CAMELIA

CAMELIA
episode 20


__ADS_3

Alfaro Keenan


Kara menjauh. Itu yang aku rasakan sekarang, semenjak pulang dari liburan singkat di Bogor,sikap kara berubah drastis.


Bimbingan belajar masih berlangsung seperti biasa, hanya saja tidak menyenangkan seperti biasanya. Kara diam,tidak banyak bicara, sekalipun aku ajak bicara dia hanya akan mengangguk dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Aku menjadi serba salah.


"Kara?" Aku meraih tangannya, begitu jam bimbingan selesai. Ini sudah berlangsung selama satu minggu dan aku tidak bisa seperti ini.


"Iya?" Buru-buru ia menarik tangannya dari genggaman ku.


"Kamu kenapa?"


Kara mengerutkan dahinya,menatapku penuh tanya.


"Akhir-akhir ini kamu menghindar banget. Apa aku punya salah?" Lanjutku.


"Nggak." Jawabnya singkat, seperti dugaanku. Tangannya masih sibuk merapikan peralatan menulis, tidak menghiraukanku yang mulai kelimpungan karena sikap dinginnya.


"Kalau sudah selesai,kamu boleh langsung pulang." Dia mengusirku, bahkan dia bicara tanpa melihat ke arahku.


Kara berdiri mendekap buku dan alat tulisnya, dia hendak meninggalkanku terlebih dulu, hal yang jarang di lakukannya,karena biasanya dia lah yang selalu menungguku hingga aku pulang. Melihatnya berjalan,melangkah meninggalkanku,sontak membuatku bangkit mengejarnya.


"Kara!" Aku mencekal ujung sikunya,menahan Kara agar dia mau berhenti.


Langkah Kara berhenti, tapi tubuhnya masih membelakangiku.


"Kalau aku punya salah, aku minta maaf. Tapi jangan seperti ini."


"Memangnya aku seperti apa?" Kara balik bertanya, tapi kalimatnya begitu dingin dan asing,tidak seperti Kara yang aku kenal.


"Kamu berubah semenjak pulang dari Bogor."


"Itu hanya perasaanmu saja, aku masih sama seperti biasanya."


"Tapi kamu _"


"Apa itu penting buat kamu? Bukannya kita tidak ada hubungan apapun selain guru pembimbing dan muridnya? Lalu apa yang membuat kamu merasa bingung?" Kara menyela kalimatku. Ucapannya membuatku terdiam, karena aku tau diantara aku dan Kara memang tidak ada hubungan yang pasti.


"Oke, aku minta maaf kalau udah bikin kamu ngerasa gak nyaman." Aku tidak melanjutkan pembicaraan lagi dan memilih pulang.


Meninggalkan Kara dengan perasaan yang masih mengganjal membuatku semakin gelisah tidak menentu. Biasanya jika aku dan Dea bertengkar, aku lebih sering menghabiskan waktu bermain game sampai lelah dan tidur untuk mengurangi rasa kesalku. Tapi kali ini justru aku semakin dibuat kelimpungan, bahkan game tidak bisa menolongku sedikitpun.


Aku keluar dari kamar menuju dapur,namun baru sampai ruang tamu aku melihat Ibu tengah berbicara dengan dua orang lelaki bertubuh tinggi, besar,memakai pakaian serba hitam. Sontak membuatku langsung menghampiri Ibu, bisa saja orang itu hendak mencelakai atau pun berbuat jahat terhadap Ibu.


"Ibu!" Ibu dan kedua lelaki itu sontak menoleh begitu aku memanggil Ibu.


"Faro!" Ibu beranjak dari kursi,mendekatiku. Matanya merah seperti habis menangis membuatku semakin yakin jika kedua orang ini memang berniat jahat.


"Siapa mereka,Bu?" Tanyaku menatap tajam ke arah dua lelaki berwajah datar tanpa ekspresi itu.


"Baiklah kalau begitu, kami pamit Ibu Salma. Kami memberi Ibu Salma waktu satu minggu, sebelum kami kembali kesini dan mengambil paksa." Kedua lelaki itu membungkuk,kemudian pergi.


"Siapa mereka,Bu?" Tanyaku


"Mungkin sekarang sudah saatnya kamu harus tau. Sini!" Ibu menepuk kursi di sebelahnya, aku pun menurut saja,duduk di sebelah Ibu.


"Sudah lama mereka sering datang kesini, tapi ibu selalu bersikeras untuk menyembunyikan kamu." Aku memperhatikan Ibu dengan seksama, membiarkannya bercerita.


"Kamu ingat, dulu kita sering pindah-pindah rumah?" Aku mengangguk. Memang benar, sejak kecil aku dan Ibu sering berpindah-pindah tempat tinggal. Hanya ini rumah yang paling lama kita tempati,karena kondisi Alma yang kian memburuk semenjak didiagnosa mengidap gagal ginjal.


"Ibu sengaja membawamu pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Bukan karena Ibu tidak mampu membayar sewa rumah, tapi karena Ibu takut mereka menemukanmu." Setiap kali pindah Ibu selalu beralasan tidak mampu membayar sewa rumah dan aku tidak pernah tau jika ada alasan lain selain itu.


"Memang mereka siapa?" Tanyaku


"Mereka orang kepercayaan Ayahmu, mereka selalu mencari keberadaanmu sejak dulu. Dan tiga bulan terakhir mereka berhasil menemukan keberadaan kita di sini." Jelas Ibu.


Mendengar nama Ayah aku justru tertawa sinis,karena bagiku Ayahku Sudah lama meninggal.


"Ayah Faro udah lama meninggal,Bu. Mungkin itu hanya orang iseng yang kelebihan uang, repot- repot mencari keberadaan kita."

__ADS_1


"Faro, dengarkan Ibu baik-baik." Ibu meraih tanganku


"Ayahmu bukan orang jahat, dia tidak benar-benar meninggalkan kita. Justru Ibu yang sengaja menyembunyikanmu darinya."


Aku menatap sorot mata Ibu yang mulai memerah dan berkaca-kaca.


"Maaf Ibu membuatmu hidup menderita, tidak seharusnya kamu hidup susah seperti ini." Ibu mulai terisak.


"Ibu,,, aku bahagia hidup bersama Ibu. Siapa bilang aku menderita. Aku hanya butuh Ibu dan juga Alma, aku gak butuh siapapun lagi."


"Ayahmu ingin sekali bertemu. Kamu mau bertemu dengannya?"


Antara senang dan tidak, tapi aku memilih menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Kenapa?"


"Tidak ada lelaki di keluarga kita, hanya ada Faro."


"Tapi_"


"Udah malem,kita masuk yuk. Udaranya gak bagus buat kesehatan,nanti Ibu masuk angin." Sebelum Ibu mencari alasan untuk memaksaku bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai Ayahku, aku terlebih dulu mengajaknya masuk kedalam rumah.


Aku masih membolak balik ponsel, berharap pesanku dibalas Kara. Aku masih mengingat-ngingat apa yang salah denganku, hingga Kara berubah dingin seperti itu. Apa dia marah karena kejadian waktu di villa Bogor?


Aku tidak bermaksud membuatnya berada dalam situasi yang kurang menyenangkan,karena sikapku yang berlebihan. Jujur saja aku pun tidak menyadari ketika aku tiba-tiba melepaskan tautan tanganku dan Dea,begitu Kara memekik kesakitan.


Kara pasti terkejut dengan aksi heroik yang tiba-tiba, tapi aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri,semua itu terjadi begitu saja. Bukan hanya Kara yang nampak terkejut,Dea pun tak kalah terkejutnya. Aku sempat mengira malam harinya aku dan Dea akan kembali bertengkar seperti waktu itu, tapi ternyata Dea justru bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa.


Mengingat hubunganku dan Dea akhir-akhir ini memang semakin menjauh. Bahkan aku sempat minta putus ,karena sikap nya yang menurutku mulai berlebihan. Aku memang menyayanginya, tapi jika dia mulai menuntutku untuk selalu memprioritaskan dirinya dan menomor duakan yang lain, aku tidak bisa.


Hari itu aku tidak bermaksud meminta putus,hanya saja Dea mulai mengeluh setiap kali aku harus kerja untuk biaya pengobatan Alma. Dia merasa dirinya tidak lagi diperhatikan, menurutnya aku hanya memperhatikan Alma. Jujur saja aku memang sangat memperhatikan Alma dibanding yang lain, itu karena kondisi Alma yang berbeda dari gadis kecil pada umumnya. Dan,ketika Dea mulai merasa tidak nyaman dengan keadaanku,aku pun akan memilih mengakhiri hubunganku dengannya, menurutku Alma jauh lebih penting, meskipun aku tau dia bukan adik kandungku.


Kara dan Dea, merupakan dua sosok yang jauh berbeda. Kara dengan sikap lugu dan polosnya membuatku merasa nyaman berada didekatnya. Sedangkan Dea, meskipun umurnya jauh diatas Kara, Dea tetaplah sosok gadis manja ciri khas anak dari keluarga kaya. Kara dan Dea sama-sama berasal dari keluarga kaya, tapi mereka berbeda dari sikap dan juga kepribadian.


Dea membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa beradaptasi dengan keluargaku, sedangkan Kara hanya butuh satu kali pertemuan dia langsung bisa berbaur dengan baik. Bahkan awalnya aku kira Alma akan menolak kedatangan Kara, tapi justru Alma paling antusias begitu Kara membantunya dan juga Ibu Membuat cookies tempo hari.


Hari ini tidak ada jadwal bimbingan, aku free.


Biasanya di waktu senggang seperti ini aku menghabiskan waktu berkumpul dengan teman-teman yang lain, atau bermain basket. Tapi, kali ini aku memilih pulang meskipun Rony sempat memaksa untuk ikut bergabung di lapangan basket, tapi aku terlalu malas dan memilih pulang.


Lahan parkiran cukup lengang hari ini, hanya tinggal beberapa motor yang masih terparkir,mungkin masih ada mahasiswa lainnya yang masih berada di kelas atau masih berkumpul di ruang kesenian.


Seorang pemuda bertubuh tinggi berdiri tak jauh dari lahan parkiran, berdiri melipat kedua tangannya di dada memperhatikanku. Dia masih mengenakan seragam sekolahnya, berjalan mendekatiku.


"Apa kabar Bang?" Jupiter menepuk pundakku.


Semenjak kejadian di Bogor tempo hari aku,Jupiter maupun Dea belum sempat bertemu lagi, meskipun kejadian itu sudah berlangsung beberapa hari lalu.


"Baik. Ngapain disini?"


"Nungguin."


"Gue?" Jupiter mengangguk. Meski dia masih bersikap seperti biasanya, tapi sorot matanya tidak bisa berbohong, ada kilatan amarah di balik tatapan mata coklatnya.


"Ada apa?" Aku pura- pura bersikap biasa, seolah tidak ada yang terjadi. Dan masih bersikap santai seperti biasa.


"Sekarang jarang main kerumah, kenapa?" Pertanyaan biasa, namun terkesan menuntut.


"Sibuk. Kemarin dari rumah, ngajarin David." Jupiter menganggukan kepala, tapi aku tau bukan jawaban itu yang ingin dia dengar.


"Sibuk? Sibuk kuliah?"


"Iya,,, bentar lagi gue skripsi."


"Atau,,,?" Jupiter menggantungkan kalimatnya, sebelah alisnya naik,menyeringai.


"Gue bukan cewek yang maen kode-kodean. Langsung saja ke intinya."


"Apa semua ini ada hubungannya dengan kejadian waktu di Bogor. Ada hubungannya dengan Kara?"

__ADS_1


"Gue gak ngerti maksud Lo."


"Lo jatuh cinta sama Kara!"


"Gue?" Aku menunjuk diriku sendiri.


"Lo tau dari mana? Lagipula kalau gue ada hubungan dengan Kara masalahnya apa?" Jupiter terlihat emosi mendengar ucapanku, rahangnya mengeras dan matanya mulai menggelap.


"Gue sama Kara nggak ada hubungan apa-apa, seperti yang lo tuduh. Jadi berhenti berprasangka atau menyudutkan gua atau pun Kara. Gue tau lo sayang sama kakak lo, tapi gue rasa lo gak perlu repot-repot terlalu jauh ngurusin kehidupan pribadinya juga. Gue ataupun Dea punya cara sendiri-sendiri untuk menyelesaikan masalah." 


Aku menepuk pundak Jupiter, mencoba memberi penjelasan. Sedikit saja aku salah bicara,semua akan berantakan dan bisa saja berakhir adu jotos dengannya. Aku tidak mempermasalahkan jika harus berkelahi dengannya, hanya saja aku masih menahan diri,karena bagaimanapun juga aku masih berstatus pacar Dea dan juga aku tau Jupiter sama-sama tertarik dengan satu gadis yang sama denganku.


Aku bukan lelaki bodoh yang tidak bisa membedakan expresi Jupiter yang sering mencuri pandang ke arah Kara. Meski ada perempuan cantik bergelayut manja di sebelah lengannya, tatapan Jupiter tetap tertuju memperhatikan Kara. Bukankah kita sama?


Jupiter pergi terlebih dulu, sedangkan aku masih berdiri di parkiran. Untuk kali ini aku dan Jupiter masih bisa menahan emosi masing-masing, tapi aku tidak bisa menjamin untuk kedepannya, karena Jupiter sudah mulai mengibarkan bendera perang.


Ponsel yang sejak tadi berada di kantong celana, berdering. Satu pesan masuk. Nama Kara tertera di layar ponsel. Aku tersenyum meski belum membaca isi pesannya.


Senyumku hilang begitu aku membaca isi pesannya.


"Mulai hari senin, kamu gak perlu datang ke rumah. Karena Ibu sudah menemukan guru pembimbingku yang baru. Untuk gaji,Ayah sudah mentransfer ke nomor rekening. Terima Kasih,"


Aku mengerjapkan mata berkali-kali, berharap apa yang aku baca salah. Atau Kara hanya ingin mengejekku, karena masih kesal.


Aku tidak ingin membuang waktu dengan membalas pesan dari Kara, terlalu lama untuk sekedar mengetik satu persatu abjad di layar ponsel, jadi aku memutuskan untuk menemuinya secara langsung.


Aku melajukan motor dengan kecepatan penuh, bahkan aku berharap bisa lebih cepat lagi. Biasanya aku memerlukan waktu empat puluh menit untuk sampai ke rumah Kara, tapi kali ini aku bisa sampai hanya dalam waktu dua puluh menit. Bahkan aku melupakan keselamatanku sendiri.


"Mang Udin, Kara ada di rumah?" Tanyaku begitu sampai di depan gerbang rumah Kara.


"Ada, kenapa mas Faro?"


"Saya mau ketemu, sebentar aja mang." Mang Udin nampak bingung.


"Tapi_"


"Sebentar aja Mang. Lima menit aja, gak bakalan lama. Setelah itu saya langsung pulang."


Meski ragu, akhirnya Mang Udin membuka pintu gerbang.


"Jangan lama ya,Mas. Soal nya lagi ada Ibu. Saya takut di marahin."


"Iya, tenang aja. Saya gak lama kok." Aku meyakinkan Mang Udin, meski sebenarnya aku pun tidak yakin dengan diriku sendiri, apakah Kara mau menemuiku atau sebaliknya.


Sesampainya di depan pintu aku langsungeng hubungi nomor Kara. Satu panggilan tidak ada jawaban, aku tidak menyerah hingga panggilan kelima, aku baru mendengar suara Kara.


"Iya,,," suaranya serak, seperti habis menangis.


"Kara, aku mau bicara sama kamu. Tolong. Gak lama, aku cuman minta waktu kamu lima menit aja." Kara masih diam, aku bisa mendengar samar-samar isakan, aku semakin yakin Kara pasti habis menangis.


"Kara,,, tolong."


"Aku gak bisa,mending kamu pulang aja."


"Darimana kamu tau aku di,,,_" kalimatku terhenti begitu aku melihat Kara berdiri di balik jendela kaca kamarnya, di lantai dua. Kara berdiri dan masih menempelkan ponsel di telinganya.


"Kar,,, aku cuman mau bicara lima menit aja. Please,,"


"Aku gak bisa, mulai sekarang tolong jangan temui aku lagi."


"Kara!" Belum aku bicara, Kara terlebih dulu mematikan sambungan, bahkan dia menutup tirai jendela. Aku mengusap wajahku dengan kasar. Aku merutuki diriku sendiri, kenapa jadi serumit ini.


Aku berjalan gontai menuju parkiran dimana motorku berada, tidak mungkin aku memaksa Kara menemuiku dan akhirnya aku memilih pulang. Baru aku melajukan Motor beberapa meter, tapi aku melihat dua orang lelaki bertubuh kekar,keluar dari rumah Kara. Wajahnya begitu familiar, aku mencoba mengingat-ngingat dimana aku pernah melihat mereka berdua.


Aku ingat,mereka orang yang datang tempo hari ke rumah menemui Ibu.


Tapi mereka sedang apa di rumah Kara?


Apa mereka juga bekerja untuk keluarga Kara, selain bekerja untuk Ayahku?

__ADS_1


__ADS_2