
"Aku mau pulang, kalian jaga diri baik-baik," Dea memeluk Camelia dan Jupiter secara bergantian.
"Kenapa cepet banget sih kak pulangnya?" Keluh Camelia.
"Aksa pasti mencariku, dia gak tau kalau ibunya pergi ke luar negeri, karena aku cuman bilang mau nginep dirumah teman. Kalau dia sampai tahu aku pergi ke Singapur, dia pasti sangat ngambek."
"Kenapa gak di ajak," Jupiter ikut bertanya. Ia sangat berharap keponakannya itu bisa menyaksikan hari bahagianya.
"Ibu pasti curiga, lebih baik aku tidak membawa Aksa. Lagipula acara berlangsung dengan lancar, kehadiran Aksa pasti hanya akan membuat suasana menjadi kacau," kekeh Dea.
Dea menatap Camelia, sambil mengusap lembut pipinya.
"Aku titip adikku yang sangat keras kepala ini padamu. Segera hubungi aku jika dia menyakitimu lagi,"
Camelia mengangguk, dan memeluk Dea dengan sangat erat.
"Ayo,, nanti kita terlambat!" Tiba-tiba Febian muncul dari dalam rumah, sambil menyeret koper kecil miliknya.
"Lo mau kemana?" Tanya Jupiter heran.
"Mau balik lah, ngapain disini gue lama-lama. Acara udah beres, apa gue juga harus terlibat dalam acara bulan madu kalia?" Seringai jahil terbit dari bibir Febian.
"Kenapa gak besok aja sih," protes Camelia.
"Gue banyak pekerjaan, Mel. Bersantai-santai gak bikin kita jadi kaya." Febian tersenyum tipis sambil mengacak-acak gemas rambut Camelia.
"Ayo, nanti kita terlambat."
"Hati-hati kak, terutama pada lelaki ini." Tunjuk Jupiter pada Febian.
"Hey,, emang gue kenapa? Gue lelaki baik, gue tampan, gue kaya, gue masih muda, dan apalagi kurang gue? Lo siap-siap aja panggil gue kakak ipar," goda Febian, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Jupiter.
Sementara Camelia, Dea dan Febian tertawa geli. Jupiter mudah sekali di jahili, bahkan menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Febian ketika ia bisa membuat Jupiter kesal.
Jupiter merangkul pinggang Camelia sambil memperhatikan Dea dan Febian yang sudah pergi menuju bandara. Perlahan mobil yang mereka tumpangi menghilang di persimpangan jalan.
Sementara itu Dea menangis sepanjang perjalanan menuju bandara, membuat Febian berulang kali memberikan tisu padanya.
"Kenapa sedih banget sih kak? Mereka menikah bukan meninggal." Ucap Febian. Dea masih saja terisak, meski ia sudah tidak menangis lagi.
"Sudah berapa lama kamu mengenal Kara?"
"Sekitar tiga atau empat tahun, mungkin. Lupa,"
"Kamu tahu, mereka sudah saling menyukai sejak mereka masih sama-sama putih abu-abu?"
"Tau, tapi cuman tau aja," jawab Febian santai. Ia memang sempat mendengar cerita dari Camelia tentang kisah cinta pertamanya pada jaman SMA, namun Febian tidak mencari tahu cerita detailnya, karena menurut Febian setiap orang pasti memiliki kisah cinta mereka, termasuk dirinya.
"Mereka sudah saling mencintai sejak lama. Aku mengira cinta mereka hanya sekedar perasaan saling tertarik pada lawan jenis saja, bukan cinta. Tapi setelah Kara menghilang karena kesalahanku, Jupiter sangat terpukul. Mungkin sekilas Jupiter terlihat kuat, dan bisa diandalkan. Tapi, ketika dia menyendiri di kamar, dia bisa menangis hanya karena membaca surat pemberian Kara." Dea kembali mengingat kejadian beberapa tahun lalu, awal-awal Camelia pergi.
"Setiap malam aku melihat dia seperti itu, hingga suatu hari dia dan juga Nadira memutuskan untuk melanjutkan kuliah di luar negri. Dan tanpa diduga, mereka memutuskan untuk menjalin hubungan." Dea tersenyum, ketika membayangkan wajah Jupiter yang selalu tampak datar ketika ia bersama Nadira.
"Kamu tahu, Kara iti adik tiri dari mantan suamiku?"
"Apa?!" Awalnya Febian hanya mendengarkan cerita Dea, namun ketika Dea mengungkap sebuah rahasia yang tidak diketahui, barulah Febian menyimak. Febian tidak pernah tahu, jika sebenarnya Camelia adalah adik tiri dari mantan suami Dea.
"Kara, anak ayah Fathur, mantan mertuaku. Dan kamu tahu, alasan aku bercerai dengan suamiku? Karena suamiku mencintai Kara," Dea tersenyum pahit, sedangkan Febian semakin dibuat terkejut dengan cerita Dea.
"Jupiter dan Alfaro, mantan suamiku, mereka mencintai gadis yang sama yaitu Kara. Kara memang tidak secantik perempuan lain, tapi setiap lelaki yang dekat dengannya pasti dengan mudah menyukainya. Termasuk kamu, benar bukan?"
"Aku tidak seperti itu, Kak. Aku dan dia hanya sekedar teman."
"Teman?" Selidik Dea, memicingkan matanya.
__ADS_1
"Teman macam apa yang menangis melihat teman perempuannya menikah. Aku baru tahu," sindir Dea.
"Kepo." Kekeh Febian menahan malu.
"Kamu persis seperti diriku. Aku Pun memilih menyerah dan membiarkan orang yang aku cintai bahagia, karena aku tahu jika dia terus bersamaku dia akan tersiksa, aku tidak ingin orang yang aku cintai menderita hanya karena aku mencintainya."
"Alasan yang sangat klise." Cibir Febian.
"Aku lebih baik daripada kamu, yang memalsukan kematian. Itu tindakan yang sangat extreme!" Balas Dea tidak mau kalah.
Febian terkekeh geli, ia pun tidak pernah menyangka dia melakukan ide gila itu hanya untuk membuat Camelia bisa lepas dari rasa bersalahnya.
"Kalau aku gak pura-pura mati, mereka gak akan menikah. Aku tidak ingin Camelia memilihku, hanya karena dia merasa terlalu banyak hutang budi padaku."
Dea menepuk pundak Febian, "Good boy, semoga ada seorang wanita yang bisa meluluhkan hatimu dan membuatmu bahagia."
"Kenapa kita gak jadi pasangan aja?" Ajak Febian sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Aku tidak tertarik dengan lelaki yang usianya lebih muda dariku. Lagipula aku bisa diceramahi Jupiter, jika sampai aku berhubungan denganmu."
"Hahah aku suka melihatnya kesal. Menurutku itu sangat menghibur," Febian tertawa, membayangkan wajah kesal Jupiter, jika dirinya sampai menjadi pacar Dea.
"Kamu memang aneh!"
"Aku gak anek, Kak. Dia terlebih dahulu membuatku kesal karena mengambil Camelia'ku. Jadi aku balik buat dia kesal, iya gak?"
"Terserah kalian saja lah,,,"
Febian tertawa dengan keras. Tanpa terasa mobil yang membawa mereka sampai di bandara.
Sementara itu Jupiter tengah merapikan baju-baju kedalam koper besar, sementara Camelia sedang mandi. Begitu Camelia keluar dari kamar mandi, ia tertegun melihat suaminya tengah merapikan baju. Terkadang Camelia masih tidak percaya dengan sebutan 'suami' untuk Jupiter, ia sering mengulum senyum, setiap kali ia teringat bagaimana manisnya lelaki itu, ketika mengajaknya menikah. Bahkan Jupiter tidak melamarnya terlebih dahulu, tapi langsung mengajaknya menikah.
"Kamu mau kemana?" Tanya Camelia, menghampiri Jupiter yang masih berkutat dengan tumpukan baju-baju.
"Kita mau kemana?" Camelia bingung, karena Jupiter tidak pernah membicarakan apapun setelah acara pernikahan, kemarin.
"Kita mau jalan-jalan. Kamu ingat, aku pernah bilang kalau aku belum ajak kamu berlibur ke tempat yang jauh. Waktu kita liburan ke Bali, justru berakhir kurang menyenangkan. Kali ini sesuai janjiku, kita akan berlibur." Jupiter begitu bersemangat. Setelah ia menutup koper, ia berdiri menghampiri Camelia yang masih berdiri.
"Kita bulan madu." Ucapnya sambil mengecup dahi istrinya. Mendengar kata bulan madu membuat Camelia sedikit merinding. Ada bagian di dalam dirinya yang meronta, dan berteriak ketika ia membayangkan itu. Camelia tidak menyebut itu sebagai trauma, tapi ia merasa begitu panik ketika ia membayangkannya. Bahkan malam setelah mereka menikah, Camelia memilih tidur bersama Ibunya, dengan alasan, Ibunya akan memberikan banyak wejangan dan nasihat. Padahal Camelia hanya menghindari Jupiter.
Sore harinya mereka berdua berangkat menuju paris. Paris menjadi pilihan Jupiter, karena kota itu terkenal dengan julukan kota romantis. Cocok untuk mereka berdua yang butuh suasana romantis.
Camelia tidak menyangka mereka berangkat hari itu juga, bahkan ia belum sempat mempersiapkan apapun, karena semua kebutuhannya sudah disediakan Jupiter.
Mereka sampai di Paris keesokan harinya. Menara Eiffel yang menjulang tinggi dan indah menyambut kedatangan mereka. Setelah menyimpan beberapa barang bawaan, mereka berdua memilih berjalan-jalan menyusuri sekitar menara. Mereka mengabadikan setiap momen dengan berfoto bersama. Camelia tampak begitu bahagia, bahkan tanpa hentinya senyum indah mengembang dari bibir tipisnya, membuat Jupiter merasa lega karena selama perjalanan Camelia terlihat begitu murung.
"Kamu pasti terkejut dengan perjalanan kita yang terkesan dadakan." Jupiter menyerahkan secangkir kopi panas, sambil duduk di sebelah Camelia.
"Aku belum mempersiapkan apapun. Lagipula ini terlalu mendadak."
"Aku sengaja mempercepat acara liburan kita, karena secepatnya kita harus segera pulang ke Jakarta."
"Kita akan tinggal disana?"
"Iya, tapi kamu tidak perlu khawatir, kamu boleh kapan aja mengunjungi ibu. Jika pekerjaanku tidak terlalu sibuk, aku pasti ikut menemani berkunjung."
"Aku ingin membawamu menemui ibu dan juga ayahku. Meskipun mereka tidak menyetujui pernikahan ini, tapi aku ingin memperkenalkan kamu sebagai istriku." Jupiter meraih jemari Camelia dan mengaitkan dengan jemarinya.
"Tapi, mereka pasti tidak menyukaiku?" Camelia tampak ragu, karena beberapa kali ia bertemu dengan ibu Jupiter, ia selalu menunjukan tidak suka melihat Camelia.
"Aku yang menikah denganmu, bukan mereka. Meskipun restu orang tua itu penting, tapi ketika mereka terlalu memaksa, aku pun berhak menentukan pilihanku sendiri." Jupiter mengerti bagaimana perasaan Camelia, ia pasti takut dan ragu untuk menemui kedua orang tuanya, tapi bagaimanapun juga mereka tetaplah mertua Camelia.
"Kita harus segera kembali, keburu malem." Jupiter menarik tangan Camelia, dan menggenggamnya sepanjang perjalanan pulang menuju tempat penginapan mereka.
__ADS_1
Mereka berdua memilih makan malam di balkon tempat mereka menginap karena kamar yang mereka tempati menghadap langsung pada menara eiffel. Pemandangan yang sangat romantis, dengan kerlap kerlip lampu yang menghiasi menara tinggi itu. Selesai makan malam, mereka memilih untuk melihat pemandangan sekitar, menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajah, membuat rambut Camelia berhamburan.
Malam ini Camelia mengenakan dress berwarna biru muda dengan belahan yang cukup rendah. Leher jenjangnya dihiasi kalung berliontin hati, pemberian dari Dea sebagai kado pernikahan mereka. Kalung itu semakin membuat penampilannya terlihat begitu cantik, membuat Jupiter harus berkali-kali menelan ludahnya, menahan diri untuk tidak mencium leher putih milik Camelia.
Jupiter mencoba memberanikan diri ketika Camelia berdiri di dekat balkon, sambil meletakan kedua tangannya di atas pagar besi. Jupiter memeluk tubuh Camelia dari belakang. Terasa tubuh Camelia langsung menegang, bahkan ia tampak begitu gelisah. Namun Jupiter berusaha membuat Camelia tetap tenang dan tidak terkejut dengan sentuhannya.
Perlahan ia mengenyampingkan rambut hitam Camelia, sehingga ia bisa terbebas untuk mencium leher jenjang yang sejak tadi menggodanya. Sentuhan lembut itu, membuat Camelia meremang.
"Jupi,,"
"Mm?" Jupiter terus mencium leher Camelia dengan perlahan dan lembut, tidak buru-buru.
Dengan sangat hati-hati Jupiter membalik tubuh Camelia, hingga terlihat wajah sang istri yang sudah terlihat memerah, namun seraut khawatir dan takut masih terlihat jelas dari sorot mata Camelia.
"Aku,,, aku." Ucap Camelia terbatas, namun kalimatnya terhenti ketika bibirnya sudah terlebih dahulu dibungkam oleh Jupiter. Ini adalah ciuman kedua setelah mereka sah menjadi sepasang suami istri. Bahkan Jupiter harus menahan mati-matian agar ia tidak mencium Camelia dengan paksa.
Ciuman Jupiter begitu lembut, membuat tubuh Camelia yang awalnya tegang, perlahan mulai terbiasa. Bahkan ketika ciuman itu merambat hingga leher dan belahan dadanya, Camelia masih menikmatinya, sambil terus mencengkram rambut Jupiter sebagai pelampiasannya.
Jupiter mengangkat tubuh Camelia, menggendongnya dan meletakan tubuh kecil itu dengan perlahan di atas tempat tidur. Ia kembali mencium bibir Camelia, dan perlahan tangannya mulai membuka satu persatu kancing dress yang dikenakan Camelia. Beberapa kancing yang sudah terbuka langsung memperlihatkan keindahan dibalik baju berwarna biru itu, membuat Jupiter semakin bergairah. Ia segera mencium, dan meninggalkan jejak basah di seluruh dada Camelia. Ia menyentuh seluruh bagian tubuh Camelia dengan sangat hati-hati, seolah Camelia adalah barang rapuh, yang sedikit saja ia melakukan kesalahan maka tubuh itu akan hancur.
Jupiter begitu memanjakan Camelia, sehingga Camelia tidak menyadari ketika tubuhnya sudah tidak terbungkus kain satu helai pun. Namun begitu Jupiter hendak memasukinya, tiba-tiba saja mata Camelia terbuka, dan tubuhnya mulai bergetar hebat. Wajah Camelia berubah panik, bahkan ia menutup kedua matanya dan menangis.
"Sayang,,,, maaf. Apa aku menyakitimu?" Tanya Jupiter sambil memeluk tubuh Camelia.
Camelia menggeleng, isak tangisnya mulai terdengar bahkan nafas Camelia tersengal kuat begitu bayangan trauma itu kembali menghantuinya. Sadar akan kondisi sang istri yang masih ketakutan karena kejadian waktu itu, Jupiter semakin mengeratkan pelukannya dan berbisik lirih,
"Maaf ini semua kesalahanku. Jika saja waktu itu aku tidak merebutnya dengan paksa, kamu tidak akan seperti ini." Jupiter mencium kepala Camelia berulang kali, sebagai rasa penyesalannya. Nafsu yang sudah berada di puncak kepalanya, perlahan mulai hilang, berganti dengan rasa bersalah karena telah membuat Camelia mengalami trauma.
"Istirahatlah, maaf aku sudah membuatmu ketakutan." Jupiter tidak berniat untuk melanjutkannya, ia memilih untuk menuntaskan hasratnya di,,, kamar mandi. Menyedihkan karena ia harus merendam tubuhnya dengan air dingin, namun itu lebih baik, daripada ia harus kembali menyakiti istrinya.
Jupiter segera menggeser tubuhnya hendak turun dari tempat tidur. Tangan Camelia segera menahannya, ketika ia baru saja melepas pelukannya.
"Jangan! Jangan pergi. Ayo kita lakukan, jika tidak dilakukan sekarang, selamanya aku bisa seperti ini." Pinta Camelia sambil mengusap lelehan air matanya.
"Aku akan menunggu sampai kamu siap. Aku tidak ingin kamu semakin merasa ketakutan setiap kali aku menyentuhmu." Jupiter mencoba memberi penjelasan, agar Camelia tidak memaksakan dirinya.
"Ayo kita lakukan sekarang. Bantu aku mengusir rasa takutku." Camelia memohon.
"Aku ingin seperti wanita lainnya. Jadi ayo kita lakukan lagi," lanjut Camelia, membuat Jupiter menghela pasrah. Ia tidak menyangka bulan madunya akan serumit ini, namun ia tidak bisa menolak permintaan Camelia karena, ia harus membantu menghilangkan rasa trauma yang dialami Camelia.
Jupiter kembali memulai dengan mencium setiap tubuh Camelia dengan sangat perlahan dan lembut. Perlahan Camelia mulai terbawa gairah dan membalas setiap sentuhannya. Ketika Jupiter kembali hendak memasukinya, tetlihat Camelia mulai kembali bergetar dan memejamkan matanya dengan sangat erat. Bahkan Camelia mencengkram pundak Jupiter dengan begitu kuat, membuat kuku panjangnya menancap di atas kulit Jupiter.
"Kamu tidak perlu memaksakan jika kamu belum siap."
"Aku siao. Ayo lakukan." Camelia masih menutup matanya dengan sangat erat.
"Buka matamu," pinta Jupiter.
"Buka mata kamu, lihat aku." Perlahan mata Camelia terbuka, dan menatap suami yang kini berada diatas tubuhnya.
"Kamu harus menatapku," Camelia mengikuti permintaan Jupiter. Jupiter kembali mencium lembut bibir Camelia,
"I love u so much," ucap Jupiter, sementara itu Camelia masih lekat menatap suaminya,
"I love u too,," balasnya,
"Ahhhh,," erang Camelia ketika Jupiter berhasil memasukinya tanpa ia sadari.
"Terus tatap aku, jangan pernah memikirkan apapun selain aku." Perlahan Jupiter mukai bergerak, membuat Camellia melenguh, dan memejamkan matanya.
Perlahan tubuh Camelia mulai menerima setiap hujaman Jupiter, dan mulai mengimbangi pergerakan Jupiter yang awalnya pelan kini semakin lama semakin cepat.
Erangan mereka berdua semakin terdengar saling bersahutan, membuat udara kamar terasa begitu panas dan bergairah. Camelia mampu melawan rasa takutnya, begitu juga dengan Jupiter, ia mampu membuat Camelia melupakan rasa traumanya, berganti dengan kenikmatan yang mereka rasakan berdua.
__ADS_1