CEO KU SOMPLAK

CEO KU SOMPLAK
~ Eps 61


__ADS_3

Sudah tiba jam setengah 8. Kini Sahira baru saja sampai di kantor. tampak raut wajah nya mencemas tremor karna ia sudah cukup telat untuk hari ini.


Terdapat sosok Noval menunggu di sana dan melihat diri gadis itu sudah tiba di tempat parkiran, ia pun segera menghampiri Sahira tengah bersiap-siap menuju ke kantor itu.


"Sahira, kamu kok tumben telat jam segini" ucap Noval.


"Eh.... maaf ya pak, tadi benar-benar macet banget gak tau kenapa bisa semacam itu." ucap Sahira pelan.


"Duh, mana pak Afgan sudah tiba di kantor"


Sontak Sahira membelalakan matanya dan terkaget apa yang dikatakan Noval padanya.


"Maksudnya pak? Pak bos besar datang hari ini?" ucap Sahira menganga.


"Iya Sahira, Ya udah buruan masuk!" ujar Noval, lalu mereka berdua pun bergegas masuk walaupun jantung Sahira berdebar terus karna takut akan di tegur dengan bos besarnya.


...


Setelah sarapan yang cukup mengenyangkan bagi Tiara, ia pun kini kembali relax dan memasang wajah netral dengan Binta alias mamah Tiara.


Bintang tengah beres-beres sampah bekas makanan itu dan membuang je tempat sampah lalu kembali lagi duduk. di samping Tiara.


"Oh ya Mah, Tiara boleh nanya sesuatu gak?" ucap Tiara membuka obrolan dengan Binta.


"Iya Nak, ngomong apa?"


"Emm... Tiara itu sikap nya gimana ya sehari-hari? terus kebiasaan atau hobi dia apa aja?" ucap Tiara.


Binta terdiam sejenak untuk mengingat kehabitan Tiara sehari-hari. lalu beliau pun menjawab pertanyaan sang anaknya itu.


"Tiara itu dia orang nya kadang penurut kadang ngeselin, ya lebih dominan lebih penurut sih, terus dia juga orang nya kadang terpendam dan suka nutupin masalahnya apapun yang terjadi di luar pemantauan mamah. Kalau hobinya dia suka menulis novel nya diam-diam tanpa pemberitahuan mamah, ya begitu lah kira-kira kriteria Tiara setahu mamah merawat nya sampai saat ini" ucap Binta tersenyum tipis.


Sosok tubuh Tiara hanya tersenyum saja sembari menatap mamah nya penuh tulus.


"Karakter dirinya juga tak jauh beda dengan ku, cuma aja aku lebih suka anime dari buat novel"





Setelah di rasa cukup urusan Gibran hari ini, ia bersiap-siap sesuai perintah papa nya untuk berangkat menuju ke perusahaan PT. namun Gibran terdiam lamun di tempat, Afgan sang papa nya cukup heran dengan anaknya.

__ADS_1


"Kenapa kau? apa lagi yang dipikirkan?" heran Afgan.


"Eh, File yang Gibran letak di laci gak ketemu pa" ucap nya.


"Apa!?" kaget Afgan.


Di sisi lain, seorang karyawan yang tampak curiga dengan gerak-gerik nya ia baru saja keluar dari lips dan menatap benda kecil itu di jemari nya.


"Huh, untung aja pak Gibran sama Pak Afgan gak ketahuan aku masuk kesana, aku harus buang file ini biar mereka kehilangan alasan dengan barang bukti ini" tersenyum tipis.


Lalu sosok wanita itu pun berburu-buru ke pintu keluar belakang, agar orang lain tidak mencurigai dengan gerak-gerik nya.


Kia yang baru saja membuang sampah di area belakang kantor, namun ketika hendak putar balik ia tersontak jatuh akibat tertabrakan oleh orang lain.


"Awhhh... "


Wanita itu pun membelalak matanya setelah dirinya tak sengaja menyenggol pekerja office itu di sana.


"Duh, gawat. ada wanita itu pula"


"Eh, lu kok nabrak gue sih? Buru-buru mau kemana emang, di sini itu ga ada jalan lintas, pake mata dong lihat nya" kesal Kia.


"Eh, ma-maaf mbak, saya mau buru-buru ada panggilan atasan jadinya saya reflek kenceng kesini" ucap nya sedikit gagap.


"Huh... untung deh dia pergi"


. . .


Kia berpapasan dengan sohibnya dengan rada kebingungan serta cemas di raut wajah nya.


"Eh, Rev kenapa?"


"Duh, Kia. plastik paket jnt tadi lu letak dimana?"


"Eee... gak tau deh, coba cari dulu di ruangan"


"Ehh... iya deh, bantuin cariin!"


"Iya iya"



__ADS_1



"Iya Pak, sesuai perintah yang bapak ingin kan sudah saya laksanakan dan aman. tidak ada orang sama sekali curiga dengan itu"


"Bagus, kerja mu sangat jeli dan teliti saya suka dengan cara mu"


"Tidak perlu sungkan Pak, saya kan sudah senior disini"


"Oke, nanti saya tf ya. pantauin saja mereka di sana"


"Oh tentu Pak, terimakasih.


...


Pria itu memutarkan orang kursinya kembali menghadap ke meja, dengan senyuman seringai di raut wajah nya yang kini tak ada pudarnya setelah ditelpon dari anak suruhan nya.


"Afganistan, Siapa yang akan layak memimpin di perusahaan Stars?" ucap nya lalu terkekeh keras seisi ruangan seakan seperti orang gila tertawa sendirian.


•••


"Bagaimana bisa file itu hilang Gibran? kau sudah meletaknya dengan baik-baik?" ucap Afgan sedikit kesal.


"Iya Pah, padahal sudah Gibran kunci ni laci dan gak mungkin saja orang lain membuka tanpa ada kunci di tangan ku" ucap nya dengan raut musam.


"Haduh, kalau begini kita tak bisa sembarangan pergi ke perusahaan itu, sama saja kita menuduh tanpa ada buktian kalau begini" ucap Afgan memijit pelipisnya.


"Gimana kalau kita cek CCTV itu?" sambung Afgan.


Gibran melirik ke arah papah dengan tatapan kurang meyakinkan.


"CCTV? maksud papah ada orang yang berani ambil file itu disini?" ucap Gibran mengernyitkan dahinya.


"Ya kenapa tidak, apa salah kira cek dulu siapa tau ada orang niat busuk di balik mu Gibran, ayo kita cek sekarang" ujar Afgan lalu berjalan cepat keluar dari ruangan itu begitu pun Gibran dengan raut wajah membingungkan.


Lilis selaku perjagaan loket alias pemantauan CCTV itu ia tengah sibuk mengotak-atik keyboard di depan komputer.


"Lilis, bisa bantu saya?" ucap Afgan.


Melihat kedatangan atasan nya, ia pun spontan berdiri tegap dan memberi salam.


"Eee... Salam Pak. ya apa yang bisa saya bantu Pak?"


"Tolong kau setel ulang record CCTV itu di jam sebelum nya, di ruangan Gibran"

__ADS_1


"Oh, baik Pak. segera"


__ADS_2