
•
•
Setelah di cek pemantauan cctv itu, Tidak ada tanda-tanda orang masuk setelah sekian durasi yang sedang putar itu.
"Pak, seperti nya tidak ada kejanggalan sosok orang di dalam cctv itu" ucap Lilis.
"Em... Keledor di seluruh staf karyawan di sini" ucap Afgan.
Gibran sedikit tercengang dan sontak tegang sembari menyusul papa nya yang kini telah berjalan duluan darinya.
"Pah, apa ini gak berlebihan? sudahlah, kita langsung hubungi saja klien itu dan batalkan perjanjian ini" ucap Gibran.
"Tapi Gib, papah gak ingin ada satu karyawan saja yang berani pengkhianat di perusahaan, jika itu ditemukan papah ga segan-segan memecatnya dan membayar sumpah janji nya" ucap Afgan, lalu beliau lanjut berjalan menuju ke ruangan staff satu-satu.
...
"Mah, aku mau pulang"
Binta menoleh ke sang anaknya dan menatap heran setelah anak nya merengek minta pulang.
"Lho, kan baru 5 hari kamu nginap sayang, kata dokter kamu bisa pulang 2 Minggu full" ucap Binta mengelus pucuk rambut Tiara yang tampak gemas itu.
"Tapi mah, aku udah mendingan kok, dan Tiara juga bosan disini terus" ucap Tiara manyun.
Binta hanya tertawa lepas melihat kemanyunan bibir anaknya seperti itu, hal itu Tiara merasa heran dan sedikit kesal dengan terkekehan mamah nya itu.
"Ish! mamah kok ketawa sih, ga lucu tau" ucap Tiara ngambek.
"Ahahaha, iya ya. mamah gak ketawa lagi kok makanya jangan manyun gitu kan mamah lucu tau lihat wajah unyu kamu itu" terkekeh Binta.
"Hais... mamah" cibir Tiara.
Tiba-tiba saja Asdal datang setelah menutup pintu itu kembali dengan membawakan dua plastik kresek di tangan nya.
"Eh, papah kamu dah datang tuh, bawa apaan yah" ucap Binta senyum-senyum.
"Hahaha, ini nih papah bawa cemilan kesukaan kamu, pasti kamu ingat kalau makan favorit kamu ini" ucap Asdal mengangkat sekilas perbelanjaan nya kehadapan Tiara.
Sedangkan Tiara hanya tersenyum saja sembari memerhatikan sosok papah nya dan kedua kantong kresek itu.
"Wah, pasti enak deh emang papah beli apa tuh?" ucap Tiara tersenyum renyah.
"Telur keju tart"
Sontak pada tubuh Tiara itu cukup kaget mendengar sebutan cemilan dari ucapan Asdal, tampaknya sosok tubuh Tiara tersebut kurang suka yang berbau dengan lumer apalagi berbau telur.
"Duhh.. itu kan makanan yang ku benci, apa aku harus memakan nya?" batin Tiara dengan raut wajah tegang menatap ke kantong kresek itu.
__ADS_1
...
Di balik itu, ternyata sosok bayangan Tiara yang sesungguh nya bersama makhluk ghaib yang tak diketahui identitasnya sedang memerhatikan tubuh nya sedang di pakai oleh orang lain.
"J-jadi, Sosok dia transmigrasi ke tubuh ku?" ucap Tiara alias bayangan nya menatap ke makhluk samping nya.
"Betul, dan seperti nya kau tak bisa kembali lagi ke raga mu, jadi kau berlapang dada lah untuk merelakan tubuh mu di pakai orang lain"
"Apa!?"
•
•
•
Sahira baru saja keluar dari ruangan nya, ia melihat ke depan dan cukup kaget melihat para karyawan itu tengah berkumpul beramai-ramai.
"Itu ada apa ya, tumben pada ngumpul" gumam nya.
Noval tengah berdiri di sana sedang memantau para staff karyawan, ia pun menghampiri dan berbicara bisik ke dekat Noval.
"Pak, ini kenapa ya kok pada ngumpul?"
"Oh iya. Pak Afgan meminta para kru disini berkumpul sebentar, kata beliau sih ada file penting hilang di ruangan pak Gibran"
"Hah kok bisa sih, gak mungkin kan lengah begitu aja"
"Oh iya udah"
"Kau tak takut?" senyum Noval.
"Hah takut apa?"
"Ya bisa saja kan kamu pelaku nya"
"Idih jangan sotoy deh lu. eh maaf pak lancang"
"Hahahah, keluar deh sifat aslinya" cengir Noval. sementara Sahira sedikit malu dan berjarak sedikit dari nya sembari menatap fokus ke depan.
Di sisi lain, Reva dan Kia merasa ketar-ketir di saat pemberitahuan kumpul itu yang hendak di introgasi satu persatu.
"Duh, Rev. kok kejadian ini hampir mirip sih sama kerja kita dulu itu, Kau masih ingat kan?" ucap Kia sedikit tegang.
"Iya biasa aja si, kan bukan kita pelakunya, takut amat kau" ucap Reva.
"Eh, iya tapi kan baru kemarin loh kita baru kerja disini"
"Ya itu deh namanya lika-liku kehidupan kerja jadi ya mau tak mau kita harus hadapin"
__ADS_1
Namun para suruhan dari Afgan itu kini menghampiri kedua orang baru itu tak lain ialah Kia dan juga Reva. ya tentu saja mereka sedikit tegang apalagi kejadian seperti ini persis di dunia kerja mereka sebelumnya.
Sahira sadar hal itu, ia memerhatikan mereka tampak begitu ketar-ketir terutama seorang Kia.
"Duh, mereka pasti Tremor deh teringat kejadian ini di caffe itu" gumam Sahira.
"Eh kau kenapa grogi? Hoo jangan-jangan Anda ya pelaku nya?" duga nya dengan senyum-senyum.
"H-hah? Enggak kok, anda jangan fitnah ya, saya hanya tegang saja" ucap Kia Tremor.
Sementara Reva menahan tawa nya melihat teman satu nya tampak gugup di hadapan petugas itu namun hal itu juga sadar oleh Kia, ia sekilas mendengus halus ke sohib nya.
Singkat waktu, Setelah pemeriksaan dari pihak masing-masing namun tidak ada rasa kecurigaan di antara mereka itu.
"Pak, seperti nya tidak ada mencurigakan dengan semua karyawan disini, apa kita akhiri saja?" ucap nya.
Afgan sempat melirik salah satu mereka dengan seksama namun memang tidak ada rasa menaruh curiga di antara nya.
"Hm, Apa kau sudah yakin tadi?" tanya Afgan.
"Iya pak, betul. saya sudah cek dengan teliti, tapi jika bapak masih meragukan di antaranya saya siap melaksanakan"
"Ehmm... tak usah. seperti nya perintrogasian kali ini cukup, kalau begitu bubarkan saja mereka" perintah Afgan.
Di saat sang pria itu ingin memberitahu mereka untuk bubar dari sana, namun Gibran seketika merasa ada yang kurang dengan salah satu mereka.
"Tunggu"
"Eh iya pak, ada apa?" heran nya.
"Mana si Yola?" tanya Gibran heran.
Namun di antara para karyawan itu baru menyadari bahwa teman satunya tidak ada di sana.
"Eh iya si Yola kemana ya"
"Wah tadi dia ada loh kok hilang sih"
Dan seketika para karyawan itu cukup berheboh dengan kabar Yola saat ini.
"Sudah-sudah, harap tenang! disini terakhir lihat wanita bernama Yola itu dimana?" tanya nya.
Dan mereka pun terdiam dan membisikan satu sama lain.
Sementara Kia, ia teringat ketika dirinya membuang sampah di belakang, ia pun terbayang dengan wajah wanita itu tampak tergesa-gesa hingga tertabrak pada dirinya.
"Apa jangan-jangan cewek pas aku di belakang tadi itu dia?"
Melihat kelamunan Kia yang tampak tercengang, Reva pun heran dan menepuk pundak nya.
__ADS_1
"Eh, Kia. kau melamun apa?"