
Masih di tempat sel tahanan Bagas, Kini waktu untuk pertemuan mereka hampir habis sehingga pihak polisi mendatangi kedua insan itu dan memberitahu bahwa waktunya telah habis.
"Maaf saudari Bagas, waktu anda telah habis" ucap pihak polisi itu.
Gita mendengar itu dan meminta waktu tambahan satu menit lagi.
"Pak, saya minta 1 menit lagi ya?" ucap Gita memohon, lalu Pihak polisi itu pun terdiam dan sedikit mengangguk.
"Ya sudah, saya tunggu ya bu" ucap nya.
"Sayang, satu hal belum aku tanyakan sama kamu, kamu tau aku disini dari siapa? apa dari pak Andre?" tanya heran Bagas.
"Iya Bagas, dia kemarin chat aku dan aku juga gak tahu kenapa dia bisa tahu nomor aku, apa kamu yang kasih ke dia?" tanya Gita.
Bagas pun bingung padahal selama tahanan ini tidak diperkenankan untuk memegang barang milik nya termasuk hp dan ia juga tidak terlalu hafal dengan nomor kekasih nya.
dan bagas pun menatap heran dan menggeleng kepalanya.
"Sepertinya pak Andre bukan sembarangan orang..." batin Bagas.
•••
Tok.. tok.. tok
"Iya sebentar!" ucap gadis itu tak lain ialah Sahira yang tengah berjalan menuju pintu depan nya.
ceklek
Tampak seorang pria tinggi berbadan ideal itu melempar senyuman ke arah di hadapan wanita itu.
Sahira melihat sosok pria itu ternyata ialah Rizqy, dari sekian lamanya mereka tak berjumpa sejak pria itu pergi ke luar kota alias balik ke asal nya.
"Rizqy... ee... kamu, ada apa?" ucap Sahira merasa gugup.
"Loh kok nanya begitu? ya mau mampir ke rumah kamu lah, gak bolehin aku masuk nih?" ucap nya tersenyum kekeh.
"Eh iya ya, boleh kok silahkan!" ucap Sahira, entah kenapa kali ini merasa canggung jika ketemuan dengan teman nya itu padahal sudah bertemanan cukup lama.
"Siapa yang datang Sahira?" ucap Rena, namun beliau berjalan menuju ruang tamu dan menemui sosok pria itu yang baru saja duduk di sana dan terukir senyuman ternyata ialah teman nya Sahi.
"Eh? Rizqy, kemana aja atuh kok baru datang ke sini?" ucap Rena, lalu Rizqy spontan tersenyum dan bersalam dengan mama nya Sahira.
__ADS_1
"Eh hehehe, anu Tan, kemarin-kemarin saya pergi luar kota jadi saya balik lagi deh kesini" ucap Rizqy berusaha ramah di depan ortunya Sahira.
"Ohh... begitu, terus ada oleh-oleh nya gak?" ucap Rena seiring dengan candaan nya.
Sahira mendengar perkataan ibu nya reflek menatap tajam ke ibu nya.
"Bu, apaan sih kok nanya gitu, gak sopan tau" ucap Sahira pelan dekat samping ibu nya, namun hal itu masih terdengar oleh Rizqy dan membuat nya terkekeh melihat tingkah Sahira dan ibunya itu.
"Hhaha, ada kok bu, justru kesini gak mungkin saya bawa tangan kosong, sebentar ya bu, sah..." ucap Rizqy lalu mengeluarkan sesuatu di saku nya, hal itu membuat penasaran oleh Sahira dan ibu nya itu.
Rizqy memegang sebuah benda kotak berwarna merah yang tampak nya tak asing bagi nya, dan Sahira berfikir apakah di dalam nya sebuah cincin? karna bentuknya sudah tahu betul seperti apa.
"Eh, itu apa nak? kamu kasih ke Sahira yang begitu ya?" tanya Rena.
Rizqy tersenyum dan mengangguk dari pertanyaan Rena.
"Bu, Saya ke sini bukan sekedar silahturahmi saja, tetapi saya kesini ada niat mengajukan diri untuk melamar dan ingin bertunangan dengan Sahira" ucap Rizqy lantang, hal itu membuat Sahira syok dan kaget apalagi ibu nya, tampak Rena terkaget ples senang dan baru kali ada pria berani berta'aruf dari sang anaknya itu.
"Apa? dia mau ngelamar aku?" ucap Sahira syok tak menyangka.
•••
"Tumben dia ngajak gue ketemuan, mau apa dia ya" gumam Saputra, dan tiba lah seorang pelayan mengajukan menu pesanan di hadapan nya.
"Mau pesan apa mas?"
Sekilas Saputra menoleh ke pelayan itu, tampak diri wanita itu cukup menggoda dan berubah dengan ekspresi jahil nya.
"Pesan kamu boleh gak?" ucap Saputra tersenyum genit.
"Astaghfirullah pak, jangan begitu deh saya serius"
"Ya soalnya kamu manis sih jadi bingung saya manis yang mana"
Sontak pelayan itu berdag-dig-dug tak karuan dalam jantung nya ketika melihat wajah tamvan Saputra.
"Nah kan kamu aja terpesona melihat ketampanan saya, sudah duduk sini ngobrol-ngobrol kita" ucap Saputra sesekali menaikan alis nya yang cukup meresahkan itu.
"Haduh bapak ini, udah tua jangan suka gombalin orang deh, saya hanya sebatas karyawan disini"
"Tua mata mu, saya masih muda neng, gak lihat apa kulit gue masih mulus glowing begini?"
__ADS_1
"Udah gak usah sok mahal lu, gini-gini banyak cewek-cewek klepek ama gue, masa gue tawar lu kagak mau" cibir Saputra.
"Haduh, orang tamvan ini kenapa jadi begini sih, kalau burik mana mau gue lama-lama begini" batin nya merasa risih dengan pria sengklek satu itu.
Tak lama kemudian seorang wanita datang dan berada di dasar cafe, dengan gaya ala model nya dan memasang raut wajah membingungkan.
"Ini Saputra dimana sih, di area sini kagak ada" gemerutu sendiri.
Namun tak lama kemudian seorang waiters menghampiri si wanita baru saja datang ke cafe itu.
"Misi mbak, mau cari tempat apa gimana?" ucap waiters tersebut.
"Ee... saya lagi cari someone, oh ya kamu lihat tidak, ada seorang pria tinggi kekar terus tamvan deh" ucap wanita itu.
"Ohh itu, seperti nya bapak itu baru saja masuk ke ruangan VIP di lantai atas mbak, mari saya antar" ucap nya.
Wanita itu pun mengangguk dan dituntuni oleh waiters tersebut.
Sesampainya di ruangan atas, Seorang pelayan dari sana berpapasan dengan diri nya dengan raut wajah agak mengganjal setelah keluar dari ruangan itu.
"Ini mbak nya kenapa raut wajah nya begitu ya, apa ada yang aneh di dalam?" batin nya.
Setelah itu, wanita itu pun menemukan sosok pria yang ia cari daritadi.
lalu reflek pria itu menoleh dan menatap ke arah dirinya.
"Hei, Sita! makin bohay aja nih sejak jadi mantan" ucap Saputra tersenyum miring.
Ya wanita itu ialah Sita, entah tujuan apa ingin menemui Saputra yang telah menjadi mantan nya.
Sita hanya berekspresi datar dan sinis ke arah Saputra.
"Udah deh gak usah gombal udah basi! mantan ya mantan" ketus Sita.
"Wih mantan gak tuh, tapi mantan bisa balikan ya kan? kalau emang kita berjodoh" kekeh Saputra.
"Ck, diam kau! aku kesini mau bicara serius bukan candaan!" kesal Sita.
"Ya udah tinggal ngomong lah, gak usah jutek juga kali ntar gue embat lu mau?" ucap Saputra kekeh tak hentinya.
Sita menatap tajam dan sebenarnya ia juga malas ketemuan dengan nya apalagi sudah jadi mantan.
__ADS_1