
Pagi hari yang cerah, hari ini hari yang mana para manusia berteparan di ranjang nya dan kebiasaan manusia pemalas jika bangun kesiangan.
namun tidak dengan Keira si mahasiswi paling rajin belajar itu ia jarang sekali bangun kesiangan dan apalagi hari minggu ini yang mana ia masih ada kesempatan untuk membantu orang tua nya di rumah yakni bersih-bersih rumah dan menemani ibu nya berbelanja di pasar.
sementara di sisi lain, Dimas dan Alan yang satu kost-an itu masih molor yang kini menunjukan pukul tujuh lewat akibat bergadang semalaman.
"Ayam goreng~" ngingo Alan.
Alan tiap tidur memang sering lasak dan sering sekali menindih atau menimpa ke tubuh Dimas, hal itu Dimas tak bisa tidur nyenyak walau terpaksa tidur penuh sengsaraan oleh kelasakan sohib nya itu.
"******, dari tadi gua ga bisa tidur nying, bangun lu anj" geram Dimas, yang kini rambutnya berantakan gara-gara berpindah posisi nya yang tak nyaman itu.
"Hmm... " balas Alan yang masih menutupi matanya.
"Woi kebo!"
"Ah! apasih lu ganggu tidur ae!" dan kini Alan pun bangun dalam keadaan setengah sadar sembari mengucek mata nya.
"Ganggu gundul mu! liat nih gua susah tidur gara-gara lu lasak, gimana mau tidur nyenyak coba?!"
"Yeh kalo lu ga nyaman napa ga pindah aja dah di bawah daripada berimpitan ama gue!"
"Yeh dudul! tau ngekost kan? ranjang cuma sediain satu! ogah banget gue tidur di bawah percuma dong gue bayar mahal-mahal disini!" ucap Dimas dengan nada geram.
Alan pun cengir mendengar ocehan Dimas, namun Dimas semakin geram dan ingin menimpuk nya dengan guling nya itu, dan akhirnya mereka pun bergelud di atas ranjang. eitth maksudnya bergelud berantem gitu deh.
•••
Pagi cerah itu tak sama dengan di daerah lain, ya kini di daerah surabaya tampak mendung dan pertanda jika hujan akan tiba.
Pagi yang mendung itu, malah membuat para manusiawi itu semakin malas bergerak dan masih betah di atas kasur, terutama seorang gadis itu masih moloran di pagi ini.
Tampak emak nya sudah bangun duluan daritadi dan membangunkan anak nya yang begitu susah di bangunkan.
"Hadohhh, mentang-mentang cuaca mendukung begini malah keasikan tidur! heh Nur! bangun udah jam berapa ini kamu ga bantu ibu masak!?" bentak emak nya sembari memegang spatula.
Nur masih bisa di bangun walau kini matanya mengantuk berat dan tiada berubah habbit nya sejak kecil yang sering ketiduran tiap pagi ini.
"Hadeh nur-nur! kamu udah gede udah bisa jadi emak orang kenapa suka tidur terus pagi-pagi begini! emang mau rezeki menjauh, ha?" celoteh emak nya, sedangkan Nur masih menguap dan setengah sadar di saat bangun.
"Hmm... iya bu.. "
__ADS_1
"iya bu, iya bu! sono cuci muka bantuin ibu masak ga ada tidur-tiduran jam segini, kerja!" tegas emak nya membuat Nur merasa kuping nya pecah oleh suara the power emak nya itu.
"hadeh, untung emak gue, kalo temen dah gue embat mulut pake kain" gemerutu di dalam hati Nur.
namun tak beda jauh juga dengan Nur, kini Sahira juga tidur kesiangan jam segini, ibu nya membangunkan nya dan menyuruh kerja sekaligus memberes rumah.
Skip
Di siang hari, Gita berniat untuk weekend kali ini mengunjungi ke tahanan sel kekasih nya itu, walaupun ia masih ada rada kecewa dengan nya tetapi ia menepis dengan rasa kecewa dan melupakan nya.
•
•
•
"Saudari Bagas, anda di panggil dengan seseorang, mari ikut saya! "
tampak pihak polisi itu membuka sel tahanan nya dan mempersilahkan diri nya untuk menemui seseorang.
"Siapa ya pak?"
"Nanti anda juga tau, mari!"
Sesampainya di ruangan penunggu, Bagas masih belum jelas siapa wanita itu dari sisi punggung nya itu, namun ia berfikir lagi dan menebak apakah itu kekasih nya? jika benar mengapa ia bisa tau keberadaan nya dan apakah pak Andre sudah mengatakan dan menemui nya?
Tanpa lama lagi dan betul saja Bagas sontak syok serta kaget melihat wajah cantik kekasih nya itu menatap nya balik.
"Gi-gita?" lirih Bagas dan matanya kini berkaca-kaca ketika benar itu kekasih nya.
"Mas... " ucap Gita pelan.
Tatapan Bagas tak henti dengan wajah Gita setelah sudah duduk di hadapan nya, bibirnya bergetar dan semakin pucat. hal itu Gita merasa kasihan dan tak tega dengan kondisi kekasihnya kini berubah drastis dari sebelumnya.
"Mas... wajah kamu kok pucat? kamu udah makan apa belum?" tanya Gita, matanya kini juga terikut berkaca-kaca menatap wajah Bagas.
"Ah... aku.. aku udah makan kok sayang! kamu sendiri gimana kabarnya dan... " seketika bibir nya terhenti dan matanya melirik ke perut Gita yang masih belum mengembung.
"Iya mas... Aku baik-baik aja kok, kamu tenang aja anak kita juga gapapa di kandungan ini, jadi kamu tenang aja ya" ucap Gita tersenyum manis, walau di dalam hati nya teramat sakit jika mengatakan itu di depan pelaku nya yang menjadi perusak masa depan nya.
Bagas semakin kacau saat ini, entah mulai mana duluan ia mengobrol di hadapan kekasih nya, dan lagi Gita pun sedang mengandung anak nya.
__ADS_1
"Sayang... aku..-aku minta maaf sama kamu, gara-gara aku, kamu jadi sengsara seperti ini"
"Sudah lah mas, yang berlalu biar lah berlalu asal kamu mau bertanggung jawab dan masih setia sama aku walau kamu harus mendekam di sini" ucap Gita tetap teguh.
Ya hukuman bagi bagas berkisar 10 tahun, namun mau tak mau Gita harus menerima dengan cobaan dan rintangan di hidup nya, walau nantinya anak itu mengandung tanpa tuntunan seorang ayah di saat anaknya lahir.
"Aku berjanji sama kamu Gita, setelah keluar dari sini, aku akan berusaha menjadi calon suami dan ayah yang baik buat anak kita nanti"
•••
Di perusahaan Stars Q, Gibran baru saja sampai dan duduk di ruangan meeting sesuai dengan jadwal hari ini.
Sesekali Gibran melirik jam di tangan nya dan menunggu lebih sekitar 10 menit menjelang 10 menit lagi akan di mulai.
Sasya selaku sekretaris nya berinisiatif menghampiri bos nya dan menawarkan minuman agar tidak boring menunggu di ruangan itu.
"Eee.. bapak mau minum apa? biar gak boring menunggu seperti ini pak" ucap Sasya.
"Ah iya, buat aja teh manis ya Sya! " ucap Gibran tersenyum.
"Baik pak"
Sasya pun menghubungi office OB membuat minum tiga sekaligus untuk klien nya nanti.
Setelah ditemani dengan secangkir teh, 10 menit pun telah pas memasuki untuk memulai jam meeting itu dan kebetulan terdengar suara ketukan pintu, reflek Sasya membuka pintu itu dan ternyata kalah klien yang ditunggu oleh bos nya.
"Silahkan masuk pak!"
"terimakasih"
Pria itu segera menghampiri CEO itu dan berjabat tangan.
"Senang bertemu dengan anda pak Gibran! "
"Senang juga bertemu kalian, silahkan duduk!"
Mereka pun duduk dan memasang wajah tersenyum renyah sembari basa basi dari Gibran untuk meminum dari pesanan sekretaris nya.
"Oh iya, jadi ada rencana apa kalian kesini dan hal apa membuat kalian tertarik ingin bekerjasama dengan kami?" ucap Gibran membuka obrolannya.
"Simple saja pak, kami dari PT ekspress JnT ingin bergabung investasi dengan perusahaan anda!" ucap pria itu mewakili nya bernama Windra.
__ADS_1
Tampak Gibran menatap serius dan berusaha berfikir matang dari penjelasan mereka.