CAMELIA

CAMELIA
episode 22


__ADS_3

Author pov


"Pak,, dimana?" Satu jam berlalu, Kara masih menunggu sopirnya, tapi pak Parman tak kunjung datang. Sekolah sudah mulai sepi hanya tinggal beberapa siswa yang tergabung dalam organisasi saja yang masih tinggal.


Sejak tadi Pak Parman sulit dihubungi, entah panggilan ke berapa puluh,akhirnya Pak Parman menjawab panggilan Kara.


"Non bilang saya boleh pulang duluan. Saya sekarang sudah dirumah."


"Kapan saya bilang gitu?"


"Tadi ada teman Non Kara, suruh saya pulang duluan."


"Bapak ko percaya, terus sekarang gimana? Kara pulang sama siapa?" Keluh Kara,


"Saya jemput lagi ya,Non. Tunggu sebentar."


Kara hanya menghela pasrah. Jam sudah menunjukan pukul empat sore jarak antara rumahnya dan sekolah cukup jauh. Butuh waktu hampir empat puluh menit, itupun jika tidak terjebak macet.


Kara menunggu di depan pintu gerbang sekolah, karena penjaga sudah mulai mengunci seluruh area gedung sekolah. Tidak ada satupun lagi siswa yang tersisa, hanya tinggal dirinya, beberapa penjaga sekolah dan orang kebersihan.


Hari ini terasa begitu berat, kejadian di kelasnya tadi berakhir dengan kesalahpahaman. Dari sudut pandang manapun Kara pasti terlihat salah, padahal kejadian sebenarnya tidak seperti itu.


Jupiter sempat menolongnya, bahkan membantu meredam rasa perih di pipi akibat tamparan keras Dea, Kara tau persis Dea pasti akan marah besar melihatnya berpelukan dengan Faro. Tapi Kara tidak diberi kesempatan sedikitpun untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Kara justru dapat pukulan keras di pipinya, bahkan ketika dia belum sempat menyelesaikan kalimat pertamanya.


Sejak awal Kara memang sudah tau hubungan Faro dengan Dea, hanya karena Kara merasa nyaman dengan kehadiran sosok Faro yang menurutnya sangat dewasa, meski sempat terjadi insiden ciuman waktu itu, tapi itu hanya sebagai luapan emosi sesaat. Setelah itu,Kara sadar jika dirinya hanya merasa nyaman di dekat Faro bukan karena dia menyukainya, tapi karena rasa nyaman yang diberikan Faro,membuat Kara merasa terlindungi. Kara memang membutuhkan sosok dewasa seperti Faro, sosok yang menemaninya, mendengar setiap keluh kesahnya. Tapi Kara hanya menganggap Faro sebagai teman, karena jauh di dasar hatinya dia menyukai lelaki lain.


Suara deru motor kian mendekat, decitan rem begitu nyaring terdengar,membuat Kara menoleh dan mendapati Jupiter tengah mengendarai motor, berhenti persisi di depannya.


"Balik bareng aku!" Jupiter langsung menyerahkan helm, reflek Kara menerima helm dari tangan Jupiter.


"Ayo naik!"


"Aku nunggu pak Parman jemput." Kara kembali menyodorkan helm yang diterimanya.


"Dia gak bakalan dateng." Sarkas Jupiter


"Aku yang nyuruh dia gak dateng. Ayo buruan,,, nanti keburu sore!". Kara masih diam, berulang kali mengerjapkan matanya,


"Malah bengong, ayo! Perlu aku bantu naik?" Kara menggeleng,


"Tapi,,"


"Dia gak bakalan dateng, Kara. Ayo aku antar, dijamin gak bakalan jatoh."


Akhirnya Kara naik, berpegangan pada jaket yang dikenakan Jupiter dan motor pun mulai melaju meninggalkan gedung sekolah. Mereka tidak menyadari jika ada sepasang mata memperhatikan, dengan sorot penuh amarah.


Jupiter mengendarai motornya dengan perlahan,menyusuri ruas jalan yang sudah mulai lengang,karena hari sudah mulai sore.


Mereka menyusuri jalan tanpa ada satupun yang bicara, hingga tiba-tiba kara meminta Jupiter menghentikan laju motor.


"Berhenti!" Pekiknya.


Tanpa aba-aba, Kara langsung turun begitu motor Jupitet berhenti dan berjalan setengah berlari menuju bahu jalan.


Melihat Kara turun dari motornya, Jupiter pun menepikan motor, ikut mengejar Kara.


"Kamu kenapa sih tiba-tiba minta berhenti terus lari?" Jupiter menghampiri Kara yang tengah jongkok memperhatikan sesuatu.


"Kara! Kamu tau gak tadi tuh kita bisa jatoh dan kamu bisa aja ditabrak kendaraan lain. Lari gak liat kanan kiri!" Jupiter masih kesal, namun Kara justru diam belum beranjak.


"Kar, denger gak sih aku ngomong!"


"Jupi,,, kucingnya buta." Kara mengangkat seekor anak kucing berbulu hitam,coklat dari balik tumpukan kardus bekas.


"Kasihan,,, " Sorot mata Kara sendu,melihat seekor anak kucing yang meraung-raung.


"Kamu minta berhenti, lari kesini cuman karena kucing?" Setengah tidak percaya dengan kelakuan Kara, Jupiter justru melangkah mundur begitu Kara berdiri sambil mendekap anak kucing.


"Lihat, dia buta." Kara menunjuk kedua mata anak kucing yang tertutup.


"Kasihan,ya?"


Jupiter kembali melangkah mundur,


"Kenapa kamu mundur-mundur gitu?" Kara merasa heran setiap kali dia melangkah, maka Jupiter pasti ikut melangkah.


"Kamu ga berniat bawa kucing itu pulang kan?"

__ADS_1


"Aku mau bawa dia pulang. Kasihan,,"


"Apa?!"


"Kenapa memangnya?"


"Jangan deket-deket!" Jupiter memperingatkan begitu Kara semakin mendekatinya. Kara seakan tau apa yang dimaksud Jupiter, dia tersenyum jahil dan justru melangkah semakin mendekat.


"Kara! Stop. Jangan mendekat!" Tapi Kara justru semakin mendekat.


"Maaf ya,,," kini mereka berdua duduk di pinggir jalan. Kara yang terus memegang satu kotak tisu tanpa hentinya berkata maaf.


"Jupi,, maafin Kara ya." Jupiter hanya memutar bola mata, dan masih memegang hidungnya dengan tisu.


"Huachim!!"


"Maaf, aku gak tau kalau kamu alergi baget sama kucing." 


"Udah dibilang jangan mendekat, masih ngeyel." Jupiter menggumam.


"Aku kira kamu cuman takut, masa iya cowok keren takut kucing." Kara terkikik geli,membayangkan sosok Jupiter dengan tubuh tinggi besar takut hanya karena seekor anak kucing.


"Beneran kucingnya mau di pelihara." Kucing malang tadi, akhirnya di bawa oleh Pak Parman terlebih dulu ke rumah Kara.


"Iya, kasihan. Kamu tau, dia gak punya siapa-siapa, karena dia cacat, dia tidak diinginkan siapapun." Sekilas Kara menatap mata Jupiter, tersenyum lembut begitu tatapan mereka bertemu.


"Kenapa? Aku aneh?" Tanya Jupiter karena Kara nampak begitu lekat memperhatikannya.


"Kenapa kamu gak benci aku?" Kara balik bertanya.


"Kenapa harus benci?"


Kara memutus tatapannya, kini dia beralih melihat sekelompok burung,hinggap di sebuah pohon besar di pinggir jalan.


Jalanan yang tidak terlalu ramai, karena sudah mulai memasuki kawasan perumahan Kara membuat mereka asik berlama-lama berada di tepian bahu jalan.


"Aku tau, sebenarnya kamu sangat marah bahkan mungkin benci sama aku. Iya kan?"


"So tau!"


"Jupi, kamu pernah menyukai seseorang?" Tanya Kara, mata Kara masih menerawang memperhatikan tiap gerak gerik burung yang hinggap dari satu dahan ke dahan yang lainnya.


"Lucu tau,,. Kucing tadi aku kasih nama Jupi aja, ya? Bagus kan?"


"Kenapa Jupi, gak santan atau nutella gitu?" Kara tekekeh.


"Lucu aja biar samaan kaya kamu, kamu Jupiter dia Jupi aja. Sama-sama lucu kan?"


"Tapi dia buta,"


"Hatinya kan gak buta." Hening, kali ini Jupiter tidak bisa menjawab.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku." Kembali ke topik pembicaraan tadi karena Kara masih berharap Jupiter mau menjawab pertanyaanya.


"Jawab apa? Soal aku gak marah atau soal suka seseorang?"


"Dua duanya."


"Gak ada jawabannya."


"Kok gitu."


"Aku aja gak tau." Kara berdecak kesal, karena Jupiter hanya berputar-putar tanpa menjawab pertanyaan.


"Kamu tau, aku menyukai seseorang. Tapi ini rahasia ya, cuman kamu aja yang boleh tau?" Jupiter tertegun, antara yakin dan tidak, karena Jupiter tau yang dimaksud Kara pasti Faro.


"Tapi, dia udah punya pacar." Merasa semakin yakin dengan dugaanya, Jupiter memilih diam mendengarkan Kara menyelesaikan ceritanya.


"Aku gak tau sejak kapan aku menyukainya, mungkin semenjak dia menyeretku hingga membuat kakiku sakit atau mungkin jauh sbelum itu. Dia memang membuat kakiku terluka, tapi justru hatiku yang merasa sakit. Aneh bukan?" Kara tertawa, menceritakan kekonyolannya menyukai seseorang.


"Tapi hidup tidak selalu berjalan mulus seperti dongeng-dongeng anak kecil, sepertinya dia tidak tertarik padaku. Kamu tau kenapa aku mau merawat kucing tadi?"


Jupiter menggelengkan kepalanya, merasa jika lelaki yang disukai Kara bukanlah dirinya, mendadak lidahnya kelu dan mati rasa.


"Kucing tadi sama seperti diriku, tidak memiliki siapapun dan tidak diinginkan." Sorot mata Kara berubah sendu,


"Mungkin aku gak bisa bertemu lagi dengan lelaki yang aku maksud tadi, boleh aku titip sesuatu untuknya."

__ADS_1


"Kenapa gak kasih langsung. Kenapa harus aku?"


"Aku ga punya banyak waktu. Cuman kamu yang bisa,mau ya?" Jupiter tidak langsung menjawab permintaan Kara


"Ya, mau kan?" Kara terus memaksa.


"Mau nitip apa memangnya?"


"Nitip ini,,," Kara menarik kerah baju Jupiter, hingga jarak wajahnya dan jarak wajah Jupiter tinggal satu senti.


"Bilang ke dia, aku sayang." Kara mengikis jarak di antara mereka hingga bibir mereka bertemu.


KARA pov


Aku tidak ingin semuanya menjadi semakin sulit bahkan semakin tidak terkendali.meski takut akhirnya aku memberanikan diri mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya.


Semenjak malam itu, pertama kalinya aku bertemu Jupiter di acara makan malam hatiku berdebar tidak menentu. Hari itu bukan pertama kalinya aku melihat Jupiter. Aku sering melihatnya berseliweran di sekolah maupun kantin, dia memang selalu nampak menonjol dibanding anak lainnya. Selain tampan, dia juga pintar. Pintar dalam bidang pelajaran dan pintar berkelahi, tak jarang dia sering membuat onar di sekolah jika ada yang berani mencari masalah dengannya.


Jupiter Alfian, entah sejak kapan aku mulai menyukainya. Hatiku berdebar kencang setiap kali dia menatapku, berbeda ketika aku bersama Faro. Awalnya aku kira aku menyukai Faro, namun begitu aku membaca sebuah surat di laci kerja Ayah, sejak saat itu juga aku mengubur perasaanku untuk Faro. Aku bukan anak kecil yang hanya diam begitu aku melihat sesuatu yang aneh terjadi.


Berawal dari obrolan Bi Iyah dan Mbak Susan yang tanpa sengaja aku dengar di kamarnya tempo hari. Bi Iyah menegur anaknya, Mbak Susan karena tanpa sengaja menceritakan penyebab pertengkaran Ibu dan Ayah waktu itu, salah satunya karena Ayah menginginkan anak dari istri pertamanya bisa tinggal satu rumah dan mulai dipublikasikan kebenarannya.


Bukan itu yang membuatku menangis dan merasa sangat terluka. Tapi karena ucapan Bi Iyah menceritakan jika sebenarnya aku bukan anak kandung Ayah Fathur. Hatiku sakit, duniaku seakan hancur seketika.


Ayah yang sangat mencintaiku, cinta pertama di hidupku ternyata bukan Ayah biologisku. Aku menangis berhari-hari, meratapi nasibku. Tidak ada yang tau dan aku pun tidak menceritakannya pada siapapun. Aku masih bersikap seperti biasa, meski terkadang aku menangis ketika Ayah menunjukan betapa dia sangat mencintaiku.


Rasa penasaranku kian bertambah, dan akhir-akhir ini sering kali ada dua orang lelaki yang terus mendatangi ruang kerja Ayah. Aku memberanikan diri menyusup ke ruang kerja Ayah begitu dia tidak ada dirumah. Mencari apapun yang bisa menjadi barang bukti. Hingga aku menemukan satu map berisi informasi dan data seseorang. Meski ragu, aku membuka map coklat itu dan mulai membaca setiap lembar informasi.


Tanganku dingin, nafas terasa sesak. Bahkan hatiku berdenyut sakit begitu aku melihat foto bahkan data dari orang yang sangat aku kenal. Gambar Faro terpampang jelas di kertas itu, bahkan lengkap dengan segala informasi dan tes DNA.


Jadi Faro anak kandung Ayah Fathur?


Sampai saat ini aku masih berpura-pura tidak tahu, sampai suatu sore Ayah dan Ibu kembali bertengkar hebat, tidak ada yang bisa melerai pertengkaran mereka berdua. Amarah Ibu dan Ayah tidak bisa dikendalikan, berawal dari terbongkarnya identitas Faro karena ternyata Ibu tidak tinggal diam begitu mengetahui Ayah mulai mencari mantan istri dan anaknya.


Ibu merasa dikhianati, karena selama ini perusahaan Ayah masih bergantung sepenuhnya dengan perusahaan Ibu. Mereka bertengkar seolah tidak ada lagi yang perlu diperbaiki, dan berakhir dengan gugatan cerai yang lebih dulu dilayangkan Ayah.


Aku masih bersikap pura-pura tidak tahu, bahkan Ibu langsung memecat Faro secara sepihak.


Aku memang tidak menyukainya sebagai lelaki, aku hanya membutuhkannya sebagai teman. Itu yang aku rasakan tapi tidak dengannya. Faro menganggap kedekatan antara aku dan dirinya sebagai suatu hubungan antara perempuan dan laki-laki dan itu menjadi salah satu alasan hubungannya dan Kak Dea berakhir.


Kesalahpahaman ini terus berlanjut bahkan bertambah parah ketika kak Dea dan juga Jupiter mempergokiku yang tengah berpelukan. Mereka pasti mengira aku dan Faro saling menyukai, padahal saat itu aku justru menolaknya dan memintanya agar kembali bersama Kak Dea.


Faro menolah, tapi begitu aku menceritakan sebenarnya lelaki yang aku sukai, akhirnya dia mulai mengerti. Pelukan itu hanya sebagai pelukan perpisahan, tapi justru menjadi pemicu amarah Kak Dea yang berakhir dengan tamparan keras di pipiku.


Aku memang bersalah karena membiarkan Faro salah paham dan berakhir dengan menyakiti Kak Dea, seharusnya aku menghentikannya lebih awal. Jika saja aku bisa mengendalikan diri dan tidak memberikan harapan, mungkin Faro tidak akan terlalu jauh menganggapku menyukainya.


Sempat aku berpikir untuk memendam perasaanku, tapi aku hanya ingin sekali ini berani mengungkapkan yang sebenarnya, sebelum semua terlambat. Akhirnya aku memberi tahu isi hatiku yang sebenarnya, aku tidak tahu setelah ini akan berakhir mengenaskan atau justru perasaanku justru berbalas.


Semua saham yang ada di perusahaan Ayah ditarik sekaligus, bahkan beberapa cabang perusahaan Ayah mengalami penurunan secara drastis. Ibu memang bisa sekejam itu, tidak menyisakan sedikitpun saham miliknya dan tidak peduli dengan kondisi Ayah yang mulai kacau akibat perpecahan pemegang saham.


Kondisi Ayah kian memprihatinkan, di tambah dua hari ini dia jatuh sakit, dan dirawat intensif di salah satu Rumah sakit terbesar di Jakarta akibat penyempitan pembuluh darah.


Beberapa orang sudah berkumpul di kamar tempat Ayah dirawat. Tampak hadir satu orang perempuan paruh baya membawa anak perempuan berusia sepuluh tahun. Gadis kecil itu terus menatapku tanpa henti, tapi aku hanya diam seolah aku tidak mengenalnya.


Pintu kamar terbuka menampilkan sosok lelaki yang sejak tadi dinantikan kehadirannya. Dia adalah Alfaro,


Faro tampak terkejut, bahkan nafasnya putus-putus seperti habis berlari puluhan kilometer. Sorot matanya menyusuri satu persatu orang yang hadir di tempat itu, hingga tatapannya berhenti di diriku.


"Ada apa ini?!" Tanya Faro. Nada bicaranya tinggi bahkan dia sempat marah karena membawa Ibunya ke Rumah Sakit sebagai pancingan agar dia mau datang.


Aku memilih keluar ruangan, karena menurutku itu bukan urusanku. Aku tidak termasuk keluarga dalam golongan darah mereka, meski Ayah sempat memaksa agar aku tetap tinggal tapi aku memilih pergi.


"Jadi ini salah satu alasan kamu nolak aku?" Tiba-tiba Faro berada di sebelahku, ikut menatap hamparan luas kota Jakarta dari atap gedung.


"Bukan."


"Karena kita saudara?"


"Bukan."


Faro menggeser tubuhku hingga berhadapan dengannya.


"Dengar aku baik-baik. Jika kamu menolakku karena alasan ini? Aku tidak akan melepaskanmu! Kamu akan tetap menjadi milikku!"


Aku menepis tangannya, "Bukan itu alasannya,"


"Karena Jupiter?!" Aku tidak menjawab.

__ADS_1


"Jupiter tidak bisa merebutmu dariku, sampai kapanpun." Nada bicaranya penuh ancaman. Faro tidak membiarkanku menyela atau menjawab kalimatnya, dia terlebih dulu meninggalkanku yang masih diam menatap hampa hamparan luas Kota yang tampak begitu sesak dan panas.


__ADS_2