Cinta 150 Cm.

Cinta 150 Cm.
8. RASA KECEWA DAN SAKIT HATI


__ADS_3

Di rasa sudah tidak ada lagi yang di obrolkan, Tasya masuk ke dalam dengan wajah kesalnya akibat. Pemuda yang tadi pagi.


"Tampan sih, tapi kok berasa kek bocah ya?" Tasya duduk di sisi ranjang dengan penuh tanya pada dirinya sendiri.


Tak ingin memikirkan sesuatu yang tidak penting. Akhirnya ia memilih untuk merebahkan tubuhnya, sembari memainkan gawai nya dan berselancar di medsos. Siapa tahu ada hal yang menarik untuk dilihatnya.


Geser atas geser bawah. Tidak ada satu pun yang menarik untuk dilihat oleh Tasya. Hingga ia meletakkan kembali gawai di sisi kirinya.


Mencoba melupakan sejenak akan perasaannya yang tak biasa. Entah mengapa Tasya saat ini sedang memikirkan kekasihnya, Aldo. Sudah lama tak ada kabar walau itu hanya lewat aplikasi hijau hanya untuk sekedar bertanya kabar.


Klunting.


Baru saja Tasya meletakkan gawai nya. Namun, sebuah notifikasi yang ada di aplikasi berwarna biru dengan logo (f). Sebuah pemberitahuan dari Sonia.


"Huh! Gak mungkin. Apa benar yang di tuduhkan oleh Sonia?" Sonia bertanya-tanya seakan tidak percaya dengan semua ini.


Tuuuut.


Panggilan terhubung dengan segera Sonia menelepon Sonia. Jika, apa yang dikatakan adalah bohong.


panggilan terhubung namu Sonia menolaknya. Namun, tidak berapa lama Sonia mengirim pesan padanya.


"Apa benar yang di katakan oleh Sonia itu. Kalau aku harus memastikan sendiri apa yang sedang terjadi? Ya memang sepertinya harus," ucap Tasya lirih.


Tasya berharap jika itu tidak benar dan bohong. Karena Aldo sudah berjanji jika setelah dirinya pulang nanti. Akan mengenalkannya pada keluarga besarnya.


Dengan hati yang tidak menentu serta perasaan yang hancur, tasya mencoba meredam semua yang tengah ia rasakan saat ini.


Tasya dengan perasaan kacau dan tidak bisa berpikir jernih. Tiba-tiba saja suara ketukan membuatnya sadar. Dari lamunan yaang membawanya pergi.


Tok.


Tok.


"Iya sebentar!" sahut Tasya dari dalam kamar.


Ceklek.


"Bude, ada apa?" tanya Tasya.

__ADS_1


"Bude mau bilang. Kalau Tia mau menikah apa kamu sudah tau akan hal itu?" tanya bude Rumi penuh selidik.


"Aku tidak mau tahu Bude. Karena itu bukan urusanku!" dengan wajah datar Tasya menimpali.


"Apa kau marah?" tanya bude Rumi dengan posisi bersandar di daun pintu. Tidak lupa dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Apa itu penting Bude? Sehingga pertanyaan seperti itu harus di beri jawaban," kata Tasya dengan wajah acuh nya. Dan sama sekali, orang-orang itu tidaklah penting untuknya.


"Aku tahu jika kamu masih marah dengan semua ini, tapi jangan terlalu sampai dalam. Di sakiti itu memang terasa bagai di tusuk-tusuk namun tidak berdarah. Jika bisa maafkan mereka," ucap bude Rumi pada Tasya. Yah, memang sosok bude Rumi bukan lah tipe pendendam seperti kebanyakan orang.


"Tidak Bude! Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan mereka. Kalau hanya tidak memungut ku aku tidak masalah! Yang ku mau adalah rumah orang tuaku bisa kembali. Beserta hak ku yang lain." Dengan wajah penuh kebencian, serta tangan yang mengepal. Tasya benar-benar menaruh dendam pada mereka.


"Saat ini aku masih orang miskin. Jika, suatu saat nanti aku menjadi orang kaya! Akan ku rebut semua yang sudah menjadi hak ku," dalam penuh kebencian Tasya bersumpah dalam hati. Akan mengambil semua yang seharusnya menjadi miliknya.


"Syah, aku harap kamu tidak akan melakukan semua itu di luar batas." Bude Rumi mencoba mengingatkan sang keponakan. Lebih tepatnya yang orang lain yang mau membawa serta merawatnya dengan ikhlas.


"Bude tenang saja." Hanya itu yang keluar dari mulut Tasya.


Setelah itu bude Rumi keluar dan meninggalkan Tasya yang sudah di selimuti oleh amarah. Dan dendam yang kian menjadi.


Tasya menutup pintu lalu, dengan bersimpuh di bawah. Ia menangis sejadi-jadinya karena semua ini tidak adil menurutnya.


Lelah hingga Tasya sudah tak bisa mengeluarkan air mata lagi. Kepala yang terasa semakin berdenyut membuatnya harus melupakan masa-masa yang menyakitkan itu.


Entah sudah berapa lama Tasya tertidur. Hingga tepukan halus membuatnya bangun dari alam mimpi.


Uuuh..


Tasya melenguh saat tepukan itu kian terasa.


"Sonia!"


Tasya mengucek kedua bola matanya. Hanya untuk memastikan jika benar sosok yang ada di sebelahnya ada Sonia.


"Iya, ini aku."


"Sekarang bangunlah!" seru Sonia dengan menarik lengan Tasya dengan posisi yang masih tertidur.


"Kenapa sih kamu," ucap Tasya.

__ADS_1


Sonia tidak menggubris ucapan Tasya. Karena ia terus saja menarik lengannya.


"Jangan banyak tanya! Sekarang lebih baik kamu bangun dan jangan lupa untuk bersiap," sergah Sonia.


"Kamu kenapa sih, datang-datang seperti itu? Apa kamu baru saja kesurupan," kata Tasya dengan tangan yang memegang dahi Sonia. Karena kali ini Sonia tidak seperti biasanya.


"Memangnya kamu lupa untuk yang tadi siang?" sepertinya Tasya memang lupa dengan apa yang sudah di tunjukan oleh Sonia. Sehingga ia melupakan.


"Maaf. Aku lupa," jawab Tasya dengan lesu.


"Apa yang kamu katakan itu benar adanya? Dan kamu serius kan," ucap Tasya penuh tanda tanya.


"Maka dari itu. Kamu harus melihatnya sendiri? Apakah itu sudah menjadi bukti atau tidak! Jika, kekasihmu itu ada seorang penghianat." Melihat wajah Sonia tanpa ekspresi, membuat Tasya percaya jika Sonia sedang tidak berbohong.


Tasya menatap sendu ke arah Sonia. Dengan rasa yang berkecamuk! Jika, apa yang dilihatnya adalah betul. Maka, hancur sudah hati dan cinta yang selama ini ia jaga, namun nyatanya kekasih yang selama ini ia percayai tega mengkhianatinya.


Tasya buru-buru bangun dan bersiap. Untuk melihat kenyataan yang nantinya akan membuatnya hancur kala melihat acara pernikahan sang kekasih.


Tidak berapa lama, Tasya sudah siap.


"Siapkan mental dan hati kamu. Jika Aldo memang bukan yang terbaik," ujar Sonia menggenggam erat tangan Tasya.


Tasya hanya mengangguk. Berharap itu semua hanyalah mimpi buruk.


Setelah pamit pada bude Rumi. Keduanya keluar dengan mengendarai motor matic milik Sonia.


"Son, dari mana kamu yakin jika di rumah Aldo sedang mengadakan pernikahan?" tanya Tasya dengan penasaran.


"Temen ku ada adalah teman Aldo. Di beranda dia sedang mengucapkan selamat dengan cara menandai? Makanya aku bisa tahu akan hal itu," ucap Sonia panjang lebar saat menjelaskan perihal Aldo yang sedang melangsungkan pernikahan di rumahnya itu.


Mungkin sekitar tiga puluh menit. Kini mereka berdua sudah sampai di kediaman orang tua Aldo.


Perlahan Tasya turun. Kebetulan ada security yang berjaga jadi dirinya bisa leluasa untuk bertanya. Sebenarnya yang menikah siapa? Dan bisa jadi saudara Aldo yang lain.


"Pak, ini siapa yang menikah?" tanya Tasya pada penjaga tersebut.


"Itu ada fotonya."


DEGH!

__ADS_1


__ADS_2