
1 Tahun Kemudian...
Prok... prok... prok..
"Ehem... ehem... Iya ya, saya tau, saya ini emang ter the best buat kalian semua jadi ga usah heboh begitu, Kalian pasti kangen berat kan setelah saya sudah tidak menempati disini lagi?" ujar Saputra dengan pede.
"Iya Pak, kami kangen tau! baru aja beberapa minggu kemarin waktu itu eh sedikit kecewa bahwa bapak di out dari sini, tapi bagus deh bapak udah kembali lagi ke perusahaan disini" sahut Jean, mewakili teman-teman lainnya.
"Ahahaha, tenang. Kakak saya sudah tidak berpihak lagi di perusahaan ini setelah menyelesaikan segudang masalah yang ia tanggung selama ini, maka dari itu bapak Saputra nan tampan kece ini lah yang akan mempimpin dan mengatasi keluhan yang ada disini"
Lagi-lagi seluruh karyawan itu bertepuk tangan secara meriah sampai di antara mereka pun bersorak gembira.
Sementara itu Sahira memerhatikan dari jauh dan tanpa sadari dirinya senyum-senyum sendiri melihat bos newbie nya itu kembali balik di perusahaan nya.
Noval baru saja muncul dari ruangan nya dan tak sengaja melihat wanita seorang diri berdiri menatap fokus ke arah tujuan itu.
Hal itu, Noval berniat menghampiri wanita itu dan sekaligus bertanya mengapa wanita itu berdiri sekaligus senyum-senyum di posisi nya itu.
Pukk...
"Sahira!" hal itu tentu saja Sahira terkejut kedatangan Noval berada di samping nya.
"Haiss... untung jantung ku gak copot, ada apa sih, pak Noval?" ucap Sahira sembari mengelus dada nya. sementara Noval pun terkekeh kecil.
"Maaf-maaf, lagian kamu kenapa berdiri sendirian sih, disini? abis tu senyum-senyum sendiri lagi,,, Hayoo... lagi merhatiin pak Saputra ya??" ucap Noval celetuk.
"Haisss... enggak! aku tuh senang aja tau bapak itu balik lagi kesini bukan berarti ada apa-apa nya" ketus nya.
"Udah gak usah bohong gitu, lagipun kalau iya emang nya kenapa sih? gengsi ya?" ucap Noval ter senyum-senyum.
"Udah deh Pak? kalau bapak nuduh-nuduh begitu aku langsung masuk aja ke dalam, ah" ujar nya tampak ngambek.
"Eh eh, jangan dong! yaudah saya minta maaf deh, lain kali gak gitu lagi ke kamu" ujar Noval.
Sahira pun terbuat kekeh dengan tingkah Noval itu, hingga kini mereka berdua tengah asik canda gurau yang masih saat ini belum berpindah tempat menuju perkumpulan karyawan.
Di sisi itu, Saputra menyadari kedua insan itu yang cukup jauh dari pandangan nya yang kini terlihat jelas siapa sosok itu dari sana.
"Tu anak kenapa bikin gue kesal ya?" batin Saputra.
...
Baru saja jadwal perkuliahan di kelas Intan dan Keira, mereka keluar dari ruangan itu untuk membeli sesuatu di luar kampus, untuk mengisi perut setelah jadwal nya sudah kelar.
"Eumm.. Ntan, kamu suka makan apa jelang-jelang siang ni?"
"Kalau udah siang begini sih aku keburu makan nasi, "
"Wohh, ya udah kita beli nasi aja yuk"
"Nah pas tuh! Kita makan nasi ampera aja Kei! kebetulan dekat kampus lauk nya enak banget loh!"
__ADS_1
"Ohh, boleh tuh, aku jarang-jarang makan di luar biasanya bawa bekal dari rumah, hehe"
"Kamu pasti ketagihan deh Kei, soalnya sambelnya ga jauh beda sama masakan mamak ku"
"Iya deh iya, jadi ga sabar nih makan disana"
Setiba di ambang pintu gerbang, Dimas, Alan serta Saka berpapasan dengan kedua wanita itu hendak keluar dari gerbang itu.
Hal itu Dimas dan sohib-sohibnya tergesa-gesa menghalangi mereka sebelum menghampiri nya.
"Eh, Eh tunggu! Kei, intan!"
Sontak Keira dan Intan menoleh dan terhenti sejenak langkah nya.
"Ada apa ya? kok kalian ngos-ngosan gitu? " heran Keira.
"Eee.. gini gue mau nanya sama kalian" ucap Dimas terpotong akibat nafasnya masih manual.
"Ya tanya aja kak, tapi rileks dulu, nafas kakak aja masih ga teratur"
"Huh... udah nih, Oh ya. si Nawal udah masuk kampus belum? "
Sebuah pertanyaan Dimas membuat Keira dan Intan sontak heran terkaget apa yang baru dilontarkan oleh nya.
"Hah? kamu nanya apasih kak? Nawal kan udah lama banget ga ngampus, dan juga... kita masih belum tahu keberadaan Nawal itu dimana" ucap Keira pelan.
"Hah? masa sih? kita bertiga lihat dia di mall"
"Apa!" kompak Keira serta Intan.
"Gue rindu kawan gue, mereka sekrang masih kuliah apa gimana ya"
Ceklek..
"Tiara"
Ya spontan Tiara menoleh dan membuyarkan lamunan nya mengalihkan ke pandangan ke sumber suara.
"Kenapa Mah?"
"Jangan di kamar terus sayang, inget 2 minggu lagi kamu harus kemoterapi lagi"
Entah kenapa dirinya tak senang mendengar kata-kata itu di telinga nya, ia rasanya ingin kembali ke wijud asli nya apalagi dirinya bukan lah seorang Tiara asli.
"Emm.. iya Mah, soalnya Tiara bingung mau ngapain sekarang"
"Ya udah, kamu mau lanjut kuliah? biar mamah bantu biaya nya"
Tentu saja raut Tiara senang sekaligus gembira.
"Serius Mah? Tiara mau banget kuliah"
__ADS_1
"Nah gitu dong ada semangat hidup kamu, ya udah besok mamah dan papah kamu masukin ke universitas Bima Sakti"
Deg
Bagaimana tidak, Tiara cukup tersirat jika dirinya berkuliah di Universitas yang sama, hal itu cukup senang sekaligus bingung atas wujudnya yang berbeda.
"Bagaimana rasanya aku kembali dengan ragaku yang berbeda?"
•
•
Keira tengah kepikiran apa yang dikatakan Dimas di tengah jalan, Intan tengah asik menikmati makanan nya ia menoleh dan menegurnya.
"Heh Kei? kok gak di makan sih nasinya? kurang enak ya?"
"Ah, enggak kok, aku cuman masih kepikiran aja sih sama pertanyaan si Dimas itu"
"Gak usah serius gitu Kei, siapa tau dia ngibulin kita? paling cuman ngarang doang tu orang" ujar Intan.
Keira pun hanya mengangguk mengerti lalu ia pun melanjutkan makanannya yang masih belum di sentuh sama sekali.
"Kalau benar kamu masih hidup Nawal, aku jadi senang banget semoga aja yang dikatakan Dimas itu emang bener dan kita bisa ketemu secepatnya" batin Keira
. . .
Hari pun sudah sore, Sahira bergegas menuju parkiran untuk tidak sabar balik dari kantornya, tampak nya siang menjelang sore ini sangat panas hal itu membuat tubuhnya cukup gerah.
Kebetulan Saputra sudah berada di dalam mobil tepat nya bersampingan dengan parkiran Sahira, beliau pun tak sengaja melihat wanita itu berada di samping nya, dengan sigap pintu kaca mobil otomatis terbuka dan memperlihatkan wajah tampan nya.
"Jaman begini masih naik motor merk 90an, gak mampu ya beli yang baru?" tersenyum miring.
"Haduh, ketemu sama bapak mercon satu ini, emang nya kenapa? mau dibeliin pak?" jutek Sahira.
"Ogah banget beliin barang, kalau bisa sih gue beliin elu sekalian"
"Astaga ni orang! anda ini sewot banget"
"Galak amat buk, jadi HRD itu harus lembut dong, apalagi ini saya ceo kamu!"
"Ya duluan siapa sih? Lama-lama lu orang apa sedeng sih?"
"kalau bisa dua-dua nya kenapa harus satu? awas nanti jatuh genting di kepala lu"
"Udah deh pak, ini itu di parkiran kenapa jadi berdebat begini sih?"
"Kan kamu sendiri berdebat sama saya, jadi ga ada yang salah tapi yang paling benar itu ya pasti saya"
"Nih orang lama-lama ga waras gila, suka nya cari masalah mulu"
"Kenapa lu tatap begitu? ohh terkesima ya sama ketampanan saya?"
__ADS_1
"Iya saking terkesima nya pengen gue remuk muka lu"
Tanpa berkecot lama lagi, Sahira pun segera memundurkan motornya cepat agar tidak berdebat panjang dengan orang satu itu.