CAMELIA

CAMELIA
episode 43


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, bahkan waktu masih menunjukan pukul lima pagi, Febian sudah menghubungi Camelia, jika lelaki itu sudah berada di apartemennya. 


"Sudah mau pulang, Mel?" Ternyata Kanaya sudah terlebih dahulu bangun, begitu Camelia keluar dari kamar. 


 Semalam Camelia tidak jadi tidur di kursi, karena Kanaya memaksanya menempati salah satu kamar kosong di kediamannya. 


"Iya kak. Ada pekerjaan, jadi harus siap-siap. Elea belum bangun?" 


"Belum, sebentar lagi pasti bangun. Semalam dia bertanya, kamu tidur dimana. Dia sangat menyukaimu, kenapa gak sarapan dulu?" Ajak Kanaya, karena perempuan itu tengah membuat sarapan pagi, nasi goreng.


"Wahh kelihatannya enak, tapi aku harus buru-buru pulang." Sekilas Camelia melirik wajan berisi nasi goreng yang sudah membuat perutnya keroncongan.


"Kalau begitu bawa pulang saja. Sekalian bawa juga buat Febian." Kanaya mengambil mangkok cukup besar, dan mengisinya dengan nasi goreng.


"Aku sengaja gak pake cabe, karena Elea tidak suka pedas. Jadi kamu tinggal tambah cabe sendiri," Kanaya menyodorkan satu mangkok penuh nasi goreng.


"Wah,,,, makasih banyak kak, kalau gitu aku pulang ya." 


Camelia diantar sampai kedepan pintu oleh Kanaya. Jarak antara rumahnya dan rumah Kanaya yang hanya beberapa langkah saja, membuat Camelia tiba di rumahnya hanya dalam beberapa menit saja. 


Begitu pintu terbuka, ia sudah melihat Febian tengah duduk di kursi dengan satu tangan menutupi wajahnya. 


"Febian!!" Camelia mengguncang-guncang lengan Febian, dan akhirnya lelaki itu membuka matanya.


"Lo baru balik?" 


"Iya,, padahal gue masih ngantuk." Keluh Camelia sambil menaruh mangkuk berisi nasi goreng di meja dan mengambil dua piring kosong, untuknya dan Febian. 


"Gue bawa nasi goreng, sarapan dulu." Ajak Camelia. 


Febian tidak sulit jika diajak makan, jam berapa pun lelaki itu pasti akan langsung mau, jika diajak makan. 


"Lo nginep, apa menjarah. Bawa nasi goreng segini banyak." Cibirnya, dan langsung mengambil nasi goreng hingga piringnya penuh. 


"Mereka tau lo rakus. Jadi bawain gue nasi goreng sebakul." 


"Enak, gila!! Enak banget nasi goreng nya."


"Jelas enak, geratis!!"


"Kaga, ini beneran enak. Lo gak bakalan bisa masak nasi goreng kaya gini." Ledek Febian.


"Gue gak bisa bayangin gimana kalau gue jadi istri lo. Setiap hari lo pasti protes, yang ini lah,, itu lah,,, untung aja rencana jadi istri boongan lo gak jadi. Kalau jadi, bisa mati muda gue,"


Febian terkekeh, sambil tak hentinya memasukan nasi goreng kedalam mulutnya. 


"Orang tua gue kaget kalau dapet mantu kaya lo, yang gak bisa masak!" Elak Febian. 


Febian dan Camelia akhirnya tidak saling melempar cibiran lagi, mereka sibuk dengan nasi goreng di piring masing-masing. 


"Lalu bagaimana soal Edward?" Kini Camelia memulai pembicaraan serius, karena bagaimanapun juga Edward masih menjadi masalah besar dalam hidupnya.


"Gue gak ngerti apa yang sebenarnya dia inginkan. Kalau masalah ganti rugi, kita sudah menggantinya, bahkan lebih. Lalu apalagi yang perlu dituntut? Gue rasa dia punya motif lain, selain menginginkan kehancuran kita." 


Camelia menghentikan sarapannya,dan menaruh sendok di pinggir piring yang masih terisi separuh nasi goreng.


"Gue juga sempat berpikir seperti itu. Apa yang membuatnya begitu membenciku, padahal aku sudah melunasi setiap tuntutan yang diajukan pihaknya " 


"Gue harus lebih lanjut menyelidiki kasus ini, dan gue harap lo gak gegabah dalam bertindak. Dan lo harus selalu dalam pengawasan gue. Kemanapun lo pergi." 


"Iya" jawab Camelia lemah. Karena saat ini hanya Febian yang bisa diandalkan. 


Sementara itu di kediaman Jupiter, pagi-pagi di saat semua keluarga tengah sarapan. Ibu Jupiter,Mala sudah berdandan rapi dan cantik. Meski setiap hari pun perempuan paruh baya itu selalu berdandan rapi, namun kali ini ia nampak berbeda dari biasanya.


"Hari ini batalkan semua pekerjaan kamu. Kita akan menjemput Nadira pulang dari Rumah sakit, dan akan membicarakan masalh pernikahan kalian." 


Jupiter yang tengah mengunyah roti tawar, seketika berhenti dan tidak berminat lagi memakan sisa roti yang baru saja ia gigit. 


"Apa harus secepat ini, Bu?" Tanya Dea.


"Mereka sudah berpacaran selama dua tahun, cepat bagaimana maksud kamu. Kita sudah membahasnya berulang kali, dan tidak ada bantahan lagi. Kita akan mempercepat pernikahan, mengingat kondisi Nadira yang tidak stabil." 


"Apa ibu tidak pernah bertanya bagaimana keinginan dan pendapatku?" Kini Jupiter angkat bicara.


"Ibu melakukan ini untuk kebahagian kamu!" 


"Sudahlah bu, Jupiter sudah dewasa. Kenapa tidak kita biarkan saja dia melakukan apa yang menjadi pilihannya. Selama ini kita terlalu mengekang nya." Dito, ayah Jupiter mencoba menjadi penengah di antara perdebatan ibu dan anak yang mulai memanas.


"Kamu lupa mas, bagaimana kita membiarkan Dea menikah dengan lelaki pilihannya, hanya karena Dea mencintai lelaki itu. Lihat dia sekarang, bahkan dia sudah menjadi janda di usianya yang masih sangat muda. Itu karena kita lalai, dalam mencari pendamping hidup anak kita,dan membiarkan dia memilih sendiri atas dasar cinta!" Mala semakin tersulut emosinya, karena ia merasa sang suami tidak membelanya. 


"Jadi ibu malu, memiliki anak berstatus janda?" Tanya Dea dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Apa sebenarnya ibu tidak merestui pernikahanku dengan Alfaro? Dan ibu memperlakukan Faro dengan tidak baik, sehingga ia memilih meninggalkanku? Benar begitu?" Kini buliran bening lolos dari mata Dea. 


"Apa maksudmu?" Mala justru berbalik bertanya.


"Jangan kira aku tidak tahu apa yang ibu lakukan pada Faro di belakangku. Aku tahu semuanya, hanya saja selama ini aku diam. Karena aku masih menghargai ibu sebagai orang tuaku. Tapi, jika ibu ingin menghancurkan hidup Jupiter seperti hidupku, maka kali ini aku tidak akan tinggal diam." Dea segera bangkit dari tempat duduknya, menyeka bibirnya dengan tisu dan melempar tisu itu dengan kasar. 


"Dea!!" Teriak Mala begitu putri sulungnya pergi. 


Sementara itu Jupiter masih belum mengerti dengan ucapan Dea, ia juga memilih mengakhiri sarapan paginya dan beranjak menyusul Dea ke kamarnya. 


Jupiter peun mengabaikan teriakan ibunya yang terus memanggil namanya dan menyuruhnya untuk kembali duduk. Namun Jupiter merasa ia bukan lagi anak kecil yang bisa diatur, dan tidak ada diijinkan untuk melawan. Ia sudah cukup dewasa untuk memilih jalan hidupnya, meski harus menentang ibunya sendiri. 


 Perlahan Jupiter membuka pintu kamar Dea. Kakaknya itu nampak tengah sibuk merapikan pakaian anaknya yang hendak berangkat sekolah dengan pengasuhnya Nani. 


"Anak ibu sudah ganteng. Sarapannya jangan lupa dimakan ya, dan jangan nakal." Ucap Dea sambil mengelus puncak kepala anaknya. 


"Ini apa sayang?" Tanya Dea, karena Aksa memegang jepit rambut berwarna merah jambu semenjak kemarin. 


"Ini punya Elea." Jawab Aksa.


"Siapa Elea?"


"Anak nya aunty Mel," Dea semakin menyerngitkan dahinya. Karena merasa asing dengan dua nama yang baru saja di sebut anaknya. 


"Siapa mereka?"


"Mereka orang penting." Kini Jupiter mendekati Dea dan juga Aksa. 


"Nanti kembalikan ya jepit rambutnya. Nanti kita main lagi ke rumah aunty Mel." 


Aksa hanya mengangguk, lalu pergi bersekolah diantar pengasuhnya. 


"Siapa Elea, dan Mel?" Kini hanya tinggal Jupiter dan juga Dea yang berada di dalam kamar. 


"Kamu bawa kemana Aksa, kemarin?" Selidik Dea, dengan satu alisnya terangkat. Seolah ia mulai mencurigai Jupiter. 


"Aku membawa Aksa ke rumah Kara. Kara is Camelia?"


"Maksud kamu? Kakak gak ngerti."


"Kara merubah namanya menjadi Camelia," jelas Jupiter.


"Lalu Elea, apa dia anak Kara?"


"Tentu saja tidak! Tapi benarkah Kara sudah memiliki anak?" 


Jupiter terkekeh melihat kakak nya yang begitu penasaran, "tidak, Kara belum menikah dan juga belum punya anak. Dia hanya akan melahirkan anakku, bukan dari lelaki lain." 


Dea tersenyum, meski masih terlihat jelas matanya memerah dan sembab, akibat pertengkarannya dengan ibunya. 


"Apa ibu melakukan sesuatu pada Faro?" Senyum Dea hilang, begitu Jupiter kembali mengungkit Faro.


"Aku tidak tahu cerita pastinya. Hanya saja beberapa orang pernah bercerita, dan melihat ibu mempermalukan Faro di depan umum. Aku tidak ingin mempercayai sebelum aku melihatnya sendiri, tapi semakin lama aku semakin merasa Faro mulai berubah. Seharusnya aku menyetujui usulnya untuk tinggal di rumahnya, tapi aku tetap memilih di sini. Dan akhirnya dia yang pergi." Dea menghela berat setiap kali ia mengingat masa lalunya bersama Faro. 


"Lalu bagaimana bisa Kara merubah namanya menjadi Camelia?" Lanjut Dea.


"Aku tidak tahu. Mungkin selama dia tidak bersamaku, dia mengalami masalah yang sangat berat, sehingga dia merubah identitasnya, dan memilih menjadi Camelia."


"Apa itu berpengaruh?"


"Tidak! Siapapun dia, dan apapun namanya aku tidak peduli. Tapi ada hal yang begitu menggangguku akhir-akhir ini." 


"Apa? Kamu bisa menceritakan apapun padaku. Ceritamu aman, dan aku tidak berpihak pada kubu Ibu. Aku memihakmu." Dea menepuk pundak Jupiter, memberinya semangat. 


"Banyak sekali desas desus tentang Kara. Dan itu berita yang sangat menggangguku."


Jupiter menghela lemah, dan menundukan kepalanya. "Orang banyak bercerita jika Kara sering menjajakan tubuhnya untuk para pengusaha kaya, agar bisnisnya berjalan lancar." 


Seketika Dea menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Aku tidak ingin mempercayainya begitu saja, sebelum aku melihatnya sendiri. Tapi rumor itu aku dapat dari banyak orang yang pernah menerima jasanya. Aku harus bagaimana?" Kini Jupiter mengangkat kepalanya, menatap sendu pada Dea.


"Kita tidak pernah tau apa yang terjadi pada hidupnya selama ini. Mungkin saja Kara melakukan itu karena ia terpaksa, bukan karena keinginannya."


"Aku tahu. Tapi akan lebih sulit membawanya ke dalam keluarga kita. Ibu akan semakin membencinya begitu tahu masa lalunya. Bahkan dulu, sewaktu Kara masih menjadi bagian dari keluarga Fathur, ibu sudah tidak menyukainya. Bagaimana sekarang?" 


"Kamu takut?" Tanya Dea. 


"Aku tidak takut, hanya saja…" 


"Dengar," Dea menyela kalimat Jupiter, 

__ADS_1


"Mungkin yang diceritakan orang di luar sana tentang Kara memang benar adanya. Tapi, kita tidak pernah tau apa yang sedang dialaminya. Beri dia kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi, jika memang dia menjual tubuhnya pada lelaki hidung belang, kamu hanya perlu bertanya pada dirimu sendiri, apakah kamu masih mau menerimanya dengan semua masa lalu yang pernah dialaminya." 


Jupiter tidak menjawab, ia hanya mendengarkan setiap kata yang diucapkan kakaknya. 


"Tidak mudah menerima seseorang dengan masa lalu yang gelap, tapi dia masih memiliki kesempatan untuk mengubah hidupnya untuk menjadi lebih baik. Dan kamu harus memberi Kara kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Aku yakin kamu pasti mampu melakukannya, karena cinta bukan tentang soal perawan atau tidak, tapi tentang hati." Dea menunjuk dada Jupiter dengan telunjuknya.


"Ini yang akan membuat kamu bahagia. Bukan perawan atau tidak." 


 


Jupiter akhirnya tersenyum, "aku tidak pernah mempermasalahkan keperawanan seseorang." 


"Apa karena kamu sudah tidak perjaka?"


"Apa?!"


"Astaga! Dengan siapa kamu memberikan keperjakaanmu?"


 


"Astaga kak Dea!!" 


Mereka berdua akhirnya sama-sama tertawa, meski keduanya sama-sama memiliki masalah yang sangat pelik. Tapi Jupiter maupun Dea, sama-sama bersyukur bisa saling berbagi setiap kali mereka merasa tertekan dengan masalah hidup.


Meski pada awalnya hubungan keduanya sempat merenggang, akibat ulah Dea yang ikut terlibat dalam menjebak Kara. Namun tidak berlangsung lama, karena pada kenyataanya mereka berdua saling membutuhkan, karena mereka memiliki banyak kesamaan. Dan memang seperti itulah gunanya persaudaraan. 


Setelah drama pagi yang begitu menguras emos, Jupiter dan Dea berangkat ke kantor. Mereka berdua mengabaikan ajakan ibunya untuk menjemput Nadira yang hari ini keluar dari Rumah sakit. 


Jupiter memilih menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum ia berencana mengunjungi Camelia. Karena satu hari saja ia tidak menemui gadis itu, rindunya sudah tidak bisa ia tahan. Terkadang Jupiter merasa seperti abg yang baru mengenal cinta, namun ia menyadari jika Kara memang cinta pertamanya dan ia ingin Kara menjadi cinta terakhir dalam hidupnya.


Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, jupiter hendak menjemput Camelia di kediamannya untuk makan siang. Namun baru saja ia hendak keluar, tiba-tiba sekretarisnya mengetuk pintu. 


"Permisi pak, ada tamu." Ucap sekretarisnya.


"Siapa?" 


"Bapak Edward dari Star corp." 


"Persilahkan dia masuk."


"Baik pak." 


Setelah sekretarisnya keluar, tidak berapa lama tamu yang di maksud datang. 


"Selamat siang bapak Jupiter. Apa kabar?" Tanya Edward, sambil menjabat tangan Jupiter.


"Baik. Silahkan duduk." Jupiter mempersilahkan Edward duduk.


"Ada perlu apa. Sepertinya sangat mendesak, sampai mengunjungi saya, tanpa membuat janji terlebih dahulu." 


Edward terkekeh, "Benar sekali. Saya sangat ingin menemui anda, sampai lupa membuat janji terlebih dahulu. Apa saya mengganggu?"


"Tentu tidak."  


"Saya baru membuka resort di Bali. Dan akan mengadakan peresmiannya minggu depan, dan saya sangat mengharapkan Bapak hadir di acara tersebut, sebagai ajang silaturahmi."


"Saya belum bisa memastikan apakah saya bisa hadir atau tidak. Tapi saya akan mengusahakan untuk hadir dan secepat mungkin menghubungi, jika sudah pasti."


"Baiklah kalau begitu." 


Mereka berdua berbincang-bincang untuk beberapa saat. Mereka pernah menjalin beberapa kali kerja sama, sehingga Jupiter mengenal siapa Edward dari Star corp. Dan untuk undangannya kali ini, Jupiter segera mencocokan dengan jadwal yang dimilikinya. Dan beruntungnya minggu depan ia tidak memiliki jadwal penting apapun, sehingga ia bisa menghadiri acara Edward. 


Acara tersebut pasti sangat bermanfaat untuknya semakin melebarkan sayap perusahaan. Karena di acara seperti itu, pasti banyak sekali pengusaha lainnya yang bisa diajak bekerja sama. Dan itu sangat menguntungkan. 


Tapi sebenarnya bukan itu yang diinginkan Jupiter, tapi ia ingin mengajak Camelia pergi bersamanya. Dia ingin melanjutkan rencana jalan-jalan yang sempat gagal akibat menjadi pengasuh dadakan untuk dua anak sekaligus. Mungkin dengan pergi ke Bali, tidak ada yang mengganggu dan jauh dari jangkaun Ibunya. 


Lagipula orang tuanya tidak akan mencurigai kepergiannya, karena ia menghadiri undangan. Meskipun ibunya mencurigai dan bertanya mendetail pada sekretarisnya, tentu saja informasi yang ia dapat pasti hanya dinas kerja.


Untuk memanfaatkan keadaan Jupiter harus pintar, dan ia akan membawa Camelia pergi bersamanya. 


Menjelang sore hari, Jupiter baru mengunjungi kediaman Camelia dan kedatangannya disambut hangat oleh Camelia. 


Jupiter tidak langsung mengutarakan niatnya mengajak Camelia pergi, karena Jupiter ingin sedikit memberi kejutan pada kekasihnya itu, mungkin ia akan memberitahunya jika mereka sudah siap berangkat. Dan Camelia pasti akan terkejut, dan pasti marah-marah. 


Seperti ucapannya tempo hari, Jupiter sangat menyukai jika Camelia merajuk dan cemberut. 


"Kenapa dari tadi senyum-senyum terus. Apa aku terlihat seperti badut?" Tanya Camelia heran, 


"Nggak. Kamu cantik. Sangat cantik." Ucapnya sambil mencubit hidung Camelia. 


 

__ADS_1


"Kamu aneh!" Cibir Camelia, sambil kembali merebahkan kepalanya di dada Jupiter, dan mereka kembali menikmati acara nonton bersama. Meski Febian mondar-mandir dengan tampang kesal. 


"Iya, gue kan ngontrak. Gak usah peduliin gue!!" Ejek Febian sambil menutup pintu kamarnya dengan kencang. 


__ADS_2