lapar!"
"Yasudah kalau begitu kita buang!" Nadira hendak membuang masakan yang dibuatnya kedalam tong sampah, Jupiter segera meraih tangan Nadira agar ia tidak membuang makan. Namun, yang terjadi akhirnya justru tarik menarik, hingga akhirnya makanan itu justru berhamburan di lantai.
"Astaga Nadira!!!" Jupiter mengacak-acak rambutnya kesal,
"Aku mohon, jangan seperti ini. Jangan mempersulit keadaan,"
Nadira hanya menatap sedih Jupiter, tanpa membalas ataupun membantah.
"Aku pulang." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulutnya, dan kemudian ia segera melangkah pergi meninggalkan Jupiter dan keributan yang diperbuatnya.
Nadira pergi tanpa ucapan selamat tinggal ataupun dia ntar Jupiter, ia pulang dengan perasaan yang semakin tidak menentu. Sementara itu Jupiter pun sama dengan Nadira, perasaanya kian tidak menentu.
Perlahan Camelia keluar dari tempat persembunyiannya, setelah ia memastikan Nadira pulang. Jupiter terkejut melihat Camelia keluar dari dalam lemari, segera ia mendekati Camelia dan membantunya keluar dari ruangan sempit dan pengap.
"Kamu disini?" Tanya Jupiter, sambil membantu membersihkan baju Camelia yang terkena debu.
"Iya,,aku panik jadi memilih bersembunyi disini."
"Kamu terluka?" Jupiter kembali memeriksa tubuh Camelia, ia takut karena bersembunyi di tempat sempit seperti itu,Camelia terluka.
"Kenapa gak bilang kalau Nadira sakit?" Pertanyaan Camelia membuat Jupiter menghentikan pergerakannya.
"Karena aku takut." Balas Jupiter.
"Aku tahu apa yang akan kamu ucapkan, dan itu salah satu ketakutan terbesar dalam hidupku. Jangan katakan apapun, jika itu menyangkut perpisahan, karena aku tidak mau."
"Tapi,,,"
"Jika kamu pergi, karena merasa bersalah pada Nadira. Itu tidak akan membuat aku menikahinya. Aku lebih memilih pergi daripada harus hidup bersamanya."
"Jupi,,,,"
"Aku butuh dukungan darimu, karena itu yang aku butuhkan sekarang. Dan jika kamu memang tetap memilih pergi, aku tidak memiliki apapun lagi." Mata Jupiter memerah, bahkan tanpa ia sadari cairan bening lolos dari pelupuk matanya.
Untuk pertama kalinya Camelia melihat Jupiter menangis. Ia tahu lelaki itu tengah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Camelia mendekat, meraih wajah Jupiter dengan kedua tangannya dan mengusap lembut air mata Jupiter.
"Jangan nangis,,," Camelia menggelengkan kepalanya, namun tetap menempelkan telapak tangannya di wajah Jupiter.
"Aku sangat putus asa, apalagi kamu memilih untuk pergi, aku benar-benar gak tau lagi apa yang harus aku perbuat."
"Siapa yang bilang, aku mau pergi. Dari tadi aku gak bilang mau pergi." Camelia memang tidak mengatakan jika ia akan pergi, namun Jupiter sangat tahu bagaimana reaksi Camelia setelah ia mengetahui keadaan Nadira.
"Kamu tidak mengatakannya, tapi aku tahu apa yang akan kamu perbuat setelahnya."
"Kamu terlalu percaya diri!" Cibir Camelia, namun bukannya marah, Jupiter justru tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Camelia.
"Terimakasih karena sudah menahanku dengan air mata. Aku akan tetap berada di dekat kamu, namun jika suatu hari nyawamu terancam karena kehadiranku, aku akan pergi. Karena aku memilih menghilang, daripada harus kehilanganmu."
"Dan aku akan memastikan kita akan baik-baik saja." Balas Jupiter sambil mendekatkan wajahnya, mencium bibir manis Camelia yang selalu membuatnya rindu.
__ADS_1