
Camelia masih menikmati kentang goreng hasil karya Febian sambit terkikik menyaksikan film kartun kesukaannya. Meski sudah memakan satu piring pasta, gadis itu masih saja tetap merengek minta dibuatkan kentang goreng pada Febian.
Sedangkan Febian hanya memperhatikannya dari seberang meja makan, sambil sesekali tersenyum melihat tingkah Camelia yang sangat menggemaskan.
"Feb sini," ajak Camelia sambil melambaikan tangannya.
"Ogah,, nanti gue ketularan jadi anak kecil!"
"Nggak lah,,, seru tau! Buruan kesini!" Lagi-lagi Camelia berteriak dengan kencang.
"Febian!!" Karena Febian tidak kunjung menghiraukan teriakannya, akhirnya Camelia justru semakin kencang berteriak.
Sambil berdecak akhirnya Febian pun menuruti kemauan Camelia, ia duduk di sebelah gadis itu, sambil ikut mencomot kentang goreng yang hanya tinggal beberapa potong saja.
"Lo gak di kasih makan sama si Jupiter?" Sindir Febian.
"Disana gue gak sempet makan," jawab Camelia santai.
"Ck,,, lupa makan kalau habis mesra-mesraan," cibir Febian, meski terasa getaran aneh di hatinya ketika Camelia tidak membantah, dan justru tertawa kegirangan.
"Hampir saja kemarin gue ketemu sama Nadira, kalau gue gak buru-buru bersembunyi mungkin gue udah ketangkap basah."
"Terus?" Febian membiarkan Camelia bercerita, dan ia hanya akan menjadi pendengar setia seperti biasanya.
"Gue ngumpet di lemari. Beruntung kan badan gue kecil, jadi gue bisa masuk kedalam lemari. Cuman tangan gue lecet doang, sedikit." Camelia meringis sambil mengusap lengannya yang tertutup kaos. Ternyata di balik kaosnya itu ada goresan merah yang membuatnya meringis kesakitan.
"Mana gue lihat!" Febian segera menarik lengan Camelia dan mengangkat kaos yang menutupi tangan bagian atas. Febian tersentak ketika melihat luka memanjang akibat goresan benda tajam melukai lengan Camelia. Luka itu tidak berdarah, namun pasti terasa sakit karena mengoyak lapisan kulit Camelia.
"Aw,,,, sakit. Jangan ditekan." Rengek Camelia, ketika Febian mencoba membersihkan lukanya.
"Kenapa bisa sampe kayak gini sih, Mel. Lo gak harus sembunyi, sampe kapan lo mau sembunyi?" Febian kesal, karena Camelia selalu saja mengorbankan dirinya hanya untuk menjaga perasaan orang lain.
Febian segera mencari kotak obat untuk mengobati luka Camelia, tidak butuh waktu lama untuk Febian ia sudah kembali membawa satu kotak obat, dan wadah kecil berisi air hangat.
Dengan telaten Febian mengobati luka Camelia. Sesekali gadis itu masih meringis menahan sakit dan perih.
"Sampai kapan kalian mau bersembunyi?" Merasa belum puas, Febian masih terus membahasnya.
"Gue gak tau." Jawab Camelia pelan.
"Sudah waktunya Jupiter menentukan siapa yang akan dia pilih. Jangan terlalu lama membiarkan masalah ini terus berlanjut, karena dengan mendiamkan masalah tidak akan selesai begitu saja. Apalagi statusnya dia sudah bertunangan."
"Iya gue tahu. Dia juga lagi berusaha, cuman waktu nya aja yang belum tepat."
"Gue kasih kesempatan satu kali lagi. Kalau Jupiter belum juga menyelesaikan masalahnya, gue akan membawa lo pergi lagi!" Tegas Febian.
"Lo kenapa? Lo ribut sama Raja?" Selidik Camelia, sambil mencondongkan kepalanya mendekati Febian.
"Lo emosian banget hari ini," keluh Camelia sambil mengusap jidat Febian.
"Lo juga gak demam." Tambahnya lagi, membandingkan suhu tubuh Febian dan juga dirinya.
"Iya,, gue memang lagi kesel sama Raja, di tuh bego, gak ngerti-ngerti kalau gue sayang sama dia."
"Nanti dia juga ngerti ko." Camelia mencoba menenangkan Febian.
"Dia gak bakalan ngerti karena hatinya sudah untuk orang lain." Jawab Febian sambil beranjak dari kursi, hendak mengembalikan kotak obat.
"Hah?! Serius Feb?" Tanya Camelia dengan nada tidak percaya, namun Febian seolah tidak ingin memperpanjang ceritanya, ia memilih bergumam saja, agar Camelia diam. Febian tersenyum miris, bagaimana bisa Camelia tidak menyadari perhatiannya selama ini, bahkan Raja yang dia maksud bukan Raja temannya, namun justru Camelia.
Febian merasa serba salah sendiri, ia mengutuk dirinya karena telah berbohong sejak awal, mungkin jika ia jujur dari awal, masalahnya tidak akan sesulit ini. Febian memang bercerita jika ia menyukai sesama jenis, namun Camelia tidak pernah menyadari jika selama ini Febian tidak pernah membawa Raja atau mengenalkan Raja secara pribadi padanya. Mereka hanya berkenalan lewat vidio call atau hanya sekedar mendengar cerita dari Febian saja. Namun Camelia langsung percaya begitu saja, bahkan ia tidak pernah menganggapnya sebagai kecurigaan.
Febian tengah mencuci piring, membersihkan kekacauan akibat memasak untuk Camelia. Mereka memang selalu membagi pekerjaan dan untuk urusan dapur, memang Febian yang mengurusnya.
Tiba-tiba bel berbunyi, tidak perlu melihat siapa yang datang, karena itu pasti Jupiter. Lelaki itu memang selalu datang jika urusan pekerjaannya sudah selesai.
Dan benar saja dugaannya, Jupiter datang disambut senyum merekah oleh Camelia. Membuat Febian mendengus kesal, namun ia tidak bisa berbuat apapun.
Jupiter datang membawa berbagai jenis makanan, namun melihat Camelia tengah memangku piring berisi kentang goreng ia langsung mengeluh, karena ia sudah menahan makan siangnya hanya untuk bisa makan bersama Camelia.
"Kenapa gak bilang kalau mau makan bareng, aku pasti makan sedikit dan menunggumu saja." Camelia membawa kantong plastik berisi makanan yang Jupiter bawa, ke atas meja dan mulai menata di piring.
"Ini kan belum jam makan malam. Kita bisa makan malam bersama, kebetulan juga kan ada Febian, jadi kita bisa makan bertiga."
"Katanya tadi bilang laper banget, ko malah mau nunggu makan malam!"
"Aku makan sedikit aja dulu, nanti kita makan lagi." Jupiter mengambil sedikit lauk dan meminta Camelia mengambilkan nasi sedikit, untuk mengganjal perutnya yang terasa perih.
"Kalian makan berdua aja. Gue ada perlu keluar," jawab Febian setelah lelaki itu menyelesaikan cuci piringnya.
__ADS_1
"Tadi gak bilang mau pergi," selidik Camelia.
"Acara dadakan, Mel. Udah kalian berdua aja, baek-baek di rumah, jangan berantakin rumah juga oke?" Goda Febian dengan seringai jahilnya.
Ia segera meninggalkan Camelia kedalam kamarnya untuk mengganti pakaian. Sebenarnya malam ini ia tidak memiliki janji dengan siapapun, namun karena ia tidak ingin hanya sekedar menjadi nyamuk di antara dua sejoli itu, ia memilih untuk pergi saja. Mungkin mengajak salah satu saudara perempuannya dan mentraktirnya belanja bisa membuat ia lebih baik, daripada harus di rumah.
Sementara itu Camelia hanya menemani Jupiter makan, sambil terus memperhatikan lelaki itu mengunyah setiap makanan yang masuk kedalam mulutnya.
"Cobain ini enak," tawar Jupiter sambil menyodorkan sati sendok berisi nasi dan lauk pauknya.
"Nggak, aku udah kenyang. Tadi makan pasta terus kentang goreng juga," Camelia menggelengkan kepala, menolak suapan yang diberikan Jupiter.
"Masakan Febian enak ya?" Tanya Jupiter.
"Enak, dia jago banget masak. Apalagi kalau masak pasta."
"Kamu bisa belajar dari dia. Kapan-kapan aku mau dimasakin juga,"
Camelia terkekeh mendengar permintaan Jupiter, ia terlalu payah dalam urusan dapur. Bahkan hanya untuk membuat nasi goreng saja, ia kalah dengan nasi goreng buatan Febian yang rasanya hampir mirip buatan rumah makan terkenal.
"Aku gak bisa masak,"
"Kan tadi aku bilang belajar, semua pasti bisa asal mau belajar. Aku mau ko makan apa aja yang kamu masak, asal jangan beracun aja."
Camelia mendengus geli, mana mungkin ia tega meracuni Jupiter.
Tidak berselang lama, Febian keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi. Sedangkan Camelia dan Jupiter tengah membersihkan piring kotor dan sisa-sisa makanan.
"Gue cabut ya,," teriak Febian sambil melambaikan tangannya menuju pintu.
"Hati-hati Feb,," balas Camelia.
Setelah Febian pergi, dan kini hanya tinggal mereka berdua. Jupiter memilih duduk di kursi, di depan televisi sambil mencari-cari acara yang menurutnya menarik, meski tidak ada yang menarik perhatiannya, namun melihat siaran anak-anak jauh lebih baik, daripada menonton sinetron yang hanya membuat kepalanya semakin terasa pusing.
"Sini,," ajak Jupiter ketika Camelia datang membawa secangkir teh panas dan satu toples kukis.
"Nonton apa?" Tanya Camelia sambil mendaratkan bokongnya di atas kursi.
"Aku lebih suka acara anak-anak daripada acara orang dewasa." Jupiter menunjuk pada layar televisi yang menyiarkan film kartun.
"Aku juga," Camelia ikut nimbrung, bahkan kini ia merebahkan kepalanya di lengan Jupiter.
"Aku tidak memiliki kenangan yang cukup berkesan dulu, hidupku begini-begini saja dari dulu." Balas Camelia sambil memeluk tubuh Jupiter.
"Benarkah?" Camelia hanya mengangguk.
"Mungkin jika aku menceritakan bagaimana perjalanan hidupku, pasti banyak yang mengataiku tidak pernah bahagia, namun mereka salah. Aku pernah bahagia,, meski hanya sekilas dan sebentar."
"Kapan?" Tanya Jupiter, sambil mengelus kepala Camelia.
"Ketika aku bertemu denganmu dan bertemu dengan Jupi, kalian berdua seperti paket komplit yang aku butuhkan, meski setelah itu aku kembali harus dihadapkan pada kenyataan pahit yang akhirnya mengubah hidupku."
"Aku berjanji, aku pasti akan membahagiakanmu."
"Manusia memang bisa menunggu, namun terkadang Tuhan tidak mengizinkan." Sela Camelia.
"Tidak, kali ini Tuhan pasti mengizinkan. Karena Tuhan tidak akan terus membiarkanmu menderita, jadi dia menjadikan aku sebagai salah satu orang yang akan memberikanmu kebahagian. Percaya padaku!" Camelia mendongak menatap Jupiter. Menyelami jauh kedalam manik hitam milik Jupiter yang selalu terlihat begitu mempesona dan membuat hatinya damai.
Camelia yakin kebahagian pasti tengah menantinya, meski ia tau akan ada banyak rintangan yang dihadapi, tapi Camelia yakin hidupnya tidak akan terus menerus menderita. Jika saja hidup bisa memilih, mungkin Camelia lebih memilih hidup serba kekurangan, namun bisa tetap bersama orang yang dicintainya. Tapi, hidup tidaklah sesederhana itu, banyak jalan terjal yang harus dilewati sebelum akhirnya sampai pada tujuan hidup yang utama.
Setiap manusia pasti diberikan kesempatan untuk mencari kebahagiaannya masing-masing dan juga dengan caranya sendiri. Entah ia harus melewati hujan badai terlebih dahulu sebelum ia bahagia, atau justru sebaliknya. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk dirinya.
Camelia sangat menyadari kekurangannya untuk bisa bersanding dengan Jupiter, selain masa lalunya yang buruk, juga karena ia sebenarnya bukan dari kalangan keluarga kaya. Namun, ia masih tetap berharap, dan terus berharap ia masih diberi kesempatan untuk tetap bersama dengan Jupiter. Ia tahu selama ini tidak ada yang merestui hubungannya dan Jupiter, bahkan alam pun sering mempermainkannya, namun Camelia yakin ia bisa dan mampu untuk mempertahankan Jupiter. Karena cinta mereka begitu kuat.
"Aku lupa, besok Aksa ulang tahun. Aku belum membelinya kado." Jupiter tersentak, baru saja mengingat sesuatu hal penting yang hampir saja ia lupakan.
"Aksa ulang tahun?"
"Iya, dan aku belum membeli kado. Dia pasti akan marah jika aku sampai telat memberinya kado."
"Sekarang baru jam tujuh malam, bagaimana kalau kita membelinya." Tawar Camelia.
"Kamu yang pilih ya?" Camelia mengangguk, karena ia juga berniat memberikan kado pada Aksa.
Camelia segera mengganti pakaian dan langsung menuju salah satu pusat perbelanjaan di ibu kota. Mereka langsung menuju pusat mainan anak-anka, karena Aksa pasti sangat menyukai mainan. Sementara mereka memilih beberapa mainan yang akan dibeli, mereka tidak menyadari jika ternyata mereka berada di satu tempat yang sama dengan Nadira dan juga kakaknya, yang tengah asyik memilih mainan.
Nadira tersenyum melihat Jupiter, ia tidak menyangka bisa bertemu lelaki itu ditempat seperti ini, namun senyumnya hilang begitu ia melihat seorang perempuan yang sangat ia kenali berjalan menghampiri Jupiter. Perempuan itu datang dengan membawa dua mainan di tangannya, yang hendak ia tunjukan kepada Jupiter. Sementara itu Jupiter langsung tersenyum dan mengangguk dengan pilihan si perempuan, sambil mengusap lembut kepalanya.
Nadira tidak buta, ia tahu sorot mata penuh kasih yang di perlihatkan Jupiter, berbanding terbalik dengan sorot mata ketika lelaki itu menatapnya. Bahkan gestur tubuh lelaki itu berbeda ketika ia menyentuhnya dan ketika Jupiter menyentuh perempuan itu. Salahkan Nadira jika perubahan Jupiter di karenakan karena ia telah berhasil menemukan Kara?
__ADS_1
Jika memang itu alasan Jupiter berubah, maka kesempatannya untuk merebut hati Jupiter pupus sudah. Nadira tahu diri, bahkan ia masih ingat bagaimana ketika Jupiter terlihat seperti orang kehilangan arah begitu Kara tiba-tiba saja menghilang. Matanya terasa panas, hatinya berdenyut nyeri, tapi ia tidak bisa melakukan apapun, tubuhnya terasa kaku dan sulit untuk digerakan, hingga tepukan lembut menyadarkannya.
"Sudah selesai cari mainannya?" Tanya Nadia sambil menepuk pundak Nadira.
"Sudah," balasnya singkat.
"Kenapa?" Nadia langsung panik, ketika melihat Nadira menangis.
"Ada yang sakit?" Segera Nadia bertanya dan memeriksa tubuh sang adik. Ia takut jika Nadira kembali kejang-kejang dan pingsan di tengah keramaian.
"Nadira? Kami dengar kakak? Kamu kenapa,,," Nadia menggantung kalimatnya kalimatnya ketika matanya menangkap dua sosok yang tengah adiknya perhatikan.
Dada Nadia bergemuruh, kilatan kebencian terlihat jelas dari sorot mata Nadia. Ia segera menarik tangan Nadira hendak menghampiri Jupiter dan juga Kara, namun Nadira segera menahannya.
"Jangan kak, aku gak mau." Pinta Nadira dengan wajah memohon.
"Aku tidak akan membuat keributan. Aku hanya ingin menghampiri calon adik iparku!" Tegas Nadia dan kembali menarik tangan Nadira, kali ini jauh lebih kuat sehingga Nadira tidak sanggup untuk menolak.
"Wah,,, kebetulan sekali kita bertemu disini." Ucap Nadia, begitu ia sudah menghampiri Jupiter yang tidak menyadari kehadirannya. Jupiter dan Kara sama-sama terkejut melihat kedatangan Nadia dan juga Nadira, bahkan secara reflek Jupiter langsung melepasakn tautan tangannya dengan Kara.
"Kara?" Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Nadira begitu takjub dan tidak mengenali Kara yang kini jauh lebih cantik daripada dulu.
"Nadira?" Tidak hanya Nadira, Kara pun sama terkejutnya dengan pertemuan mendadak ini. Bahkan Kara terkejut melihat kondisi Nadira yang terlihat pucat, dan sangat kurus.
Tiba-tiba saja Nadira menerjang tubuh Kara, memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Membuat Jupiter dan Nadia tersentak, karena mereka kita kedua gadis itu akan bertengkar, namun mereka justru saling berpelukan.
"Gue kangen banget sama lo, Kara. Kemana aja selama ini, gue cari kemanapun lo gak ada." Ucap Nadira, ia tidak bisa lagi menahan kerinduan pada sahabat baiknya itu.
"Gue juga kangen.." Kara pun semakin mengeratkan pelukannya, setelah merasa cukup untuk melepas rindu mereka akhirnya saling melepaskan.
"Kemana lo selama ini," tanya Nadira, masih memegang tangan Kara dengan erat. Mengabaikan Jupiter dan kakaknya.
"Gue tinggal di Singapura. Baru pindah ke Jakarta sekitar dua tahun lalu."
"Nanti main kerumah, gue mau cerita banyak sama lo," ajak Nadira dengan penuh semangat.
"Kalau begitu Kara nanti undang saja ke pernikahan kamu dan juga Jupiter, kamu nanti jadi bridesmaidnya Nadira." Tiba-tiba saja Nadia membahas masalah yang sebenarnya sangat mereka hindari, membuat Nadira ataupun Kara sama-sama merasa canggung.
"Iya kak. Nanti aku datang." Balas Kara.
"Kalau begitu, kakak pulang duluan ya, aku titip Nadira sama kamu Jupiter. Sekalian antar pulang, Ayah dan ibu sudah lama menunggu kedatangan calon menantu kesayangannya." Nadia memang sengaja menekankan setiap kata menantu dan hubungan antara adiknya dan juga Jupiter.
Sementara itu, Kara pun menyadari perubahan sikap Nadia. Ia tahu, Nadia pasti sangat membencinya karena berdekatan dengan calon adik iparnya.
"Jangan lupa membayar mainan untuk kado keponakanmu besok. Aksa pasti senang karena aunty kesayangannya membeli hadiah yang ia sukai." Nadia menyerahkan dua mainan berukuran besar pada Nadira.
Tanpa menunggu persetujuan dari Jupiter, Nadia segera pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Aku gak jadi beli mainan, kamu saja yang beli." Ucap Kara, ia mengurungkan niatnya untuk memberi kado kepada Aksa.
"Kita tetap membeli kado yang sudah dipilih." Balas Jupiter.
Akhirnya mereka membeli empat mainan, dan Jupiter yang membayar semua mainan itu. Awalnya Jupiter dan Kara memilih untuk makan malam terlebih dahulu, namun karena kehadiran Nadira, mereka mengurungkan niat dan memilih pulang.
"Aku pulang naik taksi aja, lagian arah rumahku dan rumah kalian berbeda." Usul Camelia.
"Kamu tetap pulang bareng aku!"
"Tapi,, arah rumahku dan rumah kalain berbeda."
"Kamu tetap pulang bersamaku!" Jupiter tidak ingin dibantah, dan ia tetap ingin mengantar Camelia. Namun baru saja ia hendak masuk kedalam mobil, tiba-tiba saja Febian datang dengan seorang perempuan.
"Mel, ngapain disini?" Tanya Febian.
Kara merasa seperti menemukan alasan untuk menghindar, akhirnya ia segera menghampiri Febian.
"Feb, kita mau ada acara kan? Gue lupa. Untung lo datang ngingetin," ucap Camelia sambil memberikan isyarat kepada Febian agar lelaki itu tidak bertanya, dan langsung mengiyakan.
"Iya,,, iya kita mau ada acara." Kara menghela lega.
"Kalian pulang saja, aku pulang bareng Febian." Kara dorong tubuh Nadira agar segera masuk kedalam mobil Jupiter,dan segera menutup pintu mobil.
"Bye,,, sampai jumpa." Kara melambaikan tangannya dan segera menghampiri Febian.
"Lo kenapa?" Tanya Febian heran.
"Udah ayo,,, kita pulang." Ajak Kara.
Sebelum ia masuk kedalam mobil Febian, Kara sempat melihat kearah Jupiter. Ia tahu, Jupiter pasti kecewa dengan caranya melarikan diri, padahal ini adalah kesempatan yang harus mereka pergunakan untuk menjelaskan kepada Nadira tentang hubungan mereka. Namun Jupiter harus kembali kecewa,setelah Kara lebih memilih pulang bersama Febian daripada dengan dirinya.
__ADS_1