CAMELIA

CAMELIA
episode 41


__ADS_3

Camelia masih berkutat di depan meja riasnya, beberapa kali ia berdecak kesal karena ternyata menghilangkan tanda merah hasil karya Jupiter tidak mudah. Berkali-kali ia menggunakan foundation untuk menutupinya, tapi karena kulit lehernya yang putih dan juga kissmark yang berwarna merah kehitaman itu tampak terlihat jelas, membuat Camelia sulit menutupinya. Sempat ingin menggunakan plester luka untuk menutupinya, tapi itu tidak lebih baik, karena akan sangat terlihat mencolok. Sehingga pada akhirnya ia memutuskan untuk mengenakan pakaian yang bisa menutupi lehernya, dan turtleneck menjadi pilihannya. 


Sesuai janjinya pada Jupiter, hari ini ia akan pergi berlibur ke taman bermain Dufan. Meski cuaca pasti amat terik, Camelia tidak memiliki pilihan lain, dan tetap memakai pakaian yang bisa menutupi lehernya dan tidak lupa ia juga menggerai rambut panjangnya. 


Melihat penampilannya di depan cermin, lebih mirip hendak berlibur ke negara bersalji, di bandingkan pergi berwisata ke taman hiburan. Dan sudah pasti udara Jakarta amatlah panas, membuat Camelia semakin menghela lemah dan tidak bersemangat. 


"Lo mau ke Korea?" Celetuk Febian begitu Camelia keluar dari kamarnya, menghampiri Febian yang sudah duduk di meja makan. 


"Nggak! Gue mau ke Arab."


"Oh,,, pantesan. Kurang pake jilbabnya tuh, atau sekalian lo pakai cadar." 


Camelia hanya bisa menahan diri agar tidak kembali terbawa emosi dan berakhir dengan menghancurkan moodnya. Ia mengabaikan celotehan Febian yang masih mengomentari penampilannya yang lebih mirip seperti pakaian musim dingin.


"Jakarta panas Mel. Lo pake baju biasa aja. Liatnya aja udah panas, apalagi lo yang pake." 


"Siapa bilang Jakarta bersalju. Kalau Jakarta dingin gue sungkem di kaki lo," 


"Cium bokong gue sekalian," Febian terkekeh, melihat Camelia yang semakin kesal dibuatnya.


"Lo yang galau, ko gue yang kena imbasnya ya,,," Camelia menghela lelah, sambil menyandarkan tubuhnya di kursi meja makan. 


"Lo harusnya bangga, karena cuman lo yang bisa menghibur gue." 


"Oke terserah lo aja." Jawab Camelia pasrah.


"Hari ini gue mau kerumah bokap, kemungkinan disana bakal beberapa hari, jadi lo boleh puas-puasin berdua sama si Jupiter. Tapi inget pake pengaman." 


"Dasar gila!!" 


Febian hanya terkekeh geli, sambil beranjak dari kursinya dan memilih memasuki kamar. Sementara itu Camelia masih di meja makan sambil menikmati semangkuk sereal untuk mengganjal perutnya. 


Tidak lama bel berbunyi, Camelia segera beranjak untuk membuka pintu. Sebelum membuka pintu, terlebih dulu ia melihat layar monitor untuk memastikan siapa yang datang. Awalnya ia kira Jupiter yang datang, namun ternyata bukan. 


Camelia segera membuka pintu, karena ia mengenali siapa yang hendak bertamu padanya. 


"Hai Elea, ada apa?" Sapanya, pada seorang gadis kecil dan seorang wanita paruh baya.


"Nak Mel, saya nenek nya Elea. Kalau tidak keberatan saya mau titip Elea sebentar boleh, saya ada perlu." Ucap perempuan paruh baya itu pada Camelia. 


Camelia memang pernah beberapa kali melihat perempuan paruh baya itu keluar masuk dari apartemen milik Kanaya, dan melihat bagaimana kedekatan mereka Camelia yakin jika perempuan yang tidak ia tahu namanya itu pasti keluarga Elea. 


"Boleh. Kebetulan saya nggak kemana-mana. Elea boleh main di rumah Aunty Mel, main bareng Jupi." 


"Iya,, Elea mau!" Gadis kecil itu melepaskan genggaman sang nenek dan beralih mendekati Camelia. 


"Terimakasih nak Mel, saya sudah menghubungi Kanaya dan dia akan segera pulang."


"Iya, Nek. Sama-sama. Elea aman di tempat saya." 


Setelah menitipkan cucunya, perempuan paruh baya itu segera pergi. Sementara itu Elea langsung menuju kandang Jupi dan menggoda kucing gembul itu sambil tertawa riang. 


"Elea sudah sarapan?" Tanya Camelia sambil mendekati Elea dan Jupi. 


"Udah. Tadi nenek masakin El bubur." 


"Daddy yang kemarin itu, Daddy kamu?" 


"Ibu bilang iya," jawab Elea polos. 


Camelia tahu bertanya pada anak kecil yang belum genap empat tahun sama saja bertanya tentang alat masak di toko bangunan, tidak akan nyambung. Tapi, Camelia masih penasaran dengan sosok familiar yang mengaku sebagai Daddy dari gadis kecil yang kini di titipkan padanya. 


Dering ponsel yang berada di atas meja makan, membuat Camelia segera berdiri hendak mengambil ponsel miliknya. Nama Jupiter tertera di layar, dan Camelia merasa bingung bagaimana menjelaskan jika kini ia sedang menjaga gadis kecil yang dititipkan kepadanya. Namun lebih baik berkata sejujurnya daripada nanti Jupiter malah terkejut melihat gadis kecil di kediamannya.


"Hallo,,," akhirnya Camelia menerima panggilan dari Jupiter. 


"Aku sudah di depan pintu," ucap Jupiter.


"Oh iya, aku bukan pintunya." 


"Tapi,, " Camelia tidak begitu mendengarkan ucapan Jupiter, karena ia segera membuka pintu dan tidak memperdulikan ucapan Jupiter selanjutnya. 


"Kenapa gak pencet bel aja,,,," mata Camelia terbelalak begitu melihat Jupiter datang tidak seorang diri. Melainkan dengan seorang anak laki-laki yang berada di balik tubuh Jupiter, sambil memegang ujung kaos yang dikenakan Jupiter.


"Siapa?" Tanya Camelia,sambil sesekali ia melirik ke arah anak lelaki yang masih saja menyembunyikan wajahnya. 


"Dia keponakanku, namanya Aksara. Anak kak Dea."


"Anak kak Dea?" 


"Iya hasil pernikahannya dengan Alfaro." 


Camelia mengerjapkan matanya berulang kali, dan ia mencoba memberanikan diri mendekati bocah kecil itu. 

__ADS_1


"Hai,,,gak usah malu. Yuk masuk,,," ajak Camelia, yang kini sudah berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Aksara. 


"Dia sedikit pendiam dan pemalu." Balas Jupiter, karena Aksara masih diam tidak merespon sapa dari Camelia. 


"Aku punya seseorang yang ingin aku kenalkan padamu. Ayo masuk." Ajak Camelia. 


Jupiter segera membawa Aksara masuk, dan mengikuti langkah Camelia dari belakang. 


"Nah,,, aunty  punya seseorang yang ingin dikenalkan pada Aksara, orangnya ada di sana. Kalian bisa jadi teman." Camelia menunjuk ke sudut ruangan yang berada di pojokan.


Awalnya Jupiter kira, Camelia pasti akan mengenalkan Jupi pada Aksara, namun ia terkejut begitu melihat gadis kecil tengah memangku Jupi, dan berdiri memandang ke arah mereka. 


 


"Siapa?" 


"Hari ini kita akan menjadi pengasuh untuk dua orang sekaligus. Kenalin dia Elea, anak tetanggaku." 


Jupiter seakan tidak percaya dengan yang ia alami saat ini,bagaimana bisa rencana liburannya harus terganggu dengan kehadiran dua anak sekaligus. 


"El, sini!" Camelia melambaikan tangannya meminta Elea mendekat. Gadis kecil itu mendekat, sambil membawa Jupi yang masih berada di dalam dekapannya.


"El, perkenalkan ini uncle Jupiter dan ini Aksara." 


"Hai uncle,, hai Aksa,," Elea melambaikan tangannya pada Jupiter dan juga Aksara. Namun Aksara tidak bereaksi apapun, ia hanya memandangi Elea dengan tatapan dingin. 


"Aksa gak suka Elea ya, Aunty Mel." Tanya Camelia dengan raut sedih, karena tidak ada tanggapan apapun dari Aksa.


"Nggak sayang, Aksa hanya malu." 


"Oh,,, main bareng Jupi yuk. Dia lucu,coba gendong." Elea menyodorkan Jupi pada Aksa, namu tanpa diduga Jupi justru berontak dan akhirnya kucing itu tanpa sengaja mencakar tangan Aksa hingga berdarah. 


"Huaaaaaa,,," seketika Aksa menjerit dan menangis,membuat kedua orang dewasa itu kewalahan.


"Bagaimana ini?" Tanya Camelia.


"Aku gak tau," jawab Jupiter yang tidak kalah paniknya dengan Camelia. Karena ia tidak terlalu dekat dengan keponakannya dan ia tidak tahu bagaimana mendiamkan bocah berusia empat tahun menangis. 


"Dia keponakan kamu. Kamu pasti bisa membujuknya supaya berhenti menangis."


"Dia keponakanku tapi dia bukan anakku, jadi aku tidak tahu bagaimana mendiamkannya." 


Jupiter menggendong Aksa, mencoba menenangkan keponakannya agar berhenti menangis. Karena suara aksa begitu nyaring dan kencang. Sedangkan Elea hanya bisa diam dan merasa bersalah, hampir saja ia juga ikut menangis karena ia takut melihat Aksa menangis. Namun segera Camelia membawa Elea meja makan dan menenangkan gadis itu, agar tidak ikut menangis. Karena jika itu terjadi, ia dan Jupiter akan lebih kewalahan, harus menenangkan dua anak kecil sekaligus. 


Febian yang masih berada di dalam kamarnya, hendak mengemas beberapa pakaian yang akan ia bawa untuk berkunjung kerumah orang tuanya, merasa terganggu dengan suara tangis seorang anak kecil. Awalnya Febian mengira itu hanya suara anak tetangga, namun suara itu semakin kencang dan terdengar jelas. Lagipula dinding apartemennya kedap suara, bagaimana bisa mendengar suara tangis anak tetangga. 


"Ada apa ini?" Tanyanya.


"Apa kalian pikir ini tempat penitipan anak?" 


"Itu keponakan Jupiter. Nangis." Balas Camelia.


"Kenapa kalian tidak bisa mendiamkannya?" 


"Dia tidak mau berhenti menangis." Kini Jupiter ikut menjawab, sambil masih menggendong Aksa. 


Febian hanya bisa menghela lemah, "sini, biar gue yang diemin." Febian akhirnya mendekati Jupiter.


"Hai anak ganteng. Uncle punya permainan terbaru, mau coba main?" Febian mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan menunjukkan sebuah permainan pada Aksa. 


Seketika tangis Aksa berhenti dan menoleh ke arah Febian. 


"Mau,,, " akhirnya Aksa mengeluarkan suaranya, selain suara tangis. Meski sesekali ia masih terisak.


"Oke, Uncle kasih pinjam. Tapi janji gak boleh nangis lagi. Masa jagoan nangis," 


"Iya,,, Aksa gak nangis lagi. Tapi dia nakal," tunjuk Aksa pada Elea yang masih terdiam dengan tampang bersalahnya.


"Seorang lelaki harus bisa memaafkan perempuan. Mungkin dia tidak sengaja melakukannya. Jadi ayo berdamai, dan main bersama Elea." Ajak Febian.


Jupiter segera menurunkan Aksa dari gendongannya, begitu juga dengan Elea yang dibawa mendekat oleh Camelia. 


"Sekarang Elea minta maaf pada Aksa." Pinta Febian.


"El, gak sengaja. Maafin Ela ya, tadi nakal sama Aksa." Elea mengulurkan tangannya untuk meminta maaf.


"Aku gak suka kucing, tapi Aksa maafin Elea." Aksa pun menjabat tangan Elea. Dan kedua anak itu bersalaman. 


"Sekarang kalian teman ya," Febian mengelus kepala kedua anak itu secara bersamaan. 


Elea dan Aksa sama-sama tersenyum, dan tiba-tiba saja Elea mencium pipi Aksa.


"Astaga!!" Ketiga orang dewasa itu  berseru secara sama-sama, terkejut dengan kelakuan gadis kecil itu. 

__ADS_1


"Kata Ibu, kita harus sayang sama teman. Dan Geby juga mencium Elea waktu dia bilang sayang Elea."  


Baik Camelia maupun Jupiter sama-sama mengerjapkan mata, mendengar alasan Elea. 


"Iya,, Ibu Elea memang benar, kita harus menyayangi teman. Tapi tidak semua teman boleh Elea cium ya," 


"Oke, uncle!" Elea mengangguk mengerti setelah Febian memberikan penjelasan padanya. 


Kedua anak kecil itu segera menuju kursi panjang yang berada di ruang tamu, sambil membawa ipad milik Camelia.


"Kalian cuman pintar membuat anak, tapi baru saja seperti sudah kewalahan." Cibir Febian kepada dua orang yang kini tengah duduk di kursi meja makan.


"Gue pergi dulu. Ingat jangan rajin bikinnya doang, tapi harus belajar cara menjaganya juga. Jangan lupa pake pengaman, dan jangan nyosor di leher. Kasihan si Mel, sampai habis bedak satu toples," ledek Febian sambil menepuk pundak Jupiter. 


"Febian!!!"


"Gak usah bilang makasih, Mel. Gue ngerti ko." 


"Dasar gila!!" Gerutu Camelia, sedangkan Febian hanya terkekeh geli,dan pergi. 


 


Setelah Febian pergi, kini hanya tinggal mereka berempat. Camelia maupun Jupiter sama- sama kebingungan karena rencana liburan mereka berantakan, akibat kehadiran dua anak kecil yang secara kebetulan di titipkan kepada mereka. 


"Jadinya kita cuman dirumah?" Tanya Jupiter.


"Mau bagaimana lagi. Mereka gak bisa di tinggal." 


"Kita bisa jalan berempat. Anggap saja kita punya anak kembar. Seru ya…"


"Apa kamu bilang? Seru? Kamu gak ingat barusan saja kamu gak bisa membuat Aksa berhenti menangis dan sekarang malah berencana mengajak mereka pergi. Oh,, tidak." Camelia bergidik ngeri membayangkan jika salah satu diantara anak itu kembali menangis di tempat keramaian. 


"Lucu ya kalau kita punya anak kembar. Rumah jadi lebih ramai." 


"Hah?"


"Aku jadi berharap memiliki anak kembar, yang lucu dan menggemaskan." Jupiter tersenyum sambil membayangkan dirinya memiliki dua anak kembar, sedangkan Camelia justru sebaliknya. 


Suara tawa dari dua anak itu tidak terdengar lagi, membuat Camelia dan Jupiter merasa penasaran dan takut jika mereka justru melakukan hal berbahaya. Jupiter dan Camelia segera mendekati kursi, ketempat dua anak itu berada, namun yang mereka temukan justru kedua anak itu sudah terlelap tidur dan tidak tertinggal juga Jupi si kucing gembul penyebab kegaduhan yang ikut meringkuk di antara kedua anak itu. 


Merasa gemas dengan pemandangan yang mereka lihat, Camelia segera mengambil ponsel miliknya dan memotret gambar mereka bertiga.


"Lucu ya,,," Camelia menunjukan hasil jepretannya pada Jupiter.


"Mmm, semoga saja mereka berjodoh." 


"Aku mau simpan foto mereka berdua dan akan memberikan kepada salah satu di antara mereka,jika suatu hari mereka memang benar-benar berjodoh." 


"Itu mustahil, sayang." Ucap Jupiter sambil mengelus rambut Camelia dan menghirup aroma harum dari rambut Camelia. 


"Jodoh tidak ada yang tau. Jika Tuhan sudah berkehendak, yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Contohnya kita," balas Camelia.


"Aku tidak tahu rencana Tuhan untuk hubungan kita, yang aku tahu, aku sayang sama kamu." Jupiter mencium pipi Camelia. 


"Ih,,, jangan cium-cium ada ada anak kecil." Camelia mendorong tubuh Jupiter menjauh, sebelum lelaki itu mencium bagian wajahnya yang lain.


"Kenapa? Elea saja tadi cium Aksa." Protes Jupiter. 


"Apa kamu takut habis bedak satu toples lagi?" Goda Jupiter, sambil menaikan sebelah alisnya. 


Camelia hanya menatap horor lelaki yang kini lebih sering menggodanya itu, dan segera berjalan menjauhi Jupiter.


"Aku bisa beliin kamu bedak yang banyak. Bahkan aku bisa beli sekalian sama pabriknya."  Jupiter tidak akan membiarkan Camelia lolos begitu saja, ia segera mengikuti kemanapun langkah Camelia. 


"Sayang,,,,,"


"Kamu kenapa sih," 


"Aku bisa beliin bedak yang banyak." Goda Jupiter, menaik turunkan kedua alisnya. 


Camelia tidak menghiraukan godaan Jupiter ia segera pergi ke dapur untuk memeriksa persediaan makanan, karena sebentar lagi jam makan siang. Sedangkan ia tidak mungkin meninggalkan kedua anak kecil itu di dalam rumah. Dan pada akhirnya ia memilih untuk memasak.  


"Kamu beneran gak mau beli bedak?" 


"Astaga, Jupiter. Kamu tahu ini wajan panas?" Camelia menunjuk wajan yang sudah berisi air mendidih karena ia berencana memasak pasta.


"Aku tahu, itu wajan dan panas. Aku cuman bertanya kenapa marah." 


"Kenapa bahas bedak terus dari tadi." 


Jupiter tersenyum, dan memeluk tubuh Camelia dari belakang.


"Aku suka melihatmu cemberut seperti itu, kamu tambah sexy." Ucapnya, dan Jupiter sengaja mengucapkan kata sexy tepat di telinga Camelia. 

__ADS_1


"Maaf sudah membuatmu menjadi bahan olok-olokan Febian. Aku janji gak akan melakukannya lagi,,, kecuali di tempat yang tidak bisa di lihat Febian." 


"Awwww!!" Jupiter mengaduh kesakitan begitu Camelia mencubit tangannya dengan keras. 


__ADS_2