CEO KU SOMPLAK

CEO KU SOMPLAK
~ Eps 63


__ADS_3

Melihat kelamunan Kia yang tampak tercengang, Reva pun heran dan menepuk pundak nya.


"Eh, Kia. kau melamun apa?"


"Ini loh, tadi kan pas aku buang sampah gak sengaja ketemu sama cewek yang tabrak aku tadi, terus aku lihat dia disini gak ada, bisa saja gak si itu dia?" heran Kia mengernyitkan dahinya.


"Eh, bener? kalau iya, wah! jangan-jangan bener dong dia"


Lalu Kia pun mengangkat tangan untuk memberitahu oleh si petugas itu.


"Eh, pak, tadi saya lihat seorang karyawan cewek pas saya buang sampah di belakang" ujar Kia.


Si petugas itu menoleh ke angkat tangan sang cewek itu dan menghampiri nya.


"Benar? terus sekarang dia tahu dimana?"


"Kurang tahu sih pak, saya tadi cuman lihat di sana"


Gibran pun melangkah bergerak menuju ke arah Kia, halnitu Kia melirik dan cukup tegang ketika pak CEO nya mendekati dirinya.


"Informasi untuk hari ini sudah cukup bagi saya, dan sebelumnya kalian semua sudah boleh bubar" pinta Gibran.


Sesuai perintah Gibran, para karyawan itu pun bersegera bubar dan kembali beraktivitas seperti semula.


Hanya seorang Kia dan juga Reva berdiri mematung disana.


"Udah yuk ngapain kita berdiri disini lagi" ujar Reva.


"Eh iya ya"





Tepat di hari ini, Universitas Bima sakti sedang mengadakan Ospek para Maba yang kini telah dilaksanakan untuk beberapa hari kedepan.


Alan, Dimas dan juga Saka. mereka mendapati anggota nya masing-masing untuk membimbing anak maba tersebut.


Sementara Dimas, ia sedang mengintruksi terhadap para Maba itu untuk melakukan kegiatan sebelum di aba oleh pembawa acara.


"Oke ges! untuk beberapa hari kedepan Abang akan membimbing kalian untuk mengarahkan kegiatan kita selama ospek ini berjalan, nah sebelum itu Abang pengen tahu dong siapa aja nama-nama adik-adik yang cumel ini supaya Abang kenal dan akrab dengan kalian!"


Para anggota itu pun tampak nya masih canggung dan terlihat tegang di saat memasuki hari pertama masuk di kampus ini.

__ADS_1


"Ayo dong jangan tegang-tegang begitu, Abang gak makan kalian kok, masa iya secakep ini pada ga ada yang terkesima sih?" ucap Dimas heran.


"Hahahaha... Babang Dimas kok pede banget si? bisa panduin mereka apa nggak? kok kita ga mudeng ya? ahahahah" ledek seseorang.


Dimas sontak menoleh ke sumber suara itu dan ternyata ialah sosok Jordan bersama kawan-kawan nya tiba-tiba muncul di dekat dirinya.


"Lu pada mau ngapain ha? mending lu pergi kalau buat rencana gw rusak gara-gara lu"


"Oh iya kah? gue tiap mampir ke Platon lainnya gak terganggu tuh, aduh bree kalau lu ga bisa bimbing mereka gak usah jagoan deh jadi orang, lu itu pantes nya jadi kecebong diam bego keluar ileran, ahahahah"


Melihat tingkah geng satu itu cukup ngeselin, Dimas mengepal tangan nya untuk tak sabar menonjok Jordan di saat itu juga, namun ia sadar bahwa tak sepatutnya mencari ribut di depan para Maba.


"Sabar Dim. bukan saat nya cari musuh, ingat lu jadi kating maba untuk mencontohkan baik dengan adek tingkat lu"


Melihat sedikit kericuhan di sudut sana, Keira selaku pembawa acara ia pun menghampiri mereka yang tampaknya mencari keributan di depan Maba itu.


"Heh, ini kenapa ribut-ribut? fokus di kelompok masing-masing! jangan ada menganggu kelompok lain"


"Eh neng Keira, enggak kok aku mana ada gangguin mereka, si Dimas noh ngengsi lihat gue datang kesini, padahal kan cuma pantau doang" ucap Jordan tersenyum miring.


"Kurang ajar lu! mari cari ribut?" ucap Dimas sedikit tersulut emosi nya.


"Sudah-sudah! Kalian yang para ngangguran mending diam duduk aja deh di sana gak usah ganggu senior kalian" ucap Keira emosi.


"Iya deh neng, maunya sih ditemenin sama neng cantik ini, tapi ya apa daya"


Keira masih ada di sana ia pun mengalihkan pandangannya ke arah Dimas.


"Dim, maafin mereka ya, memang gak di luar kelas gak di dalam emang geng mereka suka cari keributan"


"Iya Kei sans, dia mah emang ga waras. salah server kali di sini" ucap Dimas tersenyum tipis.


...


Seorang karyawan terhenti sejenak di sebuah perjalanan karna ada telpon masuk di layar ponsel nya itu.


"Ya halo pak, ada apa?"


"Kamu dimana sekarang?"


"Eee, saya lagi di luar ada yang harus saya urus. memang nya ada apa ya pak?"


"Urus apa? urus file saya agar rencana saya gagal ke perusahaan itu?"


Sontak Wanita bernama Yola itu terkaget setelah menyebutkan kata sindiran yang ia rasakan sekarang.

__ADS_1


"Maksudnya apa ya pak, saya tidak paham"


"Sudahlah, kalau ingin lebih jelas lagi kamu segera ke kantor, saya ingin bertanya hal penting dengan kamu"


"Eh, baik pak"


tuut...tuuut....tuu.t....


"Duh, Kok bisa kecyduk sih, padahal sebelumnya sudah ku pause in record cctv nya" batin Yola tampak ketar-ketir saat ini.


Kembali nya di perusahaan Stars, Yola merasakan tak enak jika kembali lagi ke sana, apalagi karyawan sekitar nya memandang dirinya seperti tatapan sinis.


Setibanya di ruangan Gibran, Yola masih ragu untuk mengetuk pintu itu apa tidak, karna takut di tambah curiga pada dirinya ia pun memberanikan diri mengetuk pintu itu.


Tok..tok...tok...


"Masuk"


...


Gibran menatap karyawan nya yang kini baru saja duduk di hadapan nya langsung.


"Langsung saja, tadi kenapa kau tidak ada disini?"


"Maaf pak, saya tadi ada urusan yang harus saya urus, jadi saya sudah pamit dengan petugas loket bawah"


"Ohh, tapi saya tetap introgasi dulu dengan anda. jadi begini, tadi pagi saya meletakkan flashdisk itu di laci tapi hilang, apa kamu tahu di balik kejadian ini?"


Yola tiba-tiba menunduk untuk memikirkan jawaban yang pas untuk merespon dengan bos nya itu. Melihat karyawan tampak tegang dan diam, Gibran berfeeling kuat bahwa ada sesuatu yang tak beres dengan wanita itu.


"Hey? saya bertanya, kenapa anda diam?" heran Gibran.


"Eee, saya lagi ingat-ingat dulu pak, dan seperti nya saya tidak tahu hal itu"


Gibran menatap karyawan itu dengan seksama, tampaknya ia masih meragukan dengan ucapan nya itu, apalagi dirinya sempat terdiam di saat ia berintrogasi dengan karyawan nya.


Afgan baru saja kembali dari luar, ia pun cukup kaget melihat seorang wanita berada di dalam ruangan.


"Siapa itu Gibran?"


"Yola, Pa"


"Yola?"


"Apa? Pak Afgan masih disini?"

__ADS_1


Afgan pun mendekati karyawan itu dan memandang dirinya dengan intens.


__ADS_2