CAMELIA

CAMELIA
bagian 13


__ADS_3

Confused 13


Jupiter Alfian


"Woy,,. Bengong aja dari tadi." Seru Rian, tangannya menepuk pundakku.


Aku hanya bergumam begitu ketiga temanku datang, ditambah Ayu datang setelah mereka tiba beberapa menit.


"Mau turun? Kali ini ada Bimo,ngajak Lo tanding." Tawar josh


"Nggak. Males."


"Kenapa sih, dari tadi liatin hape terus?" Ayu merebut hape dari tanganku.


"Balikin!"


"Nggak. Lo dari tadi sibuk main hp."


"Balikin!" Aku merebut kasar hp dari tangan Ayu.


"Ga usah kasar juga kali." Bela Rian begitu tubuh ayu terhuyung akibat aku menarik paksa hp dari tangannya.


"Lo kenapa sih. Kaya cewe datang bulan, uring-uringan dari tadi pagi. Ngegas teruus." Goda Daniel. Aku masih tidak peduli, hanya layar ponsel yang masih jadi permasalahan saat ini.


Semenjak kejadian pagi itu, insiden menyebalkan yang berakhir dengan Kara memblokir kontak, membuatku tidak karuan, bahkan aku menulikan telinga ketika teman-temanku berbicara, rasanya ingin sekali aku mendatangi kelasnya dan membuka blokiran.


Seperti dugaanku Kara tidak akan muncul di kantin pas jam istirahat, aku sudah menduga akan hal itu. Tapi, untung saja aku melihat Nadira sedang antri membayar beberapa makanan dan aku yakin itu pasti untuk Kara. Meski aku tau Kara pasti akan menolak, aku tetap bersikeras membayar makanan yang dibeli Nadira. Untuk kali ini aku tidak mengikuti kemana perginya Nadira membawa makanan itu, aku takut jika aku kembali muncul tiba-tiba justru akan membuat Kara semakin membenciku.


Sulit sekali mendekati Kara, dari sekian banyak wanita yang tergila-gila ingin menjadi kekasihku, hanya dia yang terang-terangan menolak aku dekati. Meskipun aku berusaha bersikap baik, tapi Kara pasti langsung menunjukan sikap waspadanya ketika berdekatan denganku.


"Lo beneran ga mau turun?" Josh kembali menghampiriku.


"Nggak!".


"Akhir-akhir ini kenapa lo aneh banget sih. Lagi berantem sama si Ayu?"


"Nggak."


"Terus? Tiap kalau diajak nongkrong pasti nolak, di ajak turun nolak juga, padahal lawanny oke. Lo gak lagi banyak masalah kan?"


"Nggak."


"Gila ya, gue kaya lagi ngebacot sama cewek lagi ngambek. Jawabannya nggak,nggak,nggak mulu dari tadi."


"Gue lagi ga mood aja. Lo cerewet banget kaya si Ayu."


"Terserah lo." Gerutu Josh,


Hp berdering dan segera aku melihat panggilan, berharap panggilan dari Kara meski aku tau itu mustahil. Meski malas aku memencet tombol hijau,menerima panggilan masuk.


"Iya,Bu."


"Jupiter, kamu dimana? Kenapa belum pulang?!" Lengkingan suara Ibu terdengar nyaring dari seberang sana.


"Iya, ini lagi di jalan."


"Di jalan ko bisa angkat telpon?" Aku menghela.


"Lagi berhenti di_"


"Jupiter! Seru noh si Bimo trek lawan Rian. Lo ga mau nonton?" Seru David.


"Jupiter, itu suara siapa? Kamu di mana? Kamu bohong sama Ibu?"


Oh shit!


Segera aku memutus panggilan sepihak dari Ibu. Mematikan ponsel dan pura-pura kehabisan baterai adalah pilihan tepat saat ini. Aku beranjak keluar, melihat sekilas balapan antara Rian dan Bimo. Nampak beberapa orang tengah menyemangati Rian dan juga Bimo. Termasuk Ayu, yang begitu antusias mendukung Rian.

__ADS_1


"Ck,masih saja pintar berpura-pura." Gumamku.


"Gue balik ya?" Aku mendekati Josh, menepuk pundaknya.


"Kemana?"


"Ada acara keluarga." Jawabku sambil berjalan menuju motor.


"Ga mau nonton sampe habis dulu, tinggal dua putaran lagi." Josh mengikutiku hingga ke dekat parkiran motor.


"Ga perlu. Gue tau Bimo pasti menang." Balasku sambil mengenakan helm.


"Iya juga, tapi kan kita harus dukung Rian."


"Rian ga perlu dukungan dari gue. Noh udah ada pendukung setia nya." Aku menunjuk ke arah Ayu, Josh pun berbalik melihat ke arah Ayu.


"Ga usah pasang tampang so kaget gitu. Gue udah lama tau. Gue cabut ya, Ibu Negara bisa ngamuk kalau gue telat." Aku segera melajukan motor, menjauh dari arena menuju rumah.


Sebelum mendapat ceramah panjang kali lebar dari Ibu, aku segera berlari menuju kamar. Membersihkan diri dan mencari pakaian yang cocok untuk menghadiri acara. Tadi pagi Ibu sudah mewanti-wanti, jika malam ini tidak ada satu orang pun yang boleh pulang terlambat, karena harus menghadiri acara ulang tahun perkawinan rekan bisnis ayah di salah satu hotel ternama di daerah Mega Kuningan.


Aku tidak berniat pulang terlambat, hanya saja aku tidak perlu membutuhkan waktu banyak untuk bersiap-siap, tidak seperti Ibu dan Kak Dea yang memerlukan waktu hampir tiga jam untuk berdandan. Aku hanya butuh waktu setengah jam untuk mandi, ganti baju dan selesai.


Ibu yang sejak tadi mewanti-wanti agar aku siap tepat waktu, justru kini dia yang terakhir selesai.


"Jupiter sama Dea, satu mobil. Ayah,Ibu dan juga David di mobil lain." Perintah Ibu.


"Oke." Kali ini aku yang mengambil kemudi, karena malam ini Bang Faro tidak ikut serta di karenakan banyak tugas kuliah. Biasanya Bang Faro selalu di ajak Ibu dan diperkenalkan sebagai menantunya di depan teman-teman sosialita nya.


Perhelatan meriah yang lebih cocok disebut sebagai pesta super mewah kali ini merupakan pesta ulang tahun pernikahan seorang pemilik salah satu Rumah Sakit terbesar di negeri ini, Herman Rahadian. Ayah cukup mengenal baik salah satu keluarga kaya yang berasal dari Surabaya itu. Akupun pernah bertemu beberapa kali dengan keluarga konglomerat ini, terutama dengan anak nya yang kedua, yang berprofesi sebagai Dokter, bernama Revan Rahadian.


Sekilas berbasa-basi dengan pemilik acara, aku memilih duduk daripada harus bercakap-cakap masalah bisnis. Ibu dengan teman-temannya, Ka Dea dengan Ka Reva anak bontot dari keluarga Rahadian. Sedangkan Ayah tak kalah sibuk berbincang dengan teman-teman bisnisnya. Sedangkan aku hanya duduk berdua dengan David, aku sangat bersyukur kali ini tidak nampak keluarga Ayu ikut hadir.


"Dek, kakak haus. Ambil minum gih." Aku meminta David mengambil minuman tak jauh dari tempat duduknya.


"Ambil sendiri." David melengos, bahkan dia beranjak dari tempat duduknya meninggalkanku.


Dengan malas aku beranjak dari kursi,mendekati meja yang berisi berbagai minuman. Aku memilih lemon tea dan satu potong kecil cheesecake. Baru satu tegukan, tiba- tiba aku tersedak melihat seorang gadis memakai dress merah maroon, berjalan perlahan memasuki ruangan. Aku kesulitan meneguk ludah ku sendiri, dia amat sangat cantik, lebih cantik dari pertama kali bertemu malam itu.


Kulit putihnya begitu kontras dengan gaun merah yang dikenakannya, rambut hitamnya kini dicepol,menyisakan anak rambut yang dibiarkan begitu saja, kalung berbandul hati melingkar manis di lehernya menambah kesan elegan,dan mata bulatnya seakan menghipnotis siapapun yang melihatnya. Kara sungguh sangat cantik.


Kara datang dengan kedua orang tuanya, begitu Ayah Kara mendekati Ayahku, aku segera mendekat untuk memastikan kehadiranku pada Kara.


"Fathur, apa kabar."


"Baik." Kedua lelaki itu saling merangkul satu sama lain. Kara tersenyum dan ikut menyapa Ayahku, meski terlihat dipaksakan tapi kara berusaha bersikap baik di depanku, bahkan dia mau berbicara meski lebih sering dijawab dengan anggukan.


"Jeng Dahlia, apa kabar?" Tiba-tiba Ibu,Kak Dea dan David ikut bergabung.


"Baik, jeng Tati sendiri apa kabar?" Ibu dan Tante Dahlia saling berpelukan ala ibu-ibu.


"Ini siapa?" Tanya Ibu begitu mata nya menyadari kehadiran Kara.


"Ini Kara, anak saya satu-satunya."


"Kara, Tante," dengan canggung Kara menyalami Ibu.


"Kara? Bukankah dulu nama nya Camelia?"


"Nggak, mungkin salah dengar. Dari dulu nama nya Kara."


Ibu hanya mengangguk, tapi ada yang aneh dari cara Ibu menatap Kara.


"Ini perkenalkan anak-anak saya." Ibu memperkenalkan satu persatu anaknya termasuk aku.


Sementara para orang tua sibuk dengan kegiatannya, giliran para anak memisahkan diri, di ruangan yang lebih terbuka di dekat balkon. Pemandangan di sini jauh lebih menyenangkan, karena bisa melihat pemandangan luar.


"Ehem," Ka Dea berdehem, karena dari tadi aku,Kara,David dan juga Ka Dea hanya diam. Ngomong-ngomong Kara mau ikut bergabung denganku karena paksaan Kak Dea, meski awalnya menolak namun dengan jurus sejuta rayuan ala Ka Dea, akhirnya Kara mau bergabung, dan ingatkan aku untuk berterima kasih padanya nanti di rumah.

__ADS_1


"Nama kamu Kara?" Tanya ka Dea.


"Iya,Ka." Jawab Kara.


"Kita seperti nya pernah bertemu, tapi di mana ya?"


"Iya, di acara ulang tahunnya Kak Nadia."


"Oh iya,, kamu temannya Nadira ya?"


Kara mengangguk. Namun aku melihat senyum jahil terbit dari bibir Kak Dea. Pertanda buruk.


"Kara. Kara Kaisara bukan?"


"Iya,Kak." Mata Kak Dea langsung menyipit ke arahku, satu alisnya terangkat. Aku memberi isyarat agar dia tidak melanjutkan sesi kepo nya, namun Kak Dea tetaplah kakakku yang super ingin tahu segala hal.


"Oh, jadi ini Kara yang itu. Kamu tau kalau_"


"Ka Dea mau makan apa, yuk ambil makanan. Belum makam kan?" Buru-buru aku memotong kalimat Kak Dea dan segera menyeretnya menjauh, menuju tempat makanan.


"Apa sih, main tarik-tarik segala. Tau ga rambutku sampe berantakan." Gerutu Ka Dea.


"Ka, bisa nggak jangan bahas itu."


"Itu, apa maksud kamu. Kakak ga ngerti."


"Gak usah pura-pura gak tau," aku berdecak.


"Ah,, yang nungguin chat tempo hari?" Goda Kak Dea. Aku tidak menjawab, hanya menatap jengah,karena tak hentinya dia menggodaku.


"Please. Oke. Jangan buat aku mati gaya di depan Kara."


"Wahhh ternyata adikku sudah besar ya. Okelah kalau gitu. Kakak ga akan bahas apapun lagi." Kak Dea mengelus dan mengacak-acak rambutku.


"Balik lagi yu, kasian Kara di tinggal sama David. Dia pasti ga nyaman berdua sama bocah kecil."


"Tunggu,Kak." Aku menahan lengan Ka Dea, sebelum dia melangkah.


"Apa lagi?"


"Aku mau minta tolong. Tolong minta nomor Kara, soal nya aku di blokir." Satu detik kemudian tawa Ka Dea menggelegar nyaring, bahkan aku sampai membekap mulutnya, karena tak hentinya dia tertawa hingga matanya berair.


"Stop! Duhh,,Ka Dea bisa stop ga sih?!" Aku mulai kesal.


"Oke,oke. Aku stop ketawa." Namun itu hanya berlaku satu menit, setelahnya Kak Dea kembali tertawa.


"Kak!"


"Oke. Sorry. Gitu aja marah, kalau marah aku ga bakalan minta nomornya Kara, nih."


"Terserah!"


"Dih marah. Wahh, aku harus terimakasih nih sama Kara. Akhirnya bisa menjatuhkan harga diri adikku yang tampan ini." Aku tidak menggubris ucapan Ka Dea, aku hanya berjalan mendekati tempat Kara dan David berada.


Aku pikir Kara akan bosan berhadapan dengan anak kecil seperti David, tapi justru aku salah. Begitu aku mendekat,aku melihat Kara dan David tengah berbicara, bahkan sesekali mereka tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan, namun dari cara mereka berinteraksi sepertinya mereka membicarakan sesuatu yang sangat menarik.


"Ngomongin apa sih,kayaknya seru." Kak Dea berjalan mendahuluiku, di susuk olehku dari belakang.


"Kita lagi cerita aja." Jawab Kara.


"Apa? Kaya nya seru." Selidik Kak Dea.


"Aku bilang sama Ka Kara, kalau Ka jupiter nunggu balesan chat dari Ka Kara, sampe bengong liatin hp berjam-jam. Terus pas hp bunyi Kak Jupiter lari dari meja makan sambil bawa paha ayam, dikira itu panggilan dari Kak Kara, padahal dari Kak Riyan." Jelas David serinci itu.


Tiga orang di depanku langsung tertawa, hanya aku menghela nafas pasrah, mengusap wajahku berulang kali menahan kesal dan malu secara bersamaan.


Kak Dea dan David pasti puas membuatku malu di hadapan Kara. Mereka bahkan sampai melakukan high five, merayakan kemenangan karena berhasil membuatku tak berkutik. Mataku melirik ke arah Kara, tawa lepas yang tak pernah aku lihat sebelumnya.

__ADS_1


Mataku dan mata Kara bertemu, aku pikir Kara akan kembali bersikap acuh, namun dia justru semakin melebarkan senyumnya begitu melihatku. Ada sedikit perasaan lega menyeruak di hatiku, meski harus dengan cara memalukan, tapi pada akhirnya aku bisa melihatnya tersenyum bahkan tertawa. Itu suatu kemajuan. Dan mulai hari ini aku putuskan ingin selalu melihat Kara tersenyum dan tertawa seperti malam ini.


__ADS_2