CAMELIA

CAMELIA
episode 28


__ADS_3

Jupiter tidak lagi menghiraukan teriakan Alfa yang masih mengejar dan meneriaki namanya. 


"Lo gak budek kan, gue panggil dari tadi!" Alfa berhasil mencegat Jupiter, sebelum lelaki itu masuk kedalam mobil miliknya.


"Ada apa lagi?" Jupiter menatap jengah sahabat sekaligus teman bisnisnya itu.


"Lo kenapa gak komplain?" Tanya Alfa penasaran.


"Lo aneh banget, gue komplain salah. Gak komplain juga salah." 


"Lo aneh banget,"


"Aneh apanya, gue setuju visi misi mereka. Gitu doang lo anggap aneh." Gerutu Jupiter. 


"Biasanya lo pasti berbelit-belit sebelum menerima kerjasama. Apalagi mereka perusahaan kecil, biasanya lo susah diajak kerjasama. Tadi, tanpa panjang lebar, lo langsung terima. Wajar kalau gue bilang lo aneh." 


Jupiter menghela, "Udah, anggap aja gue lagi berbaik hati. Gue mau cabut!" Jupiter menepuk pundak Alfa.


"Jangan bilang, lo tergoda perempuan berjas merah tadi?" Selidik Alfa.


"Gue mau balik, gue laper!" Jupiter tidak lagi menanggapi pertanyaan sahabatnya itu, dia lebih memilih cepat-cepat pergi hendak menemui seseorang.


Selama perjalanan, Jupiter masih memikirkan bagaimana pertemuan keduanya dengan perempuan yang bernama Camelia. Jupiter yakin itu adalah Kara, perempuan yang dicarinya selama ini, meskipun gadis itu berusaha keras mengelak, tapi tatapan mata, canggung ketika ditatap dan pipinya yang merona ketika salah tingkah, persisi dengan Kara yang dikenalnya. Jupiter masih tidak mengerti apa alasan Kara menyembunyikan dirinya dan berusaha tetap tidak mengenalnya, meski Jupiter tidak bisa dibohongi. 


Jupiter melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, menuju kantor Josh. Jarak yang ditempuh cukup jauh, hampir memakan waktu satu jam. Hingga akhirnya Jupiter sampai di kantor milik Josh.


"Tumben siang bolong kesini." Tanpa basa- basi Jupiter langsung menyambangi ruangan temannya, yang berada di lantai paling atas. Bahkan dia tidak perlu repot-repot bertanya pada sekretaris yang berada di dekat pintu masuk. Seakan sudah menjadi hal yang biasa, sekertaris itu pun tidak mempermasalahkan Jupiter masuk begitu saja ke dalam ruangan bosnya. 


"Gue butuh bantuan lo." Jupiter merebahkan tubuhnya di sofa panjang dan merenggangkan dasi yang terasa mencekik lehernya sejak tadi.


"Gue tau, lo gak bakalan kesini kalau gak ada perlunya," Cibir Josh.


"Gue laper," keluh Jupiter sambil mengelus perutnya.


"Lo kira kantor gue  rumah makan?" Meski begitu tetap saja Josh menelpon sekretarisnya, minta dibawakan makanan ke dalam ruangannya. 


Tidak berselang lama, sekertaris yang bernama Natalie itu datang membawa nampan berisi satu gelas susu dan satu piring berisi roti selai kacang. 

__ADS_1


"Terimakasih, kamu boleh keluar." 


"Baik, pak." Natalie langsung keluar begitu Josh memerintahnya. Bukan hanya Josh, Natalie pun tahu makanan kesukaan Jupiter, karena Jupiter sering kali meminta makanan ketika ia berkunjung atau sekedar mampir di kantor Josh.


"Apa yang bisa gue bantu," Josh ikut duduk di seberang Jupiter.


"Gue minta tolong cari informasi seseorang," 


"Siapa?" 


Jupiter menyerahkan secarik kartu nama dari saku jasnya.


Josh langsung menerima kartu tersebut, dahinya menyerngit seolah tengah mengingat sesuatu.


"Bumi Daya, kayak gak asing. Bentar," Josh bangkit dari tempat duduknya, berdiri menghampiri meja kerja dan mengambil laptop. 


"Gue pernah denger nama itu," Josh kembali duduk di seberang Jupiter, kali ini sambil membuka laptop mencari informasi tentang Bumi Daya yang dimaksud Jupiter.


"Lihat," Josh menggeser laptopnya, memperlihatkan layar kehadapan Jupiter. 


Jupiter menaruh roti di tangannya dan mulai memperhatikan layar laptop dengan seksama. 


"Kalau gak salah itu perusahaan di pegang sepasang kekasih, bernama Febian dan juga Camelia. Tapi menurut gosip yang beredar, mereka termasuk pasangan kekasih yang aneh, karena si lelaki membiarkan perempuannya melakukan apa saja untuk menarik para investor, termasuk privat service." 


Jupiter merasa lidahnya kelu bahkan untuk menelan air liurnya pun susah, begitu ia mendengar penjelasan Josh.


"Lo yakin, gosip itu benar?" Tanya Jupiter.


"Gue belum pernah bertemu secara langsung, tapi gue percaya gosip itu benar."


"Kenapa lo bisa yakin?"


"Karena salah satu kenalan gue pernah jadi partner bisnis mereka." Seakan pasokan udara semakin berkurang, Jupiter kembali menarik dasi yang dikenakannya hingga terlepas seutuhnya, bahkan dia sampai membuka dua kancingnya sekaligus. 


"Kenapa, tumben banget lo mau tau urusan kaya gini?" Josh merasa ada yang aneh dengan temannya, karena tidak biasanya Jupiter mau repot- repot mengurusi masalah remeh temeh seperti itu. 


"Gue ketemu mereka hari ini di kantornya Alfa. Awalnya Gue gak tau, karena Alfa tidak menjelaskan siapa partner bisnis dia yang baru, dia cuman minta gue jadi investor utama dan juga gue diminta hadir melihat secara langsung prospek visi dan misi, Bumi Daya. Dan lo tau apa yang gue dapat? Gue bertemu Kara." 

__ADS_1


"Apa?!" Josh membulatkan matanya, terkejut mendengar ucapan Jupiter.


"Tapi, dia tetap bersikeras jika dirinya bukan Kara." 


"Tunggu, Lo ketemu Kara, tapi dia bukan Kara. Maksudnya gimana gue gak paham?" 


"Camelia is Kara," jelas Jupiter.


"Apa?!" Josh kembali memekik, terkejut.


"Bagaimana bisa? Lo yakin itu Kara? Atau mungkin lo salah orang. Gak mungkin Kara itu Camelia, mereka dua orang berbeda!" 


Jupiter menghela nafas lemah, sejujurnya ia pun berharap demikian. Jupiter sangat berharap jika Camelia bukanlah  Kara, tapi dari dua kali pertemuannya, Jupiter justru melihat Kara ada di diri Camelia. Wajah mereka sama walaupun sekarang jauh lebih dewasa dan sexy, tapi sorot mata dan caranya menyembunyikan kegugupan masih sama.


"Gue juga berharap begitu, tapi dua kali ketemu dia, gue semakin yakin jika itu memang benar Kara." 


"Lo udah ketemu dia sebelumnya?" 


"Iya," Jupiter mengangguk samar.


"Dimana?"


"Waktu kita kumpul di bar tempo hari, gue gak sengaja nabrak dia."


"Tapi, gak mungkin Camelia itu Kara. Gue tau banget siapa Kara dan siapa Camelia. Mereka dua pribadi yang bertolak belakang!" Seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya, Josh kembali menarik laptop dan mencari informasi lengkap pemilik Bumi Daya.


Namun Josh kembali dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya, pencarian tentang Bumi Daya akhirnya membuahkan hasil. Dia bisa melihat gambar tentang identitas pemilik Bumi Daya, gambar itu menunjukan dua orang, satu lelaki dan satu perempuan. Dan sial nya ia amat mengenali wajah perempuan itu dengan baik.


"Gila,,, gak mungkin itu Kara!" Josh menjauhkan laptop, dan meraup wajahnya dengan kasar.


"Bahkan lo yang hanya melihat gambarnya aja bisa tau itu Kara, apalagi gue," Jelas Jupiter.


"Ini pasti ada yang salah, man!" 


Jupiter mengangguk, "Karena itu, gue minta bantuan lo cari informasi tentang mereka, sedetail mungkin. Pasti ada alasannya, kenapa dia bisa berubah seperti itu?" 


"Kalau memang benar itu Kara, lo yakin mau balik lagi ke dia?" 

__ADS_1


"Gue gak tau," Jupiter menghela lemah, menyandarkan tubuhnya di sofa mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit ruangan. 


"Lo harus pikirkan bagaimana perasaan pacar lo. Dia pasti kecewa kalau sampai tahu sampai hari ini lo masih cari keberadan Kara. Bagaimanapun juga dia perempuan yang nolong lo, disaat-saat lo terpuruk karena kehilangan Kara. Jadi lo jangan sakiti Nadira, pacar lo."  


__ADS_2