
Melihat seorang pemimpin marah itu sudah biasa, jika karyawannya melakukan kesalahan. Namun, kali ini justru berbeda, sudah hampir dua hari ini Jupiter memarahi siapa saja yang melakukan kesalahan, meski hanya sekedar hal sepele. Bahkan hanya karena tong sampah bergeser sedikitpun, Jupiter akan marah besar. Hal yang sangat tidak biasa dilakukannya.
Begitu pula dengan hari ini, entah apa yang menjadi pokok permasalahan, tiba-tiba saja Jupiter marah besar ketika meeting berlangsung. Tidak ada yang mengerti dengan sikap bos muda, yang berubah bagaikan Hulk.
Dengan rasa was-was dan takut, sekretaris Jupiter perlahan masuk, membuka pintu.
"Pak, ada tamu dari Bumi Daya ingin bertemu dengan anda," ucapnya ragu.
Jupiter yang kala itu tengah memandangi layar laptop, mengangkat kepalanya, "Siapa?" Tanyanya.
"Bapak Fabian."
"Saya tidak mau bertemu dengan dia, jika bukan Camelia yang datang!"
"Tapi, pak,"
"Kamu tuli? Saya bilang suruh Camelia yang datang!" Tegas Jupiter, membuat sekertarisnya berjengit, karena nada suaranya bosnya meninggi.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba Fabian muncul dari belakang sekretaris Jupiter.
"Maaf kalau saya lancang, tapi pintu tidak ditutup. Lagipula, saya sudah menunggu hampir dua jam, menunggu anda menyelesaikan pekerjaan anda, dan sekarang anda tidak mau bertemu dengan saya. Sungguh sangat mengecewakan." Tukas Fabian.
"Seharusnya saya yang merasa kecewa. Kalian tidak konsisten dalam berbisnis," sindir Jupiter sambil merebahkan tubuhnya di kursi.
"Maksud anda?" Febian mengerutkan alisnya, tidak mengerti.
"Saya ingin Camelia yang datang, bukan anda. Karena, kesepakatannya dia yang akan menjadi perwakilan dari Bumi Daya," jelas Jupiter.
"Saya sebagai pemimpin dari Bumi Daya, saya yang berhak menentukan siapa yang akan datang hari ini. Lagipula tidak ada kontrak tertulis mengenai siapa yang akan mewakili hadir, jadi saya berhak menentukan siapa yang akan datang. Bukankah begitu, bapak Jupiter?" Tegas Fabian, yang langsung mendapat tatapan tidak suka. Febian tahu, Jupiter hanya beralasan, untuk bisa bertemu dengan Camelia. Namun, Febian pun tidak kalah pintar untuk tetap menahan Camelia agar tidak bertemu dengan Jupiter, setelah Camelia menangis semalaman, karena mengetahui pertunangan Jupiter.
"Baiklah kalau begitu. Camelia tidak hadir, maka kontrak secara resmi batal!" Ancam Jupiter.
Febian merasa sangat dipermainkan, ia hanya bisa menahan emosi, dengan mengepalkan tangannya. Ingin rasanya Febian menghajar wajah Jupiter, karena melibatkan masalah pribadinya dengan pekerjaan. Sementara Jupiter, keputusannya tidak bisa diganggu gugat, ia tetap akan melanjutkan kontrak, jika Camelia yang datang, dan akan tetap membatalkan kontrak jika Camelia tidak datang.
"Saya hanya memberi anda dua pilihan bapak Febian. Bawa Camelia, atau kita batalkan kontrak! Silahkan anda keluar dari ruangan saya." Tegas Jupiter, seraya mengusir Febian.
Meski kesal, akhirnya Febian keluar dari ruangan Jupiter, dan ia segera menghubungi Camelia yang masih berada di apartemennya. Meski awalnya menolak, akhirnya dengan terpaksa Camelia bersedia menemui Jupiter. Tidak ada pilihan lain, selain menemuinya, karena hanya Jupiter yang bisa membantunya saat ini, untuk menunjang kelangsungan perusahaannya.
Camelia berjalan anggun, menuju ruangan Jupiter. Kali ini dia kembali berpenampilan super sexy, seperti biasa. Ia mengenakan rok span diatas lutut, tanktop putih, dan blazer dengan warna senada. Meski warna pakaiannya tidak mencolok, namun lipstik dan rok pendeknya sungguh menggoda, memperlihatkan kaki mulusnya, yang putih dan jenjang.
"Saya mau bertemu bapak Jupiter," ucapnya, begitu ia sampai di depan meja sekretaris, tak jauh dari ruangan Jupiter.
"Iya, silahkan masuk. Bapak sudah menunggu," balas sekretaris ramah, dan mempersilahkan Camelia langsung masuk, karena bos besar sudah menunggu.
Camelia hanya mengangguk, tanpa basa-basi ia langsung membuka pintu. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah, seorang lelaki tengah duduk di kursi kebesarannya, dengan satu tangan menyanggah kepalanya, bertumpu di atas meja. Camelia perlu menghembuskan nafas perlahan, guna menetralkan debar jantungnya, sesekali matanya melihat ke setiap sudut meja, berharap foto sialan itu sudah lenyap. Seakan harapannya terkabul, Camelia tersenyum singkat begitu menyadari foto mengerikan itu tidak lagi ada di atas meja kerja Jupiter.
Bunyi hak sepatu miliknya, terdengar nyaring dalam suasana ruangan yang senyap. Namun, tidak juga membuat Jupiter membuka matanya. Camelia tahu, Jupiter tidak tidur, dan tidak ingin membuang waktu, ia langsung duduk di kursi, menyilangkan kaki, dan menyandarkan tubuhnya.
"Anda terlalu membuang-buang waktu. Untuk orang sepenting anda, bapak Jupiter." Ucap Camelia, dan akhirnya membuat Jupiter membuka matanya.
__ADS_1
"Bukan saya yang membuang-buang waktu, tapi kalian." Jupiter beranjak dari kursinya, menghampiri Camelia.
"Saya?" Tunjuk Camelia, pada dirinya.
"Kami sudah bersikap profesional dalam bekerja, tim kami sudah datang sesuai jadwal. Bahkan, pimpinan kami sendiri yang datang secara langsung ke sini. Apa itu yang dinamakan tidak profesional?" Lanjut Camelia.
"Berhenti bersikap seperti itu!" Camelia mengerutkan dahinya, mengangkat satu alisnya, tanda tidak mengerti.
"Jangan seperti ini!" Lanjut Jupiter, kini ia sudah berdiri tepat di depan Camelia.
Camelia mendongak, menatap manik hitam Jupiter, sorot mata teduh yang sangat ia sukai, tapi dia cukup tahu diri, hingga akhirnya Camelia memutus pandangan dan menghela nafas lemah.
"Baiklah, jadi saya harus seperti apa? Apa yang anda mau dari saya? Apa anda juga menginginkan privat service?" Tanya Camelia dengan nada menggoda.
"Saya rasa, anda pasti sudah mendengar reputasi saya di dunia bisnis," lanjut Camelia.
"Iya, saya tahu. Maka dari itu, saya juga ingin kamu memperlakukan saya, sama seperti client kamu yang lainnya," jelas Jupiter.
"Apa?!"
"Kenapa? Bukankah kamu sudah terbiasa?"
Camelia hanya bisa menarik nafas lelah, percuma saja ia berdebat dengan Jupiter. Meski Camelia selalu punya seribu alasan,ternyata Jupiter juga memiliki sejuta pembelaan.
"Mulai hari ini, setiap hari kamu harus datang ke kantor saya, sebagai salah satu merger kerjasama antara Global Ink, dan Bumi Daya."
"Dan, dimulai hari ini." Tegas Jupiter, tidak bisa di bantah.
Camelia hanya bisa memijat pelipisnya, menahan pusing yang mendera kepalanya. Bagaimana bisa, kini ia harus bertemu dengan Jupiter setiap hari, sedangkan ia harus berperang dengan hatinya setiap kali ia berada dalam jangkauan Jupiter.
Ini merupakan kali pertama untuk Camelia, menjalin kerja sama yang cukup rumit. Meski Global Ink bersedia menjadi investor tunggal untuk perusahaannya, tapi Camelia merasa keberatan, karena ia harus menjadi tawanan Jupiter, dengan alasan salah satu syarat kerja sama. Camelia sempat memarahi Febian, karena tidak bisa menyelamatkannya, dan menggantikan tugasnya. Namun, Febian juga tidak punya pilihan lain, karena hanya Global Ink, yang mau bekerja sama dengannya, tanpa harus melakukan presentasi panjang, meski pada kenyataannya harus mengorbankan Camelia.
Hari ini setelah menunggu Jupiter selama dua jam, karena harus melakukan meeting dadakan, bahkan Camelia sampai tertidur di sofa, karena terlalu lama menunggu. Camelia masih duduk di sofa, setelah ia terbangun, ia masih menyandarkan tubuhnya, dengan mata terpejam.
Meski matanya terpejam, tapi indera pendengarannya bisa mendengar samar-samar seseorang tengah berbicara di luar ruangan. Suara samar itu, kian terdengar jelas. Bahkan kini Camelia membuka matanya, begitu ia mendengar suara seorang perempuan tengah berbicara dengan seorang laki-laki. Seharusnya Camelia tidak perlu bersembunyi, ketika pintu terbuka. Namun, begitu melihat bayangan perempuan yang ia kenali dari balik kaca, Camelia langsung bersembunyi di bawah meja.
Suara pintu terbuka, dan suara gemelatuk sepatu terdengar semakin jelas. Camelia semakin memojokan tubuhnya kebagian dalam kolong meja.
"Kita jadi kan, makan siang bareng?" Suara perempuan terdengar,
"Aku masih sibuk, nanti saja." Jawab si lelaki.
Langkah kakinya semakin terdengar jelas, mendekati Camelia. Membuat ia semakin merasa takut ketahuan, jika dirinya tengah bersembunyi.
Ternyata apa yang ia takuti, akhirnya terjadi. Si lelaki itu menghampiri meja kerja nya, langkahnya terhenti dan sempat beradu pandang dengan Camelia, sesaat.
Jupiter mengerjapkan matanya berkali-kali, begitu melihat Camelia tengah bersembunyi di bawah meja kerja miliknya. Ia sempat berfikir jika Camelia sudah pergi, setelah bosan menunggunya hingga dua jam, namun ternyata perempuan itu masih berada di ruangannya, bahkan kini ia tengah bersembunyi.
"Aku masih sibuk, Nad. Sebentar lagi aku ada rapat dadakan. Jadi sebaiknya kamu pulang, nanti aku telpon." Pinta Jupiter, kepada wanita yang juga berada di ruangan itu, Nadira tunangannya.
__ADS_1
"Baiklah, aku pulang kalau begitu. Jangan lupa nanti malam kita ada acara makan malam keluarga," balas Nadira.
Jupiter kira, Nadira bakal langsung meninggalkan ruangan itu, namun ternyata sebelum ia pergi, Nadira mendekat, dan mencium bibir Jupiter.
Jupiter terkejut dengan ciuman mendadak dari Nadira, segera ia melepas ciuman singkat Nadira, dan berharap kejadian itu tidak dilihat Camelia. Namun, begitu ia melihat ke bawah, ke tempat persembunyian Camelia, ia melihat sorot mata terluka dari wanita itu, bahkan Jupiter bisa melihat dengan jelas ada cairan bening yang mengalir dari pelupuk mata Camelia.
Jupiter segera mengantar Nadira keluar, bahkan ia meminta Nadira segera pulang dan beralasan ia akan segera menghadiri rapat penting. Namun, bukan rapat penting yang akan ia temui, tapi wanita penting di hidupnya, yang ingin segera ia temui.
Setengah berlari ia menghampiri kolong meja, melihat keadaan Camelia. Jupiter sedikit terkejut begitu melihat Camelia sudah terlihat seperti biasa, bahkan butiran air matanya pun sudah tidak terlihat lagi.
"Maaf saya tidak sengaja menguping." Camelia keluar dari persembunyiannya, mengabaikan uluran tangan Jupiter dan memilih berdiri sendiri.
"Kara," ucap Jupiter.
"Kamu Kara, iya kan?" Tegas nya.
Camelia tersenyum miring, dan menggelengkan kepala.
"Bukan, saya Camelia. Bukan Kara!"
"Tidak! Kamu Kara," Jupiter mengikuti langkah kaki Camelia, yang tengah meraih tas selempang yang berada di atas sofa.
"Hari ini cukup sampai disini, besok saya,,," Camelia belum sempat melanjutkan kalimatnya, begitu bibirnya ditutup oleh bibir Jupiter.
Camelia meronta, mencoba melepas ciuman Jupiter, namun lelaki itu semakin memperdalam ciumannya. Sekuat apapun ia melawan, tetap saja ia tidak bisa melawan tenaga Jupiter.
Jupiter mendorong tubuh Camelia hingga membentur dinding, dan mengunci kedua tangan Camelia dengan tangannya. Ciuman Jupiter kian brutal, bahkan tidak segan-segan ia menggigit bibir bawah Camelia, hingga perempuan itu memekik kesakitan, namun justru rasa sakit Camelia dimanfaatkan Jupiter, untuk memperdalam ciumannya.
"Jupi,,, stop!" Dengan sekuat tenaga, Camelia mendorong tubuh Jupiter.
Plakk
Satu tamparan keras mendarat di pipi Jupiter, bahkan setitik darah segar keluar dari sudut bibir Jupiter.
"Aku lebih suka kamu tampar, daripada kamu terus berpura-pura menjadi orang lain," ucap Jupiter, sambil mengusap sudut bibirnya.
"Apa kamu gila?!" Tanya Camelia, dengan nafas terengah.
"Iya. Aku memang gila, dan kamu yang sudah membuat aku gila! Berhenti berpura-pura jadi orang lain!"
"Baiklah, jika itu yang kamu mau. Aku memang Kara, apa kamu puas?" Meski terdengar putus asa, Camelia akhirnya mengakui siapa dirinya.
"Kara," lirih Jupiter, mencoba mendekati Camelia, namun Camelia justru melangkah mundur.
"Aku memang Kara. Tapi siapapun aku, itu tidak akan merubah apapun. Kita tetap orang asing, sekarang!"
"Tidak!! Kamu tetap Kara milikku!" Jupiter semakin mendekat, dan meraih tubuh Camelia kedalam pelukannya.
"Kamu tetap Kara milikku, dan akan tetap seperti itu selamanya!"
__ADS_1