CEO KU SOMPLAK

CEO KU SOMPLAK
~ Eps 47


__ADS_3

Setelah pergi dari rumah Sahira, Rizqy tampak sedikit kecewa tercampur sedih karna Sahira tampak ragu dengan diri nya dan terpaksa menunda lamaran nya itu.


"Kenapa ya, padahal gue udh feeling kalau Sahira mau nerima tunangan gue, apa gue ada rasa kurang baginya?" batin Rizqy, kini ia sedang di perjalanan tampak ia sangat galau hari ini akibat pertundaan lamarannya dengan cewek yang ia sukai selama ini.


Rizqy berhenti sejenak di tepi jembatan yang sedang viral itu, ia memandang ke sungai sana dengan perasaan kurang mengenakan.


Tak sengaja Rizqy melihat kang siomay di tepi jalan itu, tampak lumayan ramai pembeli nya, lalu yang ia teringat dengan itu, ia dan Sahira tiap balik pas pulang kerja pasti tak lupa membeli siomay kesukaan nya.


"Ada siomay, kebetulan gue lagi mood makan begituan"


Lalu Rizqy pun ingin membeli siomay sudah lama tak membelinya sejak terakhir bersama Sahira.


•••


Sahira merasa bersalah setelah Rizqy telah pergi di rumah nya, ia pun masih bingung dengan isi hati nya terhadap teman satu nya itu, memang selama ini sahira merasa asik dan nyaman dengan bersamanya namun perasaan lebih dari nya masih meragukan saat ini, itulah mengapa sahira bimbang dengan keputusan nya itu.


"Duh... Kira-kira dia kecewa gak ya sama aku? duh kan jadi kepikiran begini, jadi gak enak banget sama dia" gumam Sahira sembari membenamkan wajah nya ke guling miliknya itu.


Rena tadinya heran dengan sikap Sahira, mengapa ada pria baik dan seganteng itu tak ada rasa tertarik oleh sang anaknya itu.


"Heran deh sama Sahira, kurang apalagi coba, padahal nak Rizqy itu orangnya baik sampai berta'aruf gitu depan ibu, apa dia emang gak suka sama si Rizqy?"


Rena pun mencoba mengintip anaknya di dalam kamar untuk mengetahui anaknya sedang apa, karna pintu nya terkunci terpaksa Rena mengedor pintu nya dan menanyakan soal tadi tentang lamaran si Rizqy.


"Sahira! buka pintu nya ibu mau bicara sama kamu" ucap Rena sembari mengedor pintu nya itu.


Sahira mendengar dan suara ketukan itu, ia tahu betul kalau ibu nya mengintrogasi dirinya dengan si Rizqy.


"SAHIRA!"


"Iya bu, iya" ucap Sahira sedikit ketus.


ceklek..


"Apa bu? ibu mau nanya soal tadi? besok aja ya bu jawab nya, aku lagi malas bahas dia bu" ucap Sahira sedikit memelas.


"Iya ibu tau nak, tapi apa salah nya si curhat ke ibu atau ada masalah sama dia? Sampai-sampai kamu ditunda dulu lamaran dengan nak Rizqy"


Sahira pun menghela nafas dan malas sekali merespon pertanyaan ibu nya sekarang.


"Bu, kalau ibu merasa gak ada rasa suka atau cinta tapi nyaman gimana? apakah ibu terima gitu aja?"

__ADS_1


"Iya, kalau itu yang terbaik dan dia benar-benar serius kenapa enggak? yang jelas kan dia udah bersiap diri berta'aruf dengan kamu nak, udah ya nak, kamu terima aja lamaran nak Rizqy. ibu yakin dia orang nya tulus dan pasti pengertian deh sama kamu, masa kamu ga mau sih orang baik dan seganteng seperti dia?" ucap Rena.


"Sudah ya bu, rasanya percuma kalau kasih saran dari ibu, maaf bu, aku mau sendiri dulu di kamar"


Sahira pun menutup kembali pintu nya dan segera merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Hufft.. sepertinya gak bisa diharapkan kalau begini" batin Rena.





Keesokan harinya, Sahira sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor nya dengan penampilan berbeda sebelum di angkat jabatan nya itu.


Rena tengah sibuk di kamar mandi merendam baju kotor untuk di cuci nantinya.


Sahira buru-buru pamit dengan ibunya tanpa bersarapan terlebih dahulu. namun di paksa ibu nya makan namun Sahira tetap tak berselera untuk pagi ini.


Sesampainya di kantor, Sahira tetap semangat walau kini ia belum ada mengisi perutnya.


Di lantai dasar, ia berpapasan dengan Noval selaku seniornya yang baru saja datang.


"Ee.. enggak ada apa-apa kok pak, ee ya udah saya permisi dulu pak" ucap Sahira lalu pergi begitu saja.


Noval pun merasa heran dengan sikap Sahira hari ini, namun ia pun menepis pikiran yang berlebihan itu.


Di Universitas Bima Sakti, Dosen yang populer alias idola di satu kampus itu kali ini datang dan cukup lamanya ia tidak mengajar di kampus favorit nya karna dosen itu juga honor di kampus lain.


Ketiga geng ala modal artis yang cukup terkenal dengan kecantikan nya maupun kekayaaan nya, mereka berpapasan dengan dosen itu, tampak ketua geng itu tersenyum genit dan mencoba mendekati dosen yang tak ada malu nya itu.


"Ehem.. ee pak" sapa Fatimeh, ketua geng tersebut.


"Ada apa ya?" ucap Dosen itu bernama Nuril.


"Eh hehhehe, mau kemana pak? kok baru muncul sekarang, kemarin kemana aja?" ucap Fatimeh, lalu teman-temannya itu pun terkekeh geli dengan pertanyaan kawan satu nya itu.


"Kenapa? ada urusan penting dengan saya? jika tidak saya buru-buru ke kelas!" ucap Nuril dingin.


"Duh kok dingin banget si pak? masa sama cewek cantik jelita ini gak tertarik gitu?"

__ADS_1


Nuril bukannya terpesona dengan ketiga wanita itu namun malah merasa risih dan geli melihat tingkah manusia satu itu.


"Maaf ya, kalau tidak ada kepentingan tolong jangan halangi saya" ucap Nuril sedikit tegas.


Nuril pun segera pergi dengan tatapan datar hal itu membuat Fatimeh merasa geram dan gagal mendekati dosen itu secara terangan.


"Aduh duh, kawan kita satu ini, udah jelas dosen nya emang dingin begitu mau aja lu nekat deketin dia, hahaha" ledek Alia.


"Heh diam kelen, kawan bangsat! bukannya dukung malah ledekin gue, au dah sebel gue ma kalian!" ucap Fatimeh ngambek, lalu segera pergi meninggalkan kawan-kawan nya itu.


"Lah Gue diam bae malah gue imbasnya" ucap AA alias Anisa.


"Hahaha, udah yuk kita susul aja teman kita itu biasa lagi kumat" nyetir Alia.


AA pun sebenarnya tadi hanya nyimak saja namun ia hanya pasrah saja dengan kawannya.


•••


Saputra kini memulai beraktivitas kembali di cafe cadangan baru milik papa nya, ia tengah mengetik di ms. word tepatnya milik laptopnya, namun untuk kali ini entah kenapa Saputra rasanya kurang semangat dan masih kepikiran dengan kata Sita kemarin.


Flashback on


"Ya udah lu mau ngomong apaan dah, ga usah jutek juga kali!" cibir Saputra.


"Ish Iya-iya tenang kok gue ke sini cuman bentar doang!" ketus Sita.


"Yeh yowes!"


"Gue ke sini mau ngembaliin barang-barang yang udah lu kasih selama kita pacaran itu" ucap Sita, mengeluarkan sebuah kotak lumayan besar dan berisi kenangan-kenangan di antara mereka namun Sita tak ingin dirinya kini memakai dari pemberian yang disebut mantan.


"Hah? maksud lu apa sih? kok barang lu balikin ke gua?" heran Saputra sekaligus terperangah.


"Iya, gue gak mau kepikiran terus sama lu, sedangkan lu udah mutusin gue jadi gue mau move on sama lu! dan gue ngucap terimakasih karna lu selama ini tulus sama gue, makasih ya Sap!" ucap Sita kini berubah dengan nada datar dan serius.


Saputra merasa tertusuk bagaikan pedang nancap di jantung nya, ia merasa sakit hati dengan ucapan Sita alias mantan nya, sebenarnya dirinya masih mencintai wanita dihadapan nya tetapi mau gimana lagi karna suatu pekerjaan dan orang tua nya lah yang memisahkan mereka.


"Oh, jadi lu gak mau nih jadi kenangan dari pemberian gue? ya udah it's oke, ntar barang lu ini gue buang aja ke tong sampah, simple kan?" ucap Saputra tampak biasa saja dan tiada rasa sedih di depan mantan nya itu.


"Hah? kok lu buang gitu aja sih, ya... lu simpan aja kali atau kasih ke orang yang kurang mampu gitu kan manfaat juga" ucap Sita sedikit gagap.


"Sudahlah, itu aja kan tujuan lu? sekarang lu boleh pergi" ucap Saputra kini raut wajah datar dan seketika yang tadi nya periang berubah drastis setelah mantan nya itu ternyata ingin melupakan dirinya serta pemberian nya itu, dari cukup lamanya mereka menjalin hubungan.

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2