
(Panik)
•
•
•
Hari malam pun telah usai kini matahari terbit akan muncul di sebelah timur.
Tepat shubuh pagi sekali, si pria itu masih tak sadarkan diri, ia masih tergeletak dengan posisi sama dari semalam. saking sepi nya jalan itu hingga belum ada orang satupun melewati nya.
Tak lama kemudian, pria itu seperti membuka matanya perlahan, itu tandanya ia akhirnya sadar dari korban penusukan di badan alias punggungnya itu.
"Iwshhh..." rintihnya. seketika pria itu baru sadar apa yang alami pada dirinya sekarang, ia masih terasa sakit di dalam organ seperti benda tajam itu masih nyungsep di bagian ginjal nya.
Ia berusaha melepaskan pisau di punggungnya alhasil darah nya keluar hebat di saat pisau itu lepas.
"AGRHHHH!"
Lagi-lagi si pria ini masih tak berdaya lagi akibat melepaskan pisau itu di tubuhnya, akhirnya si pria itu kembali pingsan di tempat dan darah segar nya pun masih mengalir dari punggung nya.
Tolong siapapun itu, bantu aku. dalam hatinya. bibir nya sedikit bergetar dan semakin pucat dan akhirnya ia tak sadarkan diri lagi.
•••
Tuan & nyonya itu sudah stay di meja makan nya untuk sarapan pagi tentunya. tinggal 2 anak putra kesayangannya yang masih belum stay di meja makan.
"Mah, coba kamu telpon dia, dari kemarin belum pulang-pulang juga dia." ucap Zaenal.
"Udah aku telpon dia berkali-kali tapi tetap gak aktif, haduh... kemana tuh ya dia, biasa nya kan kalau mau pergi selalu tepat waktu pulang nya jam berapa." ucap Tantri, sambil menyidangkan makanan untuk sang suami nya.
Akhirnya Zaenal mengambil handphone di saku nya untuk menelpon anak nya yang kini belum pulang juga.
Sudah 10 kali Zaenal menghubungi nomer Andre tetapi daritadi tidak dapat di hubungi alias tidak aktif.
Zaenal semakin panik dan cemas, tidak biasanya si Andre pulang tanpa kabar.
"Ini aku gak bisa tenang kalau hp dia gak aktif-aktif, apalagi hari ini ada jadwal meeting dia di perusahaan Stars! kalau begitu aku segera mencari nya sekarang!" ujar Zaenal ia segera beranjak dari meja makan tetapi belum menyentuh makanan sedikit pun.
"Tapi kamu sarapan dulu, nanti dulu kita cari Andre nya." ucap Tantri sambil mencegah suaminya.
"Nanti aja, lagian aku belum nafsu makan jam segini" ujar nya dan tetap kekeuh pergi untuk mencari keberadaan anaknya.
__ADS_1
Namun ketika Zaenal hendak pergi, kebetulan suara pintu lantai atas terbuka dan melihat papa nya seperti buru-buru pergi di pagi-pagi sekali.
Tampak anak bungsu nya itu menghampiri mama nya yang sedang sarapan.
"Lah? papa mau kemana mah?" tanya anak sulung nya itu.
"Mau cari Abang kamu!"
"Jadi dari kemarin bang Andre belum balik?" ucap nya.
"Belum, ya sudah kamu makan dulu sini!" ucap Tantri.
Pantesan gue kemarin ketuk pintu bang Andre kaga nyaut semalam...
•
•
•
Sasya baru saja keluar dari rumah nya dan bersiap-siap berangkat bekerja ke kantor nya, namun tiba-tiba saja ada mobil itu sudah berada di depan pagar dan ia pun seperti tak asing lagi pemilik mobil nya itu.
"Itu kan mobil pak Khoi? Ngapain dia ke sini?" gumam Sasya tampak terpaku di dekat motor nya.
"Selamat pagi, Sasya" ucap Khoi dengan senyuman manis.
"Pagi pak, ee ada apa ya pak datang ke sini?" tanya Sasya.
"Ya mau nganter kamu lah ke kantor, sekalian barengan, hehe" ucap Khoi sambil nyengir.
"Oalah, gak perlu repot-repot pak, saya bisa sendiri kok dan lagian saya bawa motor juga" ucap Sasya.
"Gapapa lah, barengan sama aku saja" ucap nya.
Sasya berpikir sejenak, dan akhirnya ia pun menyetujui nya berangkat bareng bersama Presdir nya itu.
•••
Seperti biasa, Sahira tepat waktu dan tidak ada lagi keterlambatan nya seperti 2 hari awal bekerja nya saat itu.
Namun, ia bertemu lagi seorang CEO tampan dan sedikit sedeng itu di tempat parkiran.
"Widih... Udah gak telat lagi nih?" ledek Saputra.
__ADS_1
"G," singkat Sahira dengan wajah datar lalu segera pergi tanpa beri hormat kepada CEO nya itu.
"Anj, seorang CEO tampan rupawan begini di jutekin mana ga ada rasa hormat ke gua, awas aja kalau gua ketemu lu Sahi!" gumam Saputra sedikit geram lalu ia pun segera masuk ke perusahaan nya.
Sebelum Saputra masuk ke dalam, ia melirik ke arah sana seperti mobil itu menghampiri kawasan nya.
Tampak seorang wanita itu turun dari mobil nya tak lain adalah Sasya.
"Itu kan asisten gua, tumbenan anter pake mobil. Apa jangan-jangan dia udah punya cowok?" gumam nya sambil fokus ke arah sana.
Ntah mengapa Saputra seperti tidak senang dengan jemputan asisten nya itu, tetapi memang benar Saputra sempat kagum dengan asisten nya karna kepintaran, cantik dan dll.
Tanpa ia sadari Sasya sudah berada di samping CEO nya itu namun Saputra malah asik terbengong tak karuan.
"Pak?. bapak kenapa melamun di tengah jalan?" tanya Sasya sambil menepuk lengan bos nya itu, sontak Saputra terbuyar lamunan nya itu dan sedikit kaget ketika Sasya alias asisten nya itu sudah di samping nya.
"Eh, kamu? sejak kapan ada di sini? bukannya tadi di sana?" ucap Saputra.
"Oh jadi bapak lihat saya jemputan tadi ya pak, makanya bapak melamun begitu?" ucap Sasya menahan tawa nya.
"Heh, ma-mana ada saya begitu , ya sudah kamu lanjut masuk sana terus pastikan jadwal klien hari ini jam berapa dia datang," ujar Saputra.
"Baik lah pak, saya permisi dulu." ucap Sasya lalu sedikit membungkuk sebagai tanda hormat kepada CEO nya.
••••
Sementara di sisi lain, Nafisah ingin melewati jalan motong nya baru kali ini ia pun masih tampak ragu memilih jalan motong apa tidak karna ingin lebih cepat ke perusahaan nya ia pun memberanikan diri melewati jalan itu.
"Semoga aja deh jalan ini bisa lebih cepat sampai nya" ucap Nafisah.
Perjalanan nya sangat sepi tidak ada batang-batang kehidupan penghuni di sekitar itu yang ada suara-suara hewan di semak sana.
Namun, ia melihat seperti ada seseorang tergeletak di jalan ujung sana.
Nafisah memastikan itu dengan baik, apa benar itu orang apa tidak, dan ketika lebih dekat lagi ternyata benar ada orang tergeletak dengan penuh darah di bagian punggung nya itu.
"Astaghfirullah! dia kenapa?" kaget Nafisah, ia pun segera berhenti sejenak dan menghampiri si pria tak berdaya itu.
"Gawat! Aku harus tolong siapa!? Mana di sini gak ada penghuni rumah lagi" panik Nafisah sambil celingak-celinguk, ia pun seketika ingat bahwa Kakak nya juga seorang perawat mungkin dengan ini ia bisa membantu nya dan ia pun segera menelpon kakak nya.
"Halo kak! Kaka tahu kan jalan pintas dekat jalan Arifin?? . Iya! Tolong secepatnya ke sini! Ini gawat kak!" ucap Nafisah panik.
•••
__ADS_1