CAMELIA

CAMELIA
camelia 55


__ADS_3

Febian mengerjapkan matanya berulang kali, menahan rasa pening yang begitu menyakitkan kepalanya. Ia tidak ingat apa yang terjadi, terakhir yang ia ingat hanyalah ketika ia menunggu seseorang dan tiba-tiba saja dari arah belakang ia dihantam benda keras, sehingga ia pingsan tidak sadarkan diri. 


Setelah itu ia Febian tidak ingat apapun lagi, bahkan ketika kini ia membuka mata, ia tidak tahu sedang berada dimana. Ruangan yang begitu asing dan gelap. Segera ia mencari ponsel miliknya untuk mendapat cahaya, agar ia bisa segera mengetahui dimana keberadaanya. Namun begitu ia menemukan ponsel yang terletak tidak jauh dari tempatnya berbaring, ia mendapati ponselnya sudah dalam keadaan hancur, layarnya retak dan sudah tidak bisa lagi dipakai. 


Dengan masih memegang kepala bagian belakangnya, dan sedikit demi sedikit mengumpulkan kesadarannya, ia yakin sesuatu yang buruk pasti sudah terjadi selama ia tidak sadarkan diri. Hal terakhir yang mampu ia ingat adalah ketika ia memberi pesan pada Camelia agar menemuinya di lobi hotel Khatulistiwa untuk menemui seorang investor, jantung Febian berpacu dengan cepat begitu ia mengingat Camelia dan Febian yakin sesuatu hal buruk pasti terjadi pada Camelia. 


Meski rasa sakit masih terasa begitu nyeri di bagian kepalanya, tapi Febian tetap bangun dan segera keluar dari ruangan gelap yang mengurungnya. Sebisa mungkin ia mencari celah, atau pintu dengan meraba setiap dinding yang terasa begitu dingin. Setelah menyusuri seluruh ruangan Febian akhirnya menemukan sesuatu yang ia yakini sebagai jendela atau pintu, tanpa menunggu lama ia segera mendobrak penghalang. Untunglah dalam satu kali hentakan penghalang itu langsung terbuka, namun Febian terkejut melihat keadaan sekitarnya. Karena ternyata ia kini berada di satu tempat terpencil di tengah belantara. Tidak ada satu orang pun, bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali, hanya gelap dan suara binatang malam yang saling bersahutan. 


Febian mencengkram rambutnya, dan menyesali kebodohannya. Seharusnya ia sudah mulai curiga ketika investor itu memintanya untuk bertemu di sebuah hotel, bukan di tempat biasa. Hanya karena pengusaha itu menjanjikan uang dua kali lipat dari biasanya, karena Febian ingin segera melihat Camelia terbebas tanpa pikir panjang ia langsung menerimanya. Dan sekarang disinilah ia berada, di sebuah tempat entah berantah dan ia pun tidak tahu apa yang terjadi dengan Camelia. Febian tidak memperdulikan kepalanya yang masih terasa nyeri, ataupun semak belukar yang melukai kaki dan juga tangannya, ia terus berjalan tergesa untuk mencari pertolongan dan segera mencari Camelia.  Febian berjanji tidak akan membiarkan siapapun orang dibalik kejadian ini, bahkan ia sudah bersumpah akan membalas semua yang sudah di lakukan itu, dan tidak akan segan-segan membunuh, jika sampai terjadi sesuatu hal buruk pada Camelia. 


Sementara itu, Camelia membuka matanya perlahan. Ia masih bisa merasakan tubuh hangat Jupiter yang memeluknya dengan sangat erat. Sekilas ia memandang tubuh Jupiter yang masih polos, dan hanya selimut yang menutupi tubuh mereka. 


Camelia mengusap perlahan wajah Jupiter dengan sangat hati-hati, tersenyum pedih dan mencium bibirnya sekilas. Camelia beringsut dari tempat tidur dengan sangat hati-hati, agar Jupiter tidak menyadari pergerakannya. Satu persatu ia mengumpulkan baju yang berserakan di lantai, hatinya kembali terasa perih, melihat kemeja putih yang sempat ia pakai, kini sudah sobek dan tidak layak pakai. 


Berjalan tertatih karena bukan hanya hatinya yang terasa perih tapi bagian inti tubuhnya pun terasa nyeri ketika ia melangkah, membuat Camelia kesulitan berjalan, ia memilih mengambil kemeja Jupiter sebagai pengganti kemeja miliknya yang sudah koyak dan tidak layak pakai. 


Camelia segera menuju kediamannya, dengan tenaga sisa yang ia miliki ia berusaha mencari kendaraan yang bisa mengantarnya sampai apartemen. Nafasnya terasa sesak, bahkan dadanya terasa begitu nyeri, membuat Camelia berjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Hanya sedikit lagi ia sampai di unit tempat tinggalnya, bahkan pintu rumahnya sudah terlihat, namun kesadaran Camelia hilang. Pandangannya menggelap, dan rasa sakit yang sudah menjalar keseluruh tubuhnya sudah tidak bisa lagi ia tahan. 


"Mel,,, Camelia,,,, kenapa kamu,,, ya tuhan!! Mel,,," hanya suara itu, yang terakhir ia dengar sebelum akhirnya ia benar-benar tidak sadarkan diri.


Kanaya yang melihat Camelia tidak sadarkan diri, tidak jauh dari pintu rumahnya, segera menolongnya. Dengan bantuan dari sus Tuti, mereka berdua membopong tubuh Camelia yang terasa panas, dan membawanya ke dalam rumah. 


Kanaya dengan telaten mengobati luka lebam yang terlihat jelas di pipi Camelia, bahkan Kanaya sudah mengganti pakaian Camelia dengan baju miliknya. 


Camelia menggeliat begitu Kanaya mengusap pelan pipinya, ia meringis kesakitan ketika handuk hangat menyapu wajahnya.


"Maaf aku terlalu kencang," ucap Kanaya.


"Aku dimana?" Tanya Camelia ketika ia membuka matanya.


"Kamu berada dirumahku," jawab Kanaya. Mata Camelia menelusuri setiap penjuru ruangan, namun ia mengenali ruangan tersebut karena ia pernah bermalam di rumah Kanaya, tempo hari. Mata sayunya menangkap sosok perempuan cantik, yang tengah duduk tidak jauh dari tempatnya berbaring, bahkan ia melihat gadis kecil yang bersembunyi di balik tubuh sang ibu, sorot matanya terlihat cemas dan ketakutan. 


 


Camelia tersenyum, dan mengulurkan tangannya pada gadis kecil yang sudah berpakaian tidur itu, "Aunty Mel ngerepotin Elea ya?" Tanya Camelia. 


Elea meraih tangan Camelia dan mendekatinya, "aunty Mel gak bangun-bangun, Elea dan ibu takut." Camelia tersenyum, sambil mengelus puncak kepala Elea,


"Aunty Mel kecapean. Maaf sudah membuat Ibu dan juga Elea khawatir." 


Melihat Camelia yang sudah bisa tersenyum meski sedikit membuat Elea ikut tersenyum." Aunty Mel, disini bobok sama Elea ya?" 


"Aunty Mel, butuh istirahat sayang. Kalau bobok bareng Elea, dia gak bisa istirahat, Elea pasti minta di ajak main terus." Ucap Kanaya, menolak halus permintaan anaknya.


"Tapi Elea gak bakal ganggu aunty Mel, janji." 


"Besok aja ya, sekarang aunty Mel mau istirahat." Pinta Kanaya, meski dengan muka cemberut akhirnya Elea mau dibujuk dan keluar, setelah sus Tuti menggendongnya.


"Kamu istirahat disini saja Mel, kalau ada perlu kamu bisa minta tolong, Mbak." Kanaya merapikan selimut yang dikenakan Camelia hingga menutupi tubuhnya sampai dada. 


"Terimakasih mbak, maaf sudah merepotkan." 


"Aku tidak merasa kamu sudah merepotkanku, aku senang bisa membantumu. Maaf tadi aku mengganti pakaianmu, ketika kamu tidak sadarkan diri,"


Camelia segera melihat pakaian yang ia kenakan saat ini, dan benar saja ia sudah berganti pakaian menjadi pakaian tidur milik Kanaya. Camelia teringat jika di tubuhnya banyak sekali bekas ciuman Jupiter dan meninggalkan tanda merah. Tidak hanya di satu tempat, tapi banyak. 

__ADS_1


"Mbak,,," lirih Camelia sambil merapatkan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Aku tidak akan bertanya, jika kamu tidak ingin aku tahu. Aku juga tidak akan menghakimi, karena aku tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Setiap manusia pasti melakukan kesalahan. Tidak hanya kamu, aku pun begitu." 


Dengan susah payah, Camelia mencoba beranjak dari tempat tidurnya dan memilih duduk. 


"Aku benar-benar merasa hancur, rasanya aku ingin mati!" Ucap Camelia sambil terisak. Kanaya segera merengkuh tubuh Camelia, memeluk tubuh yang berguncang akibat menangis.


"Aku pernah berada di posisimu, bahkan aku sudah berada di tahap bunuh diri. Tapi, itu tidak akan menyelesaikan masalah." Camelia mendongkak menatap Kanaya, ia tidak tahu jika di balik sikap tenang Kanaya, ibu satu anak itu pernah mengalami hal serupa dengam dirinya. 


"Aku pernah merasa jika aku adalah orang paling menderita di dunia ini, dan aku berniat mengakhiri hidupku. Tapi, Tuhan memberiku kesempatan dan menyelamatkanku dengan menghadirkan Elea di hidupku. Tidak mudah memiliki seorang anak tanpa pernikahan dan suami, selain gunjingan dari tetangga, juga karena aku harus berusaha mencukupi segala kebutuhan untuk Elea seorang diri." Kanaya mengusap kepala Camelia dengan perlahan,


"Setiap manusia pasti diuji, kita hanya perlu bersabar sedikit saja, karena kebahagiaan sedang menantimu. Percaya padaku," 


Masih terisak,Camelia meraih tangan Kanaya,


"Terimakasih, aku tidak tahu lagi harus bagaimana jika Mbak tidak menolongku. Mungkin aku sudah loncat dari jendela apartmenku." 


"Maafkan semua orang yang menyakitimu, dan mulailah hidup dari awal. Meskipun memaafkan itu sulit, tapi percaya padaku,  hatimu akan terasa jauh lebih baik setelah memaafkan mereka yang menyakitimu. Aku pernah merasakan sendiri." 


Camelia mengangguk, dan mengusap lelehan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


"Sekarang istirahat. Jika Elea tahu kamu belum tidur, dia bisa datang lagi kesini dan membuatmu benar-benar tidak bisa istirahat." Goda Kanaya sambil merapikan beberapa barang untuk mengobati luka Camelia. 


Setelah Kanaya menghilang dari balik pintu, Camelia benar-benar tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun. Ia masih mengingat kejadian yang baru saja menimpanya. Jupiter yang sudah merenggut satu-satunya harga diri yang ia miliki, bahkan Camelia masih ingat bagaimana lelaki tua bangka yang menyamar sebagai investor itu hendak memperkosanya dengan brutal, membuat tubuh Camelia meremang dan mengigil. 


Namun yang menjadi pikirannya saat ini yaitu, kemana perginya Febian. Apa benar lelaki itu kini tengah berada di suatu tempat, dan mungkin saja nyawanya tengah terancam, atau justeru lelaki itu melarikan diri dan meninggalkannya? 


Pikiran-pikiran buruk itu terus membayangi, bahkan sampai hari menjelang pagi, tidak sedikitpun Camelia memejamkan matanya. 


Pintu kamar yang ia tempati kembali terbuka, tampak Kanaya dan juga Elea muncul dari balik pintu membawa nampan berisi bubur dan juga air hangat.


"Benarkah? Wah,, kalau begitu aunty sangat penasaran dengan bubur enakkkk buatan Ibu." Elea segera menaiki kasur, dan ikut bergabung dengan Camelia yang masih terbaring. 


" Bagaimana tidurmu, nyenyak?" Tanya Kanaya sambil meletakan nampan di atas nakas.


"Nyenyak," Camelia berbohong, padahal sedetikpun ia tidak bisa memejamkan matanya. 


"Kalau begitu sekarang sarapan, habiskan buburnya." Kanaya menaruh nampan berisi bubur diatas pangkuan Camelia. Bubur yang terlihat menggoda, tapi tidak menurut Camelia. Namun untuk menghargai usaha Kanaya yang sudah susah payah merawat dan membuatkannya, ia pun menyendok bubur dengan perlahan.


"Enak kan?" Tanya Elea, dengan wajah yang begitu menggemaskan.


"Enak,,, ini bubur terenak yang pernah aunty Mel makan." 


Elea tersenyum lebar mendengar masakan sang ibu dipuji.


"Elea gak bohong kan, bu. Masakan ibu enak, gak kalah enak sama masakannya aunty Nit. Aunty Mel aja bilang enak banget." 


"Aunty Nit, siapa dia?" Tanya Camelia, 


"Temannya Daddy," jawab Elea polos. 


Camelia segera melihat kearah Kanaya, perempuan itu tersenyum, meski terlihat jelas senyum yang dipaksakan.


"Siapa mbak?" Kini Camelia bertanya langsung pada Kanaya.

__ADS_1


"Tunangannya Revan, Daddy nya Elea. Hari minggu ini mereka akan melangsungkan pertunangan." Jawabnya lemah, namun ada seulas kecewa terpancar dari wajah cantiknya. 


"Aku kira kalian rujuk." 


"Tidak," Kanaya menggeleng lemah.


"Mbak masih mencintainya," selidik Camelia.


"Tentu tidak, mana mungkin aku mencintai tunangan orang lain." Kanaya segera menyangkal tuduhan Camelia.


"Mata mbak gak bisa bohong," 


"Kenapa sepagian ini kita malah bergosip?"  Elak Kanaya, membuat Camelia terkekeh sambil menyuap bubur ke dalam mulutnya. Camelia sadar jika setiap orang memiliki masalah dan beban hidup masing-masing, bahan Kanaya yang terlihat tegar pun, memiliki sisi rapuh ketika ia harus menerima kenyataan lelaki yang dicintainya memilih orang lain. Begitu juga dengan dirinya, belajar dari apa yang Kanaya alami, Camelia mencoba untuk memahami setiap kejadian buruk yang menimpanya. 


Setelah merasa jauh lebih baik, Camelia memutuskan untuk pulang apartemennya yang hanya berada di seberang apartemen Kanaya. Setelah berterima kasih karena telah merawatnya dengan baik, Camelia akhirnya pulang.


Tatanan rumah yang masih sama, bahkan perabotan yang tidak bergeser sedikitpun,membuktikan jika Febian belum kembali. 


Camelia membersihkan diri, di bawah guyuran air dingin yang membasahi tubunhnya, Camelia mencobaengjikangakn semua jejak Jupiter dan lelaki hidung belang yang menjamah tubuhnya. Ia menggosok dengan kuat,  sehingga meninggalkan bekas merah pada kulitnya yang putih. Camelia juga menggosok setiap gigitan Jupiter yang masih terlihat merah, dengan sedikit kehitaman, berharap dengan menggosoknya tanda itu bisa hilang dengan cepat. Namun bukannya hilang, justru semakin membuat kulitnya terasa perih.


Bayangan ketika dirinya dan Jupiter melakukan percintaan semakin berputar di kepalanya, seperti kaset rusak yang terus berputar membuat Camelia kembali merasa pusing, dan kepalanya berdenyut nyeri. 


Entah sudah berapa lama ia berada di bawah guyuran air, hanya saja suara ketukan pintu menyadarkannya dari lamunan, dan membawanya kembali ke dunia nyata. Gedoran pintu itu semakin terdengar keras dan nyaring, bahkan pintu kamar mandinya bergoyang dengan sangat kencang, membuat Camelia beringsut ketakutan. Ia kembali teringat bagaimana ia dikurung oleh Nadia, dengan lelaki hidung belang, dan Camelia langsung teringat, mungkin saja lelaki itu yang berada di balik pintu dan kembali hendak perkosanya. 


Camelia semakin ketakutan,bahkan ia kembali menangis histeris. Rasa trauma yang kini merasuki jiwanya membuat Camelia menunduk, menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Terlebih ketika pintu itu terbuka, Camelia semakin merasa ketakutan 


"Tidak!!! Jangan!! Aku mohon!!" Teriaknya sambil menutup mata.


"Astaga mel!!" 


Febian segera meraih anduk dan menutupi tubuh polos Camelia. Namun Camelia kembali berontak,


"Tidak!! Jangan!! Aku mohon!!" Kata itu terus berulang dari mulut Camelia, bahkan ketika Febian hendak menyelimuti tubuhnya Camelia memukul dan mencakar Febian dengan brutal. 


"Mel, sadar!! Ini aku Febian!!"


"Tidak!! Kumohon jangan sentuh aku lagi!!" Camelia semakin terisak, membuat Febian ikut menangis melihat kondisi Camelia. Terlebih ia melihat beberapa bercak merah memenuhi tubuh Camelia bagian atas, membuat emosi Febian semakin meluap. 


Ia segera meraih tubuh Camelia dari guyuran air, meskipun Camelia meronta, Febian tetap menarik tubuh Camelia yang sudah sangat dingin.


"Aku tidak akan memaafkan siapapun yang sudah melakukan ini padamu! Aku akan mencari dan membunuhnya!" Ucap Febian dengan rahang mengeras. 


Ia segera menggendong Camelia, keluar dari kamar mandi, dan membaringkan tubuh Camelia di atas kasur.


"Tenang,, aku Febian. Lihat,, aku Febian." Febian menangkup wajah Camelia agar ia melihat ke arahnya. 


"Aku Febian mel," lirih Febian, 


Begitu menyadari lelaki yang ada di hadapannya adalah Febian, Camelia memeluk Febian sambil menangis tersedu.


"Aku takut," 


"Sekarang kamu aman bersamaku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, apapun yang terjadi aku akan melindungimu." 


Febian mengusap air mata Camelia, 

__ADS_1


"Dengarkan aku baik-baik. Aku sangat mencintaimu, dan mulai hari ini aku tidak akan membiarkan seorangpun yang akan menyakitimu. Dan aku akan membalas semua kejadian hari ini dengan setimpal." Camelia tidak mengerti dengan ucapan Febian, hanya ketika bibir lelaki itu kini menempel di bibirnya, barulah Camelia sadar, jika pada akhirnya Febian mengakhiri kebohongannya. 


 


__ADS_2