CAMELIA

CAMELIA
episode 35


__ADS_3

Camelia 35


 Jupiter hanya berpura-pura memejamkan mata, hanya untuk membuat Camelia ikut tertidur. Namun justru Camelia tidak tertidur dan hanya memandangnya hingga pukul empat subuh.  Mungkin Camelia mengira Jupiter sudah terlelap, padahal sebenarnya ia hanya berpura-pura memejamkan matanya. Jupiter sadar betul, jika ia tengah di pandangi Kara tanpa henti, bahkan ia mendengar beberapa kali Kara menyebut namanya, meski suaranya lirih dan sangat pelan. Namun, karena dini hari dan tidak ada suara lain lagi, Jupiter bisa mendengar suara Kara, katika gadis itu memanggil namanya berulang kali. 


Mungkin setelah merasa sangat lelah, akhirnya Camelia as Kara,  mematikan sambungan video call, dan layar ponsel Jupiter pun kembali berubah warna menjadi gelap. Jupiter membuka mata dan menghela nafas lemah, ia tidak tahu harus memulai dari mana untuk mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya kepada Nadira dan juga keluarga besarnya. 


Jupiter sangat menyadari, ia pasti akan  menyakiti Nadira, bahkan bukan hanya Nadira yang kecewa, tapi juga keluarga besar dirinya dan juga keluarga besar Nadira. Hubungannya dan Nadira sudah melewati fase satu level menuju ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan. Bahkan jika tidak ada arang melintang, kedua belah pihak keluarga sepakat akan melangsungkan pernikahan akhir tahun ini, yaitu hanya tinggal tujuh bulan lagi dari sekarang. 


Dada Jupiter terasa begitu sesak, mengingat batas waktu yang sudah ditentukan kedua belah pihak keluarga tinggal sebentar lagi, bahkan mungkin bisa saja pernikahannya dipercepat tanpa sepengetahuannya terlebih dulu. Karena, ketika acara lamaran berlangsung pun, semua acara sudah di siapkan keluarga besarnya, Jupiter tidak tahu jika dirinya akan bertunangan dengan Nadira secepat itu. 


Pada awalnya Jupiter hanya menganggap Nadira sebagai teman biasa, namun karena mereka akhirnya melanjutkan pendidikan di universitas yang sama di luar negri, akhirnya mereka semakin akrab. Terlebih juga karena Jupiter masih terus mencari keberadaan Kara, yang saat itu hilang entah kemana, dan berharap suatu hari Nadira tahu keberadaan kekasihnya itu, dan memberinya informasi penting. 


Namun, kedekatan antara dirinya dan Nadira lambat laun menumbuhkan benih-benih cinta, terutama Nadira. Karena Jupiter yang selalu ada di dekatnya, akhirnya Nadira mulai mencintai Jupiter. Entah sejak kapan Nadira mulai menyukai Jupiter, dan juga mungkin karena sudah terbiasa bersama dan sudah mulai merasa putus asa, karena tidak kunjung menemukan Kara, akhirnya Jupiter menerima cinta Nadira. Walaupun sebenarnya Jupiter tidak tahu persis, bagaimana perasaan untuk Nadira. 


Meskipun hubungannya dan Nadira sudah berjalan dua tahun, tetap saja tidak juga menumbuhkan rasa cinta untuk Nadira. Perasaannya terlalu besar untuk Kara, hingga ia tidak bisa membagi hatinya untuk wanita lain. 


Awalnya Jupiter merasa tidak perlu terlalu serius menjalani hubungannya dengan Nadira, lagipula dia masih berharap suatu hari Kara akan kembali padanya. Tapi, ternyata kedua belah pihak keluarga mereka terlalu bersemangat begitu mengetahui kedua anaknya menjalin hubungan. Tanpa menunggu lama, akhirnya mereka melangsungkan pertunangan. 


Jupiter menghela nafas lagi, kini ia sangat menyesali keputusannya menjalin hubungan dengan Nadira. Seharusnya Jupiter lebih bersabar sedikit lagi, karena pada akhirnya Kara kembali. Jupiter sangat bahagia begitu ia kembali menemukan Kara, atau lebih tepatnya mereka saling menemukan. Namun, kini Jupiter pun merasa bingung karena ia harus memutuskan mana yang akan ia pilih. 


Meskipun hatinya sangat yakin, jika ia mencintai Kara, namun ia juga harus memikirkan bagaimana nasib keluarganya, jika tiba-tiba saja ia memutuskan hubungannya secara sepihak. Jupiter memijat-mijat pangkal hidungnya, mencoba mengalihkan rasa pening yang mulai menyerang kepalanya. Mungkin melihat langit subuh bisa mengurangi rasa penat, pikir Jupiter. 


Akhirnya ia berjalan menuju balkon, di depan kamarnya. Di  tempatnya berdiri ia membuka jendela, membiarkan hembusan angin pagi hari yang terasa dingin dan sejuk menerpa tubuhnya dan mulai memasuki kamarnya. 


Hembusan angin pagi hari masih terasa begitu segar dan dingin, begitu menusuk tulang. Jupiter merentangkan kedua tangannya, dan memejamkan matanya sejenak. Ia berusaha menenangkan pikirannya, menimbang-nimbang langkah apa yang harus diambil untuk selanjutnya.  Apa ia harus tetap meneruskan hubungannya dengan Nadira, demi keluarganya, meskipun ia tidak mencintai Nadira. Atau, ia harus memperjuangkan Kara, meskipun ia tahu akan ada banyak orang yang menentang hubungannya, salah satunya adalah ibunya. 


Sekelebat bayangan Kara, ketika tersenyum dan bayangan gadis bermata bulat itu menangis, berseliweran di pikirannya. Jupiter ingin sekali memeluk gadis kesayangannya itu, dan bisa melihat senyum manisnya setiap hari. 


Jupiter kembali membuka matanya, kini ia yakin dan pasti, jika yang harus ia perjuangkan adalah Kara, dan juga hatinya. Meskipun pasti sulit, Jupiter tetap akan berusaha mempertahankan Kara, karena baginya sudah cukup selama ini ia mengalah. Tidak untuk sekarang. 


Mungkin masih ada waktu beberapa jam, hingga matahari benar-benar muncul membelah bumi. Namun, seakan rasa kantuknya sudah hilang, meskipun Jupiter belum semenitpun memejamkan mata, tapi ia tidak merasa ngantuk. Justru ia ingin segera pagi, dan kembali menemui Kara. Untuk mengikis waktu, Jupiter memilih berlari-lari kecil di halaman rumahnya. Para asisten rumah tangganya begitu terkejut, melihat anak majikannya yang sudah terbangun terlebih dahulu daripada mereka. 


Jupiter berlari mengelilingi halaman rumahnya yang lumayan cukup luas, dan bisa membuatnya berkeringat. 


"Tumben," suara seorang perempuan menghentikan langkah kakinya. Jupiter menoleh pada sosok yang tiba-tiba saja datang, bahkan di waktu sepagi ini. 


"Gak bisa tidur, kak." Jawab Jupiter pada kakak perempuannya. 


Dea yang masih menggunakan pakaian tidur berwarna merah maroon, menghampiri adiknya yang sudah tergeletak di teras depan rumah mereka. 


"Mau minum?" Tanya Dea, begitu ia melihat nafas Jupiter yang terengah. 


"Mau,," balas Jupiter. 


Dea segera kembali masuk kedalam rumahnya, mengambil satu botol air putih dingin, dan memberikannya pada Jupiter. 


"Tumben udah bangu?" Tanya Jupiter, setelah menenggak hampir setengah isi dari botol yang diberikan kakaknya. 


"Kamu yang tumben. Kakak setiap hari bangun jam segini, dan pasti keluar rumah. Cari udara pagi." Balas Dea, sambil memejamkan matanya dan menghirup dalam-dalam udara pagi. 


"Setiap pagi? Ngapain?" Selidik Jupiter, karena ia tidak tahu jika kakak nya selalu bangun lebih pagi dari yang lain, bahkan lebih pagi daripada orang yang bekerja di rumahnya. 

__ADS_1


"Suka aja. Udaranya lebih segar,, dan juga sejuk." Jawab Dea. 


"Bukan karena yang lain?" Tanya Jupiter lagi. 


"Bukan.," Balas Dea sambil tersenyum simpul penuh arti. 


Jupiter bukan anak kemarin sore yang mudah sekali di bohongi. Ia tahu jika kakaknya masih memikirkan perceraiannya dengan Alfaro satu tahun yang lalu. 


"Masih menunggunya pulang?" Jupiter memberanikan diri bertanya. 


"Tidak," jawab Dea singkat, sambil menghela nafas berat. Namun Dea lupa, jika adiknya tidak akan bisa percaya begitu saja dengan ucapannya yang terlihat masih menggantung dan tidak pasti. 


"Keliatan banget ya?" Tanya Dea, sambil tersenyum samar. 


Jupiter hanya mengangguk sambil mengedarkan pandangannya, melihat langit pagi yang mulai berwarna merah jingga, pertanda sang raja siang akan segera datang. 


"Kamu masih mencintainya, kak?" Tanya Jupiter.


"Mmm," Dea hanya menggumam, menjawab pertanyaan Jupiter. 


"Lalu, kenapa kalian memilih berpisah. Aku kira setelah kehadiran Aksara bisa membuat hubungan kalian membaik." 


"Iya, memang kehadiran Aksara dalam rumah tangga kakak dan Alfaro membuat kita menjadi lebih dekat. Tapi, tidak mengurangi rasa bersalahku." Dea menghela nafas lemah,


"Aku kira kepergian Kara bisa membuatku dan Faro baik-baik saja, tapi ternyata tidak." Lanjut Dea sambil menundukan kepalanya. 


"Alfaro dan aku terus di bayangi rasa bersalah. Aku yang terus merasa bersalah, karena mendukung tindakan kriminal Faro. Begitu juga dengan dirinya, yang semakin hari, semakin merasa bersalah karena Kara langsung menghilang bagai ditelan bumi. Dan juga,,,, karena Faro masih mencintai Kara, hingga hari ini." Jelas Dea. 


Jupiter tidak menyala sedikitpun ucapan kakaknya. Ia cukup mengerti bagaimana kondisi Dea, yang terus merasa bersalah setelah kejadian enam tahun silam. Dea pikir setelah Kara pergi, ia bisa dengan mudah menggantikan posisi gadis itu di hati Alfari, ternyata tidak. 


Meskipun mereka pada akhirnya menikah, dan memiliki seorang anak laki-laki berusia empat tahun bernama Aksara Keenan, tapi tidak juga membuat Alfaro membuka hati seutuhnya untuk Dea. Hingga pada akhirnya, pertengahan tahun kemarin, Dea dan Alfaro resmi bercerai. Sedangkan untuk hak asuh anak, jatuh pada Dea. Hingga kini setelah perceraian itu, Dea lebih memilih kembali tinggal bersama keluarganya. Sedangkan Alfaro, memilih kembali tinggal dengan Ayahnya, Fathur. 


"Kamu belum menemukan dimana Kara?" Tanya Dea. 


Jupiter ingin sekali mengatakan jika dirinya sudah menemukan dimana Kara berada, tapi ia takut jika Dea tahu keberadaan Kara,dan kembali berulah seperti dulu, akhirnya Jupiter memilih berbohong. 


"Nggak,,, aku belum menemukannya." Jawab Jupiter.


"Aku harus mencari keberadaanya," 


"Untuk apa, kak? Dia sudah pergi, tidak ada gunanya mencari Kara. Dia tidak ada hubungannya dengan perceraian kakak dan Faro. Aku tidak ingin kakak selalu menyalahkan orang lain, atas hal apa yang menimpa hidup kakak. Perceraian itu pilihan kalian, jadi jangan libatkan orang lain, hanya untuk menutupi kegagalan kalian." 


"Aku mencari Kara bukan untuk membalas dendam atau mencelakainya seperti dulu. Tapi, aku ingin mencarinya untukmu." Jupiter terperangah mendengar ucapan kakaknya. 


"Kakak tahu kamu tidak bahagia dengan Nadira. Kakak juga tahu sampai hari ini kamu masih mencintai Kara." Dea menatap lekat manik cokelat adiknya. 


"Kamu bisa berbohong dan selalu berpura-pura di depan orang banyak, tapi tidak denganku. Kamu tahu, hal yang sangat aku sesali sampai detik ini, yaitu aku tidak pernah mencari tahu bagaimana perasaan kamu dan Kara yang sebenarnya. Aku terlalu dikuasai rasa cemburu, sehingga aku menutup mata dan tidak melihat bagaimana kalian bisa saling mencintai satu sama lain." 


Dea menarik nafas dalam-dalam, seolah mencari kekuatan sebelum ia mengungkapkan seluruh isi hatinya pada sang adik. 


"Kamu tahu, aku tersiksa melihat adikku menderita." Jupiter meraih jemari kakaknya, bahkan suara Dea mulai bergetar menahan tangis. 

__ADS_1


"Aku baik-baik saja kak,,," 


"Nggak! Kamu bohong!! Jangan seperti ini, tolong. Kakak mohon,,, aku ,,, aku sangat merasa bersalah jika akhirnya kamu harus menikahi perempuan yang tidak kamu cintai." Kini Dea mulai terisak,


"Cari Kara, berjuang lagi. Kakak pasti akan selalu mendukungmu, apapun yang terjadi. Cukup aku yang gagal dalam rumah tangga, kakak gak mau melihatmu hancur seperti diriku. Karena, jika itu terjadi aku orang pertama. Yang akan merasa sangat bersalah. Karena aku menjadi salah satu penyebab kalian berpisah." 


Jupiter tersenyum lega, akhirnya ia memiliki satu kekuatan tambahan untuknya kembali berusaha. Meski hanya dukungan dari kakaknya, tapi itu sudah cukup untuknya. 


"Iya kak, aku pasti akan mencari Kara. Dan membawanya kembali kesisiku." Jawab Jupiter penuh keyakinan. 


Dea akhirnya tersenyum di sela tangisnya. Mengusap puncak kepala adiknya dengan perlahan. 


"Ibu,,,," teriakan seorang anak kecil, membuat keduanya menoleh ke arah suara. 


"Aksa sudah bangun?" Tanya Dea pada anak semata wayangnya, yang masih menguap menahan kantuk. 


"Kenapa bangun, kan masih pagi." Lanjut Jupiter. 


Aksa tidak menghiraukan ucapan kedua orang dewasa di depannya, ia masih mengucek kedua matanya dengan punggung tangannya. 


"Aksa mau susu,,," rengeknya, menghampiri Dea dan memilih duduk di pangkuan ibunya. 


"Mau susu? Sudah besar ko masih minum susu di botol sih? Di gelas dong!" Ledek Jupiter. Aksa hanya mengerucutkan bibirnya, tidak menanggapi ucapan Jupiter. 


"Ayo,,, Ibu buatkan susu di dalam. Di sini dingin." Dea menggendong Aksa hendak membawanya kembali ke dalam rumah. 


"Awww sakit…. ibu, uncle Jupi nakal!" Rengek Aksa, sambil memegang pipinya yang dicubit gemas oleh Jupiter. 


"Nanti ibu pukul, uncle Jupi." Dea segera mendekati Jupiter dan menjitak kepala Jupiter. 


"Awwww,,, sakit tau! Ko jitak beneran sih!" Keluh Jupiter, karena ternyata Dea benar-benar menjitaknya dengan kencang. 


"Sukurin!!" Balas Dea sambil menjulurkan lidahnya dan segera meninggalkan Jupiter dengan langkah tergesa, seolah takut Jupiter mengejarnya.


Jupiter hanya tersenyum melihat kakak dan juga keponakannya, berjalan cepat menuju dalam rumah. Ia kembali mengusap jidatnya yang masih terasa sedikit nyeri, akibat pukulan Dea. 


Melihat Aksa yang harus mengerti kondisi orang tuanya di saat usianya masih sangat kecil, tidaklah mudah. Terkadang Aksa sering bertanya dimana keberadaan Alfaro, atau sekedar meminta kedua orang tuanya tidur bersama dalam satu tempat tidur. Aksa masih terlalu kecil untuk mengerti arti dari sebuah perpisahan, dan tentunya itu hasil dari keegoisan orang dewasa, hingga akhirnya anak-anaklah yang harus menanggungnya. 


Jupiter tidak menyalahkan kakaknya ataupun Alfaro dalam keputusan mereka yang akhirnya memilih berpisah, mungkin banyak masalah yang tak nampak, yang mereka alami, sehingga pada akhirnya mereka memilih berpisah. 


Tapi, satu hal yang menjadi pertimbangannya, yaitu salah satu alasan kakak nya gagal dalam rumah tangga, yaitu karena kurang kuatnya rasa cinta diantara mereka berdua. Dan Jupiter tidak ingin itu terjadi di dalam kehidupannya. 


Jupiter menginginkan sebuah rumah tangga yang kokoh, yang didasari rasa cinta yang kuat. Tidak hanya salah satu yang kuat, tapi dari kedua belah pihak harus sama kuatnya. Sedangkan sekarang pun Jupiter ragu, apakah ia bisa  sebesar itu mencintai Nadira, jika ia tidak cukup kuat mencintai Nadira, maka dipastikan ia akan berakhir sama tragisnya dengan kakaknya ,Dea. 


Berbeda dengan Kara, meskipun sudah enam tahun berlalu, bahkan Jupiter tidak pernah tahu keberadaan Kara, tapi tidak mengurangi rasa cintanya, sedikitpun. Justru ia semakin lama, semakin mencintai Kara, bahkan ia tidak ingin berjauhan dengan gadis itu, meski hanya satu menit. 


 


Tapi seakan kembali diuji, kini Jupiter menemukan Kara justru di saat dirinya telah berstatus menjadi tunangan Nadira, sahabat baik Kara. Tapi hati tahu kemana ia harus berlabuh, dengan keyakinan penuh Jupiter akan kembali berusaha mempertahankan Kara. Meski ia tahu, banyak orang yang akan kecewa dengan keputusannya, tapi ia hanya ingin egois untuk satu kali ini saja. 


karena Jupiter sangat mencintai Kara.....

__ADS_1


__ADS_2