
Jupiter bisa bernafas lega, setelah ia mengantarkan Nadira sampai di rumahnya dengan selamat. Meski harus menyakiti gadis itu, tapi ini harus tetap ia lakukan. Dan Sebagai langkah awal untuk menyelesaikan masalahnya, Jupiter memilih untuk berbicara terlebih dahulu dengan Madira. Meski gadis itu menangis dan pasti merasa sakit hati, tapi Jupiter memang harus melakukan itu.
Diakhiri dengan sebuah ciuman perpisahan, Jupiter berharap Nadira benar-benar mengikhlaskan dirinya bahagia bersama Kara. Dan langkah selanjutnya yaitu ia akan berbicara dengan keluarga Nadira untuk memutuskan ikatan pertunangan mereka. Dan juga untuk kemungkinan orang tua Nadira memutuskan kerjasama antara perusahaan miliknya dan perusahaan milik Jupiter.
Namun waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, tapi Kara tidak kunjung membalas pesan darinya, membuat Jupiter gelisah dan terus memeriksa ponsel miliknya. Tidak sabar dengan hanya menunggu, akhirnya ia memutuskan untuk mengambil kunci mobil dan memilih untuk memastikan sendiri keadaan Kara.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke apartemen milik Kara, ia segera menuju unit tempat kara tinggal dan segera menekan tombol merah yang berada tidak jauh dari pintu. Tidak lama pintu segera terbuka, ternyata bukan Kara yang membuka pintu, melainkan Febian.
Febian menatap aneh pada sosok yang masih bersiri diambang pintu,
"Ngapain malem-malem kesini?" Tanya Febian dengan melipat kedua tangannya didada, bahkan satu alis Febian terangkat, seolah kedatangan Jupiter sesuatu yang aneh dan langka.
"Gue mau ketemu Camelia." Jawab Jupiter sambil melirik ke arah belakang Febian, berharap Camelia muncul.
"Lo kesini dengan penampilan kayak gini?" Tanya Febian sambil memperhatikan penampilan Jupiter dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Jupiter merasa tidak ada yang salah dengan penampilannya, namun begitu ia memeriksa sendiri penampilannya ia terkejut karena ia hanya menggunakan celana bahan pendek sebatas lutut, dan mengenakan sandal rumah.
"Astaga!" Jupiter begitu terkejut melihat penampilannya sendiri, ia segera menerobos masuk kedalam rumah Febian, namun seakan menyukai tontonan yang jarang sekali ia lihat, Febian justru menghadang Jupiter, sehingga ia tidak bisa dengan mudah masuk kedalam rumah.
"Feb, please. Gue malu banget." Pinta Jupiter, ia tidak menyadari tatapan aneh dari orang yang dijumpainya, ternyata mereka memperhatikannya karena ia mengenakan celana tidur, sedangkan ia masih mondar mandir berkeliaran di sekitar apartemen mewah milik Camelia.
Febian masih menikmati wajah memohon Jupiter, bahkan ia sengaja membiarkan Jupiter menahan malu.
"Siapa Feb," suara Camelia terdengar dari belakang Febian.
"Gue lagi lihat pemandangan langka." Jawab Febian.
Merasa penasaran dengan apa yang dilihat Febian, Camelia pun melongok mengintip dari celah pintu yang terhalang tubuh tinggi Febian,
"Astaga!" Camelia pun tidak kalah terkejutnya melihat penampilan Jupiter, namun detik berikutnya Camelia justru tertawa terbahak-bahak, bahkan ia sampai berjongkok, menahan perutnya yang terasa begitu sakit karena terlalu kencang menertawakan penampilan Jupiter.
Masih tersenyum-senyum sendiri, kini Camelia, Febian dan Juga Jupiter sudah berada didalam rumah. Setelah Jupiter memohon dengan wajah memelas, akhirnya Febian mengizinkannya masuk. Ternyata kehadiran Camelia tidak membantunya sama sekali, ia justru tertawa paling keras dan tidak hentinya memegangi perutnya.
"Pemandangan langka bukan, seorang Jupiter Alfian berpenampilan mirip seperti cecep. Celana pendek tipis, sandal tidur, bahkan rambut lepek." Ledek Febian.
Jupiter hanya mendengus kesal, karena menurutnya Febian terlalu berlebihan. Dibalik penampilannya yang selalu sempurna, berbalut jas mahal dan tatanan rambut yang selalu rapi, Jupiter juga manusia biasa, ia pun ingin berpenampilan apa adanya, tanpa harus selalu memakai pakaian yang selalu membuatnya sulit bergerak, dan dasi yang terasa begitu mencekiknya. Dan berpakaian seperti ini, celana pendek, kaos longgar dan sendal jepit, adalah pakain ternyaman yang paling ia sukai.
"Lo gak malu pas tadi di bawah, ketemu beberapa resepsionis perempuan?" Seakan tidak puas, Febian masih menggoda Jupiter.
"Ya jelas gue malu lah! Ngapain juga lo masih nanya!"
"Gue kira urat malu lo, udah putus."
"Tapi kamu gak malu kan liat penampilan aku kaya gini, kamu harus mulai membiasakan diri melihat penampilanku yang apa adanya seperti ini, bahkan nanti kamu bakal lihat penampilan aku yang paling sexy,," goda Jupiter pada Camelia sambil merangkul leher gadis itu. Lelucon Jupiter sukses membuat Camelia malu, dan wajahnya bersemu merah.
"Apaan sih!" Elak Camelia sambil mencubit pinggang Jupiter.
Tapi Jupiter tidak merasa kesakitan sama sekali, justru ia malah mencium gemas kening Camelia.
__ADS_1
Sontak Febian berdehem, untuk menghentikan kekonyolan dua manusia di hadapannya itu.
"Kalau mau mesra-mesraan tuh, liat sikon. Jangan depan mata gue!" Febian berdecak sambil berdiri dari kursi meninggalkan Camelia dan Jupiter.
"Makanya cari pacar, jangan kelamaan jomblo." Kini Jupiter balik meledek Febian.
"Dia udah punya pacar," jelas Camelia, agar Febian tidak menjadi bulan-bulanan Jupiter.
"Oya?"
Samar-samar Febian tidak lagi mendengar pembicaraan antara Jupiter dan Camelia. Ia memilih menulikan telinga dengan menggunakan earphone di telinganya. Suara dentuman musik yang seakan merobek gendang telinganya, tidak lagi Febian pedulikan, ia lebih memilih gendang telinganya rusak, daripada ia harus mendengar pembicaraan mesra antara mereka berdua.
Padahal baru satu jam yang lalu Camelia menangisi kepergian Jupiter dengan Nadira, tapi begitu lelaki itu datang, seakan kesedihan Camelia sirna begitu saja. Membuat Febian semakin yakin, peran Jupiter sangatlah besar bagi kehidupan Camelia. Semua resah dan kesedihannya hilang begitu saja, setelah Jupiter datang. Luar biasa sekali bukan.
Febian hanya bisa tersenyum miris, menahan desakan perih yang terus menyayat hatinya.
Sementara itu Jupiter dan Camelia masih duduk di kursi depan televisi, "kenapa gak balas pesanku?" Tanya Jupiter sambil menarik pinggang Camelia, agar tubuh mereka menempel sempurna.
"Mungkin aku lagi mandi." Jawab Camelia.
"Bohong." Kini satu tangan Jupiter mengelus pipi Camelia dan menyelipkan anak rambut yang berhamburan di wajah Camelia.
"Mata kamu bengkak. Gak usah bohong."
Camelia segera memeriksa kelopak matanya yang masih terasa panas, akibat tangisnya tadi.
"Tadi aku ngetawain kamu sampai nangis," kilah Camelia.
"Aku sangat berterimakasih karena kamu tidak jadi ikut pulang bareng aku." Camelia mengerutkan keningnya, tidak mengerti.
"Karena akhirnya aku dan Nadira bisa bicara secara baik-baik. Dan aku bersyukur banget,Nadira mau mengerti dan dia setuju untuk mengakhiri pertunangan kita."
"Benarkah?"
"Iya, dan aku hanya tinggal satu langkah lagi untuk menyelesaikan masalah ini. Besok aku akan menemui keluarga Nadira, dan membicarakan masalah ini. Yang terpenting adalah antara aku dan Nadira, kalau masalah orang tua dan saham perusahaan mereka yang berada di perusahaan milik ku, itu sudah aku urus. Jadi, bersabar sedikit lagi dan kita akan bersama selamanya."
Tangan Jupiter membingkai di wajah Camelia. Bukan hanya Jupiter yang merasa bahagia,namun Camelia pun akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah Jupiter mampu menyelesaikan masalahnya satu persatu. Kini hanya tinggal Camelia yang akan menyelesaikan masalahnya, untuk segera mengakhiri penantian panjangnya selama ini.
"Kita akan segera menikah setelah masalah ini benar-benar selesai. Dan kita akan tinggal di Singapur bersama ibumu. Kita tinggalkan negara ini,dan mulai hidup baru bersama disana. Mau?" Camelia hanya bisa mengangguk, begitu Jupiter mendaratkan ciuman di bibirnya.
Sementara itu di kediaman Nadira, setelah Jupiter mengantarnya hanya sampai depan rumah, Nadira segera masuk kedalam rumah dengan dua plastik hadiah untuk Aksa. Nadira berjalan perlahan menuju kamarnya, namun seakan tidak memiliki lagi tenaga untuk hanya sekedar berjalan, Nadira berjalan gontai dengan tenaga sisa yang ia miliki.
Setelah ia sampai di depan kamar, dan membuka pintu, ia segera melempar mainan yang dibawanya, dan segera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Untuk kedua
kalinya ia kembali menangisi kisah cintanya yang harus berakhir menyedihkan. Nadira menyembunyikan wajahnya dengan menutupnya dengan selimut tebal, agar isak tangisnya bisa teredam. Namun, tetap saja rintih memilukan itu terdengar dari balik pintu yang tidak sempat ia tutup sebelum masuk kamar.
Nadia masih memperhatikan adiknya dari balik pintu. Nadia masih diam, tidak melakukan apapun, ia masih melihat kesedihan yang dialami adiknya itu. Meskipun Nadira tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya, tapi Nadia tahu apa yang terjadi dan ini pasti ada hubungannya dengan Jupiter. Tidak ada hal lain yang bisa membuat Nadira begitu terlihat menderita, selain karena Jupiter. Dan hari ini Jupiter telah membuktikannya sendiri, jika ia memang masih mencintai Kara. Dan sialnya Nadira justru melihat kemesraan antara Jupiter dan Kara.
__ADS_1
Seharusnya Nadira tidak pernah tahu hubungan antara Jupiter dan Kara, seharusnya Nadia menyelesaikan rencanaya sebelum Nadira tahu, namun sekarang sudah terlambat, dan sudah saat nya Nadia untuk bertindak.
Diam-diam Nadira menghubungi seseorang dan memintanya untuk bertemu di jam makan siang, besok.
Setelah menghubungi orang itu, Nadira segera menghampiri adiknya yang masih terisak didalam kamarnya.
Ia duduk di sebelah tubuh Nadira yang masih telungkup sambil memeluk bantal. Perlahan Nadia mengusap punggung Nadira dengan perlahan.
"Ini terakhir kalinya kamu menangisi Jupiter. Setelah ini kakak akan membuat kalian terikat dalam sebuah tali pernikahan." Nadira segera menggeser tubuhnya, dan memilih duduk bersama kakaknya.
"Aku tidak ingin menyakiti Kara. Bagaimanapun juga dia adalah teman baikku."
"Dia memang temanmu, tapi dulu. Sekarang kalian sudah berbeda, dan asal kamu tahu, Kara bukan perempuan baik-baik seperti dulu. Dia sekarang berprofesi sebagai wanita penghibur."
"Apa?! Itu tidak mungkin kak, aku sangat mengenalnya dengan baik."
"Kamu terlalu naif, kamu tidak tahu bagaimana sepak terjang Kara bisa sampai sekarang ini. Dia melakukan banyak cara untuk bisa sampai sekarang, salah satunya dia menyediakan jasa privat servis yang sering jajakan pada para pengusaha. Dan mungkin saja Jupiter tidak tahu akan hal itu."
Nadira tidak percaya dengan apa yang ia dengar, ia mengenal Kara dengan baik. Meskipun mereka berpisah selama beberapa tahun, tapi ia yakin Kara tidak mungkin melakukan hal itu.
"Itu tidak mungkin, kak?"
"Bahkan Kara sempat masuk penjara, dengan kasus pembunuhan."
"Apa?!"
"Apa kamu akan merelakan Jupiter menikahi wanita seperti itu. Meskipun Jupiter mencintai Kara, tapi Jupiter pasti sedang menghancurkan dirinya sendiri jika ia masih nekat menikahi Kara. Dan kakak yakin kamu pasti tidak ingin hal itu terjadi, iya kan?" Nadira hanya diam, ia masih bingung dengan apa yang baru saja ia dengar dari Nadia, namun ia juga tidak tega jika harus membiarkan Jupiter hancur karena ia tetap nekat menikahi Kara.
"Kalau kamu tidak percaya dengan ucapan kakak, kamu bisa ikut kakak besok menemui seseorang yang sudah sangat mengenal siapa Kara sebenarnya. Kakak tidak mungkin membohongimu, karena kakak tidak mungkin menjerumuskan adik sendiri. Sebelum masalah ini semakin rumit dan sulit dikendalikan, lebih baik kita bergerak dari sekarang." Nadia mencoba meyakinkan sang adik agar Nadira percaya padanya.
"Sekarang kamu istirahat. Dan kita akan bertemu orang itu besok, jam makan siang." Nadia mengelus puncak kepala Nadira dan keluar kamar.
Begitu pintu tertutup ia segera meraih ponsel dari kantong celana yang ia kenakan.
"Besok adikku ingin bertemu denganmu, pastikan untuk menyakinkan dia, jika Kara memang bukan gadis baik-baik. Dia terlalu berbaik hati, dan aku tidak akan membiarkan adikku menderita. Dan akan aku pastikan Jupiter menikah dengan adikku."
Entah apa yang dibicarakan orang di seberang sana, karena Nadia hanya tersenyum licik begitu lelaki itu mengusulkan sebuah ide padanya.
"Aku tidak peduli rencana apa yang akan kamu pakai. Yang aku mau hanya, buat Jupiter membenci Kara dan menganggap jika wanita itu benar-benar seorang wanita murahan."
Nadia menyeringai penuh kebencian, namun ia tidak menyadari jika Nadira pun masih mendengarkan pembicaraannya dengan seseorang yang tidak diketahui. Nadira hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, agar suaranya tidak didengar Nadia. Ia tidak menyangka kakaknya memiliki niat sejahat itu, hanya karena ia ingin melihat Nadira menikah dengan Jupiter, Nadia tega menyakiti siapapun yang menghalangi.
Nadira memang sangat menginginkan pernikahannya dengan Jupiter tetap berjalan seperti yang sudah direncanakannya. Tapi, jika pernikahan itu hanya karena sebuah paksaan, Nadira tidak ingin melanjutkannya dan berniat membiarkan Jupiter menikah dengan wanita yang dicintainya.
Tapi, begitu ia mendengar cerita dari Nadia, hatinya kembali ragu. Bahkan kini Nadira merasa berada di sebuah persimpangan yang membuatnya harus memilih, antara tetap berusaha memiliki Jupiter, atau justru membiarkan Jupiter memilih jalannya sendiri.
Nadira sangat mengerti konsekuensi yang akan dihadapi Jupiter. Selain kebangkrutan yang akan ia rasakan, tapi juga ia akan dikucilkan setiap orang, karena menikahi perempuan murahan.
__ADS_1
Haruskah Nadira menyelamatkan Jupiter dan mencegah pernikahannya dengan Kara, atau Nadira hanya perlu berpura-pura tidak peduli dan membiarkan Jupiter menikahi Kara, meski setelah itu Jupiter dipastikan akan hancur.
Pilihan sulit yang harus Nadira pilih, namun ia tetap harus memilih salah satu. Tapi sebelum memutuskan, Nadira akan menyelidikinya terlebih dahulu, mungkin saja informasi yang diterima kakaknya adalah informasi salah, dan sebenarnya Kara masih menjadi wanita baik-baik. Tapi jika Kara memang wanita seperti yang diceritakan kakaknya, Nadira tidak akan membiarkan Kara menikah dengan Jupiter dan ia akan mencegah itu terjadi. Kali ini Nadira harus membuktikannya terlebih dahulu, sebelum ia bertindak, agar tidak menyakiti siapapun.