
•
•
Setelah sudah diberi waktu untuk pemeriksaan dan juga kabar dari keterangan sang dokter, kini mereka sudah tahu betul bahwa pasien tersebut mengalami amnesia yang cukup fatal pada diri nya, dan aneh nya kata dokter tersebut mengatakan bahwa diri pasien yang sebenarnya tidak dapat mengatasi penyakit Amnesia itu dan ditambah lagi permanen nyata nya, jelas sang dokter.
Sehingga, Binta dan juga suaminya menganga lebar setelah dijelaskan dari dokter tersebut, sementara Sasya kini sudah duluan balik ke rumah nya dan masih belum tau kabar saudaranya sekarang.
"Apa Paman? jadi, Benar Tiara Amnesia? dan gak bisa di atasi?" ucap Sasya cukup syok mendengar kabar lewat telepon nya.
"Iya nak, Paman juga bingung sekarang, jika benar itu akan selamanya dia Amnesia, apakah ini membuat kabar baik untuk kami atau buruk" ucap Asdal dengan nada berlirih.
"Paman, paman tenang aja, kita jalani aja dulu kedepannya dan kita berusaha terus mengingat kebiasaan sebelumnya, kita akan coba dulu hal itu, paman!" jelas Sasya di dalam telepon itu.
"Iya nak, makasih ya support nya, kamu benar-benar turut prihatin dengan kami" ucap nya.
"Iyah paman! tentu itu sebagai saudara kan harus saling support dan saling membantu! apalagi yang tak sedarah" ucap Sasya.
"Ya sudah kalau begitu, kamu lanjut saja aktifitas lain, paman tutup dulu telpon nya"
"Iya paman, jika ada waktu aku segera ke sana untuk jenguk Tiara, ya" ucap Sasya.
"Ah iya kabari ya ke paman"
"Baik paman!"
"ya sudah kalau begitu, Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam..."
Setelah telepon nya terputus, kini Sasya benar-benar sangat heran dan bingung mengapa segitu alami nya dengan saudaranya, dan berfikir-fikir Sasya pun sampai mengira apakah ada sesuatu dengan diri saudaranya?
"Aduh... efek kebanyakan banyak novel ya begini, jadi kepikiran ke sana" gumam Sasya sembari menggelengkan kepalanya.
...
Malam harinya, Afgan, Gibran dan juga Saputra telah berkumpul di meja makan untuk makan malam tentunya, itu karna permintaan oleh Afgan agar keharmonisan di antara keluarga nya tambah akrab dan juga saling terbuka.
__ADS_1
Sementara Gibran tak biasanya memasang wajah cemberut dan juga sapa menyapa dengan papah nya, hal itu membuat diri beliau merasa tak beres dengan anak sulung nya itu.
"Gibran" sapa Afgan.
Gibran sontak menoleh dan sedikit terkejut ketika namanya di panggil oleh papah nya.
"Ah, iya pah?" reflek menoleh ke arah papah nya.
"Kau kenapa murung begitu, ada masalah di kantor, cerita aja! itu kan masih tanggung jawab papah juga, jangan pernah merasa kuat jika masalah datang dengan diri sendiri, papa juga bisa membantunya!" jelas Afgan tegas.
Sementara Saputra hanya menahan ketawa hingga dirinya sedikit tersedak, hal itu Afgan dan juga Gibran menoleh ke arah nya.
"Kenapa kau? menertawakan papah ya, ha?" ucap Afgan melotot ke arah Saputra membuat dirinya sedikit ketar-ketir dan langsung fokus makan nya.
"Ng-Nggak-ngaak! pah, tadi ada hal lucu di luar" ucap Saputra kembali makan.
Namun Gibran tak menggubris hal itu, ia pun kembali menatap papah nya dengan serius.
"Emm... tadi ada sedikit konslet pas nyesuain data pribadi pah! dan itu tidak valid pas diinput ke Microsoft office!"
"Sudah pa, malahan Gibran udah meminta bukti identitas mereka dan juga surat keterangan dari perusahaan itu" jelas nya.
Afgan bereaksi dengan memijit pelipisnya lantaran sedikit kacau mendengar dari penjelasan Gibran.
"Hadeh, Gibran! jika tidak semua terjamin 100%, kita juga butuh feedback di perusahaan mereka supaya terjamin aman apakah mereka benar-benar ingin bekerja sama dengan kita!" ucap nya.
Hal itu, Gibran tak memikirkan sampai ke situ karna akhir-akhir ini ia berpikiran tercampur aduk dengan masalah nya yang datang bertubi-tubi di kantor nya.
"Maaf pah, Gibran tau Gibran lalai, tapi besok nya Gibran pastiin siapa pelaku itu, dan menelpon para meet kemarin" ucap nya.
"Ya sudah lah, besok papah akan datang sekalian dan ikut urusan ini dengan tangan papah! ini juga menyangkut krisis di perusahaan kita!" jelas Afgan, namun Gibran sedikit ketar-ketir apa yang baru dikatakan oleh papah nya.
...
Tepat jam 10 malam, Tiara masih belum bisa tidur dengan nyenyak, matanya masih melek melihat ke plafon atap, namun tiba-tiba pintu itu terbuka dan membuat dirinya sedikit kaget hal itu.
Rupanya ialah wanita paruh baya yang tak lain ialah Binta, beliau kembali muncul lagi setelah menutupi pintunya lalu memandang wajah Tiara dengan senyuman arti, hal itu pada diri Tiara semakin yakin bahwa wanita paruh tersebut ibu dari tubuh sosok si perempuan itu.
__ADS_1
"Ibu itu sangat tulus ya dengan tubuh si cewek ini, kira-kira arwah nya dimana ya? terus apa dia tau jika tubuh nya sedang tertukar?" batin Tiara memandang Binta menuju menghampiri nya.
"Tiara sayang... kamu gak tidur jam segini?" ucap Binta tersenyum mengelus rambut nya dengan lembut, hal itu dirinya semakin nyaman disentuh oleh nya.
Tiara hanya merespon gerak-geriknya dengan menggelengkan kepalanya, hal itu Binta paham dan kini beliau duduk di samping nya.
"Ya sudah, mau mamah ceritain gak waktu kamu lagi sehat sebelum kamu dirawat di rumah sakit?" ucap Binta mengelus terus di rambut Tiara.
Tiara pun mengangguk dengan penuh semangat dan kebetulan ia juga ingin tau bagaimana karakter dan juga habbitan tubuh sosok nya bersama mereka.
"Iya, mau" ucap nya dengan nada datar.
Binta menghela nafas perlahan, walaupun kondisi Tiara saat ini sangat tidak diharapkan baginya namun beliau saat ini sangat senang bisa berkomunikasi lagi dengan putri tercinta nya yang mau mendengarkan cerita nya tentang diri anaknya.
"Dengan cara ini, semoga dengan cerita mamah kamu bisa kembali sembuh lagi ya nak" batin Binta menatap sendu ke wajah Tiara.
...
Di tengah larutan di dunia mimpi, bayangan Tiara yang sesungguh tengah berkeliaran dimana-mana hingga kini ia menemukan sosok bergaun putih dengan wujud kurang jelas di pandangan Tiara.
"Si-siapa kamu?" ucap nya dengan ketakutan pada diri gadis itu.
"Tiara, kau sudah tidak bisa lagi menyatukan jiwa mu dengan tubuh mu"
"Maksud mu apa? bukankah ini sebuah mimpi?"
"Ya betul, ini bagaikan mimpi yang kau alami sekarang tapi itu bukan sekedar mimpi saja, kau telah keluar dari raga tubuh mu"
"A-apa? ini hanya becandaan kan? kamu jangan ngomong sembarangan!"
"Terserah kamu saja, aku hanya bisa menyampaikan ini dengan mu, setelah ini bersiap-siaplah untuk kembali ke asal"
"Kamu ngomong apa? saya tak paham, ini pasti mimpi kan, kamu-"
"Jika kau masih meragukan, mari ikuti aku"
Bayangan Tiara itu akhirnya memutuskan untuk mengikuti sosok bergaun putih yang menjadi panduan.
__ADS_1