
Febian mendesah, menghela nafas panjang, sambil memejamkan matanya. Ini masih terlalu pagi untuk mendengar celotehan Camelia yang tidak ada hentinya, semenjak mereka berdua bertemu di meja makan, untuk sarapan pagi bersama.
"Mel, bisa gak marah-marahnya nanti aja, pas gue udah sarapan. Roti, sama kopinya gak ada yang masuk ke perut gue, mereka gak masuk ke perut, tapi masuk ke kuping gue!" Keluh Febian.
"Gak bisa apa, lo cari investor lain. Kenapa harus Jupiter? Lo tau apa yang dia lakuin ke gue kemarin? Dia hampir aja merkosa gue!" Ucap Camelia, masih marah, karena kejadian kemarin ketika tiba-tiba saja Jupiter menciumnya.
"Di perkosa apanya, kalau lo gak menikmati ciuman si Jupiter, gak mungkin lo senyum-senyum semalaman." Cibir Febian.
Mata Camelia langsung mendelik, menatap tajam ke arah Febian, merasa tidak terima dengan ucapan Febian, meskipun kenyataanya ucapan Febian ada benarnya juga, sementara itu Febian hanya mengangkat bahunya, cuek. Awalnya Febian sempat prihatin melihat Camelia tiba-tiba pulang dengan tampang kusut dan wajah memerah, seperti habis menangis. Febian sempat merasa bersalah, karena tidak bisa mengatasi sendiri masalah kerjasama antara dirinya dan pihak Jupiter, dan kembali harus melibatkan Camelia.
Camelia sempat mengurung diri di kamar, hingga tengah malam, bahkam Camelia melewatkan jam makan malam, meski berulang kali Febian mengajaknya makan malam bersama, tapi Camelia tidak meresponnya dan memilih diam di dalam kamar. Karena merasa penasaran, akhirnya Febian memutuskan melihat sendiri kondisi Camelia, Febian khawatir, takut sesuatu hal buruk kembali menimpa Camelia.
Yang ada di pikiran Febian, ia akan melihat Camelia dengan kondisi mengenaskan, namun yang ia lihat justru sebaliknya. Febian melihat Camelia tengah berbicara dengan Jupi, sambil memegang bibirnya berulang kali. Meskipun Jupi tertidur lelap, Camelia tetap antusias bercerita, hingga Febian menangkap sebuah kalimat yang bisa menjawab rasa penasarannya.
"Jupi,,, tadi Appa kamu cium eomma." Camelia langsung tersenyum kegirangan, sambil memegang bibirnya. Ia tidak menyadari kehadiran Febian, yang memperhatikannya dengan perasaan dongkol. Camelia asyik dengan celotehannya, meskipun ia pasti tahu, tidak ada gunanya berbicara dengan seekor kucing yang tengah tertidur pulas. Febian hapal siapa appa, yang Camelia maksud. Gadis itu sering kali menamai lelaki pujaan hatinya dengan nama-nama aneh, salah satunya appa. Setelah melihat kondisi Camelia yang jauh dari kata baik, akhirnya Febian kembali ke kamarnya.
Setelah melihat Camelia dalam kondisi baik-baik saja, Febia kira dia bisa sarapan dengan tenang dan damai. Mengingat teman satu rumahnya, tengah dalam kondisi baik. Namun, dugaannya salah. Febian langsung di hujani berbagai keluhan begitu ia bertemu Camelia di meja makan. Entah mengapa Camelia bisa kembali dalam mode marah, padahal semalam ia tengah dalam keadaan baik-baik saja.
"Jupi, sini,,, segera hubungi appa kamu, soal nya eomma kamu sudah mulai gila lagi." Teriak Febian, pada Jupi yang masih menggulung tubuhnya, di atas matras berbulu.
Tanpa menunggu balasan dari Camelia, Febian langsung menghabiskan satu lembar roti isi selai stroberi dalam satu suapan.
"Febian,, cuci gelas sama piringnya!" Teriak Camelia, begitu melihat Febian melenggang kembali masuk kamar, tanpa mencuci gelas dan piringnya terlebih dulu.
"Gue titip lo aja. Gue buru-buru," balas Febian. Tidak menghiraukan teriakan Camelia.
Setelah Febian pergi, tinggal Camelia yang berada di dalam apartemen. Hari ini dia tidak ada kegiatan, karena semua pekerjaan sudah diselesaikan Febian satu hari kemarin.
Seharian hanya berada di dalam rumah, membuat Camelia merasa bosan, akhirnya Camelia hendak mengajak Jupi bermain di taman di dekat apartemennya. Meskipun kucing itu tidak bisa melihat, tapi Jupi sangat suka di ajak ke tempat terbuka, dan akan berlari kesana kemari seperti kucing pada umumnya.
Camelia memasukan Jupi kedalam tas jinjing khusus kucing, dan membawa beberapa cemilan Jupi dan air minum untuk dirinya, ia siap berjalan-jalan sore mengelilingi taman hijau yang disediakan pihak pengelola apartemen.
__ADS_1
"Ayo,,, kita jalan-jalan sore!!" Seru Camelia, sambil mengelus lembut bulu Jupi. Dengan semangat Camelia membuka pintu hendak menuju taman. Namun matanya seakan loncat dari tempatnya, begitu ia melihat sosok lelaki tinggi tengah berdiri tepat di depan pintu apartemennya.
"Hai,,," dengan canggung Jupiter menyapa Camelia.
"Tadi aku tanya alamat kamu, tapi salah rumah," lanjut Jupiter, sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Aunty Mel,,, tadi om ini salah rumah. Tadi dia cari aunty Mel di rumah Elea." Teriak Elea, anak tetangga depan unitnya. Yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu rumahnya.
"Ah,, iya. Terimakasih Elea." Balas Camelia, tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah gadis kecil itu. Setelah Elea menghilang di balik pintu, wajah Camelia kembali datar, menatap penuh tanya ke arah Jupiter.
"Ada perlu apa?" Tanya Camelia.
"Itu,,, aku sebenarnya, itu,,, ah kamu pasti Jupi kan? Hai Jupi apa kabar. Masih ingat aku?" Jupiter mengalihkan pembicaraan dengan menyapa Jupi. Meskipun Jupiter mencoba bersikap manis, namun tak kunjung juga pembuat bibir Camelia melengkung, tersenyum. Gadis itu masih bersikap dingin, dengan satu alisnya terangkat.
"Aku cari kamu. Dan,,, maaf aku ambil informasi dari data pribadi kamu, untuk mencari alamat tempat tinggal kamu." Akhirnya Jupiter mengakui niat sebenarnya.
"Ada perlu apa?" Tanya Camelia lagi.
"Iya,,, memang ada perlu apa kamu mencari alamat tempat tinggalku. Kita tidak ada jadwal pekerjaan hari ini."
"Memang tidak ada. Tapi, aku hanya ingin melihat kamu," balas Jupiter.
Meski dalam hati merasa begitu senang, namun Camelia mencoba tetap menahannya.
"Sekarang sudah lihat. Jadi, untuk apa kamu masih di sini?"
"Astaga Kara!" Merasa kesal dengan sikap Camelia yang tidak kunjung melunak, akhirnya Jupiter mendorong tubuh Camelia masuk kembali kedalam rumahnya.
"Gak sopan membiarkan tamu berdiri di depan pintu!" Ucap Jupiter. Tanpa menunggu tuan rumah mempersilahkannya masuk dan duduk, Jupiter terlebih dulu melepas sepatu dan langsung duduk di kursi tamu. Camelia terperangah melihat kelakuan Jupiter, ia bahkan mengerjapkan matanya berulang kali, memastikan apa ia berhalusinasi atau tidak.
"Aku haus. Aku minta minum." Suara Jupiter menyadarkannya, dan kembali membuatnya tersadar, jika Jupiter yang ada di hadapannya itu asli dan bukan halusinasi semata.
__ADS_1
"Tamu harus diberi minum!" Ucap Jupiter lagi.
Camelia segera menaruh kembali Jupi dalam kandang, dan mengambil gelas, lalu ia isi dengan air putih dingin.
"Nih,," Camelia menyodorkan gelas berisi air putih kepada Jupiter, masih dengan tampang masam nya. Jupiter segera menenggak air dalam gelas hingga tandas, dan menaruh gelas kosong di atas meja.
"Kamu masih mau berdiri disitu? Gak mau duduk?" Tawar Jupiter, karena Camelia hanya berdiri bersedekap memperhatikannya.
"Ada perlu apa?" Tanya Camelia,masih dengan pertanyaan dan nada bicara yang sama.
Jupiter menghela nafas lelah, "Aku kangen kamu. Dan aku mau ketemu kamu. Apa itu bisa jadi salah satu alasan supaya aku bisa datang kesini?"
Mendengar ucapan Jupiter, pipi Camelia tiba-tiba terasa panas. "Maksud kamu apa?" Meski gugup, Camelia tetap mencoba bersikap biasa.
Jupiter berdiri, menghampiri Camelia yang masih berdiri mematung.
"Jangan menghindar lagi, aku sudah sangat lama mencari keberadan kamu." Jupiter meraih tangan Camelia, menggenggam erat tangan mungil yang sangat ia rindukan.
"Kamu tau, aku hampir gila waktu kamu menghilang begitu saja. Dan jika selama ini kamu berpikir aku tidak pernah mengingat atau mencari keberadaan kamu, kamu salah besar," Jupiter semakin mendekat, mengikis jarak di antara keduanya.
"Aku menyibukan diri belajar dengan rajin, dan berusaha supaya menjadi pengusaha sukses, supaya aku bisa dengan mudah mencari keberadaan kamu," lanjutnya.
"Aku percaya suatu hari aku bisa menemukan keberadan kamu, dan aku juga percaya meskipun aku tidak bisa menemukan keberadaan kamu, tapi pada akhirnya kita akan saling menemukan. Dan, kamu lihat, kini kita dipertemukan kembali dengan segala kondisi serba kebetulan." Satu tangan Jupiter mengelus rambut Camelia, menyibakan anak rambut dan menyelipkannya di belakang telinga Camelia.
"Aku percaya itu bukan kebetulan, tapi kita memang saling mencintai, hingga akhirnya Tuhan kembali mempertemukan kita."
Camelia hanya diam, menatap lekat lelaki yang berada di depannya itu. Menyelami jauh kedalam mata Jupiter, seolah ingin mencari setitik kebohongan dari sorot mata Jupiter, namun Camelia tidak bisa menemukan satu kebohongan dari sorot mata Jupiter. Yang ia lihat hanyalah sorot mata yang masih sama seperti dulu, ketika lelaki itu menyatakan cinta padanya.
"Camelia ataupun Kara, bagiku tetap sama. Kamu tetap si gadis mata bulat milikku." Kini kedua tangan Jupiter menangkup pipi Camelia.
"I love you, and I miss u so bad." Lirih Jupiter sambil mengecup singkat bibir Camelia dan menarik tubuh gadis kecil itu kedalam pelukannya.
__ADS_1