
Tepat di koridor fakultas B, Geng Stars berpapasan dengan Keira serta Intan di sana, tampak raut wajah Keira sangat tertegun melihat Alan yang menampilkan fashion show di depan publik kemarin, karna ia juga suka berbau anime sama seperti Nawal.
Keira sedikit salting disaat menatap nya balik, terutama si Alan, lalu menyibakkan poni yang sedikit terurai.
"Eee... Selamat ya kalian! eh tau gak, kalian itu udah trending banget loh di satu kampus karna top populer kalian udah di cap sama panitia kampus!" ucap Keira sumringah.
"Ah, iya nih, kita juga gak nyangka atuh kalau satu geng bisa menang satu perkompetisi, hehehe" ucap Alan cengir, membuat Dimas serta Saka mengode bahwa kawan satu nya itu tampak salting dengan Keira.
"Ehem, ehem! keknya ada yang lagi kasmaran nih" goda Dimas.
"Ngapa si lu?" mengernyitkan dahi nya.
Keira, Dimas dan juga Saka tersenyum geledek melihat sikap Alan seperti itu, sementara Intan daritadi tengah fokus ke arah Saka yang menurut nya kini menjadi penarik perhatian dengannya.
"Eh, Saka, Selamat ya buat olimpiade kamu! kamu itu hebat juga ya" ucap Intan.
"Ah, bisa aja kamu, tapi makasih ya pujian nya gak di sangka loh kamu bisa berani ngucapin itu ke aku, padahal kita juga kurang dekat" ucap Saka.
Dimas dan Alan pun tak kalah hal itu, mereka menggoda Saka tampak senyum-senyum memandangi gadis itu bernama Intan.
"Acieciee... Bro? lu kalau mau deketin dia ya deketin aja atuh terus jadiin gih! nah kalau udah, jangan lupa pj nya, hahahahay" ujar Dimas tertawa riang. begitu juga dengan Alan.
"Ngapa si lu? diem ah" ucap Saka sedikit kesal.
Sedangkan Intan dan Keira hanya saling memandang lalu tersenyum tergeleng melihat keakraban mereka satu geng.
•••
Di sisi lain, Sasya hari ini meminta izin cuti bekerja satu hari karna baru saja mendapati kabar buruk dari saudaranya yang tak jauh di satu kota itu.
Kini Sasya telah berada di rumah sakit klinik dan menghampiri ke ruangan VIP.
Terlihat sang paman nya tengah duduk termenung sembari mengepalkan satu tangan di dagu. Hal itu Sasya segera menghampiri ke paman nya.
"Paman!" ucap Sasya sedikit panik.
Sontak pria paruh baya itu menoleh dan sedikit terkejut melihat keponakan nya baru saja datang ke klinik tersebut.
"Sasya?" lirih beliau. lalu segera bangkit.
"Paman, bagaimana kabar Tiara di dalam? dia sedang baik-baik aja kan?" ucap Sasya.
"Itu dia Sya, paman penuh berharap Tiara bisa sadar kembali dari koma, karna sudah 3 hari ini dia belum sadar juga" ucap pria paruh baya itu bernama Asdal.
__ADS_1
Sasya sangat prihatin hal itu, ia pun berinisiatif menenangkan paman nya yang kini sedang di larut kesedihan.
"Bibi mana Yah?" ucap Sasya celingak-celinguk.
"Bibi kamu lagi di dalam jenguk Tiara" ucap Asdal.
"Paman yang sabar ya, kita doakan aja agar Tiara cepat sembuh" titah Sasya kini duduk sembari menenangkan paman nya.
...
"Nak, kamu sadar lah nak, ini mamah, mamah udah ada di sini kapan kamu bangun nya nak, mamah gak kuat lihat kamu berbaring disini terus" ucap Binta, sang mamah nya Tiara.
Binta mengelus telapak tangan Tiara yang kini masih dalam keadaan koma, Binta berharap sekali bahwa anaknya bisa sadar dengan sentuhan dirinya. air matanya pun kini membasahi tepat di kepalan tangan Tiara.
Tak lama hal itu, seorang suster kembali masuk menghampiri pasien dan juga orangtuanya.
"Em, maaf Bu, untuk waktu ini pasien perlu tindakan sedikit jadi ibu tunggu diluar dulu ya" ucap pasien itu dengan ramah.
Binta mendongak ke arah sang perawat itu dengan seksama.
"Kira-kira apa yang terjadi, Sus?" ucap Binta sedikit tegang.
"Hanya saja sudah waktunya untuk pemeriksaan kondisi nya buk, kalau begitu mari saya antar keluar" ucap nya, namun Binta terpaksa kini keluar dari ruangan tersebut.
"Sayang, apa kata suster tadi?" ucap Asdal heran.
"Kata suster itu ada tindakan lagi untuk pemeriksaan Tiara mas" ucap Binta, namun pandangannya kini mengalihkan ke arah Sasya.
"Sasya, kamu udah datang?" ucap Binta menghampiri nya.
"Iya Bi, Bibi yang tenang ya, Tiara pasti bisa diselamatkan kok" ucap Sasya memeluk Bobi nya.
"Makasih ya Sya, kamu udah mau datang kesini"
"Udah seharusnya aku jenguk dia, Bi" ucap Sasya sembari menikmati pelukan dari Bibinya.
•••
Gibran mendapat notif dari email bahwa sekretaris nya tidak dapat hadir hari ini.
"Tumben Sasya ambil cuti hari ini, apa ada sesuatu?"
"Ah, kenapa saya ini kok jadi mikirin sekretaris sendiri? hadeh... " sambung nya lalu fokus kembali dokumen di atas meja nya.
__ADS_1
Namun tak lama kemudian, Noval kembali muncul dan tak lupa mengetuk pintu itu yang sedang terbuka lebar.
"Ah, misi pak Gibran!" ucap Noval tersenyum.
Gibran sedikit kaget dan melihat ke arah pintu lalu ia pun hanya tersenyum tipis.
"Eh, Noval, ada apa?" ucap Gibran.
"Em... ini pak, saya baru saja mendapatkan laporan dari loket bawah, katanya ada file dan juga berkas harus disampaikan dengan anda pak" ucap Noval.
Gibran sedikit mengkerut dahinya dan penasaran dengan file dan juga berkas tersebut.
"Oh gitu, oke thanks ya, Noval"
"Baik pak, kalau tidak ada lagi yang di bahas, saya pamit undur dulu"
"Yup, sekali lagi terimakasih"
Lalu Noval pun bergerak balik keluar dari ruangan bos nya.
Dengan penasaran berat di pikiran Gibran, ia pun mencoba pasang di area laptop nya.
•
•
Setelah waktu pemeriksaan dari dokter tersebut, kini kondisi pasien itu cukup membaik untuk saat ini, lalu mereka pun kembali keluar dan segera memberi kabar terhadap orangtuanya tentang keadaan pasien tersebut.
Sementara itu, Sosok pasien tersebut alias gadis bernama Tiara itu sudah mulai sadar dari kelopak matanya hingga ke seluruh anggota tubuh nya.
Jari-jemari nya kini sudah mulai bergerak begitu pun dengan kaki nya, perlahan matanya sudah mulai terbuka lebar dan mulai terlihat jelas ke atap itu dari awal sadaran nya.
"Apa, ini aku dimana, dan mengapa rasanya tubuhku terbaring di tempat, apakah aku sudah mati?" batin nya, sehingga bibirnya sedikit bergetar dan berfeeling bahwa ia berada di alam lain.
"Jika benar ini alam lain, mengapa aku begitu sadar bahwa disini terasa empuk, sebenarnya apa yang terjadi dengan diriku ini"
Binta, Asdal dan juga Sasya. Mereka kini diperbolehkan masuk sekaligus, namun dengan syarat berjaga jarak dan tidak boleh terlalu banyak mengobrol di antara ketiga pihak.
"Tiara?" ucap Binta, terharu hebat melihat anaknya kini udah mulai siuman setelah di tempo hari.
Namun raut wajah Tiara itu cukup heran, mengapa sangat asing melihat wajah mereka di antaranya itu.
"Mereka siapa?" heran nya.
__ADS_1