
Confused 19
Jupiter masih menghentak-hentakan kakinya di lantai, mondar mandir gelisah.
"Bisa duduk gak sih! Aku pusing lihat kamu bolak balik kayak gosokan!" Dea menegur adiknya, mondar mandir gelisah, semenjak mereka tiba di villa bogor sesuai rencana mereka tempo hari.
"Kak Dea bilang Kara ikut, tapi justru Ayu yang ikut." Jupiter melirik tajam Dea yang tengah asyik memainkan ponselnya.
Dea menaruh ponselnya di meja, menghela lemah menatap adiknya yang berubah cerewet akhir-akhir ini.
"Kamu cerewet banget sih! kakak ga bilang dia beneran ikut. Kamu aja yang udah kepedean." Decak Dea.
Jupiter menatap tidak percaya dengan ucapan kakak nya, jadi ternyata dia hanya dikerjai? Sedangkan Dea hanya mengangkat bahu cuek, menanggapi tatapan kesal adiknya.
Beberapa orang masuk diantaranya teman-teman Dea,ada beberapa yang sudah dikenali Jupiter, selebihnya Jupiter baru melihat atau mungkin itu teman baru kakaknya. Jupiter sadar betul pergaulan kakak nya itu, Dea pandai bergaul dengan siapapun, jadi tidak heran Dea memiliki banyak teman.
Untungnya villa yang ditempati cukup luas. Jupiter memilih mengasingkan diri naik ke lantai dua,melihat pemandangan hijau dari depan balkon.
Bosan, itu yang dirasakan Jupiter saat ini, daripada membuang waktu dia memilih merapikan kembali barang bawaan ke dalam ransel,berniat kembali ke Jakarta. Jika bukan karena Kara, dia tidak mungkin mengikuti ajakan kakaknya hingga ke Bogor.
Jupiter bergegas turun setelah semua barang-barang dikemas, satu persatu dia menuruni anak tangga, matanya masih memperhatikan kerumunan orang orang yang makin banyak saja.
"Mau kemana kamu?" Seru Dea, begitu melihat adiknya menenteng ransel, turun dari lantai dua.
"Kamu mau balik?" Tanya Dea lagi,
"Sayang banget mau balik, padahal Kara baru aja sampe." Dea menunjuk seseorang yang berada di antara kerumunan teman-temannya yang lain.
Jupiter penasaran,begitu dia menengok memperhatikan satu-persatu orang yang hadir. Jupiter melihat Nadira tersenyum ke arahnya, dan ada seorang perempuan persis duduk di samping Nadira,menunduk menyembunyikan wajahnya.
Begitu dia mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Jupiter, senyum mengembang dari bibirnya membuat Jupiter diam terpaku, antara percaya dan tidak dengan apa yang dilihatnya.
"Yakin mau balik?" Goda Dea, tersenyum miring melihat adiknya yang masih lekat menatap Kara.
"Siapa yang mau balik,aku cuman mau pindah kamar. Di atas gak bagus pemandangannya." Jelas saja Jupiter berbohong, karena sudah pasti kamar diatas jauh lebih bagus karena balkon kamar langsung menghadap taman dan pepohonan hijau.
Dea dan juga Ayu menyelesaikan fhoto shootnya di tempat berbeda, sedangkan di villa kini hanya tinggal Jupiter,Nadira,Nadia dan juga Kara.
"Nadira dan juga Kara, satu kamar bareng ya di atas. Nanti Kak Nadia bareng Kak Dea di kamar bawah." Nadia membagi kamar, karena villa tersebut memiliki tiga kamar.
"Untuk kamar yang satu lagi di tempati Ayu, dia kurang nyaman satu kamar dengan orang lain,jadi dia tidak bisa bergabung dengan kalian." Jelas Nadia.
Sebelum pergi Ayu memang sempat berpesan jika dirinya tidak bisa satu kamar dengan orang lain, jadi Nadia memisahkan Ayu sendiri menempati kamar di lantai dua.
"Untuk Jupiter, karena kamu lelaki satu-satunya, jadi kamu boleh tidur dimana aja. Gak ada kamar lagi, jadi boleh tidur di ruang tamu atau dimana deh terserah,,," Jelas Nadia.
"Memangnya pacar Kak Dea gak ikut,Kak?" Tanya Nadira
"Nggak, mereka lagi ribut. Perang dunia ketiga."
"Masa? Kenapa?"
"Anak kecil gak boleh kepo, sana rapihin barang-barang kalian." Nadira mengangguk,menyetujui usul Kakaknya.
Kara dan Nadira naik ke lantai dua, dimana kamar mereka berada dan membereskan beberapa pakaian yang mereka bawa.
"Kamarnya bagus ya?" Tanya Nadira
"Iya."
"Lo harus berterimakasih sama gue, berkat jasa gue,Lo bisa ikut kesini." Ucap Nadira sambil menepuk dadanya, bangga.
"Iya, terimakasih Nadira sayang, berkat kebohongan kamu akhirnya aku di ijinin Ayah ikut kesini." Balas Kara sambil menunduk memberi hormat.
Nadira tertawa melihat kelakuan Kara,
"Hahaha hebat kan gue."
"Hebat kalau urusan bohong membohongi,Lo emang jagonya." Kara mengacungkan dua jempolnya.
"Itu juga karena bantuan nyokap gue."
"Iya,, nanti gue bilang makasih sama Tante Dini dan juga Om Ditto."
Nadira merapikan berbagai macam alat-alat yang dibawanya, dari mulai kamera,make up bahkan berbagai jenis printilan lainnya. Berbeda dengan Nadira, Kara justru hanya membawa satu tas ransel berisi satu set baju tidur dan baju ganti untuk pulang.
"Sebenarnya kita kesini ada acara apa?" Tanya Kara,memperhatikan teman satu kamarnya yang masih sibuk dengan barang bawaannya.
"Gue juga gak tau. Gue cuman ikut aja pas Kak Nadia ajak." Nadira mengangkat bahunya.
"Yang adain acara bukan Kak Nadia?"
"Bukan. Katanya sih Kak Dea. Tapi gak tau acara apaan. Kenapa?"
"Nggak, nanya aja."
"Lo gak pernah liburan,Kar. Jadi anggap aja kali ini kita lagi jalan-jalan. Kalau Lo ngerasa gak nyaman sama temen-temen Kak Dea yang lain, kita bisa di kamar aja. Gak perlu ikutan. Oke?" Nadira menepuk pundak Kara.
Nadira tau Kara pasti merasa asing ditengah-tengah orang yang tidak di kenalinya.
Beristirahat sejenak di kamar hanya memainkan ponsel masing-masing setelah merapikan barang yang dibawa,kini Kara dan juga Nadira turun ke lantai satu, setelah mendapat pesan dari Kak Nadia untuk ikut bergabung dengan yang lain di lantai satu ,di ruang tamu.
__ADS_1
Ternyata di ruang tamu sudah ada beberapa orang yang hadir di antaranya Kak Dea,Kak Nadia,tiga orang teman Kak Dea dan Jupiter, ditambah Ayu, yang menempel bak perangko, bergelayut manja di lengan Jupiter.
"Kita mau barbeque, di halaman belakang biar lebih seru Kalian harus ikut." Ajak Kak Dea.
Semua orang keluar menuju taman belakang rumah, tiba-tiba pintu utama terbuka.
Faro datang membawa ransel berjalan menuju kerumunan orang-orang, terkejut melihat kedatangannya yang tiba-tiba. Karena menurut penuturan Nadia, faro tidak mungkin datang.
"Gue kira lo beneran gak bakalan datang." Tanya Nadia,
"Tadinya gak jadi, tapi ada hal lain yang harus gue pastiin." Balas Faro, meski Nadia yang mengajaknya bicara tapi, tatapannya tertuju pada gadis berbaju pink, yang menunduk menyembunyikan wajahnya.
Kara yang merasa tengah diperhatikan Faro,memilih menundukan kepala,memegang erat ponsel di tangannya.
Dua jam sebelumnya Kara sempat membalas pesan dari Faro yang menanyakan keberadaannya, karena saat itu Faro sudah berada di depan rumahnya.
Kara memberitahu jika dia tengah berada di Bogor,di salah satu villa milik teman Kak Nadia. Faro sempat membalas pesan,jika dia akan menyusulnya dalam waktu satu jam. Kara pikir Faro hanya bercanda, tapi justri kini dia melihat Faro berada di hadapannya hanya dalam waktu satu jam lebih setelah pesan terakhir yang dikirimnya.
Tidak haya Faro yang menatap lurus ke arah Kara, interaksi mereka tidak luput dari perhatian Jupiter yang terus memperhatikan Faro dan juga Kara secara bergantian. Bahkan Jupiter tidak memperdulikan Ayu, yang masih setia menggandeng tangannya sambil berceloteh.
"Mmm sebaiknya kita duluan ke belakang yu. Siap-siap, udah laper banget juga,nih! " Ajak Nadia.
Semua orang mengikuti saran Nadia, menyisakan Dea dan Faro yang masih saling diam tanpa berbicara,meski tema-teman yang lain sudah meninggalkan mereka berdua.
"Aku minta maaf." Akhirnya Faro bersuara, setelah beberapa menit diam.
"De?"
Dea tidak menjawab, dia masih diam. Namun air mata mewakili perasaan Dea, dia menangis membuat Faro akhirnya mendekat memeluk tubuh kekasihnya yang berguncang akibat menangis.
"Aku minta maaf. Gak seharusnya kemarin kita bertengkar kaya gitu."
"Kamu jahat banget,Far. Kenapa minta putus." Dea semakin terisak.
"Kita butuh waktu untuk saling mengerti. Kamu sadar akhir-akhir ini kita sering bertengkar? Aku cuman pengen kita saling intropeksi diri."
"Tapi gak harus minta putus."
"Kita gak putus, hanya saja kita butuh waktu sendiri-sendiri, supaya lebih tenang buat ambil keputusan selanjutnya."
"Tapi, aku gak mau kamu jauhin aku." Dea melepas pelukannya, mendongak menatap Faro.
"Aku gak jauhin kamu," Faro mengusap air mata di pipi Dea dengan punggung tangannya.
"Nyatanya sekarang aku ada di sini." Lanjutnya.
"Makasih udah mau dateng." Balas Dea, akhirnya dia bisa tersenyum dan kembali membenamkan kepalanya ke dalam pelukan Faro.
"Iya." Jawab Faro .
Dea dan Faro berjalan beriringan, bahkan Dea menarik lengan Faro menjalinnya menjadi satu. Orang-orang yang terlebih dulu berada di halaman belakang, sontak melirik ke arah dua sejoli yang saling bergandeng tangan dan bersorak menggoda.
"Cieeee yang udah baikan. Sweet banget dah,," Goda salah satu teman Dea yang mengenakan kaos berwarna hitam.
"Makin lengket aja nih." Seru Nadia tak mau kalah.
Kara melihat sekilas, sebelum akhirnya kembali mengipas-ngipas bara guna membakar daging. Namun sialnya justru tanpa sengaja kipas yang dipergunakannya mengenai bara api. Dan bara panas itu menempel di jari telunjuknya.
"Aww." Spontan Kara melempar kipas yang di pegangnya,meniup jari telunjuknya yang terasa panas dan perih.
"Kamu gak apa-apa?" Tiba-tiba Faro sudah berada di dekatnya, menarik lengan Kara dan tanpa ragu-ragu memasukan telunjuk Kara kedalam mulutnya.
Sontak aksi heroik Faro justru membuat semua orang tertegun, terkejut melihat Faro langsung berlari begitu Kara memekik kesakitan. Sebenarnya tidak hanya Faro yang langsung panik, Jupiter pun tak kalah terkejutnya. Hanya saja cekalan Ayu begitu kuat mencengkram lengannya, sehingga Faro yang lebih dulu menghampiri Kara.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya Faro khawatir.
"Ng,,,nggak ko." Kara menarik lengannya, melirik ke arah Dea yang masih mematung melihat kekasihnya berlari ke arah perempuan lain.
"Kara obatin lukanya yu." Nadira menghampiri dan menarik lengan Kara menuju villa.
"Aww, pelan- pelan." Rintih Kara, begitu mereka berdua sampai di kamar dan Nadira yang masih mengolesi luka bakar dengan krim pereda nyeri.
"Sejak kapan Lo kenal Faro?"
"Mmm?"
"Jangan-jangan pas acara ulang tahun Kak Nadia waktu itu, sebenarnya Lo udah kenal Faro?"
Kara memilih diam, memperhatikan ujung jari telunjuknya yang masih berdenyut perih.
"Kara!"
Perlahan Kara mengangkat kepalanya, menatap Nadira yang menuntut penjelasan darinya.
"Sebenernya udah lama gue kenal Faro. Dia guru bimbingan gue yang baru, semenjak dua bulan lalu."
"Dan lo gak cerita sama gue?"
"Gue gak tau harus mulai cerita dari mana.Gue bingung." Kara menghela nafas lemah.
"Jangan bilang Lo pacaran sama dia?"
__ADS_1
"Nggak! Bukan seperti itu."
"Lo tau kan dia punya pacar?" Kara mengangguk membenarkan.
"Lalu?" Selidik Nadira,
"Lalu apa? Gue gak ada hubungan apapun sama dia."
Nadira memicingkan matanya, mencari celah kebohongan dari ucapan Kara.
"Sumpah,Nad!"
"Kenap lo seneng sama pacar orang sih,Kar. Waktu itu Jupiter, sekarang malah pacar kakaknya si Jupiter. Gue tau lo gak pengalaman soal pacaran, tapi gak pacar orang juga."
"Gue gak pacaran,Nad! Berapa kali gue bilang, gue gak ada hubungan apapun dengan kedua laki-laki itu!" Kara mulai kesal dengan tuduhan-tuduhan Nadira.
"Terus kenapa kedua lelaki itu kelihatan panik pas lo kena bara api?"
"Gue gak tau!"
Kara menarik telunjuknya yang masih diberi cream pereda nyeri, dia memilih meniup-niup telunjuknya sendiri.
"Kar, Lo marah?" Kara tidak merespon, masih fokus meniupi luka di telunjuknya.
"Karaaa," pekik Nadira.
"Gue gak marah, gue kesel aja Lo gak percaya sama omongan gue."
"Ya ampun Kara. Siapa yang bilang gue gak percaya Lo, gue cuman nanya."
"Lo bukan nanya, tapi nyudutin gue."
Nadira justru terkekeh geli melihat sahabatnya marah.
"Gue gak nyudutin Lo, gue cuman gak mau lo berada di tengah-tengah hubungan orang lain. Orang buta juga tau kalo dua cowok itu panik minta ampun pas lo teriak kesakitan."
Kara hanya bisa menghela pasrah mengingat aksi nekat Faro yang tiba-tiba muncul bahkan langsung berbuat seperti itu di depan orang banyak. Bagaimana nanti Kara harus berhadapan dengan Dea dan juga Jupiter. Apa yang harus dikatakannya jika Dea bertanya apa hubungan dirinya dan Faro.
Kara merasa bersalah dan juga bingung. Seharusnya dia memilih berdiam diri saja di rumah daripada harus datang ke acara seperti ini yang justru bukan hiburan yang dia dapat,tapi justru masalah baru.
Setelah selesai mengobati telunjuk Kara, Nadira memilih keluar,bergabung kembali dengan yang lain. Tapi Kara memilih berdiam diri di kamar, beralasan tangannya sakit padahal dia hanya menghindari hal-hal yang akan memperburuk suasana. Meski perutnya terasa perih karena belum makan malam, Kara tetap memilih berdiam diri di kamar.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, Kara turun dari tempat tidur dan membuka pintu perlahan.
"Boleh masuk?" Dea membawa satu piring berisi makanan. Meski tampak ragu-ragu, Kara membuka lebar pintu,mempersilahkan Dea masuk.
"Kenapa gak gabung? Masih sakit?"
Kara hanya mengangguk, tidak berani menatap lawan bicaranya. Kini mereka sama-sama duduk di pinggir tempat tidur.
"Kara," Dea menarik lengan Kara, membuatnya mau tidak mau akhirnya mengangkat kepalanya.
"Sejak kapan kamu kenal Faro?" Tanpa basa basi, Dea langsung bertanya.
"Sudah lama?" Dea kembali bertanya, begitu Kara hanya diam dan kembali menunduk.
"Dengarkan kak Dea. Kara sudah lama kenal Faro?"
"Sebenarnya dia guru pembimbing Kara." Akhirnya Kara bersuara. Meski terkejut Dea masih bisa mengendalikan diri.
"Sejak kapan?"
"Dua bulan yang lalu. Kara, nggak ada hubungan apa-apa sama Kak Faro. Sungguh."
"Aku percaya," Dea tersenyum,meski sebenarnya ada bagian kecil hatinya yang berdenyut nyeri.
"Aku percaya,kamu gak ada hubungan apa-apa. Tapi tidak dengan Faro." Kara mendongak,menatap mata Dea yang mulai berkaca-kaca.
"Sudah lama aku mengenal Faro,aku sangat mengenalnya dengan baik. Ada dua hal yang bisa membuatnya panik dan khawatir seperti itu." Dea menjeda kalimatnya, mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan dua hal yang baru saja dia tau.
"Yang pertama ketika adiknya,Alma tiba-tiba pingsan dan harus segera dilarikan ke Rumah sakit. Dan yang kedua tadi,ketika kamu terluka." Suara Dea mulai bergetar.
"Kak Dea,,,"
"Aku percaya kamu tidak mungkin ada hubungan dengan Faro di belakangku, tapi,," Tiba- tiba Dea bangkit dan berlutut di hadapan Kara,
"Tolong jauhi Faro, aku sangat mencintainya. Aku tidak siap jika harus kehilangannya." Tangis Dea pecah,
"Kak Dea jangan begini," Kara ikut berjongkok dan memeluk Dea.
"Kara minta maaf. Kara gak bermaksud nyakitin Kak Dea, tapi tolong jangan kaya gini."
Dea semakin terisak,
"Kak Faro hanya mencintai Kak Dea." Kara berusaha meyakinka Dea
"Aku kenal dia dengan baik, aku tau gimana paniknya dia pas kami terluka. Cara dia natap kamu pas baru datang juga beda, aku tau."
"Kara janji, Kara pasti jauhin kak Faro."
Tanpa mereka sadari Jupiter memperhatikan dua wanita itu dari balik celah pintu, dua wanita yang begitu berarti di hatinya, tapi justri keduanya mencintai satu lelaki yang sama. Itu yang Jupiter yakini saat ini.
__ADS_1
"
.