CEO KU SOMPLAK

CEO KU SOMPLAK
~ Eps 35


__ADS_3

1 Minggu kemudian...


Akhir-akhir ini, seorang wanita anak kost'an itu tak biasanya mulas dan merasa mual selama ia nginap di kost nya, mungkin ia berpikir bahwa kali ini ada salah makan yang terakhir ia makan. Ya ialah Gita, sering mual hingga 5 kali ia bolak-balik ke kamar mandi, Gita merasa bahwa hari ini lebih parah yang ia rasai dari sebelumnya mungkin saja kurang fits dan kurang enak badan. Ia keluar dari kamar mandi dengan memegang bagian perutnya sekaligus keningnya.


Duh.. kenapa ya makin mual aja, apa aku sakit? gumam nya.


Gita segera mengabarkan kekasih nya untuk menemani ia ke klinik, namun ketika sudah telepon berkali-kali hp Bagas tidak aktif.


"Ni, Bagas gak aktif² dari kemarin, dia kemana ya, tumben gak ngabarin aku"


Akhirnya Gita merebahkan badan nya beristirahat beberapa waktu untuk meredakan rasa mual nya itu.


Di sisi lain, Saputra sudah mulai bekerja kembali namun saat ini ia beraktivitas di dekat pepohonan, ya cadang perusahaan papa nya sengaja membangun perusahaan dekat area pepohonan agar bisa menghirup udara segar dan merefreshing di saat lelah.


Sudah 3 hari bekerja dengan lancar, Saputra merasa bosan karna rekan-rekan nya cukup minimalis sesuai perintah Afgan alias Ayahnya Saputra.


"Hadeh, bosan juga walau sini adem, mau ngapain ya?" gumam Saputra.


Namun ia teringat Sahira selaku pekerja office OB di perusahaan Stars Q. yang dulu nya pernah ngeledek hingga dia merasa kesal pada nya. sontak Saputra tersenyum sendiri entah kenapa kini mulai tumbuh rasa rindu dan ingin rasanya mengjahili nya lagi.


Tampak Saputra bergegas mengambil handphone nya di sakunya mungkin ia menanyakan kabar di perusahaan tersebut.


•••


"Kak? Ini kita mau pindah kemana si?" tanya Siti heran.


"Kita tinggal Villa warisan kakek dekat bukit, lu masih ingat kan?" ujar nya.


"Hah? Kita nginap di sana kak? Gak jauh dari perkotaan?"


"Ya iyalah, emang lu ada uang buat rumah sendiri? Udah ikut aja apa kata gue!"


"Tapi gimana dengan sekolah aku, bang? Masa iya jauh-jauh begini pulang balik"


"Udah urusan itu lu minta izin aja sama guru 2 Minggu"


"T-tapi bang..."


"Ah! Lu bisa diam ga si? Masih untung gue bawa lu sekalian, kalau ga. mau makan apa lu sendirian Sono!"


Siti tersentak diam ia tak mau berbicara maupun bertanya lagi, apalagi abangnya cukup mengganaskan.


Maafin gue Git, gua terpaksa ngejauhi lu diam-diam, semoga lu tenang dengan pasangan baru lu. gumam nya sambil menyetir mobil.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Bagas berhenti di tepi jalan dekat rumah makan, mungkin saja Bagas merasa lapar dan hari siang pun telah tiba.


"Kita makan dulu"


Siti hanya mengangguk saja dan bergegas turun dari mobil nya itu.


•••


Kediaman Saka, seisi rumah itu penuh dengan ketegangan, mereka masih saja membahas soal kejadian malang nya nasib Andre beberapa Minggu yang lalu.


Zaenal sedang asik mondar-mandir dengan isi kepala penuh kepusingan sedangkan istrinya juga pusing melihat suami nya yang daritadi bolak-balik terus.


"Duh Mas, kamu bisa duduk dulu bisa gak sih? Jangan gelisah begitu" sahut istri nya.


"Gimana gak gelisah, mah? Ini masalah Andre bisa nyangkut ke perusahaan aku! Dan sebentar lagi perusahaan itu bisa bangkrut!" tegas Zaenal, sembari memijit pelipisnya yang merasa pusing lalu beliau pun akhirnya duduk di samping sang istri nya.


"Ya udah iya aku juga paham kok, mas. tapi Andre juga udah sembuh dia pasti bisa kok ngelacak orang si penjahat itu" ujar nya.


"Gimana kalau dia tidak berhasil? jika rumah di gadaikan oleh pihak bank kita mau tinggal dimana?" ucap Zaenal cukup emosi.


"Pasti bisa Pah, Aku udah nemu bibit-bibit si pelaku itu!" usul sang anaknya muncul dari ruang belakang.


Zaenal serta istrinya sedikit terkejut dan menoleh ke sumber suara tersebut.


"Lu ngajak gue makan ke sini tapi lu nya malah melamun" ujar Siti sedikit kesal.


"Iya ya ni Gue mau makan" ketus nya.


Ketika Bagas hendak memasukan nasi itu ke mulutnya, tiba-tiba hp di meja makan tersebut berdering dengan terpampang di layar hp nya nomor tidak di kenal.


Dringg... Dringg..


Bagas mengurungkan makanan nya lalu segera mengecek siapa yang di telpon nya.


Gak ada nama? Siapa ya? gumam nya, namun Bagas masih ragu mengangkat nya atau tidak.


"Hp lu berdering gak lu angkat bang?" heran Siti.


"Biarin aja dah, gue fokus makan dulu, ganggu aja"


Makin ke sini tingkah bang Bagas kok gue makin curiga ya sama dia? Ada apa sih sebenarnya yang di sembunyiin dari gue?Siti bermonolog, dengan tatapan sinis ke arah Abang nya yang sedang asik makan.


•••

__ADS_1


"Nah kan! aku makin percaya pah, ini dia nomor si pelaku itu! buktinya dia gak mau di angkat telpon nya" ujar Saka kembali mengotak Atik nomor itu.


"Ya sudah, kamu telpon aja dia terus sampai di angkat," Zaenal menghela nafas panjang. "Jadi kamu udah tau lokasi tinggal nya dimana?" sambung nya.


"Udah pah, tadi suruhan aku ke sana, katanya rumah itu gak ada orang"


"Duh, jangan bilang mereka coba-coba kabur dari tempat itu" ucap Melan, mama nya Saka.


"Mamah tenang aja, cepat atau lambat si pelaku itu bisa ketangkap kok, mah"


•••


Jadwal kelas manajemen 2, waktu pembelajaran pada sore ini telah selesai. kini mahasiswa-siswi berbondong-bondong keluar kelas menuju ke parkiran dan adapun ke menuju kantin, namun tidak dengan Intan ia menunggu dan duduk di depan kelas nya seperti menunggu seseorang.


"Nah, akhirnya lu keluar juga. lama amat lu di dalam?" ucap Intan.


"Hehehe biasalah, aku catat dikit dulu ke notabene biar besok bisa jawab ulangan" nyegir Keira.


"Yeh... rajin amat lu paling ga ada yang masuk pas ulangan" ujar Intan.


"Ah, gapapa dah, yg penting kan gue dah nyatat. siapa tau dosen mendadak minta catatan" ucap Keira tak mau kalah.


"Yeh, dasar. Eh bentar, Nawal mana ya? Kok ga muncul-muncul dia" ucap Intan.


"Eh iya, tadi aku lihat dia ada sih di dalam, tapi sekarang udah kosong tuh kelas" ucap Keira celingak-celinguk melihat di dalam kelas.


"Ish! tuk anak dingin bet tadi di kelas, gue panggil dia aja ga nyahut, loh!" sebel Intan.


"Hmm, mungkin dia lagi gak mood kali" ujar Keira.


Tanpa Intan sadari, Keira tak sengaja melihat Nawal berjalan sendirian menuju ke kelas ujung yang tampak sepi dan jarang sekali orang-orang kampus melewati sana.


"Eh-eh! Ntan! Itu Nawal gak sih?" imbuh Keira.


"Hah? Mana-mana?" celinguk Intan.


"Itu di lorong sono! arah ke kelas D ujung!" ucap Keira.


"Lah? Iya itu Nawal! Dia ngapain sih ke sana?"


"Udah! Kita nyusul aja"


Tiba-tiba segerombolan bergeng itu menghalangi jalan Keira dan Intan.

__ADS_1


"Ehem..."


__ADS_2