CAMELIA

CAMELIA
episode 7


__ADS_3

KARA KAISARA


"Beneran ga mau ke kantin?" Tanya Nadira untuk kesekian kalinya. Dia masih mengikuti langkahku hingga ke perpustakaan.


"Nggak. Lo kesana aja sendiri, atau bareng Nola." Jawabku


"Gue ga suka bareng Nola."


"Terus?" 


"Kenapa sih, hari ini lo beda banget. Biasa juga mau makan siang di kantin. Sekarang tumben banget malah ke perpus." Kini aku dan Nadira sampai di perpus, memilih beberapa buku dan duduk di kursi paling belakang.


"Lagi pengen aja." Balasku, sambil membuka tiap lembar buku pelajaran.


"Lo ga bosen apa, Kar. Di sekolah belajar,di rumah juga belajar. Bahkan sekarang jam istirahat aja, masih belajar. Heran gue!" Nadira mulai berceloteh seperti biasa.


"Udah sana, lo beli makan. Tar balik kesini lagi, gue nitip _"


"Nitip roti selai kacang,sama es teh manis." Nadira memotong ucapanku.


"Nah,,,, itu tau. Ihh pinter banget sih,,,," godaku.


"Yaudah, gue beli dulu." Nadira segera pergi menuju kantin.


Biasanya aku jarang datang ke perpustakaan, terkecuali ada beberapa buku pelajaran yang harus aku pinjam. Hari ini termasuk pengecualian juga, karena aku tau Jupiter dan kawan-kawan nya pasti berada di kantin seperti biasanya dan aku memang sengaja menghindari Jupiter. Memilih bersembunyi di perpustakaan.


Sejak pagi lelaki tengil itu sudah berhasil membuat hariku kurang menyenangkan. Aku lebih suka menghindar daripada harus terlibat dengan orang-orang seperti Jupiter, apalagi dia mempunyai pacar super possessive seperti Ayu. Dia bisa menjadi ancaman berbahaya untuk ketentraman hidupku di sekolah ini.


Siapa yang tidak mengenal sosok berparas cantik bernama Ayudia Calara. Wajah blasteran dan rambut pirang menjadi ciri khasnya. Wajah cantiknya menjadi idola kaum laki-laki satu sekolah, dan Jupiter menjadi salah satu lelaki beruntung yang bisa memikat hati Ayu. 


Kejadian tadi pagi cukup membuatku ketakutan. Ayu melihatku tengah bersama Jupiter, meskipun tidak terjadi apapun, tapi cukup membuatku merasa tidak nyaman. Aku takut Ayu salah paham dan menuduh aku menggoda kekasihnya.


Bukan hanya terkenal akan kecantikannya, Ayu juga terkenal karena kebar-baran nya. Dia bisa menjambak siapapun yang berani menggoda kekasihnya, Jupiter. Membuatku bergidik ngeri hanya karena memikirkannya.


Perpustakaan selalu sepi, jarang sekali siswa yang mau menghabiskan waktu membaca di sini. Mereka lebih memilih berada di kantin,taman atau di atap gedung sekolah. Aku bisa leluasa berada di sini tanpa gangguan Jupiter, dia tidak mungkin mencariku hingga ke tempat ini.


"Nih, pesanan Lo," Nadira datang membawa satu plastik berisi roti dan dua gelas es teh manis.


"Wihh, makasih banyak loh." Aku segera membuka plastik,mengambil roti isi selai kacang kesukaanku. Belum sempat aku membuka plastik roti, seseorang datang menaruh buku di meja dan langsung duduk persis di hadapanku.


Sontak aku terkejut begitu melihatnya.


"Ini tempat umum." Ucapnya sambil menunjuk papan bertuliskan Perpustakaan Umum.


Aku terperangah melihat kedatangannya. Bagaimana bisa dia menemukanku di sini. 


Nadira menyenggol lenganku, merasa ada yang aneh tiba-tiba seorang Jupiter berada di sini.


"Boleh ninggalin kita berdua, gue ada urusan sama dia," ucap Jupiter, seolah keberadaan Nadira mengganggu. 


Aku berharap Nadira menolak, namun justru dia malah mengangguk dan pergi, meski aku menahannya.


Kubuka bungkusan roti yang sempat tertunda, dan memakannya tanpa menghiraukan keberadaan Jupiter di depanku. Sial nya dia masih menatapku persis seperti malam itu, dan tersenyum jahil seolah aku ini mainan untuknya. 


"Gue mau coba." Tiba-tiba Jupiter mengambil roti dari tanganku, tanpa ragu langsung memakannya.


"Kacang, gue ga suka selai kacang." Dia protes tapi masih saja memasukan roti milikku kedalam mulutnya.


"Itu punyaku," Protesku.


"Nih,, buka mulut lo. Aaaaaaa."


"Jupiter !" Tanpa sadar aku berteriak menyebut namanya.


Teriakan ku cukup lantang, membuat Pak Syarif selaku pengelola perpustakaan,menghampiri dan menegurku. Seolah tidak terjadi apa-apa, Jupiter hanya mengangkat bahunya, dan kembali menghabiskan roti bahkan minumanku hingga tak tersisa. 


Aku menghela nafas. Mengapa aku harus bertemu lelaki seperti dia. Aku menyesal pergi bersama Ayah malam itu, jika saja aku tau akhirnya akan bertemu lelaki aneh seperti Jupiter, lebih baik aku memilih diam dirumah menonton drama korea bersama Bi Asih dan anaknya,Susan. 


Kesabaranku kian menipis, aku merapikan buku hendak pergi meninggalkan Jupiter. Baru satu langkah aku beranjak,tanganku terlebih dulu di cekal.


"Satu langkah lo pergi, gue teriak lo pacaran sama gue. Lo tau kan gue punya pacar, dan lo pasti tau juga siapa pacar gue." Ancamnya.


Dasar lelaki sinting!


Bisa-bisanya dia mengancamku. Aku mengurungkan niat , dan memilih kembali duduk berhadapan dengan Jupiter. Berharap waktu cepat berlalu, agar aku bisa segera pergi. 


"Kenapa pesan gue ga dibales?" Tanyanya.


"Udah tidur." Aku menjawab tanpa melihatnya,hanya fokus pada lembar-lembar buku,meski hanya dibuka, tanpa membaca.

__ADS_1


"Ohhh,, bisa ya orang tidur, tapi ponselnya online sampai jam dua belas." Aku memejamkan mataku, merutuki jawabanku tadi.


"Apa lebih suka di telpon dari pada di chat? Atau mungkin Lo, lebih suka gue dateng langsung ke rumah?" Seketika aku menatapnya, 


"Jupiter, sebenarnya mau kamu apa?"


"Nah,, gitu ke dari tadi. Kalau ada yang ngomong itu di lihat, bukannya nunduk. Yang ngomong kan gue, bukan buku." 


Aku mendengus kesal, berbicara dengannya sungguh membuatku harus extra sabar.


"Nanti balik sama gue ya?" Ajaknya.


"Aku pulang sendiri, ada sopir yang jemput."


"Bareng gue!"


"Jupiter !"


"Oke, gue tunggu nanti di gerbang depan."


"Tap__."


"Iya, sama-sama." Dia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkanku. Tak lama bel pun berbunyi.


_______


"Lo kenal Jupiter dimana?" Nadira mulai merongrong dengan pertanyaan yang sama sejak dua menit lalu setelah jam pelajaran usai. Aku masih diam, masih mencatat beberapa tugas yang harus di kerjakan di rumah.


"Kar. Lo ga jadi bisu kan, gara-gara ketemu si Jupiter."


"Bisa ga sih, ga usah bahas itu manusia aneh!"


"Gue nanya, kenapa marah sih?" 


"Gue ga marah,Nad. Cuman, gue ga mau denger nama tu anak. Please jangan bahas dia lagi, oke." 


"Oke! Tapi gue masih bingung, sejak kapan lo kenal dia?" Aku menatap jengah, memilih pergi dari kelas dan pulang mendahului siswa yang lain. Setengah berlari aku menuju gerbang sekolah, setelah menghubungi Pak Parman, sopirku.


"Buruan jalan, Pak." Aku meminta Pak Parman bergegas menjauh dari sekolah. Belum ada tanda-tanda keberadan Jupiter, akhirnya aku bisa pulang dengan selamat.


Dalam hitungan ke sepuluh, ponselku berdering. Tak perlu melihatnya, itu pasti Jupiter. Kutekan tombol off, lalu memasukan ponsel ke dalam tas. Lebih baik dimatikan agar Jupiter tidak menggangguku.


Kali ini dia tersenyum melihat kedatanganku, tidak seperti biasanya.


"Udah lama?" Tanyaku


"Baru."


"Ayo masuk." Ajakku.


Raut wajahnya yang selalu serius ketika memberi penjelasan, membuatku sulit membagi fokus antara pelajaran dan juga wajahnya. Aku tidak tahu apakah aku hanya mengagumi nya atau aku memang menyukainya,karena setiap kali berada di dekat Faro, jantungku terasa berdebar dan pipiku terasa panas ketika tanpa sengaja tatapan kita bertemu. 


"Hari ini aku mau bayar janji." Ucapnya, ketika bimbingan belajar usai.


"Boleh, aku ganti baju dulu." Aku segera merapikan buku, bergegas ke lantai dua mengganti pakaian.


"Motor nya di simpan di sini aja, kita pakai motorku di garasi." 


Faro membawa motor milik ku, dan menaruh motor miliknya di dekat garasi.


"Kamu bawa duluan, nanti aku coba di jalan sepi di ujung komplek."


"Oke,ayo." 


Perlahan motor yang dikemudikan Faro melaju, menyusuri jalanan komplek. 


"Sudah sampai." 


"Disini?" Faro menghentikan motor di jalan yang aku maksud. Jalan luas,lurus dan sepi.


Aku sengaja memilih jalan ini, sebagai tempat berlatih. Berharap Faro tidak menyadari jika aku sudah bisa mengendarai motor.


"Oke, sekarang kamu coba." Faro menggeser duduknya, memberikan celah agar aku bisa duduk di depan kemudi.


"Kamu di belakang?" Tanyaku


"Iya,,kalau pemula harus didampingi, nanti kalau udah lancar,baru aku lepas sendiri." Seketika wajahku terasa panas. Apa sebaiknya aku batalkan saja, bagaimana bisa aku duduk berdekatan dan dia berada persis di belakangku.


"Ayo, nanti keburu sore."

__ADS_1


Meski ragu, akhirnya aku coba. Tubuhku bergetar bukan karena takut terjatuh,tapi karena sentuhan dari lengan Faro, sesekali tangannya menyentuh lenganku dan dadanya menempel di punggungku. 


"Bisa berhenti dulu, aku lemas." Tak bisa lagi kutahan, tubuhku gemetar dan terasa lemas.


"Kenapa, Kamu pusing?" Menepikan motor di pinggir jalan, aku memilih turun membiarkan Faro mengambil alih kendali. 


"Ngga,cuman takut jatoh. Jadi gemeteran." Bohongku.


"Ya sudah, kita istirahat dulu." Aku menyetujui saran Faro, sekaligus mengistirahatkan jantungku yang terasa mau loncat. 


"Nih,, minum dulu." Faro memberiku botol berisi air mineral 


"Makasih." 


Angin sore berhembus sejuk, menerpa wajahku yang masih terasa panas. 


"Kamu beda banget, kalau lagi bareng aku."


"Mm?"


"Waktu di acara ulang tahunnya kak Nadia, kamu keliatan akrab dan banyak bicara, berbeda kalau lagi sama aku. Pasti banyak diem." Aku memberanikan diri memulai bicara.


"Lalu aku harus bicara seperti apa. Jujur, aku bingung. Soal nya kamu murid perempuan pertamaku, bahkan murid terbesar yang aku bimbing." Jawabnya.


" Benarkah?"


"Iya, sebelum nya aku hanya mengajar anak Sd. Begitu bertemu kamu aku jadi bingung harus seperti apa."


Aku tersenyum, ternyata Faro tidak se kaku yang aku kira. 


"Kalau gitu sama,kamu guru pembimbing pertama yang masih muda. Biasanya guruku seumuran tante Rosaline." 


"Jadi sama-sama untuk pertama kalinya ya?" Aku mengangguk mengiyakan. 


Ponsel Faro berdering, dia berjalan sedikit menjauh. Mungkin itu obrolan penting sehingga dia tidak mau aku mendengarnya.


"Aku ada urusan." Ucapnya canggung, begitu kembali mendekat.


"Oke,, kamu boleh pulang. Udah sore juga kan?"


"Lusa kita lanjut lagi belajarnya." 


"Iya."


Setelah Faro pulang, kini aku berada di kamar. Sudah hampir enam jam,aku mem matikan ponsel. 


Begitu aku buka, puluhan pesan masuk. Pesan teks dan beberapa pesan suara, sebagian besar pesan berasal dari Jupiter. Aku menghela nafas jengah, tapi baru satu detik ponselku menyala, kembali ada panggilan masuk. 


Aku berusaha mengabaikan panggilan Jupiter, tapi ponselku terus menerus berdering tanpa jeda membuatku akhirnya menyerah.


"Ada apa?!"


"Wahhhhh lo sibuk sekali rupanya, sampai tidak sempat membalas ratusan pesan yang gue kirim," Ejek Jupiter.


"Udah tau malah nanya." 


"Gue di depan rumah lo,"


"Apa?! Kamu udah gila !" 


"Siapa suruh ga bales."


"Pulang sana!" 


"Gue hitung sampai tiga, sampe lo ga keluar siap-siap kejutan dari gue besok." 


"Jupiter ! Kamu ke_"


"Satu..."


"Pulang sana!" 


"Dua..."


"Ish... Pulang sana!"


"Oke deal. Lo jadi pacar gue."


"Jupiter !!!!!!!" Sekencang mungkin aku meneriaki namanya, dan hanya di jawab tawa oleh Jupiter.

__ADS_1


__ADS_2