Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
45. PERASAAN YANG TAK BIASA


__ADS_3

Ampun Syah, tolong lepasin." Abian meminta Tasya melepas cubitannya karena itu sangat sakit.


Bian yang tidak tahan akhirnya memegang tangan Tasya, dan tiba-tiba mata mereka saling beradu pandang.


Kini keduanya diam sesaat, dan saling menatap wajah sosok yang ada di depannya masing-masing.


"Kenapa jantungku seperti ini, oh jantung jangan membuat ulah." Dalam hati Tasya bergumam karena tiba-tiba saja, aliran darahnya berhenti dan tubuhnya merasakan sesuatu hingga membuat jantungnya berdekup sangat kencang.


"Kenapa semakin dekat semakin cantik, wajah tanpa polesan namun tetap dan tidak berubah akan kecantikannya yang begitu alami.


Ekhem.


Ekhem.


Saat mereka berdua mendengar suara deheman membuat Tasya dan Bian menoleh.


Dan benar saja, ada seseorang yang sudah berdiri diambang pintu dengan cara bersendakap dada.


"Sonia! Kapan kamu datang dan tiba-tiba berdiri di situ?" tanya Tasya menatap tidak percaya, karena kedatangan Sonia membuatnya bak maling yang habis tertangkap basah.


"Kalian saja yang tidak dengar. Aku sudah mengetuk pintu namun kami asik pandang-pandangan, dan bukan salahku juga dong kalau menerobos masuk."


Bukh.


"Auh, kenapa kamu malah melemparku dengan buku, bodoh!"


"Karena itu pantas, salah sendiri main serobot."


Abian yang sedang duduk di samping Tasya, hanya bisa diam melihat tingkah keduanya.


"Dasar wanita, kalau berantem tidak ada habisnya. Apa memang seperti itu kebanyakan?" gumam Abian dalam hati.


"Kenapa kamu terus menyerangku?" ujar Sonia yang kembali melemparkan buku itu dan.


"Yeah, gak kena." Tasya mengejek dengan sangat kegirangan.

__ADS_1


Pluk.


"Apa kalian sudah gila! Lihat apa ini." Buku yang dilempar tepat mengenai kepala Abian, karena Tasya berhasil menghindar.


"Ma-maaf Tuan, saya tidak sengaja." Sonia langsung membekap mulutnya dengan kedua tangannya setelah meminta maaf pada Abian.


Ck … Ck.


Bian mendengus kesal karena tingkah dua wanita itu seperti anak kecil.


“Syah, di bawah ada orang yang mencari kamu.” Lantas Sonia pun mengatakan tujuannya akan sosok yang tengah mencarinya, dan sedang menunggunya.


“Siapa, apa dia seorang pelanggan?” tanya Tasya penasaran.


“Kamu nanti akan tahu, siapa orang itu.” Sengaja Sonia tidak memberi tahu siapa orang itu, karena jika Sonia mengatakan maka yang ada Tasya marah-marah, ditambah perempuan itu tidak mau pergi dari toko, dan akan membuat rusuh jika orang itu tidak bisa bertemu dengan Tasya.


“Kenapa kamu membuatku penasaran,” ujar Tasya.


“Karena kejutan lebih seru dibanding langsung memberitahumu.” Jawab Sonia tanpa ekspresi.


“Ada perlu apa wanita itu mencarimu?” tanya Abian tiba-tiba karena sedari tadi Bian hanya menyimak, dan sekarang baru dirinya bertanya soal orang yang mencari istrinya.


“Mana aku tahu, kalau tahu pun tadi tidak akan bertanya pada Sonia.” Tasya mengangkat satu bahunya karena memang dirinya juga belum tahu akan orang itu.


“Segera turun dan selesaikan,” titah Abian yang tak mau makin membuat waktunya terbuang sia-sia, karena ada yang lebih penting dari ini pikirnya.


Tasya pun mengangguk dan akan segera turun untuk melihat siapa orang itu.


Satu persatu anak tangga di turuni hingga sampailah Tasya di lantai bawa. Sebelum itu ia menatap sekeliling ruangan guna mencari tahu siapa orang itu.


“Son, mana orangnya?” tanya Tasya yang tak melihat sosok perempuan seperti yang dikatakan oleh Sonia.


“Masih di luar mengangkat telepon.” Jawab Sonia tanpa menoleh karena dirinya fokus menata kue-kue yang berada di etalase.


“Baiklah, jika beliau sudah masuk ke dalam lagi, suruh orang ke atas dan masuk ke ruanganku.” Tasya pun menyuruh wanita itu untuk langsung naik ke atas, takutnya ada yang penting. Maka dari itu lebih baik berbicara secara privasi.

__ADS_1


“Tentu, nanti aku akan mengantarnya ke ruangan kamu.” Jawab Sonia diiringi sedikit senyuman, yah sebuah senyuman yang dipaksakan. Sonia yakin jika Tasya sudah melihat siapa yang menemuinya dan itu bisa dipastikan kalau sebentar lagi preman pasar, julukan untuk Tasya pasti akan mengamuk.


Kini Tasya sudah kembali ke atas, dan tidak berapa lama kemudian. Perempuan itu masuk dengan penampilan yang begitu glamor, dan tentunya berjalan dengan begitu angkuhnya.


“Dimana Tasya? Bukannya kamu tadi sudah saya suruh untuk memanggilnya,” ucap wanita tersebut pada Sonia.


“Tadi dia sudah turun, tapi Ibu keluar jadi Tasya kembali lagi keruangan. Saya akan mengantar Ibu ke atas, mari.”


“Karyawan rendahan saya belagu,” gumam wanita itu dan sempat di dengar oleh Sonia.


“Kamu saja yang tidak tahu siapa Tasya yang sebenarnya,” gumam Sonia dalam hati untuk menjawab umpatan dari wanita itu.


Sesampainya di ruangan Sonia pun langsung mempersilahkan wanita itu untuk masuk, karena pintu sudah terbuka. Mungkin saja Tasya sengaja membiarkannya terbuka untuk memudahkan tamu yang akan ditemuinya.


“Silahkan masuk saja, kalau begitu saya kembali lagi.” Tak ada jawaban dari wanita tua itu saat Sonia pamit untuk pergi, setelah mengantarkannya ke ruang kerja Tasya.


Kini perempuan itu sudah berada diambang pintu, dan sudah bersiap untuk masuk. Dengan perlahan ia melangkahkan kakinya hingga sampailah di dalam lalu.


Pok.


Pok.


Pok.


“Wahhh … Bagus ya, hanya seorang karyawan rendahan seperti kamu bisa-bisanya berduaan dengan seorang bos, mulai belajar menjadi j*la*g ya?”


Sesat Tasya dan Abian menoleh ke arah sumber suara berada.


"Kamu!" Tasya sangat terkejut dengan kedatangan wanita yang selama ini sangat dibencinya.


"Kenapa? Kaget."


Hahahahaha.


Wanita itu tertawa terbahak-bahak karena menurutnya wajah Tasya sangatlah lucu.

__ADS_1


__ADS_2