CAMELIA

CAMELIA
episode 17


__ADS_3

Confused 17


Jupiter Alfian


Besok adalah hari ulang tahunku, tidak ada perayaan seperti orang pada umumnya. Jujur aku tidak menyukai sejenis acara-acara aneh seperti itu, cukup keluargaku saja yang selalu merayakan tradisi tiup lilin di rumah.


"Dek, ulang tahun kamu pas hari minggu. Ada acara nggak?" Kak Dea masuk ke dalam kamarku, setelah makan malam selesai.


"Gak ada." Jawabku asal


"Besok, kakak ada pemotretan di bogor. Mau ikut?"


"Sejak kapan aku mau ikut ke acara seperti itu?"


"Dih,,, dengerin dulu. Setelah selesai pemotretan,kakak mau nginep di salah satu vila milik teman. Tempat nya bagus, sekalian aja liburan. Sehari."


"Nggak!" Aku tidak mungkin mau bergabung dengan Kak Dea, karena dimana ada kegiatan pemotretan kak Dea di situ pasti ada Ayu.


"Yakin?"


"Iya,,, udah sana keluar. Aku mau tidur, ngantuk." Aku mendorong bahu Kak Dea, menyeretnya hingga ke depan pintu. Begitu aku menutup pintu, Kak Dea menahannya,


"Apa lagi sih kak?" Kepalanya menengok di celah pintu.


"Beneran gak mau ikut? Padahal Kara ikut loh?"


"Hah?" Aku membuka pintu kamar lebar, hingga Kak Dea terhuyung.


"Ihhh,,, " Gerutu kak Dea, yang nyaris saja terjatuh, jika ia tidak berpegangan pada gagang pintu.


"Tapi kamu udah bilang gak mau ikut kan? Ya sudah kalau begitu." Seulas senyum jahil terbit di bibirnya. Kak Dea jadi lebih sering menggodaku akhir-akhir ini.


"Aku cuman bilang,nggak. Bukan nggak ikut."


"Hahaha terserah kau saja. Tidur sana, bilangnya ngantuk."


"Tunggu,Kak!" Buru-buru aku menghadang langkah Kak Dea, begitu dia melangkah pergi.


"Apa?"


"Dimana acaranya?"


"Katanya gak mau."


"Kak!" Tanpa sadar aku berteriak.


"Jupiter! Jangan teriak-teriak!" Lengkingan suara Ibu terdengar nyaring dari dalam kamarnya,yang terletak tak jauh dari kamarku.


"Tuh, Ibu Negara udah teriak. Jangan berisik." Kak Dea menjulurkan lidahnya, mengejekku dan buru-buru lari masuk ke dalam kamarnya. Dia sangat menyebalkan, sifatnya persisi seperti Ibu.


Sarapan pagi kali ini lebih heboh dari biasanya, karena aku ulang tahun jadi sarapan sekaligus tiup lilin. Sebenarnya jam dua belas malam tadi Ibu mengetuk pintu kamarku berulang-ulang, aku hanya diam pura-pura tidak mendengar karena Ibu pasti akan memposting acara kejutan ulang tahunku di akun media sosialnya, dan ya,,,aku sangat tidak menyukainya.

__ADS_1


Suasana sekolah masih cukup lengang, aku memang sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya. Atau mungkin semenjak mengenal Kara, aku memang sering berangkat lebih pagi.


Yang aku tunggu akhirnya datang juga, Kara turun dari mobil putih miliknya. Aku tidak berniat mendekatinya seperti biasa, aku hanya akan melihatnya dari kejauhan. Tapi ada yang aneh dengan cara Kara berjalan, dia tertatih bahkan meringis begitu kakinya melangkah.


Meski aku mencoba membantu, Kara selalu punya sejuta alasan untuk menolak. Bahkan aku mengutuk diriku sendiri karena dengan bodohnya menceritakan kontak ponselku yang diblokir Kara, pada Kak Dea. Pada kenyataannya sampai hari ini Kak Dea tidak membantu apapun. Akhirnya aku kembali mengancam akan mendatang kelasnya,jika dia tidak membuka blokiran. Dan berhasil.


Aku menghentak-hentakan jemariku di atas meja dengan satu tangan. Sedangkan satu tanganku yang lain masih memegang ponsel, memastikan janji Kara pagi tadi. Tapi tidak ada tanda-tanda blokiran dibuka, bahkan sampai bell istirahat berdering, photo profil Kara masih abu-abu.


"Ke kantin yu?" Ajak Ayu, bergelayut manja melingkari tanganku.


"Gak laper. Duluan aja."


"Gak asik. Ayo,,, yang lain udah duluan tuh!" Sekilas aku menatap ke arah yang di maksud Ayu. Nampak Josh,Rian dan Daniel berjalan keluar kelas.


"Ya udah ikut mereka sana!" Aku melepas cekalan lengannya.


"Jupiter, kamu kenapa sih?!" Ayu berdecak, kaki nya menghentak-hentak lantai. Sungguh rajukan yang sangat membuatku jengah.


"Gue laper tau nggak!" Rengeknya.


"Gue kan udah nyuruh lo ikut mereka, ngapain masih di sini kalau laper?"


"Gue mau bareng lo!"


Aku tidak memperdulikan ocehan Ayu, aku kembali fokus melihat layar hp yang masih juga belum ada perubahan.


Rengekan Ayu yang semakin membuat telingaku terasa panas, ditambah status blokiran yang belum juga dibuka Kara membuatku semakin merasa kesal.


Brak!!


Aku memukul meja,meluapkan kekesalanku


"Lo bisa jalan sendiri kan? Berisik banget lo jadi cewek!" Ayu berjengit, terkejut.


"Berhenti bersikap manja sama gue. Mulai sekarang ga usah ganggu hidup gue lagi. Ngerti?" Aku beranjak dari kursi, berjalan mendahului Ayu yang masih diam,melongo melihatku pergi. Ayu pasti terejut,karena selama ini aku jarang berteriak atau pun membentaknya, sekalipun aku tengah marah. Biasanya aku akan pergi begitu saja jika Ayu dalam mode menyebalkna,tapi kali ini aku benar-benar di buat kesal. Entah kesal karena rengekan Ayu, atau kesal karena hal lain.


Tidak ada pilihan lain selain mendatangi kelas Kara. Aku tidak bisa hanya berdiam dan menunggu.


Berapa siswa nampak terkejut melihat kedatanganku ke kelas IPA, karena memang aku jarang sekali berkeliaran sampai ke lantai tiga, tepatnya kelas Kara. Aku tidak memperdulikan tatapan aneh ataupun pujian-pujian dari siswi yang melihatku. Langkahku semakin cepat, dan akhirnya aku bisa melihat Kara tengah duduk bersebelahan dengan Nadira.


Tanpa aku perintah dengan sukarela Nadira pergi dengan sendirinya bahkan siswa yang sedari tadi masih melihatku kini sudah tidak nampak. Mereka pasti sudah tau bagaimana kebiasaanku, jika aku tengah berada di suatu tempat aku tidak suka ada orang lain yang melihat atau mendengar. Jika mereka masih berusaha nguping atau sekedar berpura-pura lewat, jangan salahkan aku jika setelahnya mereka akan berurusan denganku.


Kara tampak bingung sekaligus terkejut melihat kedatanganku, matanya celingukan melihat ke kanan dan kiri.


"Temen lo udah pergi."


"Ha?"


"Rupanya lo lebih suka dipaksa, daripada gue minta baik-baik."


"Ah,,, itu. Ini baru mau aku buka." Dia pintar sekali berbohong.

__ADS_1


Kara menunjukan layar ponselnya padaku, tapi justru ada hal lain yang tanpa sengaja dia tunjukan. Ternyata dia tengah membalas pesan dari seseorang. Bernama Alfaro. Aku langsung mengingat-ngingat apa ada lelaki bernama Alfaro di sekolah ini, rasa rasanya tidak ada. Lalu siapa?


"Lo, bukan mau buka blokiran gue, tapi lo lagi chat sama orang." Buru-buru ia menarik ponselnya.


"Udah! Sekarang kamu mending balik lagi ke kelas kamu sana!" Aku segera memeriksa ponsel, dan memang benar Kara sudah membuka blokirannya.


"Awas kalau sampai lo blokir lagi."


Kara berdecak mendengar ancaman dariku, aku suka melihatnya cemberut, mengerucutkan bibir kecilnya dan pipinya menggembung, sangat lucu.


"Makan ini. Gak usah keluar kelas, kaki lo masih sakit." Aku mengeluarkan plastik berisi roti dan satu kotak susu stroberi.


Ngomong-ngomong kapan aku membeli itu, aku beli tadi pas jam pelajaran, sengaja aku keluar kelas karena pelajaran Pak Abdul sangat membosankan. Aku keluar bersama Josh,ketika aku melihat roti isi selai kacang di kantin aku langsung teringat Kara. Aku membeli roti dan susu stroberi karena aku tau Kara pasti tidak akan keluar kelas, mengingat kakinya yang masih terluka. Tapi bukan roti selai kacang yang aku beli, melainkan roti isi nutella meski aku tau Kara sangat suka selai kacang.


Kara pasti merasa tidak nyaman aku berlama-lama di kelasnya. Setelah urusan blokiran ku selesai, aku langsung pergi,tapi tidak benar-benar pergi. Aku masih memperhatikannya di balik kaca jendela, gemas melihatnya masih menatap makanan yang aku beri, aku mengirimnya pesan. Matanya menelisik ke seluruh ruangan begitu pesanku dibaca, hingga dia melihatku di balik kaca jendela. Aku hanya ingin memastikan dia menerima makanan dan memakannya, setelah itu aku benar-benar pergi.


Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, meski aku pernah beberapa kali pacaran dengan beberapa perempuan cantik dan populer di sekolah ini. Tapi begitu aku mengenal Kara, aku seperti bukan menjadi diriku sendiri. Aku seperti Daniel yang sempat aku cibir karena selalu bersikap berlebihan hanya karena wanitanya. Tapi kini justru aku sendiri mengalaminya. Aku tidak tau Kara menyukaiku juga atau tidak, tapi rasa ingin memiliki dan melindunginya semakin hari kian bertambah. Semakin dia mencoba menjauhiku, semakin keras pula aku ingin mendekatinya.


Aneh bukan?


Apa aku benar-benar mencintai Kara? Atau aku hanya sekedar penasaran karena dia perempuan pertama yang menolak keberadaanku?


Bahkan semenjak Mengenal Kara aku jarang mengikuti apapun kegiatan bersama teman-temanku. Aku lebih suka langsung pulang atau mengikuti Kara hingga dia sampai ke rumahnya. Kara mungkin tidak tau itu, jika setiap hari aku selalu mengantarnya hingga sampai ke rumah, meski menggunakan kendaraan berbeda. Aku sudah seperti penguntit bukan?


Sama seperti hari-hari sebelumnya, hari ini pun aku mengikuti Kara. Hanya saja hari ini aku datang lebih sore dari biasanya, karena Josh memaksaku hadir ke arena melihat Rian kembali beradu kecepatan dengan Bimo. Ternyata perkiraanku tempo hari salah, yang menang justru Rian. Entah karena skill nya sudah meningkat atau karena ada hal lain yang membuat Rian bisa mengalahkan Bimo.


Udara panas jam empat sore masih terasa menyengat. Bahkan berulang kali aku mengelap keringat yang mengucur dari balik helm yang kukenakan.


Kara jarang sekali keluar rumah setelah pulang sekolah, jadi akan sangat sia-sia aku berada di sini menunggunya keluar, karena itu tidak mungkin terjadi. Tapi, baru saja aku menghidupkan mesin motor, pintu gerbang rumah Kara terbuka. Nampak seorang lelaki mengendarai motor besar berwarna hitam keluar. Lelaki itu mengenakan jaket bomber warna merah maroon,celana jeans hitam. Sayangnya dia mengenakan helm berkaca gelap, aku tidak bisa melihat jelas wajahnya. Tapi yang membuatku lebih penasaran justru aku melihat Kara ikut keluar, mengenakan baju tertutup dan menenteng sebuah helm berwarna pink.


Aku tidak tau dengan detil keluarga Kara, tapi yang aku tau Kara anak tinggal dan tidak memiliki saudara lelaki atau sepupu. Karena mendengar cerita selewat dari Ibu, Dahlia Ibunya Kara tinggal di Jakarta sedangkan seluruh keluarga nya ada di Palembang. Lalu siapa lelaki itu?


Sepertinya mereka akan pergi ke suatu tempat, karena tak berselang lama setelah Kara mengenakan helm dan naik ke jok penumpang, motor itu melaju pelan. Untuk membuktikan rasa penasaranku, akhirnya aku mengikuti mereka diam-diam.


Aku tidak tahu persis kemana tujuan mereka, sejauh ini aku hanya mengikuti dari radius beberapa meter. Karena tampilan motorku sangat mencolok berwarna merah, aku takut mereka dengan mudah Kara mengenali. Rasanya tempat yang dituju mereka tidak asing, karena beberapa kali aku pernah ke tempat ini, hanya saja aku ragu untuk menebaknya. Tapi begitu motor hitam yang di tumpangi Kara berhenti di sebuah rumah sederhana bercat biru muda dengan pagar hitam, aku semakin yakin jika aku memang pernah kesini.


Lalu untuk apa Kara datang kesini?


Aku masih memperhatikan mereka dari jauh, karena jalanan luas aku bisa melihat mereka dengan sangat jelas. Kara turun dari motor, meski masih terlihat tertatih, dia turun dari motor dengan aman. Begitu si pengemudi membuka helm hitamnya, mataku terbelalak. Itu Bang Faro!


Aku semakin di buat bingung. Kenapa Kara bisa mengenal Bang Faro? Sejak kapan?


Bahkan interaksi dari keduanya seperti bukan pertama kali bertemu, terlihat dari bagaimana cara Bang Faro memperlakukan Kara.


Apa mereka bersaudara? Atau saudara jauh? Otaku terasa semakin panas.


Mereka berbicara sejenak, sebelum akhirnya berjalan bersama menuju pintu rumah. Namun langkah Bang Faro tiba-tiba berhenti,menarik lengan Kara,mengusap pipi Kara dan menyelipkan anak rambut Kara di balik telinganya.


Aku menyadari satu hal, jadi nama Alfaro yang tidak sengaja aku lihat di ponsel Kara tadi adalah Alfaro Keenan. Terlalu aneh jika hanya disebut sebuah kebetulan dan juga itu bukan tatapan untuk seorang saudara. Tapi itu tatapan dan perilaku untuk seseorang yang disukainya.


Ada rasa panas yang menjalar dari hatiku, hingga rasanya makin menyebar hingga ke kepala. Aku tidak tahu pasti apa hubungan mereka berdua, hanya saja aku harus memastikannya.

__ADS_1


__ADS_2