
Selesai sarapan pagi bersama, kini Jupiter hendak mengantar Camelia pulang karena semalam Febian sudah menghubunginya dan meminta Camelia diantar pulang keesokan paginya. Meski merasa keberatan dengan perintah Febian, Jupiter terpaksa mengantar Camelia, karena bagaimanapun juga ia belum berhak sepenuhnya atas diri Camelia, dan juga Febian masih menjadi orang yang paling bertanggung jawab untuk Camelia saat ini.
"Selesai sarapan aku antar kamu pulang." Ucap Febian sambil menghabiskan sepiring nasi goreng buatan Camelia.
"Nasi gorengnya enak,,, aku gak tau bakal bisa kerja atau tidak," lanjut Jupiter sambil menghabiskan satu suapan terakhir dan minum jus buah.
"Kenapa?"
"Kenyang,,, aku pasti ngantuk. Atau sebaiknya aku tidak perlu berangkat kerja? Dan kita bisa seharian di rumah. Bagaimana?" Usul Jupiter. Ia merasa sangat malas untuk berangkat kerja, tidak biasanya ia seperti itu. Karena jika tidak ada Camelia, Jupiter begitu bersemangat karena dengan mengerjakan pekerjaan yang begitu banyak, ia bisa sedikit melupakan Camelia. Namun, kali ini karena akhirnya ia bisa kembali menemukan Kara, atau Camelia, rasanya ia sangat enggan berjauhan dari gadis itu, walau hanya sebentar saja.
"Seorang atasan harus memberi contoh yang baik untuk karyawannya. Kalau bos nya saja sudah malas, bagaimana dengan karyawannya." Ejek Camelia sambil merapikan piring kosong, dan membawanya ke dapur.
"Kamu ikut aku ke kantor saja, bagaimana? Atau kamu menjadi sekertarisku saja," Jupiter mengikuti Camelia, menuju tempat mencuci piring.
"Mau kamu apakan sekretaris yang sekarang?"
"Aku bisa mempekerjakan dua sekretaris sekaligus. Kamu hanya perlu bekerja untukku dan selalu ada di dekatku." Kini Jupiter kembali meletakan dagunya di atas pundak Camelia.
"Jupi,,,, udah ganti baju sana. Nanti selesai cuci piring, kamu juga selesai ganti baju." Camelia meronta, begitu Jupiter memeluknya dari belakang.
"Sebentar, aku masih mau seperti ini." Balasnya, dan masih tidak melepaskan pelukannya.
"Kamu lupa, semalam kamu hampir saja memperkosaku." Elak Camelia sambil melepas pergelangan tangan Jupiter yang melingkar di pinggangnya.
"Apa? Di perkosa?" Tanya Jupiter dengan nada tidak suka.
"Bagaimana bisa disebut memperkosa, sedangkan kamu saja membalas setiap ciumanku. Apa kamu yakin jika seseorang di perkosa akan berteriak, ahhhhh." Jupiter memperagakan desahan yang lolos dari mulut Camelia, semalam.
Camelia mendelik, ia memukul-mukul lengan Jupiter dengan sangat keras.
"Hei,,, aku tidak seperti itu " elak Camelia, meski reaksi wajahnya tidak bisa disembunyikan.
"Iya bukan begitu, tapi Ahhhhh, Jupi,,, ah,,," Jupiter semakin menjadi, menggoda Camelia yang sudah terlihat menahan malu.
"Enggak!!"
"Ahhhhh,,,"
"Jupiter!!" Kini Camelia sengaja mengepalkan tangannya hendak memukul Jupiter dengan sangat keras, namun lelaki itu terlebih dahulu berlari menuju kamar.
Merasa sangat malu dengan reaksi tubuhnya yang langsung merespon ketika Jupiter menyentuhnya, Camelia hanya bisa melampiaskan dengan memukul-mukul lengan Jupiter, begitu lelaki itu menyerah dan meringkuk di lantai, menerima setiap pukulan Camelia.
Setelah merasa puas dengan melampiaskan rasa malunya, Camelia menghentikan pukulannya karena tangan Jupiter sudah berubah warna kemerahan, dan lelaki itu sudah meringis meminta ampun padanya.
"Sakit ya,,,?" Tanya Camelia ketika mereka kini berada di dalam mobil, hendak menuju apartemen milik Febian.
"Menurutmu?" Jupiter justru balik bertanya.
"Maaf,,, " Camelia tidak bermaksud menyakiti Jupiter, namun lelaki itu seakan begitu senang karena berhasil mempermalukannya.
"Oke,,, aku maafkan. Oh iya,, besok aku mau ambil cuti. Bagaimana kalau kita jalan-jalan?"
"Mau kemana?"
"Dulu aku sangat ingin mengajakmu pergi ke Dufan, tapi aku tidak punya kesempatan untuk mengajakmu. Jadi sebagai ucapan permintaan maaf, kamu harus bersedia aku ajak jalan. Bagaimana?"
Camelia masih nampak memikirkan ajakan Jupiter, "Gimana ya,,," ia sengaja membuat Jupiter menunggu jawabnya.
"Ayolah,,, kamu sudah membuat tanganku cedera, aku hanya memintamu membayar dengan jalan-jalan. Coba kamu pikir, apa ada obat yang bisa menyembuhkan sakit hanya dengan jalan-jalan. Aku sudah ditampar, lalu pagi ini aku juga dipukuli olehmu. Jadi aku butuh obat untuk menyembuhkan semua sakit yang ada di tubuhku."
Jupiter tidak menyadari jika Camelia memperhatikannya dengan seksama, begitu ia tidak sengaja menceritakan insiden tamparannya kemarin, meski Jupiter tidak sampai menceritakan siapa yang menamparnya, tapi ucapannya membuat Camelia seketika diam, dan memperhatikan Jupiter dengan sangat lekat.
"Pasti masih sakit. Pipi kamu masih terlihat merah," satu tangan Camelia mengelus lembut pipi Jupiter yang masih terlihat sedikit merah. Camelia yakin jika tamparannya pasti sangatlah keras, karena masih berbekas dan berwarna merah.
"Tidak sakit. Karena sekarang aku punya obatnya." Jupiter menggenggam tangan Camelia yang masih menempel di pipinya.
"Jadi teruntuk Ibu Camelia, atau Kara, jangan jauh-jauh dari Jupiter. Karena kamu obat dari semua rasa sakitku."
__ADS_1
"Dasar,,," Camelia tersenyum jahil dan mencubit pipi Jupiter.
"Awww, sakit!!" Keluh Jupiter.
"Tadi bilangnya gak sakit." Ejek Camelia.
"Tapi jangan cubit juga,,," Jupiter masih tidak terima, dan mengusap pipinya yang terasa nyeri akibat cubitan Camelia. Sedangkan Camelia hanya terkekeh geli, dan menjulurkan lidahnya.
Sesampainya di lobi apartemen, Camelia memilih turun sendiri karena Jupiter harus berangkat ke tempat kerjanya. Meski Jupiter ingin memastikan Camelia sampai hingga di depan pintu rumahnya, tapi Camelia menolak dengan alasan Jupiter pasti terlambat datang ke kantor.
Tidak ingin berdebat hanya karena masalah sepele, akhirnya Jupiter memilih menyetujui permintaan Camelia, dan hanya mengantar gadis itu sampai lobi saja. Lalu ia segera berangkat menuju kantor Global ink, tempatnya bekerja.
Begitu Camelia sampai di depan unit apartemen miliknya, ia tidak langsung masuk, karena ia melihat Elea dengan Ibunya sedang berada di luar.
"Aunty Mel,,," seru Elea begitu melihat kedatangannya.
"Hai, Elea. Apa kabar?" Camelia menghampiri gadis kecil berkuncir dua itu. Tidak lupa juga ia menyapa ibu si gadis, Yaitu Kanaya.
"Kalian mau kemana?" Tanya Camelia, karena ia melihat Kanaya dan juga putrinya sudah berpenampilan sangat rapi.
"Elea mau jalan-jalan sama Daddy," jawab Elea, dengan antusias.
"Oh begitu rupanya." Camelia merasa sedikit bingung, karena selama ini yang ia tahu Kanaya tinggal hanya berdua dengan Elea, dan Camelia pun tidak pernah tahu siapa ayah dari gadis kecil itu. Hanya saja ia pernah melihat seorang lelaki, yang sering dipanggil Ayah oleh Elea, tapi bukan dipanggil Daddy.
"Iya,, Elea mau jalan-jalan bersama Daddy nya. Kamu baru pulang?" Tanya Kanaya.
"Iya, habis dari rumah teman." Balas Camelia.
Tidak berapa lama seorang lelaki bertubuh tinggi, muncul dari balik pintu rumah Kanaya. Wajahnya begitu mirip dengan Elea.
"Aunty Mel, ini Daddy Elea." Elea menarik tangan lelaki itu, dan memperkenalkan pada Camelia.
"Camelia,"
"Revan," mereka berdua berjabat tangan. Tidak lama setelah itu, keluarga Kanaya pamit pergi meninggalkan Camelia yang masih berdiri mematung di depan pintu.
Meskipun Camelia mencoba mengingat siapa lelaki itu, tapi ia tidak bisa mengingatnya sedikitpun hingga suara pintu terbuka membuyarkan lamunannya.
"Mel,,, lo ngapain bengong kaya gitu dari tadi?" Febian keluar dari balik pintu, dan memperhatikan Camelia yang masih berdiri di depan pintu.
"Gue ngerasa pernah lihat lelaki tadi. Tapi kapan ya,,," Camelia akhirnya masuk kedalam rumahnya, di ikuti Febian dari belakang.
"Siapa?"
"Ayahnya Elea," balas Camelia, sambil masih mencoba mengingat-ingat, karena ia merasa begitu penasaran. Tidak biasanya ia melupakan wajah seseorang yang pernah ia temui, namun untuk kali ini ia merasa kesulitan untuk mengingatnya, dan itu membuatnya semakin penasaran.
"Jangan bilang itu salah satu pengusaha yang pernah merasakan special service dari lo. Dan kalau iya, mati lo, istri sama anaknya tetangga." Ejek Febian,yang langsung mendapatkan tatapan tidak suka dari Camelia.
"Sialan lo,,, gue gak mungkin mengingat lelaki cabul berotak mesum. Ngapain juga mesti gue inget-inget." Gerutu Camelia, sambil membuka satu kaleng minuman dingin dan duduk bersama Febian di meja makan.
"Lagian kalaupun salah satu pelanggan lo, cowok tadi cakep banget. Usia matang, dan mapan. Iya kan?"
"Gila, lo!!"
Febian hanya terkekeh geli. Menggoda Camelia merupakan salah satu hal paling menyenangkan yang sering ia lakukan, jika ia tengah merasa bosan.
"Lo bosen?" Camelia pun seakan sudah sangat mengerti dengan kondisi temannya itu. Febian akan mencari-cari bahan ejekan untuk menyudutkan Camelia,dan akan tertawa begitu Febian merasa puas setelah melihat Camelia marah.
"Iya…" jawab Febian lesu.
"Sudah Kuduga," balas Camelia sambil tersenyum sinis, memainkan jari telunjuknya di atas kaleng minuman dingin.
"Kenapa memangnya?" Kali ini Camelia sedikit lebih serius, karena wajah Febian juga berubah serius.
Sebenarnya mereka berdua jarang sekali duduk berdua dan bicara secara santai seperti hari ini, namun entah apa yang menimpa Febian, sehingga wajah lelaki itu tampak kusam dan lesu.
__ADS_1
"Gue dipaksa nikah sama bokap."
Seketika Camelia tersedak karena saat itu ia tengah menenggak minumannya.
"Apa? Nikah? Serius?" Tanya Camelia setelah ia menepuk-nepuk dadanya yang masih sedikit terasa sesak akibat minuman tadi.
"Iya. Mungkin nyokap udah mulai sadar dengan kelakuan gue. Dan lo tau, bokap udah nyiapin calonnya juga. Mereka minta gue segera menikahi gadis pilihan bokap, tapi gue gak mau. Gue gak cinta." Camelia sedikit prihatin dengan kisah asmara Febian. Meski sebenarnya ia juga tidak lebih menyedihkan dari Febian. Hanya saja Camelia masih menyukai lawan jenis, berbeda dengan Febian yang menyukai sesama jenis.
Orang-orang seperti Febian akan sangat sulit memutuskan sebuah hubungan dan menerima hubungan baru, karena mereka memiliki komitmen dan kesetiaan yang begitu kuat. Berbeda dengan pasangan normal seperti dirinya, meski seringkali mengumbar kata cinta, namun pada akhirnya mereka akan terbiasa dengan kehadiran sosok baru. Contoh singkatnya Jupiter dan Nadira. Meskipun berulang kali Jupiter mengutarakan seberapa besar cintanya untuk Camelia, pada akhirnya Jupiter hanyalah seorang lelaki biasa yang bisa berubah seiring berjalannya waktu.
"Lo tahu, gua buta kalau soal urusan cinta. Bahkan jika pun gue ngasih lo saran, pasti gue copy kata-kata bijak dari instagram dan juga google. Gue gak punya pemahaman sejauh itu. Tapi, gue mau apapun keputusan lo, gue mau itu yang terbaik untuk lo dan juga Raja." Camelia tersenyum getir, sambil menepuk pundak Febian.
"Mungkin sebagian orang akan berkata, egoislah untuk satu kali ini saja. Tapi menurut gue, sekali kamu bersikap egois, sama saja dengan memperbanyak orang yang akan terluka. Tapi jika kita hanya egois untuk satu orang, tapi menyelamatkan banyak orang, itu jauh lebih baik. Meski pada akhirnya kita yang jauh lebih menderita."
"Lo di kasih apa sama Jupiter?" Camelia mengerjapkan matanya berulang kali, tidak mengerti dengan pertanyaan Febian.
"Lo dicium abis-abisan ya… soal nya hari ini tumben lo pinter," Febian terkekeh sambil mengacak-acak rambut Camelia.
"Brengs**, Febian!!"
"Hahaha,,, gua baru tau ternyata otak lo bisa jalan juga Mel. Jupiter memang membawa perubahan banyak ya sama lo. Gue salut dia bisa buat lo sedikit lebih pintar,"
"Gue males ngomong sama lo!" Camelia beranjak dari tempat duduknya, hendak meninggalkan Febian yang masih menertawakannya.
"Yah,,, gitu aja marah,"
"Bodo amat!!" Camelia tidak lagi menghiraukan Febian yang semakin tertawa terbahak-bahak mentertawakannya. Ia tetap berjalan memasuki kamarnya untuk mengganti pakaian, karena ia masih mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin.
Seulas senyum terbit dari bibir Camelia, meski ia kesal dengan kelakuan Febian yang tidak menganggap ucapannya serius, namun cukup membuat Camelia merasa lega, karena akhirnya Febian bisa tersenyum. Meskipun Camelia tidak tahu bagaimana isi hati Febian yang sebenarnya, tapi hanya dengan melihat sahabatnya itu tersenyum, sudah membuat Camelia tenang.
Sebenarnya ini bukan kali pertama untuk Febian dipaksa menikah oleh keluarganya. Sudah sejak lama sekali Febian diminta kedua orang tuanya untuk segera berkeluarga, namun Febian merasa tidak tertarik dengan pernikahan dan tidak ingin memaksakan kehendak orang tua, akhirnya Febian sering beralasan untuk menolak perjodohan yang sudah sering orang tuanya atur.
Namun, sepintar apapun menyimpan rahasia, pada akhirnya akan terungkap juga. Lambat laun keluarga Febian akan menyadari penyimpangan yang terjadi pada anaknya, dan mungkin saat ini sudah menjadi batas kesabaran orang tuanya memberi waktu untuk mencari jodoh.
Beberapa kali Camelia sempat menawarkan diri untuk menjadi pengantin bohongan Febian, namu lelaki itu menolak ajakan Camelia. Ia selalu beralasan tidak ingin melibatkan Camelia dan justru membawanya ke dalam masalah besar.
Padahal akan lebih mudah memperkenalkan Camelia kepada keluarganya, karena Febian dan Camelia sangat serasi. Lagipula Raja lebih mudah di yakinkan jika Febian bersandiwara dengan Camelia.
Camelia yang kini tengah duduk di pinggir tempat tidurnya hanya bisa menghela lemah setiap kali membalas pesan yang di kirim Jupiter. Karena lelaki itu tidak henti-hentinya mengirim pesan, meski hanya untuk sekedar bertanya sudah makan apa belum. Dan Jupiter akan langsung menghubunginya jika satu menit saja Camelia telat balas pesannya.
Camelia sadar bagaimana ketakutan Jupiter, bahkan sebenarnya ia pun sama takutnya dengan Jupiter. Namun ada hal yang lebih menakutkan tengah menantinya, dan Camelia tidak ingin Jupiter terlibat dalam masalahnya.
Mungkin jika hanya kehilangan harta benda seperti dulu, Camelia tidak akan merasa setakut ini, tapi Camelia justru takut hal buruk terjadi pada Jupiter hingga membahayakan nyawa lelaki itu.
Dadanya berdenyut nyeri setiap kali ia membayangkan Jupiter terluka hanya karena melindunginya. Dan Camelia tidak ingin itu terjadi.
Suara ketukan pintu membuat Camelia menoleh, karena setelah pintu diketuk beberapa kali, Febian muncul dari balik pintu, meski hanya kepalanya saja.
"Mel gue mau beli makan siang, lo mau?"
"Gue males lo aja yang pergi, gue nitip." Balas Camelia,masih belum beranjak dari tempatnya berada.
"Dih,,, siapa juga yang mau ajak lo. Malu noh di leher lo ada bekas gigitan si Jupi."
"Hah?!" Camelia segera berdiri dan menghampiri cermin.
Benar ucapan Febian, di leher dan tulang selangkanya tampak bekas kissmark yang begitu terlihat jelas. Membuat Camelia menatap horor dua tanda merah di lehernya.
"Sebaiknya lo periksa. Siapa tau di dada dan juga di itu lo, ada banyak. Gue gak nyangka Jupi ganasssss,,,"
"Febian!!!"
__ADS_1