
(Licik?)
...•...
...•...
...•...
Malam pun telah usai kini pergantian pagi menyambuti pagi buta yang kini masih gelap gulita. Sementara di kediaman Saputra, tak sadar kini terbangun dan melihat jam di hp menunjukkan pukul 04:50 wib.
"Tumben gue bangun jam segini, ah tapi mantap bisa siap-siap mandi jam segini" gumam nya dan ia bersiap-siap mengambil peralatan mandi nya untuk mandi di jam segini.
Di sisi lain, Rizqy tampak nyenyak tidur habis begadang hampir jam 1, namun tetap terbangun jam 05:05 wib, ia terbangun dengan memegang hp nya di samping tubuhnya.
Tanpa loading lagi, Rizqy segera membuka hp nya dan mengecek pesan masuk apa tidak, namun akhir nya pesan itu masuk pada pukul 04:20 wib.
Tampak raut wajah Rizqy tersenyum menandakan bahwa notif dari sahira akhirnya terbalas juga.
📩
Sahira : Serius kamu dah balik lagi ke sini? Tapi syukur deh, ee kalo soal ketemuan nya kapan ku kabari aja ya sama kamu soalnya aku ada jadwal kerja tiap hari. Sorry slow respon.
Walau gimanapun isi responan dari Sahira, Namun Rizqy tetap tersenyum dan merasa lega karna sekian hari nya mereka jarang sekali berchattan di sosmed.
Karna Rizqy melihat isi pesan itu dari layar nofikasi nya ia pun sengaja untuk tidak membuka pesan itu agar bisa membalas pesan nya sesuai tanda baca dari fitur wa.
•••
Jam ke jam terus berjalan, tak terasa matahari sudah mulai muncul dari sebelah timur, dan biasanya jam segini orang-orang pada sibuk berangkat pergi dan memulai beraktivitas seperti biasa.
Sasya baru saja tiba di perkarangan kantornya itu dan tak lupa memarkirkan motornya di tempat parkir.
Tiba-tiba karyawan lainnya tampak memerhatikan Sasya seperti bahan gosip untuk pembicaraan mereka di pagi-pagi begini.
"Eh-eh itu si Sasya, dia kemarin lusa di ajak sama pacar nya malming di taman waktu itu! Sumpah ges! Cowok itu ternyata yang pernah datang kesini loh kalian masih ingat kan CEO dari Vietnam itu?"
"Wah, bener tuh? Kok bisa sih si Sasya hoki? Mana orang viet nya ganteng banget manis lagi!"
__ADS_1
"Wih jelas, mana mereka berdua pake baju Kapelan lagi! aduh soswit banget dah mereka!"
"Ya gapapa si, yang penting ga di ambil sama bapak muda kita itu yang namanya Saputra aaa kan jadi kangen sama bapak itu!"
"Haisss, iya ya? Jarang banget dah pak Saputra kunjungi di sini"
Setelah Sasya menuju ke pintu utama, tampak beberapa karyawan itu berdiri di tepi sana.
"Kalian kenapa berdiri di situ? Ada hal apa?" tanya Sasya, walaupun ia sebagai Asisten CEO alias Gibran yang menggantikan posisi adiknya, mereka sebagian karyawan bawahan tetap hormat dan santun terhadap derajat seorang Sasya.
"Eh.. gak apa-apa buk! Kami cuman bincang-bincang pagi aja, hehehe" ucapnya.
"Ya sudah, langsung masuk saja jangan berkumpul lama disini, ingat! disiplin itu diutamakan dibanding hal yang lain!" sedikit tegas Sasya, mereka pun sedikit menunduk dan pamit untuk masuk duluan.
•
•
•
Afgan tampak tertegun melihat anaknya sudah stay di meja makan, beliau pun tersenyum senang karna tidak ada lagi untuk mengomel nya menyuruh ini itu.
"Lah? Jadi sebelum nya papa nganggap aku apa kalau bukan anak papa? Anak anj*ng dong?" tanya Saputra dengan lantangnya.
Baru saja Afgan senang namun setelah mendengar kata tak sepantasnya dikatakan anaknya itu membuat Afgan berubah jadi wajah datar dan tampak raut wajah beliau sedikit cemberut.
"Heh, lantang sekali kamu bilang begitu? Baru saja mood papa bagus buat papa jadi bad saja kamu!" ucapnya.
"Yaelah Pa, putra kan cuman nanya doang"
"Sudah lah! fokus saja makan mu itu!"
"Dasar anak laknak, untung saja gak ku kutuk kau jadi babi." batin Afgan.
Dan akhirnya, tidak ada lagi pembicaraan di antaranya, tampak raut wajah Saputra seperti menahan ketawa malah ia sedikit meledek papanya dibanding rasa salah nya itu.
Tak lama kemudian, Gibran keluar dari kamar nya tampak ia berburu-buru pergi ke kantor nya itu, Afgan menoleh ke anak sulung nya itu dan menahan nya untuk pergi sekarang.
__ADS_1
"Gibran? Gak makan dulu!?" tegas Afgan.
"Aku sarapannya di kantor aja Pa, soalnya aku tadi bangun kesiangan jadi buru-buru mau pergi sekarang!" ujar nya .
"Ya sudah, jangan sampai perut mu kosong pas jam makan siang nanti!" tegur Afgan.
"Iya pa, aku pergi dulu" ucapnya, lalu salam dan mencium tangan papanya.
"Hmm" balas Afgan dengan tanda iya.
Setelah Gibran pergi, tampak tatapan Saputra tak senang dengan kakaknya itu ya begitulah jika beradik kakak memang tidak ada akurnya tiap jam tiap detik sekalipun.
"Tuh kan? Lihat tuh anak sulung papa jadi kebalik!"
"Enggak apa-apa, selagi tidak ada bandel seperti kamu, papa maklumi saja dia"
Saputra pun hanya mendengus kesal apa yang dikatakan papanya barusan, tampak papa nya memilih kasih sayang walau sebenarnya tidak dan adil pada nya.
•••
"Sial! ternyata lu pada mau ngejebak gua di tempat beginian, hah?" tampak raut wajah pria itu sangat kesal dan masih tidak terima apa yang harus dipertanggungjawab sebagai pelaku kriminalitas.
"Sudahlah, jangan gengsi gitu jadi orang, kalau sebagai tersangka itu, harus tanggung jawab atas apa yang diperbuat yang tidak benar itu!" ucap pria itu dengan senyuman menyeringai.
"Anj*Ng! Kalian berdua licik!" emosi nya.
Sontak penjaga keamanan alias pihak berwajib itu tiba-tiba menghampiri napi baru di sana. "Eh,eh! Jangan ada ribut di sini! Saya kasih waktu itu buat ngevaluasi diri bukan cari ribut!" tegas pihak berwajib tersebut.
Tak lain seorang itu ialah Bagas, orang yang berani melakukan aksi prank beberapa Minggu yang lalu, namun sebenarnya ada dua pelaku alis pacarnya karna salah satunya lagi kini masih belum diketahui.
"Heh! Mana pelaku itu satu lagi dan dimana dia sekarang!?" ucap nya tak lain ialah Saka.
"Ngapain lu pada ngelibatin dia, gak perlu bawa dia kesini biar gue aja urusin ini semua!"
"Halah so korbanin diri lagi, yang namanya tersangka itu ya patut diberi hukuman! Maupun dia cewek!"
"Sudah-sudah! masalah itu biar susul aja, yang penting kita dah jebolin dia ke sini" ujar Andre.
__ADS_1
"Hm oke, selamat menikmati hukuman yang cukup berat di hidup lu ini, makanya jadi orang itu berfikir lah sebelum tau akibatnya!" ucap Saka, menatap tajam ke arah Bagas, sementara Bagas kini tampak memikirkan sesuatu, Ya kekasih nya, ia merasa tak tega jika benar Gita di tangkap dan di kurung dalam keadaan mengandung anaknya itu.
"Kok gue jadi kepikiran si Gita ya? Gimana janinnya di perut nya itu? Apa dia gugurin tu janin nya? Ah kalo iya Gita juga di jebolin ke sini, gue jadi gak tega ngelihat Gita di kurung dalam keadaan seperti ini, hufft"