Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
10. DI HADAPKAN DENGAN PILIHAN


__ADS_3

Belum sempat lelaki itu menyuruh Tasya untuk menjauh. Yang ada Tasya sudah berada di atas motor tersebut.


Dengan helaan nafas panjang. Pria itu pun terpaksa menuruti apa yang dikatakan oleh seseorang yang sudah berada di atas motornya.


"Ini mau ke mana?" tanya lelaki itu pada Tasya yang tak tahu ia harus ke mana lagi. Untuk menghilangkan rasa sesak yang masih tersisa sekarang.


"Aku lapar." Jawab Tasya secara langsung.


Pria itu pun langsung turun di rumah makan yang terdapat di pinggir jalan. Karena jika kelamaan maka mulut mercon perempuan itu akan meledak ke mana-mana.


"Apa kau akan terus berada di atas motor! Bukannya tadi juga bilang kalau sedang lapar." Dengan wajah yang dipenuhi oleh guratan-guratan kekesalan terpaksa pria itu berbicara.


"Iya, iya. Gak perlu ngegas juga," gerutu Tasya sembari turun dari atas motor.


"Sekarang masuk dan segera pesan. Jangan lupa untukku juga," perintahnya pada Tasya.


Setelah itu mereka berdua dan mencari duduk. Sedang Tasya langsung memanggil pelayan untuk memesan makanan yang akan dimakannya.


"Aku memesan makanan yang sama denganku," kata Tasya karena sudah terlanjur memesan.


"Apa," ucap pria itu.


"Bebek bakar dan jus alpukat."


Deg.


"Kenapa menu yang ia pesan seakan mewakili. Karena semua itu makanan dan minuman favoritku," batin lelaki itu.


"Tidak berapa lama menu yang di pesan telah sampai. Dan mereka kini sudah bisa menikmati makanan tersebut.


Keduanya melupakan permusuhan yang sedang terjadi. Karena saat ini mereka sama-sama menikmati makanan yang menggugah selera.


15menit kemudian. Makanan mereka habis dan kini hanya menyisakan segelas jus saja.


" Aku Natasya." Tasya pun memperkenalkan diri pada pria yang belum ia ketahui namanya.


"Saya tidak tanya," ujar pria itu dengan wajah angkuhnya.


"Dasar menyebalkan," ucap Tasya.


"Bodoh!"


"Jika kamu mempunyai seorang kekasih namun tanpa ada kata putus. Dan tiba-tiba kekasihmu itu menikah, apa tanggapan kamu?"

__ADS_1


Lelaki itu memandang wajah Putri untuk seperkian kali. Dan lelaki itu berpikir jika benar bahwa gadis yang hampir membuatnya celaka. Memang benar-benar sedang patah hati.


"Anggap jika di bukan yang terbaik untuk kita. Meski sakit tapi harus berusaha untuk melepaskan bukan begitu," ujar lelaki itu.


"Dia pernah menjajikan madu untukku. Saat dirinya akan pulang untuk menyelesaikan pekerjaannya tapi ... Nyatanya semua dusta! Ia malah menikah dengan orang yang ku benci, yang telah merampas semua yang aku miliki." Tasya tak kuasa menahan air mata itu hingga luruh juga.


"Maaf. Aku jadi curhat," imbuh Tasya lagi sembari mengusap pipinya yang sudah basah oleh air mata.


"Saya ada penawaran untuk kamu. Dengan begitu kamu juga bisa balas dendam, bagaimana?"


"Panggil saja Abian." Lelaki itu pun memperkenalkan namanya juga pada Tasya.


Sejenak Tasya pikir-pikir untuk menerima tawaran tersebut. Karena ia juga tidak mau keluar dari kandang macan dan masuk, dalam kandang buaya.


"Apa keuntungan yang nantinya aku dapat," ujarnya pada sosok lelaki yang bernama Abian tersebut.


"Banyak. Banyak keuntungan yang nantinya kamu dapat," ucap Abian penuh keyakinan.


"Bisa katakan. Dan jangan bertele-tele," sungut Tasya dengan membuang muka ke arah kiri.


"Kamu bisa menjadi orang kaya. Karena sudah menjadi istriku, lalu kamu juga bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih tampan dari kekasihmu pastinya. Bukankah kamu juga membenci perempuan yang menikah dengan kekasihmu. Ah maaf, maksudnya mantan kekasih." Abian pun memberikan penawaran dan semoga Tasya mau menerima. Dengan begitu ia juga tidak perlu mencari seseorang yang nantinya diperistri.


"Selanjutnya." Tanpa berpikir panjang Tasya menyetujuinya dan tidak berpikir resiko apa yang nantinya akan ia dapatkan.


"Apa ada yang ingin kamu katakan lagi denganku?" tanya Tasya yang masih di selimuti rasa penasaran.


"Ayahku yang menyuruh untuk saya menikah. Jika tidak, semua warisan akan jatuh pada saudara tiriku." Abian pun menjelaskan pada Tasya.


" Apa itu alasannya sehingga kamu memintaku. Untuk menjadi istri kamu?"


"Iya kamu betul." Jawab Abian dengan wajah dinginnya.


"Deal." Tasya setuju dan menjabat dangan Abian sebagai tanda terima.


"Baik, saya akan menyiapkan kertas kontrak yang nantinya bisa kamu baca dan pelajari. Apa saja yang terlulis di dalam hitam di atas putih," ujar Abian.


Makanan mereka sudah habis. Karena sore telah habis di makan waktu, Tasya pun ingin segera pulang. Meski dalam hati dirinya masih merasakan sakit yang amat luar biasa. Karena selama itu dirinya menjalin kasih! Nyatanya hanya menjaga jodoh orang saja.


"Sekarang akan saya antar pulang. Karena sebentar lagi kamu adalah tanggung jawab saya," ujar Abian pada Tasya.


Tasya mengangguk. Dan tak lagi protes atau pun menolak ajakan dari Abian.


Cinta tulus Tasya di bayar oleh penghianatan. Membuat hatinya tertutup oleh rasa sakit. Hingga membuatnya ingin balas dendam terlebih orang yang dinikahinya pun adalah sosok yang sangat menyebalkan.

__ADS_1


Aldo dan Tia adalah pasangan yang cocok dan serasi. Sama-sama pembohong dan penghianat.


...----------------...


Satu jam kemudian mereka sudah berada di depan rumah Tasya.


"Berhenti." Tasya pun menepuk punggung Abian agar berhenti. Tepat saat Tasya sampai. Bude Rumi sudah ada di luar dengan kaki yang ke ana ke mari bak setrika rusak. Karena sedang menunggu seseorang yang tak lin adalah Tasya.


"Kamu pulanglah jangan sampai budeku banyak tanya sama kamu," titah Tasya pada Abian.


Alih-alih abian sudah ancang-ancang untuk pergi namun sebuah panggilan. Membuatnya berhenti dan mengurungkan niatnya untuk kabur.


Tunggu!


Bude Rumi memanggil dengan sangat keras sehingga membuat Abian dan Tasya mengumpat. Karena urusannya pasti bakal panjang.


"Iya Bude, ada apa?" tanya Tasya dengan penuh was-was.


"Darimana jam segini baru pulang!" bentak bude Rumi.


"Duh mampus," batin Abian.


"Dari jalan-jalan." Jawab Tasya dengan muka yang sudah ketakutan.


"Pintar ya kamu. Jalan-jalan bawa bocah SMK?"


Uhuk.


Uhuk.


"Bude umur saya sudah banyak! Jangan panggil saya anak sekolahan," ucap Abian tidak terima.


"Saya tidak bicara sama kamu!" bentak bude Rumi pada Abian. Dan Abian pun langsung berangsur mundur untuk menghindari amukan orang tua tersebut.


"Bude, ada apa sih marah-marah." Tasya pun mendekati sang bude agar taringnya tak keluar dan menerkam Abian.


"Ku kira kau bunuh diri gara-gara lelaki sialan itu!" bude Rumi pun ternyata mengetahuinya akan semua masalah yang menimpa Tasya.


"Aku masih sehat bude, untuk melakukan hal gila itu." Jawab Tasya dengan cempreng.


"Padahal hatinya pun rapuh. Akan tetapi, jika di depan orang maka gadis ini berubah tegar." Diam-diam Abian membatin dalam hati akan sikap Tasya yang sok tegar.


"Bude, dari mana Bude tahu tentang ini?"

__ADS_1


__ADS_2