
(Bandara)
•
•
•
Sementara di sisi lain, Bagas & Gita tengah asik menikmati makanan mereka di sebuah warung favorit nya, hampir larut malam.
"Sayang? Kamu kenapa lancang begitu respon ke Adek aku tadi siang? nanti kalau dia masih curiga ke kita gimana?" ucap Bagas.
Gita masih menikmati makanan nya hingga kunyahan di mulut nya telan di tenggorokan baru ia ngomong kepada kekasih nya itu.
"Santai aja sayang, kan aku tadi respon nya slow gak ada gugup-gugup begitu, jadi tenang lah pasti adek kamu percaya kok," ucap Gita lalu melanjutkan makanan itu ke mulut nya.
Bagas merasa tenang lalu mengangguk pelan dan melanjutkan nasgor di piring nya.
"Oh ya sayang, kita kan udah dapat target mobil nya nih, gimana kalau kita gantiin aja nomer plat nya? Soalnya aku masih takut aja. mana tau korban itu masih di telesuri mobil nya," ucap Bagas.
Gita lagi-lagi masih menikmati makanan nya lalu ia pun terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Emm, pinter juga kamu. Ya udah besok kita bawa mobil nya itu ke bengkel ya sayang!" ucap Gita tersenyum smirk.
"Nanti siap ini, jangan lupa jatah aku ya," ucap Bagas, kini tersenyum miring.
"Hah? Jatah apaan?" ucap Gita, pura-pura polos.
"Masa kamu gak tau sih?" ucap Bagas terkekeh.
Gita hanya tersenyum malu, ia pun merespon dengan anggukan nya.
"Nah gitu dong peka," ucap Bagas mencolek dagu kekasih di hadapan nya.
•••
Kesokan hari nya...
Jam 07:45 wib.
Seorang pria menggunakan jaket levis serta menggunakan kacamata hitam di mata nya. ia baru saja mendarat ke Bandara lalu menunggu di luar permula Bandara, Tampak ia sedang menunggu kedatangan penjemputan nya di tepi jalan.
Ya benar saja, mobil itu telah tiba di depan nya dan orang di dalam mobil pun segera keluar ternyata ialah seorang pria tua sedikit keriput melihat seorang anak nya dengan memasang senyuman di bibirnya, ya beliau ialah Afgan ayah dari Saputra, namun Saputra selaku jadi penyetirnya ia berdiam sejenak di mobil lalu baru lah menyusul menghampiri kakak tunggal nya.
"Wah anak ku! Ternyata kamu banyak berubah nya ya di sana, Gimana kabar mu nak?" tanya Afgan dengan wajah sumringah.
__ADS_1
Pria itu hanya tersenyum saja dan merenggangkan kedua tangan seperti ingin memeluk sang Ayah nya itu. tampak kedua insan itu rindu berat dan kini mereka melepaskan rindu dengan pelukan nya.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja pa.." ucap nya.
Saputra sudah turun dari mobil dengan tampilan kece dan terlihat cool, ia tak mau kalah dengan penampilan Kakaknya itu.
Sudah cukup lama Sang ayah dan anak tunggal nya itu saling berpelukan hingga Saputra sudah dekat dengan mereka lalu ia mengkode agar mereka menyadari keberadaan nya.
"Ehem, ehem.." dehem Saputra dengan berekspresi cool namun aslinya tidak.
"Oh ya, Nih Adek kamu nak! Pelukin gih!" ujar Afgan, sontak melepaskan pelukannya.
"Hah? Ogah Pa! Ntar orang lain ngira kita belok gimana," ceplos Saputra dan kini sifat asli nya keluar.
"Saputraa.." ucap Afgan sedikit tajam.
Sontak Saputra kembali dengan sifat cool dan tenang.
Pria dari Perancis itu hanya tersenyum miring melihat penampilan adik nya dari bawah hingga ke atas, setelah itu ia menghampiri sang adik nya dan menepuk pundak nya.
"Pantasan lu terlihat cool begini, mau saingan sama gua?" ucap nya sambil tersenyum miring.
"Emang lu ae jadi kece gitu di keluarga kita? Gua juga dong!" ucap Saputra.
Pria itu hanya tersenyum saja hingga akhirnya tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya.
•••
Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu di depan sana, Siti pun menoleh ke sumber ketukan itu dan segera membukakan pintu depan.
Terlihat Abang nya berdiri di hadapan nya baru saja pulang pagi ini, namun Siti terlihat kaget melihat kondisi abang nya itu.
"Eh bang? Lu abis darimana sih? kok penampilan lu acak-acakan begitu??" ucap Siti menganga.
"Aghhh, gak usah banyak tanya, pinggir! Gua mau masuk!" ucap nya, badan nya sedikit lotoy.
Di saat Bagas melewati adik nya, Siti tercium di hidung nya, ia merasakan parfum wanita dan bau-bau aneh di badan Abang nya itu.
"Apa jangan-jangan Abang gue abis ... Astaga pikiran gue..." batin Siti sambil menutup mulut nya.
Sementara di kost Gita, ia baru saja siap mandi lalu memasang pakaian nya.
"Agrh, sakit bet di anu gue, kasar amat si Bagas main nya" lirih Gita.
Setelah itu, tak lupa ia juga melepaskan sprai di kasur nya yang tadi masih nempel bercak darah di sana.
__ADS_1
"Setelah Lo udah renggut mahkota dari gue, awas aja kalau lo coba-coba lari dari gue!" gumam nya.
•
•
•
Sahira baru saja sampai di perusahaan, ia segera bersiap-siap bekerja walau agak telat sedikit lalu ia melihat jam di tangan nya menunjukkan pukul 08:02 wib.
"Wuhhh, untung deh telat 2 menit. Kira-kira gue kena hukum gak ya, apalagi kalau gue ketemu si CEO PAOK itu, ethh mulut mu sah." gumam nya sambil menepuk mulut nya.
Tak lama Echa juga samaan dengan Sahira ia juga telat datang kali ini.
"Eh kak Echa? Telat ya?" ucap Sahira.
"Hehehe, iya nih tadi jalan nya macet banget untung deh cuman telat beberapa menit" ucap Echa.
"Wiuhh, untung deh kita samaan kak, kalau di hukum pasti kita hukum sama-sama, Xixixi." nyegir Sahira.
"Ya udah yuk masuk! Keburu telat lama nih ntar" ujar Echa.
Setelah Sahira & Echa beda arah, Sahira pun masih melangkah ke lantai dasar sementara Echa menuju ke lips karna ia bekerja sebagai karyawan di sana. sebagai pekerjaan seorang OB pasti tau lah ya.
"Tapi kok aku lihat-lihat gak kelihatan si CEO itu ya? Biasakan nya dia rajin datang pagi-pagi begini," gumam Sahira.
"Ah ngapain juga aku pikirin dia, bukan siapa-siapa aku juga" gumam nya lagi.
•••
Setelah sampai di rumah, Saputra masih jadi setir mobil nya awal ke Bandara tadi. ia pun segera turun dan segera masuk ke dalam rumah tanpa pamit mereka.
"Heh heh, Saputra! Main masuk aja, bantu dulu gih ngeluarin koper-koper kakak kamu!" ucap Afgan.
Saputra yang tadi nya berjalan menuju ke rumah, langkah nya pun berhenti sejenak dan menghela nafas nya dengan kasar menoleh badan nya ke belakang.
"Ish pa, dia kan dah gede masa gua mulu bantuin nya. tadi kan udah," ucap Saputra lalu melanjutkan langkah nya.
"Oh, papa cancel kan aja ya kerja kamu di sana? Terus ATM kamu papa tarik sekarang!" ancam Afgan.
Saputra mendengar nya itu sedikit ketar-ketir, ia pun terpaksa balik badan dan segera mengeluarkan barang-barang Kaka nya itu.
Sementara Kakak tunggal nya itu, terlihat puas dengan ekspresi Saputra itu.
"Jadi lah adik yang patuh, jangan suka membantah ya" ucap nya dengan nada mengejek.
__ADS_1
Saputra hanya bisa mendengus kesal, rasanya ia ingin sekali membantai Kaka nya itu tapi apa daya walau gimanapun juga ia tetap kakak kandung nya.