CAMELIA

CAMELIA
episode 8


__ADS_3

ALFARO KEENAN


"Kakak dari mana aja, jam segini baru datang. Lupa kalau hari ini Alma ada janji sama Dokter." Alma langsung memberondong dengan pertanyaaan,begitu aku sampai di Rumah sakit.


"Maaf ya, Kakak harus kerja dulu. Jadi telat sampai sini." Aku mengusap puncak kepala Alma, karena aku telat lima belas menit mengantarnya berobat jalan, untuk cuci darah. 


Aku langsung menuju ke Rumah sakit begitu Ibu menelponku. Hampir saja aku melupakan pengobatan Alma, karena mengajari Kara mengendarai motor. 


"Tadi naik apa kesini,Bu?" Tanyaku, begitu Alam masuk ruang cuci darah. 


"Naik taksi.Kamu dari mana, masih cari kerjaan?" 


"Engga. Faro udah dapet kerjaan yang cocok, jadi ga perlu cari kerjaan yang lain."


"Ibu minta maaf. Karena kamu lahir dari perempuan miskin seperti Ibu, sampe harus cari kerja tambahan." 


"Ibu,," aku meraih jemarinya.


"Faro bangga jadi anak Ibu, jangan ngomong kaya gitu lagi. Faro ikhlas ko jalaninnya." Ibu mengelus pelipis ku.


"Kalau suatu hari kamu ketemu Ayah kandung kamu, kamu mau?"


"Aku ga butuh Ayah yang ga pernah menginginkan kehadiranku. Aku cuman butuh Ibu dan juga Alma."


"Tapi__"


"Ibu mau makan apa, aku beliin di kantin." Aku sengaja mengalihkan pembicaraan. Aku tidak tertarik membahas soal Ayah kandungku. Meskipun dia masih hidup, jika dia tidak pernah menginginkan keberadaanku dan Ibu, berarti aku akan menganggapnya sudah tidak ada di dunia ini, meskipun dia masih hidup.


"Ibu mau air mineral." Aku bergegas menuju kantin Rumah sakit,membeli beberapa cemilan dan air mineral.


"Faro,,,!" 


"Dea? Ngapain di sini, ada keluargamu yang sakit?" Aku meliht Dea, tak jauh dari tempatku berada.


"Nggak. Aku kesini nyusul kamu. Pak Somad bilang Ibu sama Alma ke Rumah sakit. Jadi aku nyusul." Pak Somad, tetangga rumah. Dia pasti tau kepergian Ibu dan Alma ke Rumah sakit.


"Kenapa ga bilang sih, kalau Alma mau cuci darah?" Gerutunya.


"Aku juga baru datang."


"Darimana? Bukannya David ga ada les?"


Kini aku dan Dea duduk di salah satu kursi kantin Rumah sakit.


"Ada pekerjaan baru," jawabku sambil menyodorkan botol air mineral ke arah Dea.


"Kerja apa? Aku ga tau kalau kamu punya kerjaan lain, selain mengajar David." Aku hampir melupakannya, aku memang belum sempat bercerita jika aku sudah memiliki pekerjaan baru.


"Aku jadi guru les privat lagi."


"Dimana,siapa,anak kecil apa sudah besar."


Aku terkekeh "Satu-satu kalau nanya."


Dea berdecak kesal.


"Anak kecil,perempuan di daerah jakarta pusat. Udah?"


"Beneran?" Mata Dea menyipit, penuh curiga.


"Iya, beneran. Ga bohong." Aku tidak mungkin berkata sejujurnya,karena Dea pasti akan memaksaku berhenti begitu tau aku menjadi guru pembimbing gadis dewasa. Mungkin suatu hari aku pasti akan berhenti mengajar Kara, tapi tidak sekarang. Biaya pengobatan Alma cukup besar, aku tidak mungkin melewatkan kesempatan ini. 


Begitu Alma selesai menjalani pengobatan, Dea memaksa agar mengantar pulang sampai ke rumah. Aku memilih mengendarai motor, sedangkan Ibu dan Alma di antar Dea.


"Mau langsung pulang?" Tanyaku, begitu aku dan Dea keluar dari pintu rumah.


"Iya,udah malem. Aku udah pamit Ibu sama Alma juga." 


"Ya udah." Tanganku masih menggenggam jemarinya. 


"Hati-hati bawa mobil nya, kabarin kalau udah sampe rumah." Dea mengangguk, tapi tidak juga beranjak pergi.


Aku tau maksud Dea. Kutarik pinggangnya mendekat, kemudian kutundukan wajahku dan mencium bibirnya. Kali ini bukan ciuman singkat, karena Dea langsung melingkarkan tangannya di leherku. Kulumat perlahan bibirnya. Ini bukan pertama kalinya aku dan Dea berciuman, tapi sejauh ini hanya sebatas seperti ini . Tidak lebih.


"Nanti ada yang lihat." Aku melepaskan ciumanku.

__ADS_1


"Aku balik dulu." Aku mengangguk dan mengantar Dea hingga pintu mobil miliknya. 


Perlahan mobil Dea berjalan menjauh dan hilang ditelan gelapnya malam. 


"Kak, hp nya bunyi terus tuh." Ibu berteriak dari arah dapur begitu aku masuk ke dalam rumah.


"Iya, nanti Faro periksa."


Aku segera mencari ponsel yang aku letakan di dalam tas, di atas tempat tidur. Ada beberapa pesan dan panggilan masuk dari Rony. 


"Kenapa,Ron?" Aku balik menghubungi Rony.


"Gila! Susah banget sih hubungin lo." Suara Rony dari seberang sana.


"Sorry, gue abis anter adek gue dari Dokter. Kenapa emangnya?"


"Barang yang gue titipin ke lo, masih ada kan?" Aku melirik tas, melihat map cokelat yang sempat Rony titipkan padaku tadi siang.


"Mmm, kenapa emang nya?"


"Duh mampus gue, itu ternyata dokumen penting bokap gue."


"Salah lo sendiri." 


"Gue minta tolong , anterin tu dokumen. Gue ga bisa. Soal nya lagi ada acara."


"Elah,, palingan lo lagi nongkrong," Ejekku.


" Far, please. Gue bayar deh."


"Ogah, udah malem. Gue mager!"


"Dua ratus.."


"Udah malem, gue males."


"Tiga ratus?"


"Gue ma_"


"Gopek!"


"Gila ya! Lo matre banget parah! Lebih parah dari si Debby." Gerutu Rony.


"Itu pun kalau lo mau."


"Yaudah,, gue send alamatnya. Pastin tuh dokumen nyampe. Bayaran gue transfer."


"Oke." Aku tersenyum begitu Rony memutus sambungan telepon. 


Setelah menerima pesan berisi alamat rumah tujuan, aku segera pergi mengantar dokumen. Ternyata alamat yang Rony maksud tidak jauh dari rumah Kara. Pantas saja ini dokumen penting, karena rumah yang aku tuju tidak kalah mewahnya dengan milik Kara. 


Aku hanya mengantar dokumen lalu bergegas kembali pulang, namun kali ini aku sengaja mengendarai motor perlahan, berharap ada penjual makanan di sekitar pinggir jalan. Karena semenjak tadi siang aku belum makan.


Aku berhenti persis di dekat tukang penjual nasi goreng. Aku berhenti bukan karena ingin membeli, tapi karena melihat seorang gadis berambut panjang,mengenakan piyama tidur berwarna pink tengah menyantap nasi goreng di pinggir jalan. 


Apa aku salah lihat? 


Tapi aku hafal betul, senyum serta suara tawanya. Itu Kara.


Sedang apa dia di sana? 


Aku penasaran, akhirnya aku memilih turun dari motor dan mendekatinya.


"Kara?" Gadis itu menengok,begitu aku memanggil namanya.


"Faro, kenapa bisa di sini?" Dia tampak terkejut melihatku.


"Ada urusan,di dekat sini." 


"Oh,, sini duduk. Sudah makan?"


"Udah." Tapi aku tetap duduk mengikuti ajakannya.


"Abang, mau nasi goreng satu lagi ya." Teriak Kara pada si Abang penjual.

__ADS_1


"Kamu suka pedes apa enggak?" Kini dia bertanya padaku.


"Aku udah makan," aku tetap berbohong


"Jangan pedes ya Bang, sedeng aja." Dia kembali bersuara.


"Di sini nasi goreng nya enak, kamu harus coba. Aku sering banget makan di sini." Ucapnya dengan mulut penuh nasi goreng.


"Sama siapa kamu di sini?"


"Sama mbak ku, nih kenalin nama nya,Susan." Kara mengenalkan seorang perempuan muda, bernama Susan. Tak lama pesanan datang, aroma khas nasi goreng langsung menusuk hidung, bahkan cacing yang berada di dalam perutku sudah tak sabar ingin segera diberi makan.


"Enak kan?" Tanya Kara, begitu aku melahap tanpa henti sepiring nasi goreng.


"Mmmm, enak." 


Satu piring nasi goreng meluncur dengan mulus ke perutku, bahkan aku tidak membiarkan satu butir pun nasi tersisa. Benar kata Kara, nasi goreng di sini enak, beda dari tempat biasa yang sering dijumpai di pinggir jalan.


"Aku yang bayar," Kara langsung mengeluarkan uang dari dompet kecil yang di bawa nya. 


"Aku aja." Aku merasa kurang nyaman di traktir makan, meski aku tau Kara punya banyak uang.


"Aku aja, kalau mau traktir nanti lain kali aja." Kara masih tetap ingin membayar dan akhirnya aku membiarkannya membayar nasi goreng milikku. 


"Pulang naik apa?" Tanyaku begitu kita sama-sama hendak pulang.


"Bawa motor. Tuh,,," telunjuk Kara menunjuk sepeda motor miliknya di pinggir jalan. 


"Tadi kamu yang traktir,jadi sekarang kamu aku yang antar pulang," Tawarku.


"Tapi, mbak Susan?"


"Saya bisa pulang sendiri, motor biar saya yang bawa." Ucap Mbak Susan. 


"Mba Susan pulang sendiri, kamu biar aku yang antar." 


Akhirnya mbak Susan pulang terlebih dulu,membawa motor milik Kara.


"Tinggi banget motornya." 


"Pegangan pundak, kalau susah naik nya." Kara menuruti saran dariku. 


"Jangan ngebut ya?" 


"Sip."


Seperti permintaanya, motor berjalan perlahan menyusuri jalan.


"Kamu kenapa makan di pinggir jalan?" 


"Kenapa memangnya?" Suara Kara terdengar persis di sebelah telingaku.


"Aneh aja, kenapa ga di rumah makan mewah aja."


"Jadi menurut kamu aku ga boleh makan di pinggir jalan gitu?" 


"Ya enggak," aku bingung mengutarakan maksudku, aku takut justru akhir nya Kara malah tersinggung, jadi aku memilih diam tidak melanjutkan pertanyaanku lagi.


"Aku lebih suka makan di tempat seperti itu, rame,banyak temannya. Dibanding makan di rumah, cuman sendirian." Sura Kara terdengar lirih, bahkan hembusan nafas nya begitu terasa menyapu sisi wajahku.


"Akhirnya sampai,,," Pekiknya, begitu motorku sudah sampai di halaman depan rumahnya.


"Orang tua kamu kemana, sepi banget rumahnya." Aku melirik sekilas rumah Kara. Sepi, bahkan lebih mirip seperti rumah kosong.


"Ayah sama Ibu belum pulang,dan belum tentu juga pulang. Aku sendirian di sini." Jawabnya, ada sedikit nada sedih dari ucapan Kara.


"Aku masuk ya, udah malem. Kamu buruan pulang, nanti dicariin. Jangan keluyuran terus." Aku tertawa mendengar celotehan Kara.


"Oke, aku balik ya. Masuk duluan sana." Kara mengangguk, berbalik menuju pintu gerbang rumahnya.


"Kara."


"Ya?" Kara kembali menoleh begitu aku memanggil namanya.


"Selamat malam." 

__ADS_1


"Selamat malam juga." Balasnya sambil tersenyum.


 Aku tidak tahu apakah ini hanya perasaanku saja, tapi senyum Kara begitu tulus dan hangat. Bahkan dia jauh lebih cantik ketika tersenyum. 


__ADS_2