
Dan disinilah mereka sekarang, di pantai kuta bali, salah satu pantai terindah di negeri ini. Meskipun sepanjang perjalanan Jupiter mendapatkan protes dari Camelia karena ternyata lelaki itu benar-benar menculiknya. Tanpa membiarkan Camelia memiliki pilihan lain selain mengikuti kemauan Jupiter.
"Kamu gak laper?" Tanya Jupiter ketika kini mereka berada di salah satu teras sebuah resort yang Jupiter sewa. Hany Jupiter yang menyantap makanan yang berjejer rapi di meja, sedangkan perempuan yang masih dalam mode marah itu, hanya fokus pada layar ponselnya saja dengan bibir yang masih mengerucut.
Jupiter sengaja menyewa sebuah resort yang cukup luas untuk mereka tempati. Resort tersebut memiliki dua kamar dan beberapa fasilitas pendukung lainnya. Pemandangan yang bisa terlihat dari resort sangatlah indah, karena resort langsung menghadap ke laut dengan ventilasi yang sangat bagus.
"Kara,,,," panggil Jupiter, namun Camelia masih tidak bergeming sedikitpun. Ia masih asyik memainkan ponselnya, meski ia sebenarnya ia hanya memainkan beberapa aplikasi game online, tanpa minat.
"Sayang,,," kini panggilan nama berubah menjadi panggilan sayang, namun Camelia masih saja diam. Merasa ia sudah melakukan kesalahan, akhirnya Jupiter berdiri dari tempat duduknya dan mendekati kursi yang ditempati Camelia.
Jupiter duduk dengan satu lutut menjadi tumpuan, disebelah Camelia.
"Aku tahu kamu marah. Aku minta maaf ya, aku memaksa kamu datang kesini tanpa persetujuan dari kamu terlebih dahulu. Aku hanya ingin kemanapun kamu pergi, aku bisa melihat kamu berada di dekatku. Aku minta maaf ya,,," Jupiter meraih satu tangan Camelia, hingga gadis itu akhirnya menoleh.
"Aku hanya ingin dilibatkan dalam setiap keputusan, apalagi itu menyangkut diriku." Kalimat pertama yang Camelia ucapkan setelah ia tiba di Bali.
"Kamu tidak bisa bertindak semau kamu sendiri, aku juga memiliki kehidupan sendiri dan kegiatan sendiri." Keluhnya.
"Aku sudah bertanya pada Febian, dan dia bilang kamu tidak ada kegiatan apapun selama tiga hari kedepan." Balas Jupiter.
"Kamu kira Febian itu ibuku? Yang serba tau semua kegiatanku?!"
"Karena tidak ada lagi orang yang bisa aku tanya selain dia."
Camelia menghela nafas kesal, meskipun ia tidak memiliki jadwal apapun selama tiga hari kedepan, ia tetap saja merasa kesal karena ternyata Febian dan juga Jupiter sudah merencanakan liburan dadakan ini.
Sebenarnya dadakan untuk Camelia, tapi tidak untuk Jupiter. Karena lelaki itu ternyata sudah menyiapkan segala kebutuhannya dengan sangat lengkap. Camelia kira ia akan kesulitan mencari berbagai keperluan yang seharusnya ia bawa, namun di luar dugaan Jupiter justru sudah menyiapkannya. Membuat Camelia sedikit bisa meredam amarahnya.
"Makan dulu ya, abis itu aku mau ajak kamu jalan-jalan sore, lihat matahari terbenam."
Awalnya Camelia akan melakukan aksi mogok makan, namun melihat hidangan khas bali yang begitu menggairahkan membuat ia tidak bisa menolak. Sebenarnya sejak Jupiter makan, ia sudah menahan mati-matian perutnya yang terus bergejolak minta diisi, namun karena gengsi dan masih dalam mode marah, akhirnya ia hanya bisa mengalihkan pikirannya dengan bermain game online.
Setelah Jupiter beranjak dari teras, meninggalkan Camelia dengan berbagai hidangan yang masih utuh, tidak lagi disia-siakan oleh Camelia. Ia segera menyantap hidangan yang begitu menggiurkan. Sementara Jupiter hanya bisa mengulum senyum, melihat kekasihnya yang terlihat begitu kelaparan.
Berjalan-jalan disekitar pantai dengan semilir angin yang menerpa wajah membuat Camelia dan juga Jupiter sama-sama terhanyut dalam keindahan pantai kuta Bali. Mereka akhirnya berjalan santai setelah beberapa saat istirahat dan udara sudah tidak terlalu terik.
Mereka berjalan beriringan di pantai, dengan tangan yang saling bertautan. Setelah merasa cukup berjalan, kini mereka memutuskan untuk duduk di sebuah kursi yang letaknya tidak terlalu jauh dari bibir pantai.
"Indah bukan?" Tanya Jupiter, sambil mengelus punggung tangan Camelia.
"Mmmm, sangat indah."
"Kamu pernah kesini sebelumnya?"
"Tidak pernah. Ini pengalaman pertamaku."
"Kalau begitu aku akan sering mengajakmu kesini, kalau aku punya waktu libur."
"Aku tidak memiliki banyak waktu luang untuk sekedar bertamasya atau liburan." Ungkap Camelia, matanya memandang lurus hamparan lautan,dan ombak yang terus menerjang batu karang.
"Aku terlalu sibuk, sehingga tidak punya waktu untuk datang ke tempat seindah ini."
"Sekarang kamu punya waktu banyak, dan aku akan sering mengajakmu ke tempat-tempat yang indah." Camelia menatap sorot mata Jupiter dan tersenyum.
"Aku bisa menunggu, tapi terkadang Tuhan tidak mengijinkan." Benar ucapan Camelia, mereka bisa saling menunggu namun jika tuhan tidak mengijinkan pada akhirnya mereka tidak bisa memaksa.
Camelia mengenakan dress panjang selutut, dengan belahan sepanjang tali spaghetti yang memperlihatkan lekuk pundaknya yang putih. Namun bukan itu yang menjadi perhatian Jupiter, tapi sebuah tato bertuliskan Camelia tertulis memanjang di dekat tulang selangkanya.
Jupiter mengelus perlahan tato tersebut dengan ibu jarinya,
"Sejak kapan kamu membuatnya?"
"Sejak aku mengganti namaku," balas Camelia.
__ADS_1
"Sakit?"
"Tidak, sakitnya tidak seberapa dibandingkan kehidupanku."
"Apa yang terjadi, apa saja yang tidak aku tahu tentang dirimu?" Camelia tersenyum simpul mendengar pertanyaan Jupiter.
"Kenapa kamu baru bertanya sekarang? Apa kamu baru mendengar sesuatu yang buruk tentangku?" Camelia justru balik bertanya.
"Tidak. Aku hanya ingin tau, langsung darimu."
"Semua yang kamu dengar tentang diriku memang benar, aku tidak perlu menjelaskan satu persatu, karena tanpa aku bicara pun semua orang pasti sudah bercerita."
Camelia bisa melihat seulas kecewa dari wajah Jupiter,
"Sekarang hanya kamu yang tahu bagaimana kita kedepannya. Karena ku yakin kamu pasti mengerti kondisiku, meski kamu tidak tahu alasan apa yang membuat aku seperti itu."
"Apa kamu pernah tidur dengan seseorang?" Sebenarnya Jupiter tidak ingin mengutarakan rasa penasarannya, hanya saja menurutnya lebih baik ia tahu dari sekarang, daripada ia harus tau kemudian hari.
"Apa kamu keberatan jika aku sudah tidak perawan?"
"Tentu saja tidak. Aku hanya bertanya."
"Baiklah. Kalau kamu ingin tahu. Aku hanya melakukan itu dengan orang yang aku cintai, jadi tidak semua lelaki bisa tidur denganku, apalagi jika aku tidak mencintainya." Jawaban Camelia sedikit membuat hati Jupiter terusik, karena selama ini ia berharap jika Camelia tidak pernah mencintai lelaki lain, selain dirinya. Namun ternyata dugaannya salah.
Jupiter tidak ingin meneruskan lagi pembicaraan yang semakin membuat hatinya merasa tidak nyaman. Bahkan sebelum melihat matahari terbenam, Jupiter terlebih dulu mengajak Camelia pulang.
Camelia menyadari kekecewaan Jupiter, ia pun bisa memaklumi jika kini Jupiter berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya, namun Camelia tidak ingin menyakinkan Jupiter terlalu jauh, karena ia yakin dengan Jupiter tahu keadaanya, lelaki itu bisa berpikir berulang kali untuk menikahinya.
Menjelang malam harinya, Jupiter menyerahkan sebuah gaun cantik berwarna merah namun, dengan model yang lebih sopan, tapi tidak mengurangi kesan sexy ketika memakainya. Hanya saja gaun itu tidak memperlihatkan tubuh bagian atas Camelia, gaun itu hanya membungkus tubuhnya dengan sangat indah.
Jupiter tidak memberitahu kemana mereka akan pergi, namun Jupiter memintanya untuk segera bersiap-siap karena mereka akan pergi jam delapan malam.
Selesai merias diri, Camelia beranjak dari kamarnya karena Jupiter sudah menunggunya. Penampilan lelaki itu tidak kalah menawan. Jupiter mengenakan setelan jas berwarna hitam, dengan tatanan rambut yang begitu rapi, menambah lesan dewasa dan elegan. Siapapun yang melihatnya pasti akan langsung terpesona dengan ketampanan Jupiter. Pantas saja Nadira bisa jatuh cinta padanya, karena Jupiter memang begitu sangat mempesona dan tampan.
"Kita mau kemana?" Tanya Camelia
"Kita akan menghadiri undangan salah satu rekan bisnisku, dia baru saja meresmikan pembangunan resort terbarunya di daerah ini."
"Kamu yakin ingin membawaku ke acara penting seperti itu. Salah satu dari mereka pasti ada yang mengenaliku." Tanya Camelia sambil merapikan dasi yang dikenakan Jupiter.
"Aku sengaja membawamu, karena aku ingin menunjukan pada mereka jika mulai saat ini kamu milikku." Balas Jupiter sambil mengecup singkat bibir Camelia yang sudah diberi warna.
"Kamu merusak riasanku," Camelia mengusap lembut bibir Jupiter yang terdapat noda lipstik akibat ciuman singkatnya.
"Bahkan aku ingin merusak gaunmu." Bisik Jupiter persisi di telinganya.
"Mesum!!" Mereka berdua tertawa, sebelum akhirnya mereka pergi menggunakan mobil yang sudah disiapkan Jupiter.
Acara yang diselenggarakan cukup mewah, dan ramai. Bahkan acara tersebut diadakan di salah satu hotel berbintang, dan dihadiri banyak sekali tamu undangan.
Camelia hanya bisa menghela nafas lega setiap kali ia tidak menemukan orang yang di kenalinya, dan berharap tidak ada satupun orang yang mengenalnya.
"Aku mau ke toilet sebentar," Camelia merasa harus merapikan riasannya dan memilih pergi ke toilet.
"Jangan terlalu lama."
Setelah mendapat izin dari Jupiter, Camelia pun pergi mencari toilet, dan tidak butuh waktu lama baginya untuk merapikan riasan di wajahnya. Meskipun riasannya tampak baik-baik saja, ia hanya ingin mengulur waktu agar tidak terlalu lama berada di acara tersebut, dan beralasan ke toilet merupakan cara yang tepat untuk mengulur waktu.
Berlama-lama di toilet, hampir lima belas menit membuat Camelia akhirnya memilih untuk keluar. Ia tidak mungkin terus duduk di salah satu bilik, hanya untuk terus menerus mengukur waktu, dan bisa saja Jupiter menyusulnya karena ia sudah terlalu lama.
Camelia kembali berjalan menyusuri kerumunan para tamu undangan lainnya. Matanya menyusuri setiap sudut, mencari keberadaan Jupiter. Bibirnya tersenyum tatkala ia melihat Jupiter tengah berbincang-bincang dengan seseorang. Camelia tidak begitu mengenali siapa yang tengah berbicara dengan Jupiter, hanya saja keduanya tampak begitu akrab dan sudah saling mengenal.
Jupiter menyadari kehadiran Camelia, ia pun melambaikan tangannya pada Camelia. Entah apa yang ia bisikan pada lelaki yang hanya terlihat punggungnya itu, namun beberapa detik berikutnya si lelaki berjas abu-abu itu membalikan tubuhnya menghadap Camelia.
__ADS_1
Mata Camelia seakan loncat dari tempatnya begitu ia mengenali lelaki yang berada di samping Jupiter. Sekilas pandangan mereka bertemu, namun sebelum lelaki itu menyadari kehadirannya Camelia segera berbalik membuang muka dan berjalan tergesa-gesa keluar dari acara tersebut.
Camelia tidak lagi menghiraukan Jupiter, ia segera mencari taksi dan memilih pulang ke resor, tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Jupiter.
Camelia tidak mungkin salah mengenali, itu Edward. Dan bagaimana bisa mereka saling mengenal, Camelia hampir saja melupakan jika Jupiter merupakan salah satu pengusaha sukses, dan Edward pun sama. Kalangan dunia bisnis terkadang memang begitu sempit, bisa saja mereka saling mengenal satu sama lain meski mereka dari kota atau daerah berbeda sekalipun.
Menjadi masalah besar jika ternyata Edward adalah tan baik Jupiter. Dan akan semakin menjadi masalah jika tadi Edward sempat mengenali wajah Camelia.
Sesampainya di resort,Camelia segera memasuki kamar, tanpa mengganti pakaiannya terlebih dulu ia segera menenggelamkan dirinya di dalam selimut.
Sementara itu, Jupiter yang melihat Camelia pergi begitu saja, langsung mengejar dan meninggalkan Edward yang masih berdiri mematung memperhatikan kepergian Jupiter
Namun tanpa Jupiter sadari Edward justru menyeringai melihat kedua orang yang sangat ia kenali itu pergi.
Jupiter melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, sehingga ia tidak memerlukan waktu lama hingga akhirnya ia sampai di resort. Jupiter segera mencari keberadaan Camelia, ia tahu jika wanita itu pasti tidak baik-baik saja.
Camelia tidak ada di ruang utama dan dapur, mata Jupiter segera menuju kamar. Begitu ia membuka pintu kamar yang tidak dikunci, Jupiter melihat Camelia tengah meringkuk di atas kasur, dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Kara,,, kamu baik-baik saja?" Jupiter segera menghampiri dan duduk di pinggiran tempat tidur. Camelia tidak menjawab pertanyaan Jupiter, ia mencoba membuka selimut yang menutupi tubuh Camelia, namun ternyata Camelia justru menahannya.
"Sayang,,,," Jupiter tidak lagi menarik selimut yang menutupi tubuh Camelia. Namun tubuh Camelia nampak bergetar, dan Jupiter sadar Camelia pasti menangis.
"Maaf, aku membawamu ketempat yang mengingatkan dengan kenangan buruk." Jupiter beranggapan jika Camelia pasti kembali mengingat kejadian buruk yang menimpanya. Atau mungkin gadis itu melihat salah satu orang yang pernah menjadi bagian kelam dalam hidupnya.
Camelia tidak menjawab untuk membantah ataupun membenarkan dugaan Jupiter, ia hanya bisa menangis untuk meredam rasa takutnya.
Jupiter tidak ingin memaksa jika Camelia tidak ingin membagi kesedihannya, karena Jupiter tahu butuh keberanian yang besar untuk menceritakan segala keburukan yang pernah kita lakukan. Jupiter tidak ingin pada akhirnya ia justru menghakimi Camelia, tanpa tahu sebenarnya yang terjadi.
Jupiter memilih ikut bergabung dengan Camelia, ia memeluk tubuh Camelia yang masih bergetar, dari balik selimut yang di dikenakannya.
Jupiter memeluk dan mengelus tubuh Camelia dengan perlahan, hingga tangis nya berhenti. Perlahan Camelia membuka selimut yang menutupi tubuhnya hingga memperlihatkan kepalanya.
Jupiter tersenyum menatap wajah Camelia yang sudah basah dengan air mata. Bahkan riasan yang memoles wajahnya kini sudah tidak berbentuk lagi. Jupiter mengusap perlahan sisa air mata yang masih menempel di pipi Camelia,
"Jangan nangis, riasannya luntur." Hibur Jupiter yang masih mengelap pipi Camelia dengan ujung kemeja yang dikenakannya.
"Kamu mirip zombie kalau kaya gini. Tapi kamu zombie tercantik yang pernah aku lihat." Goda Jupiter.
"Apa aku tampak kurang meyakinkan bisa melindungimu, sampai kamu melarikan diri seperti itu?" Camelia tidak menjawab pertanyaan Jupiter, ia hanya menatap wajah Jupiter tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Dalam kondisi seperti ini Camelia merasa benar-benar terjebak dan kembali dihadapkan dalam dua pilihan. Ia yakin Edward tidak akan tinggal diam, jika sampai lelaki itu tahu kini Camelia tengah menjalin dekat dengan salah satu rekan bisnisnya. Bisa saja Edward kembali berbuat ulah dan akhirnya menghancurkan Jupiter, seperti ia menghancurkan Febian, dulu.
Camelia pasti merasa bersalah jika itu sampai terjadi,dan ia tidak akan pernah memaafkan dirinya jika sampai Edward melibatkan Jupiter.
Mungkin benar, Camelia bisa menunggu namun ternyata Tuhan tidak pernah memberikan restu untuk hidup bersama Jupiter.
"Kamu mau tidur dengan pakaian seperti ini?" Tanya Jupiter, membuyarkan lamunannya.
"Ganti baju dulu, setelah itu istirahat. Atau mau aku gantikan bajunya?" Jupiter masih saja berusaha menggodanya dengan celetukan jahil. Berharap Camelia mau tersenyum. Namun bibir Camelia masih terkatup rapat, tidak sedikit pun tergoda dengan celotehan jahilnya.
"Ya sudah kalau mau istirahat masih mengenakan gaun seperti itu, aku mau ganti baju. Rasanya terlalu sesak tidur mengenakan pakaian seperti ini." Jupiter hendak bangkit dari tempat tidur, namun tangannya terlebih dahulu ditarik Camelia hingga tubuhnya kembali berbaring.
Camelia menarik kepala Jupiter hingga berdekatan dengannya, bahkan kini jarak antara mereka hanya tinggal beberapa senti saja.
"Seperti ini saja dulu, tapi jangan merusak gaunku." Bisik Camelia tepat di depan wajah Jupiter.
Lelaki itu tersenyum, "aku sayang kamu." Ucapnya lalu melumat bibir manis Camelia.
__ADS_1